Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Penyihir badai vs Penguasa angin


__ADS_3

Tepat tengah malam, suasana wilayah timur ibukota lebih tepatnya wilayah kekuasaan milik Rungdaf kini begitu tenang, namun ketenangan itu berubah ketikan 50.000 pasukan milik Zeno memasuki gerbang timur dan bergerak menuju barat, lebih tepatnya menuju tempat kekuasaan Rungdaf.


Zeno dan pasukannya semakin mempercepat langkah, bagaimanapun mereka harus segera mengalahkan Rungdaf secepatnya.


Namun, mereka dikejutkan dengan sebuah badai salju yang sangat mengerikan di hadapannya. Zeno berinisiatif untuk menyuruh pasukan untuk mundur karena cuaca extrem. Tetapi mengingat, bahwa Rungdaf merupakan seorang penyihir badai, tentunya badai tersebut sepertinya juga merupakan milik Rungdaf. Jadi Zeno hanya menyuruh pasukannya maju tanpa memedulikan badai bersalju.


“Jangan takut! Itu hanya badai buatan, jadi aku bisa mengendalikannya, selama itu bukan kekuatan alam, tidak perlu panik!” Teriak Zeno kepada seluruh pasukannya.


Zeno mengulurkan tangannya, perlahan badai tersebut menghilang dengan mudah. Sebenarnya itu juga kemampuan Kiba sebagai beast angin, yang mana dia bisa mengendalikan angin selama angin tersebut bukan benar-benar kekuatan alam seperti tragedi saat dia berada di kapal.


“Tunggu sebentar, apa?” Zeno menyipitkan matanya dan memandang di depan yang mana badai salju perlahan menghilang.


“Berhenti!” Zeno mengangkat tangannya, dia tidak menyangka bahwa badai tersebut digunakan untuk mengaburkan sebuah pandangan. Bagaimana tidak, saat badai tersebut benar-benar menghilang, terdapat pasukan tanpa kuda dengan membawa tongkat di masing-masing orang. Kemudian terdapat sosok wanita tua yang memakai sebuah jubah es dengan tongkat yang panjangnya melebihi tingginya.


“Apakah perjalanan kalian menuju ke sini tanpa kendala? Aku harap seperti itu, karena kami benar-benar menunggu kedatangan kalian.” Sapa wanita tua tersebut yang tidak lain merupakan Rungdaf.


“Mulutmu terlalu manis, tetapi hatimu benar-benar keji.” Umpat Zeno yang mengetahui bahwa sosok di hadapannya sepertinya adalah Rungdaf.


Rungdaf langsung menaikkan kepalanya dan langsung menutup mulutnya menggunakan sebuah telapak tangan. Bersamaan dengan itu, dia tertawa lirih sambil berkata, “Hey bukankah kalian yang terlalu keji? Bukankah prinsip Akram adalah membawa dunia perdamaian namun melalui jalan kekerasan? Berbeda dengan aku, apakah aku pernah membuat onar? Mungkin hanya sebatas membunuh kaisar sebelum Aurrora.”


“Jangan katakan Akram di hadapanku. Akram sudah mati, dan tidak baik membicarakan orang yang sudah mati. Dan kutegaskan, bahwa Southern kali ini tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan Rungdaf.”

__ADS_1


“Aku tahu bahwa Akram sudah mati, bukankah dia mati karena membuat onar di benua lima negara? Dan itu kabar baik buatku, karena aku tidak susah-susah melawan musuh pali berat.” Rungdaf kembali tertawa.


Zeno melompat dari kuda dengan menatap tajam Rungdaf, wajahnya kini tidak berekspresi sama sekali. Bersamaan dengan itu, dia berkata dengan nada tinggi, “Berterimakasihlah kepadaku, karena aku telah membunuh musuh terberatmu. Tetapi jangan senang terlebih dahulu, karena musuh terberatmu bukan Akram lagi, melainkan aku.” Selain itu, Zeno juga menarik Ice Sword dari punggungnya, dan ia ulurkan mengarah ke Rungdaf.


Mendengar dan memperhatikan Zeno, Rundaf sangat terkejut, pasalnya Rundaf yang merupakan sosok terkuat dapat di kalahkan oleh anak di hadapannya? Serta the legendary Ice Sword yang menurutnya telah hilang, dan menjadi sebuah pedang yang dicari oleh Akram kini berada di tangan anak tersebut. Hal itu menjadi bukti yang sangat kuat bahwa Akram memang dibunuh saat mencari Ice Sword.


Rungdaf yang tadinya berekspresi penuh dengan senyum, kini hanya bisa menggertakkan giginya dan berwajah masam, dia tidak menyangka bahwa musuh yang ia hadapi kali ini mungkin akan sangat berbahaya karena merupakan pembunuh Rungdaf.


“Pasukan, serang!” Zeno berteriak dengan tugas.


“Jangan mau kalah! Sekali kekuatan badai maka pasukan mereka akan kalang kabut!”


Pasukan Zeno bergerak maju menuju pasukan milik Rungdaf, bersamaan dengan tersebut, pasukan Rungdaf masih diam di tempat sambil memutar tongkat yang ia pegang, “Kalter Strum...!” Serentak mereka semua.


“Ini sangat di untungkan, selama ada aku maka kalian tidak perlu takut lagi dengan badai!” Teriak Zeno.


Seluruh pasukan berteriak dengan semangat, bagaimanapun kemampuan mereka hannyalah badai yang unggul dari jarak jauh, sedangkan pasukan kaveleri menang dari jarak dekat. Saat ini pasukan kavaleri telah melewati Zeno yang masih berdiri untuk menghalau badai yang di undang oleh seluruh pasukan penyihir.


“Bagaimana mungkin dia dapat menggerakkan sebuah badai?” Rungdaf penuh rasa tidak percaya diri saat badai yang pasukannya keluarkan tidak berdampak apapun, malahan pasukan milik Zeno kini tengah mendekat dan siap untuk mengangkat pedang mereka.


Zeno melihat bahwa seluruh pasukan sudah hampir mendekat ke arah pasukan milik Rungdaf. Bahkan untuk mengeluarkan sebuah badai merupakan hal yang sia-sia, jadi Zeno sudah yakin bahwa pasukan tersebut tidak membutuhkan bantuannya, kecuali jika masih  terdapat Rungdaf di sisi mereka.

__ADS_1


“Lighting Movements.” Zeno bergerak secepat kilat melewati seluruh pasukan yang akan sampai ke pasukan Rungdaf.


Dan kini dia telah berada di samping Rungdaf yang tengah berusaha memutar tongkatnya untuk mengeluarkan sebuah badai yang sangat mengerikan. Untungnya Zeno berhasil menendang Rungdaf sehingga terlempar cukup jauh sebelum ia mengeluarkan sebuah badai lagi.


“Biar pasukan melawan pasukan, dan pemimpin melawan pemimpin.” Ucap Zeno yang kini sudah berada di hadapan Rungdaf yang terlempar.


“Pusaran tornado...!” Saat Zeno menendang kepala Rungdaf lagi, kedua tangan Rungdaf -memunculkan masing-masing pusaran yang berputar berlawanan. Hal tersebut membuat kaki Zeno berada di antara pusaran tersebut bagaikan tergiling. Tapi Zeno segera menariknya dan bergerak ke belakang secepat kilat.


Untungnya dia sempat menariknya, mungkin jika tidak, kakinya akan hancur karena tergiling oleh pusaran dua tornado di kedua tangan Rungdaf yang berputar berlawanan.


Saat ini Rundaf tersungkur di atas tanah bersalju, sedangkan Zeno dia masih mendarat dengan aman, mungkin hanya kakinya sedikit terluka. Zeno tidak habis pikir, kaki kanan yang diakibatkan oleh panah Turse saat ini belum sembuh, namun sialnya, saat ini kaki kirinya juga terluka akibat ulah Rungdaf.


Rundaf dan Zeno, saat ini mereka berhadapan dalam posisi yang jauh. Mereka berkontak mata dalam kejauhan walaupun posisi sudah sangat gelap.


“Badai tornado!” Rungdaf mengulurkan tongkatnya ke depan, akibatnya sebuah tornado besar muncul dan bergerak ke arah Zeno.


Zeno tidak terlalu panik, dia masih tetap tenang dan mengulurkan salah satu tangannya. Awalnya, telapak tangannya terbuka lebar, kemudian dia tutup rapat-rapat secara perlahan, hal tersebut membuat badai tornado di hadapannya menghilang tiba-tiba.


“Pada dasarnya, badai yang kau gunakan merupakan badai buatan.” Teriak sinis Zeno.


“Siapa kau? badai buatan sekalipun, tidak ada yang bisa menghentikannya!” Teriak Rundaf dengan rasa tidak percaya.

__ADS_1


“Aku saat ini punya julukan baru, panggil aku si penguasa angin!”


 


__ADS_2