Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Ancaman (2)


__ADS_3

Zeno melirik ke belakang ke arah tiga orang yang sedang bergidik ketakutan sambil menahan rasa sakit yang baru saja di berikan oleh mereka. Rasanya terlihat lucu, bahkan Zeno hampir tertawa melihat raut wajah orang tersebut seolah ingin mati saja, dengan suara yang sedikit rendah, dia berkata, “Bukankah kalian mengatakan bahwa luka-luka itu tadi nampak biasa saja, tapi mengapa kalian merengek kesakitan?”


Zeno berbalik badan sambil memasukkan kembali Ice Sword di belakang punggungnya, hembusan napas kesekian kali memunculkan sebuah kabut yang menandakan bahwa kondisi sudah tengah malam dan begitu dingin. Entahlah, Zeno merasa bahwa dia baru saja berada di hutan ini, tapi siapa yang menyangka ternyata sudah setengah hari satu malam yang dibilang sudah cukup lama.


“Sebelum kalian pergi, aku ingin bertanya kepada kalian bertiga.” Zeno melemparkan kristal es yang tadi dia gunakan untuk mengancam, namun kali ini teknik ancamannya jauh lebih mengerikan dari yang itu tadi.


Bagaimana tidak, akar pohon keluar dari tangan Zeno dan melilit leher salah satu dari mereka, bahkan Zeno tanpa memiliki rasa kasihan, dia semakin mencekik leher orang itu dengan begitu kuat. Tidak hanya itu saja, ujung akar muncul dari lilitan di leher dan memanjang sampai menuju pelipis orang itu. Bisa dipastikan, bahwa Zeno nampak begitu tenang, namun juga terlihat sadis.


Ingin berteriak, tapi rasanya aliran suara tersumbat dengan cekikan akar pohon yang luar biasa. Begitu sulit untuk bernapas membuat orang itu menjadi sedikit pusing. Yaah untung, untung orang tersebut bukan orang yang ditusuk parah oleh Turse, melainkan orang yang hanya digores sedikit oleh anak panah Turse.


“Apa rencana tuan sepuluh?” Tanya Zeno kepada seseorang yang ada di samping orang yang sedang tercekik.


Begitu tidak adil bagi orang yang dicekik tersebut. Dia yang kesakitan, namun orang lain yang ditanyakan, seolah dirinya menjadi sebuah korban. Karena apa yang ia takutkan, rekannya itu tadi tidak mau menjawab dan membuat dirinya terbunuh hanya dengan akar pohon yang begitu keras seakan sebuah pohon yang tidak terlalu baru tumbuh ataupun terlalu tua.


“Kau juga boleh untuk tidak menjawabnya, tapi temanmu akan ....” Zeno menatap sebentar mata orang yang dicekik olehnya. Entah kenapa, Zeno juga menjadi tidak sabar untuk memutuskan leher orang tersebut.

__ADS_1


Hanya mengunci mulutnya, tidak menjawab apa yang dipertanyakan oleh Zeno. Tentu saja, dia memilih rekannya mati daripada harus memberitahukan rencana pribadi milik tuan sepuluh. Lagipula, rekannya itu siapa? Hanya seorang rekan yang tidak terlalu penting, bahkan mereka bertiga juga tidak memiliki hubungan apapun. Mereka saja berasal dari wilayah yang berbeda, namun masih dalam satu tuan yang sama.


Zeno menunggu beberapa menit, tidak ada jawaban yang terdengar di telinga Zeno. mereka ternyata masih cukup berani walaupun sudah ada racun yang hendak bereaksi di tubuh mereka.


Tanpa ragu lagi, akar yang mencekik salah satu dari mereka semakin begitu kencang dan juga erat, matanya melotot seakan ingin keluar. Perlahan, darah juga menyembur ke mana-mana ke arah temannya.


Ingin sekali muntah, Zeno segera langsung meloncat ke belakang sambil menarik akar pohon yang ia ciptakan. Dia begitu merasa jijik saat dirinya terkena cipratan darah merah. Selain itu, Zeno juga tidak ingin melihat kepala jatuh tepat di bawah kakinya dengan mata yang terbuka lebar. Pasti itu akan sangat menyeramkan dan menjadi sebuah mimpi buruk bagi Zeno sendiri.


“Itu benar-benar sangat menjijikkan.” Zeno menghilangkan akar pohonnya kembali yang bersamaan dengan kepala yang menggelinding disertai genangan darah tepat di sebelah sebuah kepala.


Turse bahkan hampir muntah, perutnya terasa ingin mual seakan daging rusa yang ada di perutnya ingin keluar. Entahlah, Turse memang sering dan sudah biasa untuk membunuh orang, tapi rasanya melihat apa yang dilakukan Zeno membuatnya harus memalingkan wajahnya karena tidak ingin hal yang mengerikan dan menjijikkan itu.


“Aku tegaskan sekali lagi, apa rencana tuan sepuluh?” Zeno mengulangi pertanyaan untuk kedua kalinya.


“Tidak masalah apabila kalian tidak ingin menjawab. Setidaknya, kalian akan kehilangan kepala. Dan itu akan menjadi sebuah masalah yang besar bagi kalian.” Tegas Zeno sambil menatap sinis mereka berdua.

__ADS_1


“Kenapa kalian sangat berat untuk menjawab?” Turse kembali memandang mereka dengan begitu serius, wajahnya terlihat tidak berekspresi namun masih tidak meninggalkan kesan yang begitu mengerikan. “Lagipula, di tubuh kalian sudah terdapat racun yang akan bekerja. Jadi kalian tidak akan bisa lari dariku atau tuan Zeno.”


Mereka berdua hanya menelan ludah dengan begitu kasar, tidak ada pilihan yang menarik baginya. Ini semua seakan sebuah jebakan yang sangat merugikan, ibarat maju kena dan mundur kena. Benar-benar tidak sesuai apa yang mereka pikirkan, karena mereka juga tidak menyangka bahwa diri mereka terkandung racun yang mana hanya Turse lah yang mempunyai penawar. Dengan begitu, mereka pasti tidak akan bisa lari dari Zeno sebelum mereka melaksanakan tugas yang Zeno berikan.


“Menjawab bukanlah hal yang buruk, sepertinya.” Batin mereka dengan ragu, mengambil keputusan harus benar-benar bijak karena ini masalah nyawa yang dipermainkan.


Di sisi lain, dia akan berhadapan dengan tuan sepuluh jika dia menuruti perkataan Zeno, yaitu mengatakan bahwa Zeno sudah mati dan mengatakan kepada Zeno mengenai rencana tuan sepuluh dalam menghadapi pihak Nuvoleon. Sedangkan di sisi ini, dia juga harus berhadapan dengan seseorang yang sama-sama kejamnya dengan tuan sepuluh, bedanya orang ini jauh lebih muda dari tuan sepuluh.


Dengan tubuh yang gemetar, akhirnya salah satu dari mereka angkat bicara. Lagipula, jika dipikir-pikir, menuruti Zeno jauh lebih enak daripada masih setia dengan tuan sepuluh. “Rencana tuan sepuluh, dia  sudah menggiring separuh pasukan Nuvoleon untuk naik ke gunung Apiluc, dengan begitu, tuan sepuluh dengan begitu mudah dapat menghabisi pasukan yang naik tersebut. Sedangkan separuh yang masih ada di bawah gunung, mereka tidak akan naik ke atas gunung karena tidak ada perintah.”


“Perintah?” Zeno mengangkat alisnya.


“Benar, karena Anda berhasil membunuh jenderal Tamichi, maka tuan sepuluh mengirim seseorang dengan mengaku bahwa dirinya adalah salah satu pasukan milik jenderal Tamichi. Orang tersebut akan menuju pasukan kekaisaran untuk memberitahu mengenai pesan jenderal, bahwa separuh pasukan ditugaskan untuk naik gunung. Walaupun sebenarnya itu adalah pesan palsu.” Kata salah satu dari mereka yang masih begitu ketakutan.


Mendengar hal itu, Zeno tersenyum lebar, ternyata dia justru sangat terbantu saat tuan sepuluh melakukan itu, walaupun dia tahu bahwa tuan sepuluh mengirim seseorang untuk mengirim dirinya, tapi setidaknya, membuat rencana yaitu mengirim berita palsu kepada tuan sepuluh dengan perantara anak buahnya sendiri merupakan keputusan yang bagus.

__ADS_1


__ADS_2