
Zeno melompat dan menghindar ke atas saat golem itu memukulkan tangannya ke arah Zeno.
Pergerakan golem sangatlah lambat, karena pengendalinya sudah menguras orka yang begitu banyak yang membuatnya kelelahan dan panas dingin.
"Kenapa kau memaksakan diri, menyerahlah dan mengakui bahwa elemen bukanlah segalanya, dengan begitu kau tidak akan mati konyol karena kehilangan banyak orka." Teriak Zeno.
"Tidak, akan kubuktikan bahwa elemen adalah segalanya, kau hanya beruntung kali ini nak." Pria itu mengendalikan golemnya untuk menyerang ke arah Zeno.
Tetapi lagi-lagi Zeno bisa menghindari dengan cukup baik. Zeno benar-benar bosan dalam pertarungan seperti ini, hanya mengandalkan sebuah pedang dan ilmu bela diri yang didapatkan dari kakek Fang membuatnya ingin mengakhiri pertarungan ini.
Karena sedari tadi, pertarungan ini hanyalah sia-sia, tidak ada yang diperebutkan, dipertaruhkan, harga diri yang jatuh, penyebab pertarungan ini bukanlah itu semua. Zeno berniat bertarung hanya untuk memberi mereka sebuah pelajaran, walaupun tidak hanya mereka yang memiliki sikap seperti itu, tetapi setidaknya Zeno bisa mengurangi orang bodoh.
Zeno meloncat dari pundak Golem itu dan meluncur ke arah pengendalinya, ia juga menjulurkan pedangnya dua jiwanya itu dengan berniat membunuh pria itu secara langsung.
Tetapi sayangnya, pria tersebut mengeluarkan pelindung tanah yang sangat merepotkan, hal itu membuat Zeno menggertakkan giginya karena terhalang dinding tanah.
Namun siapa sangka, pedang dua jiwa tertancap ke dinding tanah dan berhasil menembus pundak kanan sang pria yang ada di belakang dinding tanah tersebut, mengakibatkan pria itu berteriak begitu keras karena merasakan rasa sangit yang amat teramat.
Golem juga perlahan rata dengan tanah dan kembali ke wujud asalnya, Zeno menghela napas dan tidak menyangka bahwa dirinya bisa mengalahkan mereka tanpa menggunakan elemen sedikitpun.
Orang-orang yang melihatnya juga merasa tidak percaya, bahwa hal mustahil itu terjadi, apalagi Zeno melawan delapan orang membuat orang-orang itu tak henti-hentinya membuka mulutnya. Hanya menggunakan pedang, tanpa menggunakan elemen, bukankah itu kemampuan yang begitu hebat? itulah yang mereka katakan dengan membatin setelah melihat pertarungan Zeno.
Selena juga demikian, ia merasa menghela napas saat melihat Zeno berhasil mengalahkan mereka tanpa menggunakan elemen sedikitpun, setetes air, ataupun sekecil partikel angin, Zeno benar-benar tidak menggunakan itu. Walaupun sebenarnya ia sedikit tidak percaya bahwa Zeno benar-benar bisa mengalahkan kedelapan orang.
__ADS_1
Zeno yang telah mendapatkan kemenangan menarik pedangnya yang tertancap ke dinding tanah, ia lantas menaruhnya di belakang punggung seraya berteriak, “Kalian lihat, bisa dipastikan bukan, elemen bukanlah segalanya.”
“AKu tidak merendahkan elementalist sama sekali, karena aku juga memiliki elemen juga.” Katanya sambil mengeluarkan bola air dan angin masing-masing di kedua tangannya.
“Yang terpenting adalah, kita sebagai elementalist tidak boleh merendahkan atau memperlakukan buruk orang yang tidak memiliki elemen. Itulah prinsip yang harus di tempatkan di dalam masyarakat lima negara di benua ini.” Sambungnya sambil menghilangkan kedua bola elemen tersebut.
Banyak orang yang menunduk dan berpikir lebih jernih setelah mendengar perkataan Zeno. Mereka menyaring lebih lembut lagi bahwa perkataan Zeno ternyata sangat benar, bahwa orang yang tidak memiliki elementalist sama sekali bukanlah sesuatu yang disamakan dengan hewan, mereka adalah sama-sama manusia yang layak diberi kehidupan tanpa tindakan diskriminasi dari siapapun.
Karena mereka kali ini benar-benar melihat, bahwa tanpa elemen sekalipun dan dengan jiwa bela diri yang baik, pemuda seperti Zeno bisa mengalahkan delapan elementalist tanpa terluka sedikitpun.
Tapi banyak juga orang yang pergi meninggalkan padang hamparan dan masih memegang prinsip yang mereka buat, bahwa elemen adalah segalanya, elemen adalah penentu kuat atau tidaknya seseorang. Mereka yang berpikiran seperti itu, beranggapan bahwa Zeno hanya beruntung karena melawan delapan elementalist yang sangat lemah.
Zeno akhirnya pergi meninggalkan delapan orang itu. Dia benar-benar sangat lapar karena sarapannya terganggu karena mengurus orang-orang bodoh tersebut.
Zeno menghela napas sejenak dan mengatakan, “Karena aku pernah berada di posisimu, tidak memiliki elemen dan dikucilkan oleh keluargaku sendiri.”
Selena sendiri tersentak kaget saat mendengar ucapan Zen, ia tidak menyangka bahwa Zen pernah tidak memiliki elemen sama sekali dalam hidupnya. Tetapi Selena berpikir sejenak, “Bukankah itu hal yang wajar, bukankah semua orang tidak memiliki elemen di saat mereka balita?”
“Memang, tapi bukan itu maksudku. Keluargaku tidak mengetahui bahwa kebangkitan elemenku hanya terlambat. Maksudnya begini, pada dasarnya, elemen akan bangkit pada anak kecil umur lima atau tujuh bukan? sedangkan setelah umur itu, elemenku belum bangkit sama sekali. Dan kau tau apa yang terjadi padaku di umur sepuluh tahun?”
Selena menggelengkan kepala menandakan ia tidak mengerti.
“Keluargaku membuangku di hutan elemental beast, tetapi sayangnya mereka sangat bodoh, mereka tidak tahu bahwa setelah mereka membuangku, elemen anginku tiba-tiba bangkit dengan sendirinya.” Zeno sedikit mengarang cerita, karena cerita yang sebenarnya, elementalnya bangkit berkat dewi Luna, tetapi Zeno tidak akan menyampaikan cerita itu.
__ADS_1
“Dibuang? di hutan elemental beast?” Kata Selena begitu tidak percaya.
“Kenapa? apakah kau tidak percaya?” Zeno mengerutkan dahinya.
“Bukankah ceritamu lebih mirip dongeng? lantas siapa yang menyelamatkanmu keluar dari hutan elemental beast.” Ujar Selena.
“Seorang pria tua dengan beast macan kumbang.” Zeno yang menjawab itu merasa senyum-senyum sendiri, karena ia tidak menyangka bahwa pria tua dengan beast macan kumbang yang menolongnya adalah kakeknya sendiri, menurutnya itu merupakan takdir yang sangat menarik.
Sayangnya Zeno tidak menceritakan bahwa siapa nama kakek tersebut, dan hubungan apa yang telah dimiliki Zeno dengan penolongnya, karena Zeno benar-benar tidak ingin mengungkapkan identitas miliknya.
Selena masih tidak mempercayai cerita Zeno sedikitpun, menurutnya, Zen hanya menghibur dirinya agar tidak bersedih saat tidak memiliki elemental. Masuk hutan elemental beast? Selena berpikir seharusnya tidak ada Zen yang saat ini di sampingnya, karena hutan elemental beast itu lebih mengerikan dari tempat manapun seperti reruntuhan Zanfal ataupun danau Vanzula.
Zeno juga tidak memperdulikan, apakah Selena percaya atau tidak, setidaknya ia berhasil menghibur Selena agar tidak terlalu memikirkan mengenai kelemahan dirinya, yang terpenting hanyalah Zeno sangat memikirkan kondisi perutnya yang belum terisi sama sekali.
******
“Apakah kau melihat Geldhe? kenapa akhir-akhir ini aku tidak bertemu dengannya?” Batin Akram yang terlihat sedikit cemas, walaupun sebenarnya Akram selalu dibuat geram dengan keberadaan Geldhe, tetapi hanya Geldhelah yang merupakan bawahan satu-satunya yang Akram paling suka.
“Aku tidak tahu Akram.” Sahut Gongnyu yang juga ikut cemas.
“Tuan Akram, seranglah negara petir, karena aku menemukan sekilas ice sword di sana.” Sesosok roh berbentuk beruang sekilas muncul di hadapan Akram dan Gongnyu, tetapi itu hanyalah sekilas.
Tetap semangat, dan jangan lupa bernapas
__ADS_1