
Pada akhirnya, Zeno kembali lagi menuju istana dengan dikawal oleh Laksamana Mahaa. Hari juga sudah malam, dengan di sepanjang jalan yang dia lewati tidak ada masalah sedikitpun. Mungkin Zeno sangat mewajarkannya, karena hari malam sangat sedikit ada sebuah masalah yang tampak jelas.
Malam hari, tapi Zeno sama sekali tidak mengantuk. Itu terjadi akibat dirinya tertidur setengah hari di camp para pasukan yang ada di armada kapal timur laut. Sehingga mungkin kali ini, dia akan menikmati waktu tenang dengan melihat sebuah Aurora warna warni di langit malam.
"Laksamana, kau bisa beristirahat sekarang di istana kekaisaran. Terimakasih untuk waktunya hari ini." Zeno menghela napas.
"Aku juga banyak terimakasih untuk waktunya, dan kapal itu aku benar-benar menghargainya." Mahaa sedikit membungkukkan badannya dan undur diri dari pandangan Zeno. Namun, sebelum dia semakin menjauh, Mahaa menoleh ke belakang dengan tersenyum manis, "Selamat malam kaisar."
"Sialan, kenapa menjadi kaisar begitu merepotkan ketika ditatap dengan senyuman oleh seorang wanita?" Zeno menghela napas pergi dan memilih untuk menuju sebuah taman istana untuk menenangkan diri dan melepas penat.
Ketika dia duduk bersantai di sebuah kursi panjang, sambil menghirup udara yang sangat dingin di malam hari. Dia dikejutkan dengan Selena yang tiba-tiba muncul di hadapannya, sontak, Zeno langsung berbalik badan. Masalahnya, dia sama sekali tidak mengetahui pergerakan Selena.
Mungkin Kiba diam saja, tapi dia memilih untuk bermalas-malasan karena Selena bukanlah suatu masalah kecil, atau bahkan besar.
"Seperti biasa, kau seperti pembunuh bayaran yang pergerakannya sangat sulit di tebak." Zeno berkata demikian kepada Selena.
Tanpa ragu, Selena duduk di sebelah Zeno sambil meregangkan tulangnya. Tampaknya, dia sedikit kelelahan seolah baru saja melakukan sesuatu, bahkan Zeno juga melihat bahwa Selena bernapas dengan terengah-engah.
Penasaran, Zeno bertanya kepada Selena, "Kau hari ini bermain dimana? Satu hari penuh aku tidak melihatmu sama sekali."
"Aku hanya bermain dengan para rakyatmu Zeno, atau bagaimana aku memanggilnya? Kaisar?"
__ADS_1
"Zeno saja, aku lebih suka itu." Zeno memutuskan.
"Tergantung, jika berada di tempat seperti ini, bolehkah aku memanggilmu Zeno saja dan berbicara seperti teman? Sedangkan di tempat umum, aku akan berbicara formal dan memanggilmu kaisar." Ujar Selena sambil memasang wajah memohon, agar dia bisa berteman dengan Zeno walaupun Zeno menjadi kaisar sekalipun.
"Terserah kau saja." Jawab Zeno dengan malas sebelum dia berkata dengan sangat serius. "Bermain dengan rakyat? Maksudmu bermain dengan pedang kepada rakyatku? Kiba mencium bau darah di pedangmu."
Selena tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya. Tampaknya dia tidak bisa menyembunyikan lagi di hadapan seorang kaisar bahwa satu hari penuh dia melakukan pembunuhan kepada orang-orang. Namun, dia langsung angkat bicara dan memberikan sebuah alasan mengapa dia membunuh orang pada hari ini.
"Yaah, kau mengerti? Kasus pemerkosaan, perampokan, aku membunuh pelaku itu semua tanpa ampun. Karena dewan keamanan kekaisaran benar-benar lambat untuk bergerak. Jadi, aku bergerak terlebih dahulu. Hitung-hitung meringankan beban Anda."
"Tampaknya, kau lebih suka bermain dengan para dewan keamanan? Aku mengira bahwa kau bermain bersama Nora di tempat kerja dewan keuangan." Zeno menatap Selena sambil mengerutkan dahinya sebelum dia melanjutkan ucapannya sebelum berkata dan menatap salah satu bagian tubuh Selena, "Sayangnya kau bertindak ceroboh hari ini. Siapa sangka, Selena yang kukenal ternyata bisa terluka."
"Aku juga seorang manusia, jadi sudah sangat wajar untuk terluka. Selain itu, para Elementalist es benar-benar lebih sulit dikalahkan dibandingkan dengan Elementalist yang ada di benua negara." Ucap sinis Selena sambil menyentuh tangannya yang terluka akibat dia melawan seseorang yang merupakan pelaku perampokan.
"Apanya? Aku bahkan pernah membunuh anak buah Danze." Selena menatap kesal Zeno, karena Selena menganggap bahwa Zeno telah meremehkannya.
Zeno hanya tersenyum tipis ke arah Selena dengan berkata, "Baiklah sudah cukup, sekarang tidurlah. Ini perintah kaisar! Selain itu, aku mengucapkan terimakasih kepadamu karena telah memberitahu mengenai dewan keamanan yang kurang tanggap. Aku akan lebih tegas lagi kepada mereka."
"Jika mau, kau bisa bekerja di dewan keamanan untuk mengurus para kriminal di benua ini. Tapi tentunya, jangan asal membunuh, serahkan itu semua kepada dewan hukum." Sambungnya.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan pergi sekarang." Selena langsung berdiri dari tempat duduknya dan pergi begitu saja tanpa memberi penghormatan untuk undur diri kepada Zeno. Seakan bahwa dia masih menganggap bahwa Zeno adalah temannya.
__ADS_1
Zeno hanya menghela napas dan berdiri tegak setelah Selena pergi meninggalkan dirinya. Wajahnya begitu dingin tanpa berekspresi yang membuat siapa saja yang melihatnya akan sangat bosan untuk melihatnya.
"Siapa yang berpikir, bahwa seseorang dari benua bayangan jauh-jauh menuju kesini hanya untuk mengantarkan nyawanya? Dan, para penjaga kekaisaran seharusnya akan ku tegasi lagi." Seketika tubuh Zeno menghilang dan berubah menjadi serpihan cahaya yang bergerak dengan cepat.
…..
"Tunggu sebentar dimana anak itu tadi?" Kata seorang yang mengenakan pakaian Assassin, sehingga wajahnya tidak terlalu tampak. Dia juga berdiri di atas sebuah dahan pohon yang ditemani dengan orang yang juga menggunakan pakaian Assassin pula.
"Apa mungkin dia menyadari kita?" Kata temannya.
"Mungkin seperti itu, tapi rasanya kalian terlambat untuk pergi." Zeno tiba-tiba muncul di belakang mereka dengan kepala yang begitu dekat.
Sontak, dua orang itu langsung melompat dari dahan dan menembakkan sebuah elemen kegelapan ke arah Zeno tanpa berpikir lebih panjang lagi.
Alhasil, pohon yang mereka naiki hancur tanpa bersisa. Mereka tersenyum manis saat mengira bahwa Zeno yang katanya kaisar terkuat dapat dibunuh dengan sangat mudah.
Bahkan, salah satu dari mereka berkata dengan begitu sombong, "Dengan begitu kaisar Danze akan menduduki peringkat pertama lagi."
"Apa kau pernah ditendang dengan kecepatan cahaya?" Tanpa menunggu mereka menoleh ke belakang, kaki Zeno sudah mendarat di punggung salah satu dari mereka, bahkan sebelum Zeno menyelesaikan ucapannya sekalipun.
Sebelum orang yang Zeno tendang terlempar, Zeno menciptakan sebuah dinding es berlapis dari jarak yang begitu dekat. Sehingga, orang itu setelah ditendang oleh Zeno langsung terbentur oleh dinding es dengan cukup keras.
__ADS_1
Tidak bisa dibayangkan, seberapa cepat orang itu ditendang oleh kali Zeno yang bergerak secepat cahaya, namun orang itu terbentur. Mungkin jika itu orang biasa, maka tubuhnya akan hancur. Akan tetapi tidak disangka, tubuh seseorang yang ditendang Zeno mengenakan jubah kegelapan yang membuatnya terlindungi, walaupun dia juga masih merasakan sakit yang luar biasa.
"Bagaimana kalian bisa menuju kesini dengan begitu cepat? Bukankah perjalanan dari benua kegelapan menuju kesini membutuhkan waktu dua Minggu? Sedangkan kalian sedang memata-matai ku, dan aku baru saja menjadi kaisar selama satu Minggu."