Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Di mana ayah dan ibuku?


__ADS_3

Zeno menghela napas dengan lega, setidaknya leluhur Ama datang tepat waktu. Mungkin jika tidak, dia akan terus dipaksa untuk bertarung dengan Danze lagi. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa leluhur Ama tiba dengan Drake yang ada di sampingnya.


Selain itu, Drake Soul atau Uron, serta Kirin juga terkejut bahwa leluhur Ama tiba-tiba menampakkan diri untuk membantu Zeno. Siapa yang menyangka, bahwa tuan pertama Uron tiba-tiba muncul dan turut andil dalam pertarungan ini? Tapi Uron sedikit tidak peduli, karena apa yang dia pedulikan adalah mengalahkan Gryphon yang benar-benar sulit dikalahkan.


Saat ini Zeno melihat pertarungan sengit antara Ama dan juga Danze. Walaupun nasib Ama seperti dirinya, yang mana Danze selalu lebih unggul, namun roh seperti Ama tidak akan bisa terluka dan mengeluarkan sebuah darah. Namun, kekurangan roh adalah, mereka tidak akan bisa meregenenarsi energi orkanya kembali sampai kapanpun, atau yang akan terjadi, mereka akan hilang sepenuhnya. Tapi, itu hanya berlaku kepada roh orang mati seperti Ama, atau Fang. Berbeda dengan roh seperti Kirin dan Uron, mereka bisa saja merasakan rasa sakit, serta juga memulihkan energi Orkanya kembali.


“Zeno!”


Zeno menoleh saat ada yang memanggilnya dari belakang, napasnya masih tidak teratur menunjukkan bahwa dia benar-benar sangat kelelahan. Setidaknya, melihat Selena yang menghampiri dirinya, membuat Zeno tersenyum senang karena salah satu temannya masih selamat.


Selena tidak bisa berkata-kata lagi, dia kesulitan untuk mengatakan bahwa ayah Zeno tengah bertarung dengan seseorang walaupun dia juga tidak tahu keadaan sebenarnya. Karena Selena tahu, bahwa Zeno dalam keadaan benar-benar lelah serta luka yang parah, jadi jika Selena mengatakan bahwa ayahnya tengah bertarung, maka yang pasti Zeno akan memaksa dirinya.


Sekali lagi Selena benar-benar tidak tahu keadaan yang sebenarnya, dia terakhir meninggalkan yang lainnya saat Zhuo masih bertarung. Sehingga apa yang dia katakan kepada Zeno adalah apa yag terakhir dia lihat.


“Di-dimana ayah dan ibuku?” Zeno berkata dengan terbata-bata, dia tidak tahan untuk menanyakan hal tersebut. Pasalnya, sudah berjam-jam semenjak pertarungannya dengan Danze, dia tidak memikirkan dimana ayah dan ibunya.


Selena menggaruk kepalanya, mau tidak mau, dia harus mengatakan yang sebenarnya jika Zeno bertanya seperti itu. Bagaimana lagi, dia sudah kebingungan dengan jawaban yang akan diberikan kepada Zeno. Mau mengatakan bahwa ayahnya baik-baik saja dan tidak ikut dalam pertarungan, maka Zeno akan membencinya saat tahu bahwa dia tahu keadaan yang sebenarnya.


Selena menarik napas, dia sudah yakin bahwa dirinya akan memberitahukannya, “Ayahmu sedang bertarung, sedangkan ibumu sedang bersembunyi. Turse juga membantu ayahmu, sedangkan Nora dan sepupumu, dia diperintah ibumu untuk mencari kedua kakakmu.”

__ADS_1


“Sial.” Zeno berdecak kesal sebelum melanjutkan ucapannya, “Bawa aku menuju pertarungan ayah!” perintahnya kepada Selena.


Seperti yang Selena duga, Zeno akan memaksakan diri untuk membantu ayahnya. Jadi mau tidak mau, Selena mengangguk dan pergi agar Zeno mengikutinya.


Zeno naik ke punggung Kiba, lagi pula dia sudah kesulitan untuk berjalan karena kelelahan. Selain itu, dia juga memulihkan kembali Orkanya untuk membantu ayahnya yang sedang dalam kesulitan.


Mungkin, sampai di sana, dia memilik waktu untuk bergabung dengan Kiba untuk membereskan musuh yang sedang bertarung dengan ayahnya. Lagi pula saat ini, mereka bisa bergabung tanpa masalah karena hubungan kontrak yang sudah cukup lama. Namun, sesuatu yang menghambat adalah waktu, seperti Danze tadi yang tidak memberikannya sebuah waktu atau kesempatan agar Zeno bisa bergabung dengan Kiba.


........><.........


“Nenek, bertahanlah!” Fang Tan meneteskan air mata, dia melihat bahwa neneknya, atau Aurrora sedang terbaring tak berdaya di tanah. Pasalnya, semenjak pertarungan mereka bertiga dengan Imaro, neneknya dikalahkan dengan mudah, hal itu cukup membuat Fang Tan dan Aure menggertakkan giginya di hadapan Aurrora.


“Jangan berpikiran sesuatu yang lain, kita belum selesai bertarung. Aku adalah lawan kalian berdua.” Imaro berkata dengan santai, dia mengelus-elus kepalan tangannya yang merupakan ciri khas Imaro. Pasalnya, Imaro selalu bertarung dengan tangan kosong tanpa senjata apapun. Walaupun begitu, dia juga masih memanfaatkan elemen kegelapan untuk mendukung kemampuan bertarungnya.


“Sialan, sebenarnya apa tujuanmu melakukan penyerangan seperti ini?” Fang Tan menggertakkan giginya setelah berkata seperti itu.


“Entahlah, aku hanya diperintahkan tuan Danze untuk membawa mayat orang kuat sebanyaknya. Tapi kalian menghadangku sehingga aku terpaksa untuk mengalahkan kalian terlebih dahulu. Lagi pula, jika kalian mati, maka kaisar Danze bisa memanfaatkan mayat kalian.” Kata Imaro sambil tersenyum lebar.


Aure mengatur napasnya, dia mengeluarkan sebuah kuku es yang muncul di antara sendi jarinya. Sudah tak terhitung, berapa kali dia mengeluarkan kemampuan tersebut, pasalnya cakar esnya selalu patah karena dipukul oleh Imaro begitu keras.

__ADS_1


Fang Tan berdiri kembali sambil memungut tombak es yang menjadi senjata andalan milik kaisar Aurrora. Walaupun dia tidak memiliki kemampuan es, setidaknya dia ingin menggunakan tombak es milik neneknya sebagai sebuah senjata.


“Aure, aku tidak memaksamu untuk bertarung lagi. Jika kau merasa lelah, maka kau bisa mundur sekarang juga.”


“Tidak kaisar, kekalahan nenek juga membuatku tidak bisa memaafkan dia.” Kata Aure sambil menunjuk Imaro.


“Baiklah jika itu maumu.”


Fang Tan dan Aure kembali melesat ke arah Imaro. Masing-masing dari mereka memainkan senjata yang mereka pakai untuk mencoba mengalahkan Imaro yang ke sekian kali.


Sayangnya, Imaro dapat menghindari semua serangan itu dengan cukup baik. Bahkan, pukulannya yang dilapisi sebuah kegelapan dapat menghancurkan tombak Aurrora begitu mudah.


Tidak ingin menyerah, Fang Tan langsung melompat mundur dan melihat Aure yang masih lihai untuk menyerang Imaro. Namun kali ini, Aure benar-benar menghindari apabila cakar esnya dipukul oleh Imaro.


“Chakram air.” Fang Tan mengayunkan kedua tangannya, memunculkan dua buah chakram yang terbuat dari Zat air melesat ke arah Imaro dengan sangat cepat.


Melihat hal tersebut, Imaro langsung menangkap Chakram air begitu mudah dan melemparkan salah satu ke arah Fang Tan kembali. Serta sisanya, dia melemparkan ke arah Aure yang ada di hadapannya.


Aure memanfaatkan cakar esnya untuk menghancurkan chakram air yang melesat ke arah dirinya. Berbeda dengan Fang Tan, dia juga bisa menangkap chakram dan melemparkan ke arah Imaro. Selain itu, Fang Tan juga mengeluarkan puluhan chakram yang dia lemparkan ke arah Fang Tan secara membabi buta. Dia ingin lihat, apakaha musuh yang ada di hadapannya bisa mengambil puluhan chakram tersebut dan melemparkannya kembali?

__ADS_1


Aure segera mundur dan menjaga jarak dengan Imaro. Karena dia tahu persis bahwa sang kaisar melemparkan puluhan chakram ke arah Imaro. Yang mana jika dia tidak menjaga jarak, maka dirinya juga akan terkena teknik tersebut.


__ADS_2