Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Pertarungan Arina


__ADS_3

Zeno berdiri, dengan Kiba yang ada di sampingnya. Rasanya sangat sulit untuk menahan rasa sakit baik itu tubuh luar ataupun dalam. Dia juga kehabisan energi baik itu Orka atau energi fisik. Tidak mungkin dia kembali bertarung, apalagi musuh yang ia hadapi seperti Danze.


Jika dia tidak menolong Kiba tadi, dia bisa lari lebih jauh lagi untuk mengisi tenaganya. Sayangnya dia merasakan bahwa Kiba mengalami krisis hingga bisa merenggut nyawanya, sehingga, mau tidak mau dia harus berbalik badan dan kembali menyerang Danze.


Mungkin dia sangat dirugikan apabila berbalik badan dan menolong Kiba, tapi dia tidak menyesal apabila harus kehilangan seluruh energinya untuk menyelamatkan nyawa Kiba. Karena dia tahu, apabila kehilangan Kiba, maka dia lebih dirugikan lagi.


“Kiba. Ini sudah waktunya untuk berga ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannya, pasalnya dia terkejut mengenai Danze yang melesat ke arahnya dengan memegang pedang yang patah begitu erat.


“Sialan.” Zeno menggertakkan giginya, dia merasa bahwa Danze merupakan manusia gila yang tidak memberikan kesempatan untuk musuhnya. Sejujurnya, Zeno mempunyai keinginan bergabung dengan Kiba dari tadi, tetapi Danze selalu tidak memberikannya sebuah kesempatan.


Kiba berdiri di hadapan Zeno yang berdiri tidak berdaya. Dalam waktu seperti ini, mustahil dirinya bergabung dengan tuannya karena Danze yang sudah dekat. Apa yang dia lakukan hanya bisa bertarung lagi untuk melindungi tuannya agar bisa bertahan lebih lama lagi.


Tepat saat akan menebas Kiba, dan Kiba juga akan mengeluarkan tekniknya, sambaran petir muncul dan menabrak Danze hingga terpental begitu jauh. Hal tersebut membuat Zeno dan Kiba sedikit terkejut mengenai hal tersebut. Namun, saat sambaran petir itu membentuk sebuah wujud, Zeno ternganga karena tahu, siapa yang menyerang Danze secara tiba-tiba.


“Siapa yang mengizinkan kau untuk menghancurkan sebuah negara yang ku dirikan secara susah payah?” Kata seorang pria tua dengan janggut memanjang yang tidak lain merupakan seseorang yang menyambar Danze secara tiba-tiba. Selain itu, pria tersebut juga ditemani oleh seekor beast naga dengan mata oranye yang Zeno kenal dengan baik.


“Drake, terima kasih sudah susah payah untuk membangkitkan rohku secara paksa. Jika tidak begini, keturunan Fang yang ada di belakangku akan mati.”


“Aku mengerti, tuan.”


////


Bersamaan dengan pertarungan Zeno dan Danze tadi, Arina sudah beradu pedang dengan Elderic secara mengerikan, dengan dibantu oleh Turse yang menembakkan anak panah ke arah Elderic secara membabi-buta.

__ADS_1


Di mata Arina, hanya dipenuhi dendam yang luar biasa, dia benar-benar terpukul atas kematian suaminya yang disebabkan oleh Elderic. Siapa yang menyangka, bahwa wanita seperti Arina yang terlihat tidak berguna seakan beban, kini justru bertarung dengan lihai, bahkan Turse sedikit terkejut bahwa Arina bisa memegang pedang dengan begitu baik.


Bahkan saat menggunakan elemen anginpun, Arina juga tidak kalah seperti Lyana. Hanya saja, di hadapan Elderic, Arina terlihat kewalahan menghadapinya. Bagaimana tidak, Zhuo yang ada di hadapan Elderic saja bagaikan kucing yang bisa ditendang kapan saja, bagaimana dengan Arina?


Tentunya Arina juga memiliki luka yang banyak akibat pertarungannya dengan Elderic. Dan tentu saja, Arina belum sadar, bahwa seluruh luka yang ada di tubuhnya akibat sayatan pedang milik Elderic, mengandung racun yang sangat mengerikan, namun efeknya berjalan secara perlahan.


Selain itu, Elderic juga berhati-hati dengan panah milik Turse. Karena dia tahu jelas, bahwa Turse juga merupakan pemanah yang memiliki elemen racun yang tidak bisa diremehkan. Karena dia tahu persis, bahwa Turse membunuh Alie menggunakan anak panah yang dilapisi sebuah racun. Walaupun Alie memang pilar yang lemah, tapi tidak mungkin Alie mati semudah itu, apalagi dia melihat sekilas bahwa Alie hampir terjatuh di saat salah satu anak panah Turse mengenai lehernya.


Arina sudah merasakan pusing, dia tidak tahu apa penyebab dia merasa sedikit pusing. Tapi dia tidak ingin berhenti sebelum mengalahkan Elderic yang merupakan penyebab kematian suaminya.


“Bagaimana? Apakah sudah merasa pusing nyonya?” Eledric mundur sejenak, dia tersenyum lebar saat melihat Arina merasakan pusing.


Mendengar hal tersebut, Turse langsung terkejut, dia bertanya-tanya, “Mengapa dia tahu bahwa nyonya Arina merasa pusing? Jangan-jangan ....” Turse menyadari bahwa seseorang yang bertarung dengan Arina memiliki elemen racun. Hal itulah dia sedikit yakin, mengapa jenderal Zhuo bisa dikalahkan, karena sepertinya Zhuo terkena racun dari Elderic.


Tapi sayang sekali, Elderic langsung menebaskan pedangnya sehingga membuat anak panah milik Turse harus hancur.


“Seseorang sepertimu tidak pantas untuk menjadi elementalis racun.” Elderic menoleh ke arah Turse.


“Sial, sepertinya dia sudah tahu bahwa aku juga memiliki elemen racun.” Turse membatin, dia merasa bahwa percuma untuk menembakkan anak panah yang memiliki sebuah racun kepada Elderic.


“Apa kau ingin kutunjukkan sesuatu? Akan kutunjukkan kepadamu bagaimana kekuatan elementalis racun yang sebenarnya, bukan seperti dirimu.” Elderic kembali memandang Turse yang kini perlahan berubah pandangannya ke arah Arina.


Pedang Elderic yang sebelumnya dilapisi oleh sebuah kegelapan, kini juga dilapisi oleh sebuah air kental berwarna bening sedikit kekuningan.

__ADS_1


“Bisa Viper.” Elderic menebaskan pedangnya ke arah Arina.


Melihat hal tersebut, Arina menebaskan pedang yang ia pegang untuk menahan pedang milik Elderic. Tapi sayangnya, Arina tidak bisa menahan pedang Elderic sehingga membuatnya terlempar.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Elderic bergegas untuk menyusul Arina yang terlempar, karena dia ingin menebaskan sebuah pedang yang dilapisi oleh bisa Viper yang merupakan salah satu teknik racun yang dia miliki.


Kehilangan Zhuo merupakan luka terberat, tetapi setidaknya Turse tidak ingin kehilangan istri jenderal terkuatnya. Maka dari itu, dia mengeluarkan Atsuba untuk membantu Arina yang sedang terluka.


Seketika Flamingo yang keluar melemparkan beberapa bulu ke arah Elderic, selain itu, beberapa bulu yang yang dilemparkan seakan terbakar. Wajar, karena Flamingo juga memiliki elemen api seperti yang dikatakan kepada Turse kala itu.


Memang, Atsuba merupakan beast lemah seperti apa yang dia katakan, tapi setidaknya, dia tidak ingin membuat Turse kurang senang. Karena Turse yang memilihnya sendiri, maka menunjukkan kekuatan lemah bukanlah solusi yang tepat.


“Ada-ada saja.” Elderic bergumam, dia langsung menembakkan sebuah racun ke arah bulu berapi tersebut hingga meleleh. Tapi sayangnya, dia menghilangkan pandangannya dari Arina, sehingga, dia sedikit menggertakkan giginya saat tahu bahwa Arina sudah menghilang.


“Angin: teknik pembelah udara tahap kedua.” Arina tiba-tiba berada di atas Elderic, dia mengayunkan pedangnya ke arah Elderic yang ada di bawahnya.


“Nyonya, hati-hati!” Turse berteriak dengan kencang, karena dia tahu, bahwa mendekat ke arah Elderic justru sangat merugikan diri, pasalnya Turse tahu, bahwa racun yang akan digunakan oleh Elderic merupakan bisa Viper, sehingga tergores pedang milik Elderic sedikitpun, maka akan mengakibatkan luka yang fatal.


Tapi benar-benar terlambat, Elderick justru melompat walaupun Arina mengeluarkan sebuah teknik.


Meskipun Elderic merasakan rasa sakit yang luar biasa karena terkena teknik yang diberikan Arina, setidaknya Elderic bisa menggores sedikit tangan Arina menggunakan pedang yang dia lapisi dengan bisa Viper.


Beberapa detik kemudian, Elderic terlempar begitu jauh saat Atsuba mengeluarkan hembusan angin panas yang begitu kuat.

__ADS_1


“Tidak, Nyonya bertahanlah!” Turse berteriak


__ADS_2