
“Zeno, aku khawatir tentang Zeno. Kau harusnya sebagai kakak seharusnya melindungi Zeno.” Kata Arina menangis dipelukan anaknya yaitu Fang Tan. Sudah hampir beberapa jam mereka tengah berjalan menuju wilayah aman untuk kabur di wilayah negara Api.
“Ibu tenanglah, Zeno bisa menjaga diri.” Kata Fang Tan yang kala itu tengah menggendong ibunya.
“Bagaimana ibu bisa tenang.” Arina meneteskan air mata, dia sangat khawatir tentang Zeno yang berhadapan dengan orang-orang di keluarga Agalia tersebut. Sekuat apapun Zeno, tetapi di hati Arina, kekhawatirannya sangat begitu dalam.
“Kita harus menuju wilayah aman ibu, kita akan beristirahat disana sambil menunggu disana, yakinlah, Zeno bisa selamat.” Kata Yuna.
“Ibu tahu, saat negara api melakukan penyerangan wilayah barat negara angin, Zeno lah yang merupakan seseorang paling berjasa atas mempertahankan wilayah tersebut.” Ucap Fang Tan sambil menghibur ibunya.
Arina juga mengetahui bahwa negara angin tempat ayahnya tinggal memang diserang oleh negara api beberapa hari yang lalu, dengan seluruh prajurit beserta jendralnya mengalami kehancuran, Arina tidak mengetahui siapa yang paling berjasa melakukan itu semua.
Tetapi kali ini dia begitu terkejut setelah mengetahui bahwa yang melakukan hal tersebut merupakan Zeno. Jadi wajah Arina kali ini begitu tenang setelah mendengar cerita dari Fang Tan.
****
Sementara itu Zeno keluar dari kediaman Agalia dengan wajah begitu polos seakan tidak terjadi apa-apa. Tugas untuk membunuh seluruh keluarga Agalia benar-benar terselesaikan walaupun sebagian besar yang melakukan pembantaian ini adalah kakaknya.
Tetapi Zeno tidak terlalu peduli, yang terpenting membunuh Grisha dan juga Ryan adalah tugas utamanya, serta dengan memastikan bahwa seluruh keluarga Agalia kehilangan nyawa sudah terselesaikan.
Zeno tidak sabar pada waktu keesokan harinya dimana dia mendengar berita bahwa salah satu keluarga di negara api telah terbunuh massal secara misterius. Dengan begitu, keluarga Agalia benar-benar sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Zeno keluar dari kediaman dengan mengendap-ngendap agar tidak ada orang yang tahu. Walaupun di waktu dini hari yang begitu sepi, tetapi Zeno harus benar-benar meningkatkan kewaspadaan.
Dia kemudian berjalan untuk menyusul ibu dan kakaknya, walaupun kemungkinan besar dia sangat lelah, tetapi dia tidak terlalu peduli dan terus melanjutkan perjalanannya.
“Tuan, sepertinya anda sedang kelelahan, Izinkan aku untuk menjadi tunggangan terbang untuk menyusul ibu dan saudara tuan.” Kata Kiba menawarkan.
Zeno mengangguk sambil mengucapkan, “Baiklah.” Tetapi dia tidak bisa mengeluarkan Kiba dari sini, jadi dia lebih memilih mencari tempat persembunyian yang tidak dijangkau seseorang.
__ADS_1
Zeno menaiki punggung Kiba setelah ia mengeluarkan Kiba. Rasa lelahnya berangsur-angsur hilang setelah Kiba membawanya terbang.
Dengan begitu, Zeno bisa menyusul saudara dan ibunya dengan cepat, ia tidak bisa membayangkan melihat dirinya, ibunya, serta saudaranya berkumpul lagi seperti dahulu kala walaupun Zeno saat itu tengah berada di dalam kandungan.
Beberapa jam kemudian, Zeno sudah keluar di negara api, kini dirinya berada di wilayah aman tepat di dekat hutan elemental beast.
Zeno kemudian memerintahkan Kiba untuk turun dan dirinya mencari ibunya disitu, karena Zeno sangat yakin bahwa ibu dan saudaranya pasti sangat kelelahan dan beristirahat di pinggiran hutan elemental beast.
Kiba mendaratkan kakinya ke tanah, menurunkan Zeno yang duduk di punggungnya. Zeno mengucapkan terima kasih dan menarik Kiba kembali.
Zeno berjalan menuju pinggiran hutan, matahari sebentar lagi juga akan terbit menandakan dimulainya hari.
Zeno kemudian menghampiri sebuah pohon, karena dirinya melihat sang ibu sedang bersandar dibawah pohon tersebut, dengan kedua kakaknya yang sepertinya sedang berjaga apabila ada seseorang yang mencoba menyerang.
"Ibu, kakak." Teriak Zeno, hingga terdengar oleh ibu dan kakaknya.
Ibunya mengarahkan pandangannya setelah menyadari itu suara Zeno. Ibu Zeno segera berdiri dan memeluk Zeno yang kala itu berlari ke arahnya.
Yuna kemudian ikut memeluk adik dan ibunya yang sedang berpelukan, diikuti oleh kakaknya yaitu Fang Tan yang juga ikut memeluk ibu dan adiknya.
Setelah merasa puas, mereka berempat melepaskan pelukannya, beristirahat sejenak dan mengobrol layaknya seorang ibu dan anak.
"Zeno, kau cepat sekali datang kesini, padahal tadi kami baru saja beristirahat." Kata Fang Tan menanyakan.
"Aku menggunakan beast." Kata Zeno dengan begitu jujur.
"Beast? Kau punya beast elemental?" Yuna dan Fang Tan mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka bahwa Zeno juga memiliki seekor beast.
"Iya beast terbang." Jawab Zeno.
__ADS_1
"Beast terbang? Jadi beast mu semacam seekor burung?" Tanya kembali Yuna.
"Tidak, Beast ku merupakan seekor hewan darat tetapi bisa terbang di udara." Ucap Zeno.
"Tidak penting apa beast Zeno itu, yang terpenting Zeno selamat." Sahut ibu mereka.
"Tidak hanya Zeno, tetapi semua anak-anak ini selamat." Sambungnya dengan senyum di wajahnya.
"Ibu, sebenarnya aku sangat prihatin dengan kondisi ibu saat ini. Zeno tidak bisa membayangkan, bagaimana kekejaman keluarga Agalia memperlakukan ibu." Kata Zeno dengan begitu sedih, dia melihat ibunya tampak begitu kurus, dengan lengan tangan yang nampak tidak ada daging sama sekali, seakan-akan hanyalah tulang yang dibungkus dengan kulit.
"Zeno tidak perlu sedih, lihatlah ibu, yang terpenting ibu juga masih sehat." Ucap Arina menghibur Zeno.
"Ibu merasa bahagia bertemu dengan anak anak ibu, dengan Tan yang telah menjadi kaisar, Yuna yang telah menjadi wanita cantik, Zeno yang tidak melupakan ibu, kalian merupakan anak-anak ibu yang paling hebat. Sekarang mari kita menuju negara air, kalian tidak usah repot-repot menggendong ibu, ibu bisa berjalan sendiri." Sambungnya.
Mereka bertiga kemudian mengangguk, berdiri dari duduk mereka, melanjutkan perjalanan untuk pulang ke sebuah negeri yaitu negara air.
Perjalanan sepertinya akan menempuh waktu sebelum siang hari saat tepat mereka berada di wilayah perbatasan negeri air. Dengan kereta kuda yang berada di negeri air, jadi mereka tidak terlalu takut akan panas sehingga membuat mereka kelelahan.
Mereka juga kembali berbincang-bincang saat melakukan perjalanan, sehingga jalan yang mereka tempuh tak terasa sudah mencapai perbatasan.
"Bagaimana kondisi ayah kalian?" Tanya Arina.
Wajah Yuna dan Tan menjadi murung, sehingga membuat Arina kebingungan tentang kedua anaknya. "Apa yang terjadi dengan ayah kalian?" Tanya kembali Arina, dia menjadi cemas setelah melihat kedua anaknya begitu murung saat dirinya menanyai hal itu.
"Sebenarnya ayah mengembara di luar benua setelah kehilangan ibu." Kata Yuna.
"Ayah kala itu terlihat depresi dan merasa tertekan, sehingga ayah melakukan hal tersebut." Ucap Tan melanjutkan perkataan Yuna.
"Sangat disayangkan, padahal aku ingin bertemu ayah kalian." Ucap Arina yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Ibu jangan sedih, aku akan berjanji untuk membawa ayah pulang untuk ibu." Ucap Zeno dengan wajah yang bersungguh-sungguh di depan ibunya.