Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Sebuah kesedihan yang luar biasa


__ADS_3

“Ibu!” Zeno berteriak histeris saat melihat ibunya tergeletak tidak berdaya di atas tanah. Begitu juga dengan Selena, dia juga terkejut hingga tidak bisa berkata-kata lagi saat ibu Zeno atau Arina sedang tergeletak lemas tidak berdaya.


Selain itu, Zeno juga melihat pertarungan Turse dengan orang lain yang membawa pedang. Zeno tidak tahu siapa orang tersebut, tapi dia sedikit yakin bahwa orang itulah yang menyebabkan Arina tidak sadarkan diri. Namun seketika Zeno bingung, lantas di mana ayahnya? Seharusnya sang ayah bersama ibu. Zeno yang tidak tahan untuk bertanya, dia menanyakan hal tersebut ke Selena, “Di mana ayah?”


“Aku tidak tahu, terakhir ku lihat yang mulia Fang Zhuo bertarung dengan orang tersebut.” Kata Selena begitu panik, dia menjadi bingung di mana ayah Zeno saat ini? Padahal seharusnya, dia bertarung dengan Turse untuk melawan pria yang mengerikan tersebut.


Tapi Zeno tidak peduli, apa yang terpenting adalah menyuruh Kiba untuk bergegas menuju ibunya yang tidak sadarkan diri. Dia juga sudah kehabisan kesabaran dan sedikit menyesal, mengapa dirinya lebih mementingkan bertarung dengan Danze daripada harus melindungi ibunya?


Mungkin itu baru kondisi ibunya, dia tidak tahu kondisi ayah, kakak, kakek neneknya bagaimana. Yang pasti, Zeno berharap bahwa mereka masih hidup dan harus tetap hidup. Masalahnya, mereka merupakan orang penting bagi Zeno, orang yang berarti bagi Zeno, jika kehilangan mereka, maka Zeno tidak akan bisa membendung sebuah kesabaran. Apalagi ketika melihat kondisi ibunya.


“Ibu bangunlah!” Zeno turun dari Kiba, dia mencoba untuk menggoyangkan tubuh Arina sekuat tenaga, berharap sang ibu bangun dan sadarkan diri. Namun, sekeras apapun mencoba Zeno tidak dapat membangunkan Arina.


Zeno menempelkan telinganya ke dada Arina, berharap jantungnya masih berdetak. Dan sesuai yang ia harapkan, bahwa jantung Arina masih berdetak. Tapi hal tersebut tidak membuat Zeno cukup puas, pasalnya, jantungnya berdetak begitu lambat yang membuat Zeno menangis sambil memeluk ibunya.


“Ibu bangunlah!” Zeno mengulangi kata-katanya sambil memeluk ibunya yang terbaring lemah. Dia juga sedikit terkejut bahwa ibunya memiliki luka yang banyak. Hal tersebut menandakan bahwa Arina sedang bertarung berat dengan seseorang.


Selena juga tidak berhenti untuk menangis, dia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan sosok ibu. Tapi Selena berharap, bahwa Arina hanya sekedar pingsan dan tidak meninggalkan Zeno di dunia ini. Cukup dirinya saja yang merasakan bagaimana kehilangan sosok ibu.

__ADS_1


Seketika Selena terkejut saat melihat mayat dari kejauhan, dia yang penasaran akhirnya bergegas untuk menuju mayat tersebut dengan cepat.


“Tidak mungkin.” Selena kembali menutup mulutnya, dia tampak tidak percaya bahwa mayat yang ada di hadapannya adalah ayah Zeno dengan luka yang cukup parah pada bagian dada kananya. Selena juga sedikit menoleh ke arah Zeno yang masih berusaha membangunkan ibunya. Dia menjadi kebingungan, bagaimana caranya memberitahukan Zeno perihal ayahnya?


Namun, tidak sengaja Zeno melirik ke arah Selena yang sedang menatap sesuatu dengan raut wajah yang tak biasa. Penasaran, Zeno berjalan perlahan ke arah Selena sambil mengelap air matanya yang terus menetes. Lagi pula, Zeno juga sedikit terkejut mengenai seseorang yang tergeletak di depan Zeno. Dia juga tidak tahu, apakah orang tersebut masih hidup atau tidak? Tapi orang tersebut sangat mencolok dan membuat Zeno sedikit tertarik.


“A-ayah?” Zeno berkata dengan gugup, dia memandang bahwa orang yang berbaring tidak berdaya adalah ayahnya.


Zeno kembali tidak bisa membendung air matanya, dia menggoyangkan ayahnya seperti apa yang dia lakukan kepada ibunya berharap bahwa ayahnya bangun. Namun, sama seperti ibunya, Zhuo juga tidak memberikan respons apapun.


Zeno langsung menempelkan telinganya ke dada Zhuo, berharap bahwa ayahnya masih hidup. Sayangnya kali ini dia mendapatkan sesuatu tidak seperti apa yang ia harapkan, wajahnya membeku saat jantung ayahnya tidak berdetak sedikitpun. Dia sedikit kesulitan untuk berkata-kana untuk mengungkapkan ekspresinya.


“Ini kesalahanku, jika aku tidak menjaga ayah dan ibu Anda dengan begitu baik. ini tidak akan terjadi, Anda bisa menghukumku setelah pertarungan ini.” Sambungnya sambil menarik busur panah yang ke sekian kali untuk melawan Elderic yang sedang bertarung dengan Atsuba.


“Katakan, apa yang terjadi?” Zeno berkata dengan dingin, wajahnya memerah menandakan bahwa dia benar-benar marah.


Turse terdiam, dia kebingungan bagaimana cara menjelaskannya kepada Zeno. Dia berpikir sejenak untuk menyusun kata-kata agar bisa memberitahukan kondisi yang sebenarnya.

__ADS_1


Melihat Turse yang merespons dengan lambat, Zeno menggertakkan giginya, “Katakan!!” teriaknya dengan tidak sabar. Bagaimana tidak, dia harus kehilangan kesabarannya melihat kondisi orang tuanya, ditambah Turse yang merespon secara lambat.


Turse begitu terkejut, dia tidak pernah melihat Zeno semarah ini, mau bagaimana lagi, dia langsung mengatakan, “Jenderal Zhuo terbunuh dengan luka tusukan yang mengandung racun milik orang yang ku lawan. Sedangkan Nyonya Arina, dia sebenarnya masih bisa bertahan untuk sementara waktu, karena tipe racun yang diberikan adalah bisa viper. Mungkin tuan sedikit tidak percaya, bahwa seseorang yang kulawan juga memilik elemen racun yang jauh lebih mengerikan dariku.”


Zeno diam sejenak, tatapannya menjadi kosong membayangkan apa yang dikatakan oleh Turse. Ibunya bertahan untuk sementara waktu? Kata-kata tersebut seolah menusuk dada Zeno. Benar-benar sangat menyakitkan, mengapa itu semua terjadi? Padahal dirinya baru saja merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia alami, tapi mengapa kebahagiaan tersebut hilang begitu mudah seperti diterpa angin?


Zeno menelan ludah begitu kasar, dia memejamkan matanya berharap air mata tidak menetes lagi. Dia juga menarik napas dengan begitu sesak menandakan bahwa dia sebenarnya menangis. Dia cukup bisa menahan tangisan tersebut, tapi rasanya begitu sulit. Dia juga mengepalkan tangan begitu erat hingga berdarah karena kuku yang menancap di kulitnya.


Melihat hal tersebut, Selena memalingkan wajahnya dia tidak berdaya melihat Zeno yang sedang menahan kesedihannya. Sebenarnya dia juga ingin memberitahu kepada Zeno, jika ingin menangis, maka menangislah, tidak peduli apakah kau sudah dewasa atau tidak, melampiaskan sebuah emosi juga sangat penting.


Sayangnya Selena tidak berani mengatakan hal tersebut, dia cukup tidak ingin mengganggu Zeno yang sedang larut dalam kesedihan di tengah-tengah sebuah pertempuran.


Turse juga demikian, dia bergegas untuk melawan Elderic lagi dan tidak ingin mengganggu Zeno. Yang pasti, dia juga merasakan bahwa Zeno benar-benar terpukul. Kehilangan salah satu orang tua, dan orang tua lainnya sedang dalam keadaan kritis benar-benar sangat menyakitkan, bahkan rasanya lebih parah daripada harus terkena sabetan sebuah pedang.


“Tentunya sebagai seorang anak, aku tidak akan tinggal diam apabila melihat bahwa ayahku meninggal, dan ibuku sedang kritis.” Zeno berdiri dengan membuka matanya, matanya memerah menandakan bahwa air mata tengah membanjiri air matanya.


“Tuan, hentikan. Anda tidak perlu bertarung lagi, aku dan yang lainnya yang akan bertarung. Atau jika perlu, kita akan bergabung untuk menyelesaikan semua ini. Bagaimanapun, kita sama sekali belum bisa bergabung karena Danze tidak memberikannya sebuah kesempatan.”

__ADS_1


Kiba sedikit panik saat Zeno mengangkat pedangnya, pasalnya saat ini Zeno tidak memiliki Orka sama sekali. Butuh beberapa menit lagi agar orkanya benar-benar pulih.


“Bergabung? Baiklah, kita akan bergabung. Tapi sangat dirugikan apabila kita harus berbagi orka, karena aku sama sekali belum memulihkan hal tersebut.”


__ADS_2