Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Hole kembali


__ADS_3

“Zen bangun! Ini sudah pagi.”


Zeno mengangkat matanya perlahan di saat dia tertidur dengan bersandar di sebuah pohon, serta di sampingnya terdapat Turse yang kepalanya berada di atas pundak Zeno itu sendiri. Memang, setelah mereka berhasil membunuh Hans dan Marut, mereka memutuskan untuk istirahat, setidaknya tidur untuk mengisi tenaganya kembali. Lagipula, sudah hampir dua hari dirinya tidak tertidur.


“Hole?” Dia tidak terlalu kaget di saat yang membangunkannya adalah Hole. Walaupun begitu, dia tidak tahu, sejak kapan Hole datang? Dan mengapa dia bisa menemukan dirinya? Hal itulah yang membuat Zeno keheranan. Selain itu dia tidak menyangka bahwa Hole akan datang setelah dirinya membicarakannya tadi malam.


Hari juga sudah pagi, menandakan pergantian hari yang ke sekian kalinya. Zeno mengingat, bahwa bunga teratai emas akan mekar pada pergantian hari malam ini. Tentu saja dia begitu tidak sabar saat mendapatkan bunga tersebut untuk diberikan kepada ibunya. Dan .... ya, mau tidak mau dia harus membohongi orang yang tidak penting dalam hidupnya yang kini tiba-tiba muncul untuk membangunkannya.


“Yah benar, aku pikir kau sudah lari dalam kesepakatan. Tapi siapa yang menyangka, bahwa kau sudah berada di sini. Aku sangat berterima kasih kepadamu.” Hole menundukkan kepalanya, sebelumnya dia sempat berburuk sangka bahwa Zeno akan lari, tapi siapa yang menyangka bahwa Zeno masih berada di gunung ini.


“Haha iya, aku tidak akan lari dari kesepakatan. Lagipula ini demi ibumu juga kan? Aku tahu bagaimana kesedihan seorang anak apabila sang ibu sakit.” Zeno berbicara sambil mencoba untuk berdiri, tapi dia terlebih dahulu untuk membangunkan Turse yang bersandar di pundaknya.


Turse akhirnya bangun, namun dia sedikit terkejut saat Hole berada di hadapannya. Padahal dia berharap bahwa Hole sudah mati kala itu karena Atsuba yang menjatuhkannya. Tapi siapa yang menyangka, bahwa Hole terlihat masih sehat yang membuat Turse sedikit menatap buruk kepadanya.


Selain itu, dia juga sama herannya dengan Zeno. Bagaimana bisa dia menemukannya? Padahal gunung ini terlihat begitu luas, yang mana hilang dari kelompok akan sangat sulit untuk kembali.


“Kiba, kau tahu datangnya Hole?” Zeno bertanya kepada Kiba, dan tidak ada sesiapapun yang mendengarnya.


Kiba menjawab, “Aku tahu tadi malam, namun aku tidak membangunkan tuan karena Hole bukanlah sesuatu yang perlu diwaspadai.”

__ADS_1


“Kau benar juga.”


Sangat wajar apabila Kiba mengetahui siapa yang datang menghampiri tuannya, karena insting binatang buas seperti Kiba sangat besar, walaupun dengan tidur sekalipun, indra penciumannya masih berfungsi dengan begitu baik.


“Ngomong-ngomong, kau dari mana saja?” Turse berpura-pura merasa prihatin kepada  Hole karena beberapa hari tidak bersama diri mereka. Padahal, Turse benar-benar membencinya.


“Kau ini bagaimana, tentu saja mencari kalian selama dua hari.”


Dalam dua hari, tentu saja itu benar-benar cepat untuk mencari Zeno dan Turse di gunung Apiluc ini. Apalagi Zeno tidak tahu bahwa Hole melakukan sesuatu yaitu pergi menuju Ampera. Jika Zeno tahu, mungkin dirinya lebih terkejut lagi, karena itu benar-benar sangat cepat. Akan tetapi, Zeno dan Turse memilih untuk tidak bertanya lebih, apa yang dia lakukan adalah percaya bahwa Hole mungkin sangat kebetulan menemukan dirinya.


Mereka akhirnya berangkat pergi untuk menuju ke puncak. Untuk melihat, apa yang terjadi dengan peperangan tadi malam, siapa yang memenangkan pertarungan antara ketiga belah pihak? Yang pasti Zeno sangat yakin bahwa yang menang adalah tuan sepuluh, meskipun dia tidak tahu apakah pasukan tuan sepuluh masih banyak yang utuh atau tidak?


“Jadi selama ini kau hanya menjadi pengamat?” Tanya Hole penasaran.


“Tentu saja.” Zeno berbohong, “Lagipula aku pasti kesulitan untuk melawan tiga pihak sekaligus.”


“Tiga pihak?” Hole terkejut, dia tidak menyangka akan ada pihak lain yang ikut campur dalam pertarungan kedua belah pihak untuk mendapatkan bunga teratai emas. Tidak seperti apa yang dia duga, tahun ini akan ada beberapa pihak yang akan merebut bunga teratai, bahkan kekaisaran Nuvoleon juga tampak begitu serius dalam merebut bunga teratai tersebut. Tapi mengapa? Apakah ini akan ada suatu pertanda, atau merupakan bunga terakhir yang akan tumbuh sehingga membuat Nuvoleon tampak serius? Itulah yang membuat pusing Hole.


Akan tetapi, dia tidak terlalu peduli, dia merasa sangat beruntung memiliki Zen dan juga Turse yang menurut mereka kuat. Bagaimana tidak, anak jenderal Gorb saja mereka bunuh tanpa ada rasa takut dari hati mereka. Namun, Hole sepertinya tidak tahu persis apa maksud terselubung dari Zeno, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


“Yaah, kalau tidak salah, pihak yang baru datang adalah prajurit yang mengenakan pakaian Lumenlus Empire.” Zeno menyentuh dahinya, mencoba membandingkan apakah pakaian prajurit yang merupakan pihak baru tersebut sama dengan baju prajurit Lumenlus yang ia lihat ketika tiba di sana. Dan tentu saja itu sama, yang membuat Zeno yakin bahwa pihak baru itu merupakan pihak Lumenlus Empire.


Hal yang membuatnya berpikir, memangnya kenapa pihak Lumenlus juga ingin merebut bunga teratai emas? Bukankah itu sama saja akan membuat Nuvoleon tidak akan tinggal diam, apalagi Nuvoleon kali ini benar-benar serius ingin mendapatkan bunga tersebut. Zeno benar-benar tidak bisa menebak pola pikir kekaisaran itu. Karena seharusnya mereka sadar, bahwa kaisar Nuvoleon merupakan kaisar terkuat kedua setelah Danze.


Begitu juga dengan Hole, dia bertanya-tanya, mengapa pihak Lumenlus ingin merebut bunga teratai pula? Apalagi ini merupakan waktu yang tidak tepat, karena Hole tahu bahwa anak jenderal kesayangan raja telah meninggal, tentu saja melibatkan jenderal Gorb yang bersedih merupakan hal yang tidak mungkin.


“Lantas, apa rencanamu selanjutnya?” Hole kembali bertanya.


“Aku?” Zeno menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum, “Seharusnya kau yang membuat rencana selanjutnya, karena kaulah yang bertekad untuk mendapatkan bunga itu.”


Mendengar hal itu, Turse sedikit kesal dengan Zeno. Seharusnya tuannya saja yang membuat rencana tanpa menyerahkan kepada orang lain. Tapi mau bagaimana lagi, Turse hanya diam dengan hati yang sedikit kecewa.


Zeno sebenarnya tahu akan hal itu, Turse pasti akan kecewa apabila menyerahkan rencana selanjutnya kepada Turse. Namun, Zeno mempunyai maksud terselubung yang mana dia ingin tahu apa yang Hole rencanakan, serta membuat Hole tidak akan menaruh curiga apabila Zeno juga memburu bunga teratai emas.


Tiba-tiba, Zeno berhenti sejenak setelah beberapa jauh mereka berjalan, dia berjongkok dengan menyentuh tenah yang terdapat jejak seekor binatang buas, seperti kaki serigala. Namun, jejak tersebut terhenti tepat di bawah kaki Zeno seolah hewan tersebut menghilang dan tidak memberikan jejak lagi.


“Zeno, apa yang kau lakukan? Ayo!” Seru Hole.


Zeno mengangguk, dia langsung berdiri dan kembali berjalan serta juga mendengar apa yang dilakukan Hole selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2