Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Tempat aneh


__ADS_3

Satu bulan setelah insiden pertarungan dengan Akram telah berlalu, di sebuah ruangan dan di atas kasur terbaring seorang anak yang belum terbangun dari pingsannya.


Wajah satu istana menjadi sangat gelisah mengenai keadaan Zeno yang terbaring tidak berdaya dengan penjagaan ketat dari para penjaga. Fang Yoshi sebagai kakek Zeno meminta para tabib terbaik di negeri ini untuk berusaha membuat Zeno terbangun.


Namun beragam cara, telah dilakukan oleh para tabib terbaik, namun Zeno juga tak kunjung bangun dari pingsannya.


Arina sebagai ibunya tentu tidak bisa tenang karena melihat anaknya belum bergerak sedikitpun. Sebagai ibu, rasa gelisah melihat anaknya tidak berdaya tentu saja merupakan suatu hal yang wajar.


Disisi lain, Fang Tan dan Yuna selalu memberitahukan ibunya untuk tidak terlalu gelisah, karena mereka berdua yakin, bahwa adiknya akan terbangun dalam waktu dekat.


Walaupun begitu Arina tetap tidak bisa tenang dengan pikirannya yang kemana-mana, jadi ia melakukan aktivitas sering melakukan kesalahan, karena pikirannya yang dibilang tidak bisa tenang.


"Patriark, kaisar, Rombongan ratu Shima melakukan kunjungan untuk menjenguk Pangeran Fang Zeno." Kata salah satu penjaga menghadap ke Fang Yoshi dan Tan.


Fang Tan dan Fang Yoshi, menatap satu sama lain dan mengangguk, lagipula mereka juga sangat senang apabila ada orang yang berkunjung untuk menjenguk Zeno.


"Antar mereka kesini." Perintah Fang Tan.


Rombongan dari kekaisaran negara petir, pergi mengunjungi negara air untuk menjenguk Zeno, bagaimanapun, Zeno telah mereka anggap pahlawan karena menyelamatkan negaranya dari ambang kehancuran. Bisa terbilang Zeno telah menyelamatkan satu benua.


Selain itu, Selena juga ikut dalam rombongan negara petir dengan seizin kaisar Shima. Setelah insiden itu, Selena terkejut mendengar pernyataan ratu Kura bahwa Zeno merupakan pangeran negara air.


Ia benar-benar tidak menyangka bahwa orang yang selama ini bersamanya adalah keluarga bangsawan, itulah mengapa Selena pernah melihat bahwa Zeno memiliki koin emas yang sangat banyak.


Tetapi Selena berpikiran, apa penyebabnya Zeno merahasiakan identitasnya sebagai pangeran kekaisaran, bukankah seharusnya Zeno membuka identitasnya agar orang lain hormat? Selena tidak bisa menjawab sejauh itu.


Jawabannya sangat mudah, tetapi Selena yang tidak mau berpikir. Zeno tidak mau orang-orang hormat kepadanya, agar ia tahu, mana orang yang sombong atas kekuasaan, atau orang yang tidak, sehingga menyamar sebagai rakyat jelata adalah pilihan yang bijak.

__ADS_1


Mungkin rombongan yang mencolok kali ini hanyalah kaisar Shima, beserta pangeran Rouya, sisanya hanyalah beberapa keluarga Ama biasa disertai orang asing yaitu Selena.


"Pangeran Tan, nona Yuna, aku benar-benar mengagumi mereka." Batin Selena dalam hati melihat Kaisar Tan dan Yuna menyambut mereka semua.


"Kaisar, bagaimana kabar Zeno?" Tanya Rouya yang tampak cemas dihadapan Fang Tan.


"Dia, dia masih pingsan dalam satu bulan ini." Jawab Fang Tan menundukkan kepalanya sedih.


"Kami turut bersedih, apakah aku bisa melihatnya?" Tanya kembali Rouya.


"Yuna, kau bisa mengantarkan Pangeran Rouya ke kamar Zeno, aku harus menyambut kaisar Shima di ruang pertemuan." Tutur Tan sambil menoleh ke arah Yuna.


Yuna menatap sini ke arah kakaknya sambil berkata, "Tunggu sebentar, kenapa harus aku?" 


Fang Tan tidak menghiraukannya, dia langsung pergi menyusul para rombongan ratu Shima tanpa menjawab bantahan Yuna.


"Baiklah pangeran, kau bisa mengikuti aku." Kata Yuna begitu kesal, karena ia merasa tidak seharusnya ia mendapatkan tugas itu.


Selena hanya mengangguk tanpa berani berkata-kata, ia kemudian mengikuti nona Yuna dan pangeran Rouya untuk pergi ke kamar Zeno.


Sesampainya di kamar, Selena menjadi sedih melihat kondisi Zeno yang terbaring tidak berdaya dengan kondisi mata tertutup, bisa dibilang Selena melihat kondisi Zeno telah mengalami pingsan.


"Zeno, kau tahu? Sebenarnya pertandingan Soil Crystal aku yang memenangkannya, tetapi aku sama sekali belum memakan hadiah tersebut sampai kau benar-benar telah sadar." Batin Selena.


*****


Zeno terbangun di sebuah daratan yang dipenuhi rumput halus, bahkan rumput tersebut terlihat sangat nyaman saat diinjak. Dia memandang awan putih yang bergerak dengan matahari yang perlahan muncul.

__ADS_1


"Bukankah aku telah mengalahkan Akram di negara petir? Tetapi mengapa aku bangun dan ada disini?" Zeno menutup matanya menggunakan telapak tangannya, cahaya matahari yang keluar dari balik awan membuatnya silau.


Dia lantas berdiri dan melangkahkan kakinya untuk mencari tahu tempat apa yang membuatnya merasa sangat asing.


"Kiba, apa kau tahu ini dimana?" Tanya Zeno yang sangat penasaran.


"Kiba?" 


"Kiba!" Zeno berkali-kali memanggil Kiba yang ada di dalam tubuhnya, tetapi ia tidak mendapatkan respon apapun dari Kiba. Wajahnya sontak membeku dan telah sadar bahwa Kiba tidak ada di dalam tubuhnya, tetapi ia masih belum sadar bahwa dirinya berada di dunia lain.


Zeno berjalan perlahan dan melihat sebuah gubuk tua yang ada di seberang sungai. Tanpa berkata apa-apa, Zeno menuju gubuk tersebut berharap ada seseorang di dalamnya, karena ia sangat bingung dengan tempat ini. Setidaknya jika ada orang, Zeno masih bisa bertanya.


Zeno menyeberang sungai dengan mencincing celananya tepat di lutut, aliran sungai juga sangat deras sehingga Zeno mencoba untuk berhati-hati.


Sayangnya, Zeno terpeleset saat ia menginjak batu berlumut yang sangat licin. Tubuhnya terbawa arus sungai yang sangat deras. Kali ini ia benar-benar merasa sial karena harus mencoba berenang dan meraih bongkahan batu sungai yang sedikit besar dan berdiri di atasnya.


Tetapi ada yang aneh menurutnya, elementalis air seperti dia sudah sangat biasa dan mudah untuk bernapas di dalam air, tetapi kali ini rasanya berbeda, hidung Zeno kemasukan air dengan rasa perih seperti manusia pada umumnya. Sehingga ia benar-benar bingung apa yang terjadi.


Hal itu membuat Zeno benar-benar penasaran, dirinya mencoba mengeluarkan sebuah bola air dari tangannya untuk mengecek, apakah elemen airnya normal atau tidak.


"Tunggu sebentar, kenapa tidak keluar?" Zeno mengerutkan dahinya karena sebuah bola air tidak muncul, padahal itu merupakan teknik dasar yang sangat mudah.


Zeno mencoba untuk mengeluarkan elemen angin dari tangannya, tetapi tidak ada angin yang berhembus ataupun keluar melewati tangan yang ia ulurkan.


Ia benar-benar bingung, mulai dari Kiba yang tidak menjawab, sampai elemennya tidak keluar. Kemungkinan ia merasa saat ini sudah tidak memiliki kemampuan berelemen lagi.


Zeno benar-benar terpukul, ia menoleh kanan kiri untuk mengetahui apa yang terjadi, tempat yang ia tempati juga terlihat sangat aneh dengan tidak ada hewan atau manusia satupun.

__ADS_1


Tetapi ia masih terfokus dengan gubuk yang ada di seberang. Dengan tubuh basah kuyupnya, ia meloncat dari batu ke batu lain, tetapi kali ini ia sangat berhati-hati untuk tidak meloncat pada batu yang berlumut.


Dan pada akhirnya ia bisa menyebarangi sungai dengan lega. Tentu saja, ia berjalan menghampiri gubuk tua itu dengan harapan ada seseorang.


__ADS_2