
Zeno sekarang hanya bisa melompat di antara bongkahan bongkahan batu yang keluar secara mendadak, tetapi untung saja Zeno bisa menghindari nya dengan begitu baik. Menghindari secara gesit seperti ini, Zeno pernah mempelajari selama lima tahun bersama Fang Yoshi saat mereka berdua bertemu di pinggiran hutan.
Walaupun sebenarnya cara menghindar menurut dirinya masih kalah jauh dengan Selena, jika Selena berada di posisinya, besar kemungkinan mengalahkan musuhnya sudah sedari tadi. Sebenarnya, Zeno juga ingin mengajak Selena bertarung melawan delapan orang bersamanya, agar mereka tahu bahwa Selena memiliki kemampuan khusus tanpa menguasai elemen.
Elemen tanah menurut Zeno juga sangat merepotkan, bagaimana tidak, saat Zeno mendekat, mereka selalu saja mengeluarkan pelindung yang membuat Zeno hampir menabrak pelindung alias tembok tanah yang keluar dari permukaan tanah.
“Zen, apa yang kau lakukan, hanya karena aku dihina, kau malah rela bertarung seperti ini.” Gumam Selena yang merasa sangat prihatin melihat Zeno bertarung.
Berbeda dengan Selena, orang lain yang melihat justru bersorak tanpa memiliki rasa prihatin sama sekali, baik kepada Zeno ataupun kepada delapan orang itu. Karena yang mereka butuhkan adalah hiburan, tidak peduli siapa yang menang, mereka hanya senang melihat pertandingan gratis.
Walaupun sebenarnya mereka memang berharap Zeno sebagai orang asing kalah, karena mereka akan sangat malu apabila orang dari negaranya sendiri akan kalah kepada orang asing, apalagi orang tersebut yang merupakan Zeno tidak mengeluarkan elemen sama sekali.
“Cih, sangat merepotkan.” Gumam Zeno yang hampir menabrak dinding pelindung yang mereka keluarkan.
“Haha, kau terjebak.” Serentak mereka semua yang masih berdiri tegak.
“Tanah: dinding tanah!” Tiga dari mereka mengeluarkan teknik itu tepat di bagian belakang, kiri dan kanan Zeno.
Zeno saat ini terjebak dengan keempat dinding tanah di semua sisinya. Zeno tau apa rencana mereka, kedua dinding dari empat dinding tanah pastinya akan bergerak menuju arah Zeno, sehingga kedua dinding akan menjepit Zeno secara bersamaan.
Zeno yang menebak rencana itu langsun berpikir kritis sebelum dinding tanah bergerak. “Menaiki dinding ini adalah pilihan terbaik, atau menghancurkannya? Tanpa elemen mungkin itu sesuatu yang sulit. Tidak, tidak, aku tidak akan menggunakan elemen untuk melawan mereka.” Ucap Zeno di dalam hati yang berpikir untuk keluar dari empat tembok.
Apa yang dipikirkan Zeno ternyata memang benar, dua dari mereka menggerakkan kedua sisi yang bergerak ke arah Zeno seakan-akan ingin mengapit Zeno yang ada di antaranya secara perlahan.
__ADS_1
Apapun yang terjadi, ketenangan adalah solusinya. Tergesa-gesa dengan rasa cemas tidak akan membuat diri menjadi baik, yang terpenting adalah ketenangan, namun juga disertai pikiran kritis saat bahaya mendekat, itulah yang dilakukan Zeno saat mendapatkan masalah.
Memanjat dinding adalah pilihan terbaik, tetapi masalahnya bagaimana Zeno memanjat dinding yang tingginya setinggi lima meter sebelum kedua tembok itu mendekat? Zeno telah memikirkan seperti itu, jadi cara seperti itu memanglah terbaik tetapi juga belum tepat.
“Rasakan itu nak!”
“Aku akan menunggu tangisanmu.” Kata salah satu dari mereka yang membuat yang lainnya tertawa.
Zeno tidak memperdulikan tawaan orang-orang dari balik tembok, yang terpenting baginya adalah berusaha menghancurkan tembok yang merupakan solusi baginya selain memanjat dinding yang kurang efektif.
Lagi-lagi dia mengeluarkan pedang dua jiwa untuk menghancurkan sebuah dinding yang terbuat dari tanah, katana biasa tidak akan sanggup untuk membelah dinding tanah yang sangat keras. Bahkan pedang dua jiwa sekalipun membutuhkan lima kali tebasan untuk menciptakan sebuah lubang dan menghasilkan jalan keluar.
Zeno melihat dua orang yang bersenda gurau karena mereka terlalu berharap bahwa Zeno akan mati, tetapi siapa sangka, mereka berdua telah mendapati tembok di depannya hancur dan terdapat Zeno yang berlari untuk menghajarnya.
Ia lantas berjalan di sisi lain tembok yang memang terdapat dua orang yang menunggu suara tangisan juga, Zeno juga melihat bahwa kedua orang yang ada di hadapan tembok berjalan sedang santai dan bersenda gurau.
“Harta, jabatan, elemen, bukankah itu sesuatu yang fana di dunia ini? Semuanya akan hilang apabila kau meninggal, ketiga hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus dibanggakan, karena perlahan dunia elementalist akan berubah menjadi ajang peperangan apabila semua orang menjadi seperti kalian.”
“Tindakan diskriminasi, bukanlah sesuatu yang terpuji, andaikan kalian tidak memiliki elemen, dan mendapati perlakuan diskriminasi? Apa yang akan kalian lakukan? Bunuh diri? bukan, itu bukanlah pilihan yang terbaik, pilihan yang terbaik adalah mencari bakat selain elemen yang membuatmu bisa melindungi diri.” Kata Zeno yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka berdua.
“Tungga bagaimana kau bisa?”
Sebelum mereka menyelesaikan ucapannya, Zeno telah berlari dan memukul kepala mereka, sehingga mereka juga telah pingsan akibat pukulan Zeno yang sangat keras, terlebih lagu mereka sepertinya juga telah kehilangan banyak orka.
__ADS_1
Zeno kembali berjalan ke sisi lain. Sama seperti teman-temannya yang tadi, dua orang sedang duduk santai sambil merendahkan Zeno dengan ucapan yang tidak mengenakkan hati. Tanpa basa-basi sedikitpun, Zeno berlari dan menyerang mereka tanpa persiapan apapun.
Braaak....!
Suara kedua dinding tanah bertabrakan yang menandakan kedua dinding itu benar-benar mengapit, tetapi untungnya Zeno berhasil keluar terlebih dahulu sejak lama.
“Hahahaha, pasti kau menyerah dan mati tanpa meninggalkan suara sedikitpun.” Teriak satu-satunya orang yang masih bertahan dari balik sisi yang lain.
“Kata siapa?” Ucap Zeno yang bersandar di dinding tanah yang tidak bergerak.
“Tunggu, bagaimana kau bisa keluar?” Ucap sisa orang itu begitu gelisah.
“Emm, bagaimana ya? Tapi ketujuh temanmu sudah tidak berdaya lagi, jadi sisa kau!” Kata Zeno dengan begitu halus namun dengan tatapan yang begitu tajam.
“Cih, rasakan ini. Tanah: Earth golem.”
Tanah di sekitar Zeno berguncang begitu hebat, kemudian disusul dengan keberadaan golem yang keluar dari tanah. Pemilik teknik golem tanah merasa sangat kelelahan, karena sebelumnya ia sudah mengeluarkan orka banyak, namun kini ia juga memaksa mengeluarkan sebuah golem dengan bayaran orka yang banyak juga.
“Padahal kau hanya perlu mengalahkanku, tetapi kenapa kau repot-repot mengeluarkan sebuah golem seukuran dua kali lipat darimu?” Senyum Zeno yang masih bersandar di dinding tanah.
“Aku tidak peduli.” Ujar orang itu dengan napas yang terengah-engah.
Zeno menghela napas dan hanya mengiyakan apa yang orang tersebut lakukan, lagipula Zeno sangat diuntungkan karena orang yang hampir kehabisan orka pasti tidak akan bisa mengendalikan lagi teknik hidup seperti golem tanah, karena menggerakkan golem juga memerlukan orka yang sangat besar.
__ADS_1
Tetapi jelas terlihat bahwa Golem hendak memukulkan tangannya ke arah Zeno, itu menandakan bahwa orang yang ada di hadapan Zeno masih memiliki orka yang lumayan, walaupun menurut Zeno memaksakan diri itu sangat tidak baik.