Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Ulangi sekali lagi perkataanmu!


__ADS_3

Di barisan pasukan yang dipimpin oleh Zeno, mereka berhasil menginjak di pesisir laut bagian timur Mare Enbarum. Tampaknya, di pesisir ini mereka sudah disambut oleh oleh beberapa pasukan yang juga menggunakan kuda, dengan pedang yang mana masing-masing pasukan melapisinya dengan elemen kegelapan.


Zeno berhenti, lebih tepatnya dua pasukan itu saling berhadapan sebelum pemimpin pasukan memberikan perintah untuk menyerang. 


"Jangan berpikir untuk mundur, kau sudah menghancurkan armada kapal, sehingga kau harus bertanggung jawab atas semua ini." Kata pemimpin pasukan ini dengan cukup serius dengan sebuah senyum percaya diri bahwa pasukannya akan menang. Karena terlihat jelas, bahwa pasukan yang dia bawa mungkin jauh lebih banyak dibandingkan dengan pasukan Zeno.


Zeno tahu itu semua bahwa pasukannya jauh lebih sedikit, namun dia juga percaya diri karena para pasukan yang dia bawa memiliki keberanian yang cukup besar. Selain itu, sudah setengah hari dia memutar seperempat empire dari wilayah selatan menuju wilayah timur, sehingga dia cukup yakin bahwa para pemanah sudah menaiki pegunungan. 


Jika pun belum, Zeno tidak mempermasalahkannya. Namun mau tidak mau, dirinya harus beristirahat selama satu malam sebelum masuk ke dalam gerbang kekaisaran yang menjadi bagian yang sangat sulit untuk diserang.


"Seperti apa yang kalian minta, aku dan pasukanku tidak akan mundur. Namun, jangan menyesal dengan apa yang kalian katakan." Zeno berkata dengan wajah yang begitu jahat, seolah dia ingin membantai pasukan yang ada di hadapannya tanpa tersisa.


"Bocah, sebaiknya kau kembali ke pangkuan ibumu. Ah, aku tau, ibumu adalah wanita malam sehingga tidak ada waktu unt …." Sebelum melanjutkan ucapannya, dalam sekejap pipi orang tersebut sudah tertusuk oleh sebuah pedang dan menembus pipi lainnya, tidak hanya itu saja, orang itu juga melihat dengan ketakutan yang tiba-tiba muncul saat melihat bahwa seseorang yang menjadi lawan bicaranya sudah ada di hadapannya.


Selain itu, pemimpin pasukan tersebut juga kaget saat Zeno bisa bergerak secepat cahaya. Bahkan dirinya tidak bisa melihat pergerakan Zeno saat hendak menusuk mulutnya.


"Ulangi sekali lagi perkataanmu!" Zeno berkata dengan nada yang cukup rendah, sehingga memberikan sebuah kesan mengerikan yang membuat lawannya bergidik seketika. Selain itu, dia juga semakin mendorong pedang yang menancap di antara pipi orang itu sehingga sampai di pangkal pedang. Tanpa ragu, Zeno langsung menariknya ke belakang, sehingga membuat kedua pipi orang tersebut robek.


Orang itu berteriak kesakitan dan jatuh dari kudanya, mencoba menghentikan darah yang terus menerus keluar akibat mulutnya yang robek. 

__ADS_1


Melihat, pemimpin pasukan tersebut dikalahkan dengan sekejap, para pasukan tidak tinggal diam, mereka langsung berteriak dan memacu kuda mereka untuk menyerang Zeno yang masih berdiri di kuda pemimpin mereka.


Tanpa berpikir panjang, pasukan milik Zeno juga langsung bergerak tanpa Zeno perintahkan. Masalahnya, apabila pasukan musuh sudah bergerak untuk melakukan serangan, tanpa diperintah sekalipun, seorang pasukan harus tahu diri. Apalagi, kaisar mereka atau Zeno sendiri telah di dekat mereka.


"Baiklah, mari kita bersenang-senang!" 


Masing-masing dari pasukan musuh mungkin mengeluarkan sebuah elemen kegelapan untuk menyerang Zeno dan pasukan yang ada di belakangnya. Namun, Zeno mengeluarkan elemen cahaya untuk membalas serangan tersebut. Sedangkan pasukan Zeno sendiri, mereka menggunakan elemen es untuk membuat sebuah pertahanan, walaupun pertahanan tersebut sangat mudah hancur, namun apabila diiringi oleh sebuah serangan, maka juga akan bisa mengimbangi.


"Elemental Blast, ledakan cahaya!" Zeno menembakkan sebuah elemen cahaya saat ada seorang prajurit yang menembakkan elemen kegelapan ke arah Zeno sendiri.


"Ledakan bintang!" Zeno mengulurkan tangannya, mengeluarkan sebuah bola cahaya yang tidak cukup besar di hadapannya.


"Duarr!" Tidak menunggu hitungan detik setelah bola cahaya itu diciptakan, ledakan tercipta cukup besar yang membuat prajurit musuh terlempar, bahkan menciptakan sebuah kawan yang cukup besar. Walaupun, pada akhirnya Zeno cukup menyesal mengeluarkan teknik tersebut, pasalnya banyak prajurit miliknya yang terkena dampaknya.


"Tunggu, sebentar." Zeno berpikir sejenak di kala dia bertarung dengan para pasukannya, namun tidak menghilangkan fokusnya untuk menghadapi musuh. "Apa jadinya aku mengeluarkan tebasan tak terlihat tahap akhir, sayatan seribu angin tahap terakhir, dan juga tarian naga tahap terakhir?" Zeno tersenyum senang, tampaknya sudah cukup lama dia tidak menggunakan teknik tersebut selepas memiliki elemen cahaya.


"Air: tarian naga tahap terakhir!" Zeno mengangkat Ice Swordnya tinggi-tinggi. Dia juga tampak kaget saat naga yang keluar dari pedangnya tampak lebih beringas dan besar dibandingkan yang sebelumnya. Mengingat, bahwa Fang mengeluarkan teknik tersebut dalam teknik kesebelas, entahlah, Zeno tidak tahu teknik tersebut tahap terakhir atau bukan.


Naga tersebut kemudian menari sesuai alur dari pedang Zeno. Mungkin saat mengayunkan pedangnya, itu terlihat cukup berat seolah mengendalikan naga sebesar itu, namun, Zeno bisa merasakan kekuatan yang luar biasa pada naga tersebut.

__ADS_1


Dan benar, sesekali naga tersebut membuat beberapa musuh terlempar ke belakang dalam sekejap setelah Zeno seolah menghempaskannya. 


Zeno terlihat cukup puas, saat dia memainkan pedangnya untuk mengendalikan naga tersebut. Walaupun, dia benar-benar sedikit berhati-hati agar naga tersebut tidak mengenai pasukannya sendiri. Karena kondisi sekarang, kedua pasukan tersebut benar-benar tercampur.


Zeno menghentikan tarian naganya, karena itu justru akan sangat merepotkan. Mungkin berbeda lagi, apabila dia mengeluarkan teknik sayatan seribu angin di awal-awal, mungkin akan menang dengan cepat dan tidak terganggu oleh pasukannya sendiri.


Tapi mau bagaimana lagi, waktu awal tadi dia tidak bisa berpikir dengan tenang karena terbawa sebuah emosi di saat ibunya dihina seperti itu. Bahkan, Zeno bergerak tanpa berpikir panjang untuk mengalahkan musuh secara spontan.


"Menyesali sesuatu yang telah terjadi merupakan keputusan yang sangat buruk. Jika tetap seperti ini, maka mau tidak mau aku harus terus maju lagi. Walaupun, mundur sedikit tidak akan menjadi masalah." Zeno membatin sambil memikirkan sebuah rencana.


"Pasukan, mundur! Jaga jarak dengan pasukan musuh." Zeno berteriak dengan sangat kencang sambil memainkan pedangnya untuk melawan para pasukan musuh.


"Tapi kaisar, kita sudah akan menang." Teriak prajurit lainnya.


"Mundur saja, kita mungkin akan menang apabila terus maju, tapi korban yang berjatuhan juga tidak sedikit." Zeno kembali menegaskan.


Menurut, para prajurit mundur dan kembali ke pinggir laut seperti apa yang diperintahkan oleh Zeno. Tetapi, mereka bertanya-tanya mengapa kaisar menyuruh mereka mundur? Namun, mereka tidak mau bertanya kepada Zeno secara langsung.


"Jangan biarkan pasukan musuh mundur!" Teriak prajurit musuh, mereka langsung mengejar pasukan Glacies yang mundur meskipun mereka itu sendiri tidak menggunakan kuda.

__ADS_1


"Bagus, sekarang aku lebih leluasa untuk mencoba teknik yang sering kugunakan, namun dalam teknik terakhir. Mengingat teknik ini diberikan langsung oleh Dewi Luna." Zeno tersenyum sambil bergerak ke belakang, menjaga jarak untuk mengeluarkan sebuah tekniknya yang mungkin akan tampak mengerikan.


"Sayatan seribu angin, tahap terakhir" Batin Zeno sambil berhenti, berbalik badan dan mengulurkan tangannya. Namun, saat dia membatin teknik seperti itu, dia memejamkan matanya dan perlahan membukanya saat mengulurkan tangannya.


__ADS_2