Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kejadian di sebuah kedai


__ADS_3

"Orang-orang di negara ini tidak ada bedanya dengan negara Air dan Angin." Kata Zeno dengan berjalan menuntun kudanya itu.


Tetapi hari juga sudah begitu malam, rasa lelah dan juga lapar mengikuti Zeno. Kini dia hanya membutuhkan makanan dan juga tidur untuk membuatnya semangat untuk esok hari.


Lantas dia mencari sebuah penginapan, dengan dilengkapi sebuah restoran merupakan sesuatu yang begitu sempurna seperti apa yang dibutuhkan Zeno saat ini.


"Kiba, pasang telingamu baik-baik. Restoran atau semacamnya merupakan tempat berkumpulnya orang-orang membicarakan sesuatu penting. Dan aku sudah tau itu." Tegas Zeno sambil memasuki sebuah restoran dengan penginapan yang cukup sederhana. 


 "Baik tuan."


Walaupun begitu, kedai ini bisa dibilang cukup nyaman dengan pemandangan aliran sungai di balik jendela, membuat Zeno juga begitu betah, sehingga kedai ini juga tidak jauh berbeda dengan restoran mewah pada umumnya.


"Tuan, ada yang bisa kubantu?" 


"Aku memesan satu kamar dan juga seporsi makanan yang biasa dipesan oleh orang-orang sini." Pinta Zeno dengan mata yang tidak memandang di satu sisi, sebabnya dia juga harus mencari informasi tempat penting ataupun tempat bersejarah yang menurutnya bisa membangkitkan elemen petirnya.


"Tuan, Apa ada yang salah dengan restoran ini?" Tanya wanita yang melayani Zeno kebingungan. Pasalnya, ia melihat Zeno dengan pandangan mata yang kemana-mana.


"Oh maafkan aku."


"Aku hanya cukup heran, walaupun malam hari, kedai ini masih ramai juga." Senyum Zeno walaupun dia menyembunyikan maksud yang sebenarnya.


“Terimakasih tuan, kuharap anda bisa lebih nyaman untuk berada disini.” Balas wanita tersebut sambil tersenyum ramah kearah Zeno.

__ADS_1


“Makanan diantarkan ke kamar tuan, atau tuan memakan terlebih dahulu di lantai ini.” Tanya wanita tersebut.


“Aku akan makan di lantai ini terlebih dahulu.”


Wanita tersebut mengangguk. “Baiklah, anda bisa duduk di salah satu meja, kami akan menyiapkan makanan untuk anda secepat mungkin.”


Zeno akhirnya beranjak pergi dari hadapan wanita muda sebagai kasir yang melayani Zeno. Menunggu makanan yang akan disiapkan sambil memasang telinganya baik-baik. Karena ia perlu mencari informasi yang berhubungan dengan kebangkitan elemen petirnya.


Sekali lagi Zeno juga memperingatkan Kiba untuk menggunakan indra pendengarannya yang begitu tajam, sehingga, dari jarak beberapa meter yang Zeno tidak dengar, Kiba bisa mendengarkannya dengan begitu baik.


Braaak


Zeno yang begitu santai tiba-tiba dikejutkan oleh bantingan pintu yang begitu keras, sehingga ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu kedai.


Seseorang dengan sombongnya memasuki kedai dengan tidak sopan, tatapan yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang melihatnya. Di sisi lain, para pengunjung juga memberikan ekspresi muka seakan-akan benci setelah apa yang dilakukan pria sombong itu, tetapi mau bagaimana lagi, para pengunjung kebanyakan tidak memiliki kekuatan besar yang mampu menantang orang lain.


Seorang wanita tua dengan berjalan teroyong-oyong, memegang sebuah tongkat sebagai penyangga diri agar wanita itu tidak tersungkur ke tanah. Dengan tubuh yang gemetar dan takut membuat siapa saja yang melihat hanya bisa mengelus dada.


“Tuan Geldhe, maafkan aku, tetapi aku masih belum mempunyai uang untuk melunasi hutang.” Kata ibu wanita itu membungkuk, wajahnya begitu sedih saat seorang penagih utang dengan sifat yang begitu arogan.


Pria bernama Geldhe itu membanting sebuah barang di atas meja, membuat ibu dan anak sedikit takut dan meneteskan air matanya. “Sebelumnya kau juga berbicara seperti itu.” Ucap Geldhe dengan mata sedikit melotot. 


“Sungguh, aku tidak memiliki uang yang cukup untuk melunasi hutang tuan.”

__ADS_1


Geldhe memandang wanita paruh baya itu dengan mengangkat sedikit alisnya. Rasanya dia ingin menampar wanita tersebut karena berulang kali memberikan alasan yang sama saat ditagih hutang. Tetapi, Geldhe menarik tangannya sendiri untuk berkeinginan memukul wanita paruh baya, ia mengundurkan niatnya itu karena melihat seorang remaja cantik yang ikut menangis di belakang wanita paruh baya.


“Begini saja, aku akan menganggap hutangmu lunas, asalkan kau mau memberikan wanita yang ada di belakangmu.” Kata Geldhe menatap penuh nafsu wanita penjaga kasir.


Wanita tua itu menoleh kearah putri satu-satunya itu, tentu saja sebagai ibu dia menolak permintaan Geldhe untuk mengambil putrinya. “Tuan, maafkan aku, aku tidak bisa memberikan putriku untuk melunasi hutang-hutangku.”


Geldhe tidak peduli, kini yang ada di dalam otaknya hanyalah sebuah nafsu. Jadi dia memerintahkan bawahannya merebut paksa anak wanita paruh baya itu.


Bawahan Geldhe langsung menuruti permintaannya,  mereka menarik-narik paksa anak wanita tua itu dengan begitu kasar. Tetapi wanita tua juga tidak membiarkannya, ia juga menarik anaknya itu agar tidak dibawa lari oleh Geldhe.


“Tuan aku mohon, jangan ambil anakku, kau bisa menyita kedai sebagai bayaran hutang sekarang juga.” Sahut wanita tua sambil berusaha menahan anaknya.


Geldhe maupun para bawahannya, mereka sama sekali tidak peduli dengan isak tangis kedua wanita yang berusaha sekuat tenaga melepaskan paksaan Geldhe. Wanita paruh baya yang tidak mau melepaskan anaknya, membuat Geldhe begitu geram. Sebuah pukulan sengaja ia daratkan tepat mengenai pipi wanita tua hingga membekas merah.


Wanita paruh baya masih tetap menahan anaknya, walaupun dia sudah dipukul hitungan kali, ia tidak Sudi apabila anaknya itu jatuh ke tangan orang bengis semacam Geldhe.


Para pengunjung, semuanya sedari tadi hanya bisa melihat dan menahan untuk tidak menolong wanita pemilik kedai ini, menahan teriakan setelah melihat pemilik kedai ini ditampar dengan begitu keras. Masalahnya mereka semua tidak memiliki kekuatan untuk melawan Geldhe dan juga bawahannya yang sepertinya sangat kuat.


Berbeda dengan yang lainnya, kini Zeno berdiri sambil memasang pandangan yang juga tak kalah mengerikan daripada Geldhe. Sebenarnya dari tadi ia tidak ingin ikut campur masalah hutang pemilik kedai ini, karena pada dasarnya hutang juga harus dibayar.


Zeno mulai tidak suka dengan perilaku penagih utang itu semenjak dia membanting barang, tetapi ia masih membiarkannya karena itu merupakan urusan dia. Sesuatu hal yang membuat Zeno berdiri dan tidak terima adalah karena ia melihat penagih utang atau Geldhe main tangan kepada wanita paruh baya. Membuat Zeno tidak bisa membayangkan jika yang ditampar adalah ibunya, pasti ia sangat hati. Jadi Zeno pasti mengerti perasaan wanita penjaga kasir setelah melihat ibunya ditampar semudah itu.


“Tuan, apa kah kau bisa menjaga tanganmu itu." Ucap Zeno sambil berjalan ke arah percekcokan itu dengan beraninya.

__ADS_1


Hal tersebut membuat seluruh pengunjung membuka matanya lebar-lebar, karena ia melihat seorang pemuda dengan beraninya menolong wanita tua yang saat ini sedang kesulitan menghadapi Geldhe.


"Memangnya kau siapa? Kau tidak perlu ikut campur dalam masalah ini, apa kau hanya ingin menjadi pahlawan di depan seorang wanita?" Teriak Geldhe dengan begitu sombong?


__ADS_2