
Kedua prajurit langsung tersenyum sombong, merela langsung mendorong tombak mereka ke arah perut Koa. Namun, Koa masih bisa meloncat ke belakang untuk menghindari serangan tersebut.
Seketika, sebuah bola kegelapan muncul di hadapannya secara tiba-tiba dan melesat ke arahnya. Koa membuka mulutnya lebar-lebar dan terkejut mengenai serangan dadakan tersebut. Demi menghalau serangan bola kegelapan yang sepertinya dikeluarkan oleh dua prajurit, Koa membakar tangannya dan langsung menebas bola kegelapan menggunakan tangan. Dan berharap bahwa bola itu hancur.
Koa berteriak, pasalnya bola kegelapan tidak hancur walaupun dia menebasnya. Justru tangannya terluka parah. Dia juga merasa sial saat menoleh ke belakang, dan mendapati bahwa salah satu prajurit akan menusuknya menggunakan sebuah tombak.
“Sial, tidak ada waktu untuk bergerak.” Koa menggertakkan giginya, dia tidak bisa bergerak secara cepat karena tombak akan mengenai dirinya secara cepat. Apa yang bisa ia lakukan adalah, membakar tombak tersebut sebelum menusuk dirinya.
Tepat ujung tombak tersebut hampir mengenai punggung Koa, Koa menangkapnya menggunakan kedua tangannya ke belakang. Walaupun sialnya, yang ia tangkap merupakan besi tombak, sehingga tangannya benar-benar terluka.
“Terbakar!” Tombak tersebut seketika terbakar, dan ujung tombak juga meleleh membentuk sebuah cairan merah yang jatuh di atas tanah.
Walaupun dia elementalist api, tapi jika terkena besi cair juga akan merasakan kesakitan. Bahkan tangannya benar-benar melepuh karena terkena besi cair yang panas sebelum jatuh ke atas tanah.
“Oh tidak.” Koa membuka matanya ke depan, kini prajurit yang lainnya juga tiba-tiba muncul dan menjulurkan sebuah tombak dengan aura kegelapan yang pekat di sekelilingnya.
Koa mengangkat kakinya walaupun tubuhnya gemetar. Kakinya ia gunakan untuk menendang orang tersebut sebelum tombak prajurit yang ada di hadapannya benar-benar mengenai dirinya.
Namun sayang sekali, prajurit tersebut lebih cepat, sehingga sang prajurit lebih dahulu menancapkan tombaknya secara dalam tepat di bagian tulang rusuk atas yang dekat dengan pundak sebelum prajurit tersebut terlempar beberapa meter karena tendangan Koa yang dilapisi oleh api.
Koa menarik tombak tersebut dengan rasa sakit, untungnya tombak yang ditancapkan prajurit kegelapan tidak menusuk organnya.
“Apa yang kalian lakukan? Aku datang dengan damai untuk mengirimkan sebuah surat.” Protes Koa.
__ADS_1
“Untuk prajurit seperti mereka benar-benar sangat tidak bisa diremehkan, bagaimana dengan kaisarnya? Aku benar-benar harus menjaga ucapan dan sikap apabila berhadapan dengan kaisar Danze.” Katanya secara lirih, dia masih menutup luka menggunakan tangannya agar darah tidak keluar terus menerus.
“Baiklah, kami akan membawamu menuju kaisar. Tapi kutegaskan, bahwa kau harus menjaga sikap. Bagaimanapun, kaisar merupakan orang yang sangat sensitif.”
>>//<<
Zeno memandangi orang tuanya sedang berduaan seperti anak remaja pada umumnya. Entah kenapa, hatinya menjadi sedikit tenang karena bisa melihat kedua orang tuanya berkumpul. Tapi dia tiba-tiba melamun dan memikirkan sesuatu yang membuatnya menjadi tidak tenang.
Fang Tan tiba-tiba lewat dan memandangi Zeno yang sedang melamun memperhatikan orang tuanya dari kejauhan. Tapi dia juga melihat bahwa tidak ada rasa bahagia dari raut wajah Zeno. Sehingga Fang Tan segera menghampiri Zeno berharap dia baik-baik saja.
“Apa yang kau pikirkan?” Fang Tan menepuk pundak Zeno dari belakang.
Seketika Zeno menoleh sambil memasang raut wajah yang tidak begitu cerah seperti awalnya. Hal itu membuat Fang Tan mengangkat alisnya dan penasaran mengenai apa yang dipikirkan oleh Zeno.
“Bukan itu yang kupikirkan.” Zeno menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Apa kau tidak teringat kejadian satu minggu yang lalu? Saat kaisar Yin berbuat ulah saat pertemuan kaisar?”
Fang Tan mengerutkan dahinya, dia mengingat bahwa kaisar Yin memang berbuat ulah, sehingga membuat kaisar lainnya merasa jengkel. Tapi dia tidak tahu, apa maksud Zeno sehingga mengungkit kembali kejadian masa lalu yaitu pertemuan lima kaisar.
Melihat ekspresi Fang Tan, Zeno menjelaskan, “Apakah menurutmu kaisar Yin akan diam saja setelah harga dirinya diinjak-injak oleh para kaisar lainnya? Tentunya sebagai kaisar, dia tidak akan diam saja. Aku yakin, saat ini dia pasti membuat rencana buruk untuk menyerang salah satu dari empat negara.”
Fang Tan berpikir sejenak, apa yang dipikirkan oleh Fang Zeno ada benarnya, bahwa tentunya kaisar Yin tidak akan tinggal diam. Tapi, dia segera membuang semua kekhawatirannya dan berkata kepada Fang Zeno, “Kau tidak perlu khawatir, kaisar Yin itu dimusuhi kaisar lainnya. Sehingga, apabila dia menyerang salah satu negara, negara lainnya juga akan memerangi negara api.”
“Itu yang aku khawatirkan, negara Api akan berambisi untuk menghancurkan negara lainnya tanpa turun dalam peperangan, karena mereka tahu bahwa empat negara memiliki sebuah kerja sama yaitu pasukan aliansi yang dibangun di negara petir. Bagaimana jadinya jika negara Api menggunakan cara adu domba?” Zeno mengangkat wajahnya.
__ADS_1
“Itu merupakan cara meruntuhkan sebuah negara dengan cara paling halus. Bahkan, dalang utama tidak perlu untuk turun tangan dalam medan perang.” Sambungnya.
Fang Tan mengerutkan dahinya sambil menyentuh dagunya. Dia sebagai kaisar berpikir dengan bijak dan menyadari bahwa ucapan Zeno ada benarnya, bahwa kaisar Yin bisa saja menggunakan sebuah adu domba untuk menghancurkan negara-negara lainnya. “Terima kasih Zeno, aku akan segera mengabari kaisar lainnya agar lebih waspada.”
“Aku mengerti, tapi ada satu pesan lagi yang ingin ku sampaikan.” Fang Zeno menatap Fang Tan begitu serius.
“Apa itu?”
“Bisa saja kaisar Yin menyembunyikan senjata terkuatnya. Apa kau tidak curiga, mengapa negara Api seperti negara mandiri dan tidak membutuhkan bantuan negara lain? Dan apakah kau tidak curiga, mengapa kaisar Yin seakan masih tenang setelah dikecam oleh empat kaisar lainnya?” Wajah Zeno tidak berekspresi.
Fang Tan memperhatikan Zeno bahwa dia benar-benar berkata dengan serius. Maka dari itu, dia juga menjawabnya dengan serius, “Yaah aku mengerti, sepertinya kita perlu meningkatkan seluruh prajurit baik itu pribadi, maupun pasukan aliansi yang telah dibentuk.”
Tiba-tiba Fang Tan merasakan bahwa kepalanya seperti tertembak sesuatu. Tapi itu tidak terlalu keras sehingga membuatnya terkejut. Saat dia memastikan di dahinya, dia merasakan bahwa dahinya basah seperti tertembak air.
Zeno juga terkejut, dia langsung menoleh ke arah asal tembakan tersebut. Namun seketika, dia membuka mulutnya saat melihat bahwa tembakan tersebut berasal dari ayahnya yang sedang menunjuk dirinya.
“Kalian boleh mengintip orang tua kalian yang sedang bermesraan di taman, tapi setidaknya jangan berbicara terlalu keras hingga kami terganggu. Awas! aku akan memberikan sebuah pelajaran kepada kalian.” Kata Fang Zhuo yang menatap sinis kedua anaknya.
Arina yang duduk di samping Zhuo, dia juga menoleh ke belakang dan juga tertawa lirih melihat suaminya yang tiba-tiba marah karena diganggu oleh kedua anaknya.
“Maafkan aku ayah, ibu. Semua itu karena Zeno!” Fang Tan berlari pergi sambil meninggalkan Zeno di tempat.
“Tunggu, apa?” Zeno menggertakkan giginya melihat Fang Tan yang pergi meninggalkan dirinya. Dia hanya bisa tersenyum malu ke arah kedua orang tuanya sambil beranjak pergi seperti seorang anak kecil.
__ADS_1