Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Sayatan seribu angin tahap terakhir


__ADS_3

Tidak ada hembusan angin yang muncul, namun ribuan musuh yang mengarah ke arah dirinya banyak yang terpotong bagaikan daging cincang. Terlihat mengerikan, bahkan prajurit milik Zeno menelan ludah secara kasar saat melihat kaisarnya seolah mengeluarkan sebuah teknik yang tampak membuat bulu kuduk mereka berdiri.


Zeno saja juga tampak terkejut, dia bahkan tidak merasakan angin yang keluar dari tubuhnya untuk menyayat para musuh yang ada di hadapannya. Justru secara tiba-tiba, musuh banyak yang tubuhnya terpotong seolah terkena dari teknik sayatan seribu angin. “Inikah tahap terakhir?” Zeno memandang telapak tangannya begitu lama, seolah tidak percaya bahwa yang dia keluarkan itu adalah sayatan seribu angin tahap terakhir.


“Seperti biasa, kaisar selalu membuat sebuah kejutan.”


“Seingatku kaisar pernah mengeluarkan teknik itu, yaitu memotong musuh, tapi sebelumnya ada angin kencang yang muncul di belakangnya.”


“Jika begini, kita akan menang dengan begitu mudah.”


Banyak prajurit Glacies Empire yang takjub dengan teknik yang dikeluarkan Zeno. Masalahnya, jika ada hembusan angin itu adalah hal yang biasa, bahkan tidak sedikit dari mereka yang melihat kemampuan teknik Zeno waktu penyerangan di Northern Empire, namun siapa yang menyangka bahwa teknik yang Zeno keluarkan sekarang tidak mengeluarkan hembusan angin sama sekali.


Mungkin bagi mereka atau Zeno sendiri, teknik tersebut seolah tidak mengeluarkan hembusan angin yang keluar dari belakang Zeno dan melesat ke arah musuh untuk memotong mereka. Namun, teknik tersebut memang tidak keluar dari belakang Zeno, melainkan di dekat target yang membuat mereka terpotong dengan begitu cepat.


Ada ribuan pasukan musuh yang kini hanya terdiam di belakang, yang mana di hadapannya adalah ribuan mayat yang tubuhnya sudah tidak terbentuk lagi. Mereka juga memasang wajah yang begitu pucat saat melihat bahwa Zeno bisa membunuh tanpa menyentuh sekalipun. Tampaknya, apa yang mereka hadapi kali ini seperti seorang dewa kematian yang sedang melampiaskan emosi.


“Pasukan mundur!” Salah satu prajurit bergidik ketakutan, masalahnya, mereka yakin dengan sisa prajurit kali ini tidak akan bisa melawan pasukan milik Glacies. Padahal sebelumnya, mereka sangat yakin bahwa pasukan milik Mare Enbarum bisa menang dengan mudah, karena selain peringkat elemen, jumlah pasukan juga lebih banyak dibandingkan dengan Glacies.

__ADS_1


Zeno tidak membiarkan para pasukan mundur, dia bergerak secepat cahaya ke depan untuk menjadi lebih dekat, bahkan sangat dekat dengan musuh. Kemudian, dengan senyum tipisnya saat dia sudah dekat, dia mengulurkan kedua tangannya kembali. “Sayatan seribu angin, tahap terakhir.” Tidak hanya membatin, namun dia berkata dengan lirih seolah memberikan sebuah kesan kejam bagi para pasukan milik Mare.


Seperti tadi, ratusan prajurit musuh yang berada paling belakang saat memilih untuk mundur terbunuh dengan mengerikan. Mungkin tidak hanya prajuritnya, melainkan juga kuda yang mereka tunggangi juga bernasib sama seperti mereka.


Mungkin yang berhasil kabur hanya tersisa seratus prajurit, itupun mereka dipenuhi luka sayatan ditubuh mereka hingga terasa perih. Dan Zeno, dia masih mengejarnya dengan begitu cepat agar tidak ada sisa prajurit yang berhasil kabur. Namun sayangnya, semakin sedikit prajurit, justru akan dengan mudah mengecoh Zeno dengan menggunakan sebuah elemen kegelapan.


“Sudahlah, biarkan saja, hitung-hitung sebagai berita buruk bagi mereka. Lagipula saat aku tetap membunuh mereka, pengamat pertarungan akan tetap melapor mengenai kejadian ini.” Zeno mencoba membiarkan mereka untuk lari, karena apa yang terjadi adalah hari semakin petang, pasukanku juga membutuhkan sebuah istirahat yang sangat cukup.


“Namun, tampknya, aku harus kerepotan untuk mengubur ribuan jasad menjijikkan ini, walaupun aku bisa menguasai dan mengendalikan tanah sesuka hati sekalipun.” Zeno menghela napas saat melihat mayat para korban perang.


Zeno kembali mundur ke para pasukannya, memberitahukan kepada mereka untuk istirahat terlebih dahulu. Tentunya, juga menggunakan praktik bergiliran agar sebagian berjaga untuk sementara waktu, dan sisanya beristirahat, begitupun ketika waktu berganti. Selain itu, Zeno juga cukup tenang saat ada pemanah dari arah selatan yang mana terdapat gunung di sana.


Di sisi lain, para pemanah juga demikian, setengah hari di tambah dengan pertarungan pasukan Zeno yang cukup lama membuat mereka secara bersamaan berada di puncak gunung wilayah bagian selatan dengan sangat cepat. Lebih tepatnya tidak hanya puncak, karena ratusan ribu pasukan tidak akan muat berada di puncak, sehingga banyak dari mereka di tempatkan di lereng, namun masih bisa melihat sebagian wilayah Mare enbarum.


Tentu saja, Turse memerintahkan sebagian pasukan pemanah untuk beristirahat, sedangkan yang lainnya berjaga-jaga, begitupun dengan pasukan milik Lois yang mana semua pasukannya berjaga dengan penuh, karena memang tugas mereka untuk menjaga para pemanah, serta dengan pasukan khusus yang tugasnya menjaga para pemanah semenjak mereka berangkat dari awal.


Selain itu, Turse yang ada di puncak juga menghadap ke arah wilayah Mare Enbarum bagian timur, yang letaknya berada di pesisir. Dengan begitu jelas, waktu petang seperti ini, dia melihat seperti gerombolan semut yang sedang berisitirahat.

__ADS_1


.....


“Kaisar, ini masalah yang cukup serius.” Seorang jenderal kekaisaran masuk ke dalam ruangan Danze sambil bertekuk lutut dengan begitu ketakutan, masalahnya para prajurit yang dia kirim benar-benar tidak becus untuk menghadapi musuh, padahal musuh hanya menggunakan elementalist es yang sangat jauh di bawah kegelapan.


“Hamba melapor, armada kapal milik Mare Enbarum yang ada bagian selatan telah hancur. Laksamana Izar yang memimpinnya juga mati, jumlah prajurit yang di kirim adalah 400.000 pasukan, namun yang kembali hanya serpdelapan saja. Di wilayah timur, juga ada penyerangan, aku mengirim 750.000 pasukan, namun yang kembali hanya ratusan.” Jenderal tersebut berkata dengan ragu, dia takut bahwa Danze akan melakukan sesuatu yang mengerikan kepadanya.


“Kau benar-benar tidak bisa di andalkan.” Seseorang yang merupakan kaisar Danze yang tengah duduk membelakangi jenderal tersebut berkata dengan nada yang cukup rendah, namun tidak menghilangkan kesan mengerikan. “Aku menyarankan, kumpulkan seluruh pasukan sisa di ibukota, dan kemudian gantung dirimu di tembok gerbang.”


“A-apa maksudnya kaisar?” Jenderal tersebut menelan ludah secara kasar setelah berkata demikian.


“Tidak mungkin kita berfokus untuk menyerang salah satu dari mereka, maka dari itu, kumpulkan pasukan sisa di gerbang ibukota untuk menunggu mereka.” Danze mengulangi sebagian ucapannya, “Dan sebelum pasukan musuh datang, gantung dirimu di gerbang ibukota.”


“Aku tidak salah mendengarnya kaisar?” Jenderal tersebut tampaknya berani untuk menyangkal.


“Aku bilang gantung dirimu di gerbang ibukota. Apakah suaraku sangat lirih sehingga kau tidak mendengarnya tadi?” Danze berkata dengan nada yang cukup tegas sekarang yang membuat jenderal tersebut hampir pingsan karena ketakutan. “Biarkan Dark Knight sang penjaga gerbang ibukota yang memimpin para pasukan. Karena tampaknya, kau sama sekali tidak berguna.” Sambungnya dengan nada lirih.


“Ba-baiklah kaisar, aku undur diri untuk mempersiapkan hukuman gantung diri untuk diriku sendiri.” Katanya dengan jantung yang tidak beraturan sambil pergi, masalahnya, sangat tidak masuk akal mempersiapkan hukuman untuk diri sendiri, apalagi hukuman mati.

__ADS_1


“Elderick, Imaro, Azela, dan wanita yang paling ku cintai, Alie, aku akan membalaskan dendam kalian.” Danze melepas sebuah balutan kain di lengannya, menampilkan sebuah bekas luka yang tampaknya sebelumnya sangat parah. Kemudian dia melanjutkan ucapannya, “Kaisar Zeno, kita akan memulai babak kedua sebentar lagi.”


__ADS_2