
“Oh tidak, sebaiknya kami pergi dulu tuan, jika tidak kami akan menjadi buta.” Kata Kiba yang membawa kaki singa sambil beranjak pergi saat Zeno mengeluarkan elemen cahaya legendaris, begitupun dengan Azure.
“Baiklah.” Zeno mengangguk, dia benar-benar cukup senang sekarang, masalahnya Gryphon sudah dibunuh oleh Kiba dan juga Azure. Dan kini tersisa pemiliknya yaitu Danze, yang mana Zeno ingin menyiksanya terlebih dahulu.
Zeno menghilang dari hadapan Danze untuk melakukan sesuatu, yang mana dia ingin melakukan siksaan yang sangat pedih.
Merasa bahwa tidak ada cahaya yang menembus pelupuk matanya, Danze membuka matanya dengan lega, dia juga berusaha untuk berdiri dari tubuh lemasnya akibat dari kematian sebagian jiwanya yaitu Griffin. Namun, siapa yang menyangka tiba-tiba pelupuk matanya tiba-tiba menjadi membeku, yang mana sebelumnya berkeringat basah, sehingga dengan mudah Zeno membekukannya. Akibatnya, hal itu membuat Danze tidak bisa berkedip sama sekali.
Dia berusaha untuk memukul kelopak matanya yang membeku, namun sayangnya Zeno sudah berada di hadapan Danze dengan mengenakan jubah yang sangat terang itu.
Tentunya, Danze merasakan bahwa matanya seperti terbakar habat, dia berusaha untuk menutup matanya agar tidak terkena perihnya cahaya yang benderang seperti itu.
Danze mencoba untuk lari dari pandangan Zeno, akan tetapi tubuhnya perlahan juga terlapisi oleh bongkahan es yang membuatnya tidak bisa lari kemana-mana. Tentunya, dengan matanya yang terus menerus memandang cahaya terang itu.
Belum cukup puas, Zeno mengeluarkan sebuah bola cahaya di tangannya, mendekatkan bola cahaya itu tepat beberapa incii di depan mata Danze.
“Hentikan!” Teriak Danze dengan matanya yang perlahan-lahan buram, dengan sensasi terbakar yang luar biasa karena melihat cahaya seterang itu. Kemudian, tidak lama kemudian, dia tidak bisa melihat semuanya, bahkan cahaya terang yang Zeno keluarkan sekalipun.
“Buta, itu bukan apa-apa.” Ucap Zeno sambil melutut dagu Danze dengan cukup keras, bahkan bongkahan es yang mencengkramnya hancur menjadi serpihan es.
Zeno melangkahkan kakinya ke arah Danze yang terbaring tak berdaya, kemudian dia memasukkan kedua jarinya ke dalam lubah hidung Danze. Tanpa ragu, kedua jari Zeno mengeluarkan sebuah semburan air bagaikan sebuah selang.
__ADS_1
Hal itu, membuat Danze tidak bisa bernapas, hidungnya terasa sakit seperti dia tenggelam di lautan paling dalam. Perlahan, dia juga merasakan rasa sakit pada dadanya, atau lebih tepatnya paru-parunya.
Tidak ingin Danze mati secepat itu, Zeno melepaskan teknik penyiksaannya, dia langsung mengangkat pedangnya dan menguliti Danze secara hidup-hidup.
Tentunya, Danze berteriak kesakitan saat kulitnya dilepaskan secara paksa, darah keluar dari setiap tubuh Danze hingga membasahi permukaan tanah.
Zeno melepaskan menghilangkan jubah cahayanya, karena dia merasa bahwa itu sudah tidak berguna lagi, karena Danze sudah mengalami kebutaan yang total. Kemudian, darah yang keuar dari sekujur tubuh Danze, Zeno bekukan hingga merambat ke darah bagian dalam.
Danze berteriak ke sekian kalinya, merasakan bahwa darahnya semakin membeku yang membuatnya tidak bisa untuk bergerak.
Merasa bahwa Danze terlalu banyak berteriak, Zeno menggapai lidah Danze secara paksa dan memotongnya menggunakan Ice Sword. Kemudian, dia menusuk kerongkongan Danze menggunakan sebilah pedang yang mungkin menghancurkan pita suaranya.
“Sudah cukup menyiksanya Zeno, kau tidak perlu melakukan hal keji seperti itu.”
Tiba-tiba Zeno mendengar suara seperti ibunya, hal itu membuatnya linglung dan memperhatikan kondisi sekitar dan berharap bahwa itu adalah ibunya. Namun, dia termenung dan tersadar bahwa itu adalah halusinasi semata yang mana itu mungkin karena dia sedikit menjadi gila.
Walaupun begitu, Zeno menuruti halusinasinya, dia menarik pedangnya ke bawah sehingga Ice Sword membelah tubuh Danze. Tidak hanya itu saja, sebelum Zeno pergi, Zeno langsung memotong tubuh Danze menjadi puluhan bagian, yang mana itu tidak memungkinkan bagi Danze untuk hidup lagi.
“Baiklah, sekrang hanya satu urusan itu saja.” Batin Zeno sambil bergerak cepat dan kembali ke arah ruangan Danze, yaitu tempat dimana patung Yashimaru berada.
Dia berpikir sejenak, bagaimana untuk menghancurkan patung Yashimaru sedangkan patung tersebut menolak untuk dihancurkan? Elemen cahaya yang diberikan oleh Zeno juga memantul ke arah dirinya, sehingga tidak mungkin dia melakukan hal yang sembrono itu lagi.
__ADS_1
Akan tetapi, tidak ada salah mencoba hal yang membuatnya penasaran, lebih tepatnya dia terpikirkan sesuatu yang kemungkinan membuat patung tersebut akan hancur. Namun, bisa juga patung tersebut juga masih memiliki kemampuan untuk meelindungi dirinya sendiri sehingga menolak dihancurkan dengan cara yang Zeno berikan.
Zeno mengulurkan tangannya, alhasil sebuah lingkaran berpola muncul dengan lima lingkaran lagi di dalamnya yang memenuhi sisi lingkaran tersebut. Selain itu, lima lingkaran yang ada di dalam lingkaran juga menunjukkan lambang elemen masing-masing yang dimiliki oleh Zeno.
Seketika, lima energi elemen keluar sesuai dari lambang elemen yang ada di dalam lingkaran tersebut. lima energi elemen juga keluar dengan warna yang menjadi elemen legendaris, seperti angin yang berwarna ungu, air yang berwarna biru tua, petir yang berwarna merah, tanah yang berwarna hitam pekat, serta cahaya yang sangat terang hingga menyilaukan mata. Kelima elemen tersebut mengarah ke arah patung Yashimaru.
Walaupun masih memiliki perlindungan, sehingga kelima elemen tersebut tidak langsung menghancurkan patung, namun tampaknya kelima elemen Zeno tidak memantul seperti dia mengeluarkan elemen cahayanya ke arah patung tersebut. Seolah, kelima elemen milik Zeno berusaha menerobos dengan sangat kuat, bahkan Zeno sekalipun juga semakin mendorong tangannya sambil menggertakkan giginya.
“Kraak”
Zeno mendengar seperti sebuah suara retakan yang muncul pada pelindung tidak terlihat pada patung tersebut. Hal tersebut, membuat dirinya semakin mengeluarkan lima elemen itu dengan sekuat tenaga.
Seketika, pelindung tak terlihat tersebut memberikan sebuah suara pecah, yang mana kelima elemen Zeno berhasil menerobos dan mengarah ke arah patung Yashimaru. Bersamaan dengan patung Yashimaru yang hancur, sebuah energi kuat muncul dan membuat Zeno terpental. Tidak hanya itu saja, ledakan yang berasal dari patung yang hancur tersebut membuat serpihannya terlempar kemana-mana.
Istana kekaisaran yang tidak dapat menahan energi luar biasa itu, perlahan juga bergetar dengan hebat.
Zeno langsung berdiri dan bergerak untuk keluar dari istana yang hancur. Mencoba terbang dan bergerak secepat cahaya melalui lubang yang hancur akibat pertarungannya dengan Danze. Mungkin, dia lari menggunakan energi terakhirnya, sehingga saat dia menginjak di permukaan tanah, dia mengalami rasa lelah yang sangat luar biasa.
Dari kejauhan, dia juga menyaksikan istana kekaisaran Mare Enbarum yang hancur. Dia juga tersenyum lebar saat urusannya telah selesai, yaitu sebuah urusan balas dendam yang mengganjal di hatinya.
“Sudah selesai ya.” Zeno tersenyum puas, dia juga berjalan dengan begitu lemah ke arah jasad Danze yang beruntung ada di dekatnya. Benar, jasad Danze yang mana dalam kondisi yang tidak utuh dengan tubuhnya yang terpotog-potong.
__ADS_1