
"Beberapa awak tidak tahu bahwa anda adalah pangeran Fang Zeno. Karena mereka saat ini sedang mempersiapkan kapal, sehingga mereka juga tidak tahu apa yang terjadi di luar. Tuan tenang saja, aku tidak akan mengatakan siapa tuan sebenarnya. Jika berkenan, anda bisa menyamar menjadi awak kapal." Kata pemilik kapal tersebut berada di hadapan Zeno.
"Kau serius? Jadi kali ini kau lah yang akan menemani ku mengarungi samudra dan pergi menuju benua Artik?" Katanya dengan menatap serius pemilik kapal tersebut.
"Kau hanya perlu mengantarku saja, tidak perlu ikut campur dengan masalah yang ada di benua Artik. Apa kah kau bersedia?" Sambung Zeno sebelum mendengar jawaban dari pemilik kapal tersebut.
"Saya bersedia sepenuh hati tuan, lagipula ini merupakan tugas dari yang mulia kaisar untuk mengantar anda."
Menurutnya, seperti ini justru akan menjadi beban bagi Zeno, bagaimana tidak, jika terjadi apa-apa, Zeno harus bertanggung jawab, karena para awak dan pemilik kapal telah menjadi bagian dari Zeno.
Berbeda apabila Zeno menjadi penumpang seperti orang-orang biasa, dengan begitu dia bebas untuk bertanggung jawab atau tidak jika terjadi apa-apa, itulah mengapa sebelumnya dia memilih menjadi penumpang biasa daripada menjadi penumpang khusus.
Tapi bagaimana lagi, Zeno tidak bisa menolak tawaran dari pemilik kapal yang diperintahkan oleh kaisar untuk mengantarkannya. Daripada dia tidak mendapatkan kapal atau bisa jadi mendapatkan masalah yang merepotkan dari penumpang lain.
"Baiklah, mana kapalmu? Ayo segera berlayar karena aku tidak memiliki waktu yang banyak lagi." Ucap Zeno yang mendesak.
"Anda bisa mengikuti ku tuan."
Zeno menyentuh pundak pemilik kapal tersebut tepat di saat berbalik, sehingga tubuhnya bergetar karena dia merasa membuat Zeno marah, entah dari ucapan atau mungkin dirinya cepat-cepat berbalik badan sebelum Zeno mengizinkannya.
"Aku belum tahu namamu."
Sang pemilik kapal menghela napas lega karena sudah tahu apa yang Zeno maksud, setidaknya tidak ada kesalahan yang ia buat sehingga membuat Zeno marah.
__ADS_1
Pemilik kapal kemudian berbalik dan kembali berhadapan dengan Zeno, dengan membungkukkan badannya, dia mengenalkan diri. “Sebelumnya perkenalkan, nama saya adalah Lothar Zefono.”
“Baiklah paman Lothar, aku menyerahkan semua perkapalan kepadamu, pastikan tidak ada yang membuat kita terhambat untuk menuju kesana.”
“Baiklah, saya mengerti. Tuan bisa mengikutiku.” Kata Lothar yang berdiri dari membungkuknya.
Zeno mengangguk, kemudian ia memberi isyarat untuk pergi dulu, lagi pula Zeno juga tidak tahu di mana kapal yang akan di tempati kali ini.
Tatapan semua orang masih tidak luput dengan Zeno yang mengikuti Lothar, bagaimana tidak, mereka masih memiliki rasa penyesalan karena tidak tahu siapa Zeno sebenarnya, terutama salah satu awak kapal tadi, wajahnya memiliki rasa takut yang luar biasa karena memandang Zeno.
Untung saja, Zeno masih memiliki hati yang tidak diselimuti dendam, mungkin jika tidak, para orang-orang yang mencela Zeno pastinya tidak berdiri lagi di tempat mereka. Terutama dua pria berotot dan juga salah seorang awak, jangankan berdiri, keberadaanya kemungkinan sudah tidak berada di dunia ini.
Zeno memalingkan wajahnya dari orang-orang yang masih bertekuk lutut dengan wajah yang begitu cemas, tetapi dia tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.
Tepat di kapal, beberapa awak kapal langsung berkumpul dan menemui Lothar yang merupakan pemilik salah satu kapal yang di tempati saat ini.
“Tuan, sepertinya kami mendengarkan keributan di luar, memangnya apa yang terjadi?” Kata salah satu dari mereka.
“Tidak, tidak ada apa-apa lebih baik kalian mempersiapkan kapal lebih lanjut, karena kita akan menuju benua Artik.” Tegas Lothar.
“Maafkan aku tuan Lothar, tetapi siapa dia?” Tanya mereka yang memperhatikan Zeno dari atas bawah.
Lothar tidak bisa berkata-kata, dia tidak bisa mengatakan bahwa orang yang ada di sampingnya merupakan Fang Zeno, namun di sisi lain, Lothar juga merasa tidak sopan untuk mengatakan bahwa Zeno merupakan awak kapal yang baru.
__ADS_1
Memperhatikan Lothar yang tidak bisa menjawab, Zeno membuka mulutnya sendiri daripada menunggu lama jawaban dari Lothar, “Perkenalkan tuan-tuan sekalian, namaku adalah Zen, awak kapal baru yang diperkerjakan oleh tuan Lothar.” Katanya sambil membungkuk memperkenalkan diri.
Zeno benar-benar tersenyum sambil mendengarkan respon mereka, apakah orang-orang menyombongkan diri terhadap orang baru, atau justru sebaliknya yaitu sangat ramah? Zeno benar-benar menunggu hal itu.
“Zen, kau sangat muda namun sudah berani bekerja? Kau benar-benar laki-laki sejati, aku menghargai apa yang kamu lakukan. Selamat datang di pekerjaan kami.” Kata salah satu dari mereka yang kemudian didukung oleh para awak lainnya.
Zeno justru memasang wajah biasa setelah tahu respon mereka, setidaknya dia tidak akan tersenyum licik lagi di saat mereka mengeluarkan kata-kata kotor, dengan begitu, perjalanan menurut Zeno akan merasa nyaman dengan sikap-sikap yang sesungguhnya dari para orang-orang.
Menjadi tidak terkenal itu justru sangat membahagiakan, menurut Zeno, dengan begitu kita bisa tahu sikap orang-orang yang sebenarnya, apakah mereka menyombongkan diri di hadapan orang kecil atau menjadi orang yang ramah.
Zeno selalu menggunakan cara itu berulang kali, kemungkinan cara tersebut tidak akan mungkin digunakan dua atau tiga tahun kemudian, karena orang-orang juga akan tahu siapa Zen sebenarnya.
Seluruh awak kapal telah bersiap, serta kapal juga telah melakukan pengecekan yang matang. Sehingga kini, mereka semua telah memulai berlayar menuju ke arah benua Artik.
“Tuan Lothar, kau sudah terbiasa pergi berlayar kemana saja, menurutmu, ada tidak sesuatu yang membuat dirimu benar-benar terhambat saat menuju tujuan?” Tanya Zeno sambil memperhatikan laut bebas.
“Maafkan saya tuan Zeno, memang saya sudah terbiasa, tetapi syukur saya jarang sekali menemukan sesuatu hal besar yang membuat terhambat menuju tujuan. Tapi demi meningkatkan kewaspadaan, saya akan menceritakan cerita turun temurun bahwa ada sesuatu makhluk legenda yang berada di jalur negara air menuju benua Artik.”
“Legenda Genbu, namun dalam seratus tahun terakhir, keberadaannya sepertinya sudah menjadi mitos. Bagaimana tidak, tiga generasi saat ini sudah tidak menemukan keberadaannya, sehingga hal tersebut sudah menjadi hal mitos.” Jawab Lothar.
“Genbu, bukankah itu salah satu legenda yang sama dengan Byakko? Sebelumnya dia juga menghilang sama seperti Byakko, namun keberadaannya tiba-tiba muncul beberapa bulan yang lalu bersamaan dengan hilangnya Dewi Luna sepenuhnya. Kemungkinan terbesar, Genbu juga telah muncul beberapa bulan yang lalu.” Kata Zeno yang berbicara dengan hatinya sendiri.
Walaupun begitu, Kiba juga mendengar apa yang Zeno ucapkan dalam hatinya, sehingga dia ikut menyahut apa yang Zeno batin, “Itu benar, Genbu penjaga arah Utara, dan kita juga menuju arah Utara.”
__ADS_1
“Sepertinya aku tertarik dengan beast satu ini. Kiba, apakah kau tidak rindu dengan teman lama?”