
“Kau begitu keras kepala.” Kata salah satu orang sambil menunjuk ke arah Zeno. Tidak hanya itu saja, setitik cahaya keluar dari jari telunjuknya dan tertembak ke arah Zeno.
Hanya cahaya kecil, bukan masalah bagi Zeno, sehingga dengan mudah dia menangkisnya menggunakan Ice Sword yang begitu kuat. Bahkan, Ice Sword yang berwarna biru muda dan begitu mengkilau dapat memantulkan serangan cahaya itu dengan sangat mudah. Hanya saja, cahaya yang dipantulkan lebih lemah dari yang aslinya, buktinya orang yang menyerang Zeno itu tadi tidak terjadi apa-apa, mungkin hanya luka bakar yang bukan masalah bagi dia.
Bukan masalah, tentu saja bukan masalah, bahkan Zeno merasa cukup aneh saat musuh yang ada di hadapannya tampak biasa saja saat memiliki luka yang begitu banyak. Mungkin karena sudah sering mendapatkan seperti itu jadi mereka sudah menganggap hal itu adalah hal yang sepele, lagipula jika terluka, maka beberapa hari luka tersebut akan cepat sembuh.
Seperti apa yang Zeno duga, salah seorang prajurit membenarkan apa yang Zeno pikirkan, “Luka yang kau berikan tidak terlalu kami pedulikan, kami tidak peduli, bahkan kami tidak merasakan sakit karena sudah sering mendapatkan seperti ini.”
“Wajar saja, aku akan menebak bahwa kalian sering dipukuli oleh orang yang bernama tuan sepuluh?” Zeno tertawa lebar, “Tuan macam apa dia, begitu keras dan sering memperlakukan buruk kepada bawahannya, namun kalian begitu bodoh karena masih menurut dengannya.”
“Tidak peduli apakah tuan sepuluh berlaku buruk pada kami, tapi aku masih sangat menyeganinya. Jika dia memerintahkan kami untuk membunuhmu, maka kami juga akan melakukan apa yang dia perintahkan.” Ucap salah satu dengan mereka, “Semua, bunuh dia!” Perintahnya dengan begitu tegas.
Turse melepaskan ketiga anak panahnya saat tahu bahwa kesepuluh orang yang ada di hadapannya bergerak, tidak hanya itu saja, dengan cepat dia menarik tali busurnya dan melepaskannya secara berkali-kali. Begitu juga dengan Zeno, dia menebaskan pedangnya berkali-kali sehingga memunculkan empat elemen yang keluar dan membentuk bulan sabit.
Sayangnya itu terlalu mudah bagi mereka, terlalu mudah untuk di lawan dengan elemen cahaya milik mereka. Seperti belasan anak panah milik Turse, tiga dari mereka maju ke depan dan mengeluarkan lingkaran cahaya dengan sebuah pola seakan menjadi sebuah tameng, sedangkan seseorang yang ada di belakangnya menyerang Turse kembali menggunakan elemen cahaya yang dia miliki.
__ADS_1
Untungnya, Turse bisa melompat dan menghindar dengan begitu gesit walaupun jurang ada di belakangnya. Selain itu, dia yang berpolah tingkah juga masih sempatnya menarik anak panah dan menembaknya kembali.
Sebelumnya Turse sempat menarik Atsuba kembali, karena dia benar-benar menurut prinsip Zeno, yang mana dia tidak ingin mengeluarkan beast sebelum kondisi benar-benar tidak memungkinkan.
Begitu juga dengan Zeno, dia juga berpolah tingkah demi menghindari serangan cahaya yang berulang kali ditembakkan kepadanya. Dia juga tampak begitu tenang saat tahu bahwa musuhnya juga berlari mendekat ke arah dirinya disela-sela dirinya diserang dari jarak yang begitu jauh.
“Tarian naga tahap keempat!” Seperti biasa, saat mengeluarkan teknik tersebut, sosok naga muncul dari pedang Zeno yang ditebaskan setelahnya. Naga tersebut bergerak dengan begitu cepat bagaikan aliran yang begitu deras.
Tidak mau kalah, seseorang yang mendekat ke arah Zeno langsung menembakkan cahaya ke arah naga tersebut, tapi sayangnya naga tersebut menghindar dengan begitu lihai seolah hendak menari. Beberapa kali orang yang ada dibelakang juga menembakkan sebuah cahaya ke arah naga tersebut, tapi naga tersebut terlihat begitu gesit dan menghindar dengan begitu mudah.
Alhasil, mereka nampak begitu lemah dan lemas dengan jatuh ke tanah, mereka juga ingin berteriak dengan begitu keras, namun jantung mereka tiba-tiba berhenti yang membuat mereka kesulitan untuk berteriak.
Apalagi tiga orang yang terkena anak panah milik Turse sebelumnya, mereka yang terkena serangan vital milik Zeno bisa dipastikan langsung lumpuh disertai dengan gagal jantung yang hebat.
Setelah sekian lama, benar-benar dia baru menggunakan teknik pemecah batu itu sekali lagi, entah sejak kapan dia terakhir menggunakannya, yang terpasti Zeno sering lalai jika dia memiliki teknik itu. Masalahnya, teknik tersebut seakan muncul, seakan hilang di pikirannya, sehingga Zeno jarang menggunakan teknik berbahaya yang berasal dari leluhur Fang.
__ADS_1
Sudah enam orang yang berhasil dilumpuhkan Zeno sepenuhnya, sisa empat orang lagi yang saat ini sedang bertarung dengan Turse. Sehingga dengan begitu cepat dan tanpa membuang-buang waktu, Zeno segera membantu Turse untuk menyelesaikan para musuhnya.
“Gerakan kilat!” Zeno langsung bergerak ke arah tiga musuh yang mengeluarkan lingkaran cahaya dengan pola yang begitu aneh. Tanpa ragu, Zeno langsung menebas lingkaran cahaya itu dengan Ice Sword yang dilapisi oleh air dan angin yang berputar dipedangnya.
Orang itu tampak tersenyum saat melihat Zeno sedang membenturkan pedangnya ke arah cahaya yang merupakan tameng mereka. Karena mereka sendiri yang menciptakan, walaupun cahaya bukan benda padat, tapi setidaknya apabila digunakan untuk menjadi sebuah pola pelindung atau tameng, maka juga sangat efektif, bahkan bisa memantulkan serangan elemen lain seperti tebasan elemen.
Zeno benar-benar membenturkan pedangnya menggunakan Ice Sword tanpa peduli raut wajah tiga orang yang ada di hadapannya. Masalahnya, raut wajah tiga orang tersebut terlihat sangat buruk saat melihat bahwa pedang milik Zeno baik-baik saja, justru formasi cahaya dengan pola aneh itulah yang seolah retak akibat pukulan telak oleh pedang Zeno.
Melihat tameng mereka yang belum pecah sepenuhnya, Zeno kembali memukulnya menggunakan tangan kirinya dengan begitu keras. Tidak, lebih tepatnya Zeno melapisi tangannya menggunakan elemen tanah yang dilapisi oleh es yang begitu tajam, sehingga pelindung milik musuh pecah sepenuhnya.
Bagaimana dengan dua orang yang menjadi penyerang? Tentu saja dia tidak menyerang Zeno karena harus fokus untuk menyerang puluhan anak panah milik Turse yang melesat ke arahnya dari sisi yang berbeda. Bagaimana tidak, jika dia berada di tempat yang sama, maka anak panahnya akan mengenai Zeno. dan Turse tidak ingin hal itu terjadi.
Serangan anak panah Turse, tanpa seorang yang membawa pelindung itu tadi, membuat dua orang itu begitu kesulitan. Bahkan elemen cahayanya sama sekali tidak berefek kepada Turse sama sekali, bagaimana tidak, musuhnya atau Turse terlihat bergerak sangat lincah sambil menembakkan anak panahnya.
Zeno juga terkejut saat melihat Turse bergerak seperti itu, mungkin terlihat seperti Selena, tapi masih begitu bagus Selena. Sehingga ha itu membuat Zeno sedikit mengingat mengenai Selena yang ada di benua sana.
__ADS_1
Zeno segera melupakan itu, apa yang dia lakukan saat ini adalah menatap sinis tiga orang yang saat ini tidak bisa bergerak karena tercengkeram oleh gundukan tanah.