
Serangan energi petir kembali Geldhe lemparkan ke arah Zeno. Sehingga terpaksa Zeno juga harus menghindar sekali lagi agar tidak terkena dampak mengerikan dari ledakan Sambaran petir.
"Kiba, aku butuh bantuanmu, alihkan perhatiannya." Ucap Zeno sambil berusaha menghindar sambaran-sambaran petir yang berulang kali dilemparkan ke arah Zeno.
Sekumpulan angin membentuk sebuah hewan berada di hadapan Zeno. Dengan sebuah kuku yang keluar di kaki Kiba, membuat Kiba seolah-olah bersiap mencabik-cabik musuh yang ada di hadapannya.
"Beast rendahan sepertimu, beraninya keluar di hadapanku." Kata Geldhe dengan suara yang begitu menggema.
"Cih, tanpa banyak bicara, mari kita buktikan, siapa sebenarnya beast rendahan. Apakah beast yang bergabung denganmu, atau aku yang merupakan hewan suci penjaga mata angin." Ucap Kiba dengan sedikit sombong.
"Hah? Apa aku tidak salah dengar?" Geldhe begitu tertawa setelah mendengar ucapan Kiba. "Kau tau, beast penjaga mata angin adalah mitos, itu hanyalah dongeng." Sambungnya dengan tawa yang begitu keras.
"Sepertinya kera bodoh lebih mengerti siapa aku, daripada dirimu." Kiba berjalan melangkahkan kakinya ke depan.
Ia meloncat ke arah Geldhe dengan memanjangkan kukunya, tetapi Geldhe juga mengeluarkan sebuah percikan petir yang ada di telapak tangannya. Melihat hal tersebut, Kiba bergerak menghindari serangan Geldhe dengan begitu cepat, sehingga percikan petir yang ada di tangan Geldhe tidak menyentuh apa-apa.
Geldhe lantas berbalik arah mengarah kepada Kiba, ia kembali menyerang menggunakan percikan petir yang ada di tangannya.
Duaaarrr
Sebuah petir yang ada di tangan Geldhe menyambar tempat Kiba berpijak, wajah Geldhe menjadi suram saat mengetahui bahwa Kiba telah berpindah dari tempat pijakannya.
Geldhe kembali berbalik arah, mencari dimana keberadaan Kiba yang hilang saat Geldhe belum sempat mengenai serangannya kepada Kiba.
__ADS_1
Melupakan keberadaan Zeno merupakan sesuatu kesalahan yang besar, sehingga saat dia lengah, ia tidak menyadari bahwa Zeno sedang berlari dihadapan dengan membawa dua pedangnya.
"Mati kau." Zeno menebaskan pedang dua jiwanya tepat ke arah tubuh Geldhe.
Geldhe tersenyum kecut saat dia sadar bahwa dirinya terlalu lengah. Keberadaan Kiba cukup untuk membuatnya mengalihkan perhatiannya untuk Zeno sedikit beristirahat dan memulihkan tenaga setelah terkena dampak dari teknik milik Geldhe.
Suara benturan pedang kembali terdengar oleh Zeno, pedang dua jiwa milik Zeno berbenturan dengan sebuah pedang berbentuk petir yang Geldhe keluarkan secara mendadak.
Geldhe tersenyum lebar dibalik wajah berbulunya, matanya terbuka lebar setelah pedang dua jiwa milik Zeno tidak berhasil mengenai dirinya. Senyum yang lebar itu seketika berubah menjadi tertawa yang begitu keras saat melihat Zeno begitu kelelahan.
Tidak ada yang bersuara di antara keduanya, kecuali nafas yang terengah-engah karena orka yang mereka gunakan terkuras habis, terutama Geldhe. Masing-masing masih berusaha menahan pedang walaupun Saat ini tangan Zeno bergetar.
Air sungai menabrak batu-batu di atas jalur sungai, itulah suara selain nafas mereka yang terengah-engah tidak beraturan.
Tetapi Zeno tidak mau berhenti saat ini, ia masih beruntung karena tangan kirinya juga memegang sebuah pedang katana.
Geldhe berteriak kesakitan setelah perutnya tertancap katana milik Zeno, tetapi tubuhnya masih berdiri tegak dan masih menahan pedang dua jiwa menggunakan pedang petirnya.
Tatapan Geldhe, seketika begitu takut apabila terkena pedang dua jiwa, seakan-akan mengetahui jelas tentang rahasia di balik pedang dua jiwa yang Zeno pegang, bahkan saat melihatnya, ia dibuat merinding.
"Kenapa kau tidak menyerah?" Tanya Zeno dengan kerutan di dahinya.
"Seharusnya kau yang menyerah, dasar manusia rendahan."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membuatmu menyerah." Zeno melepaskan katana yang tertancap dalam kondisi masih Zeno pegang, kini dia hanya fokus untuk menggunakan pedang dua jiwanya itu.
Perlahan hawa dingin beserta embun keluar dari sekitar pedang dua jiwa, dengan kedua lambang yang berada di dua sisi pedang dua jiwa milik Zeno menyala begitu terang. Pedang petir milik Geldhe membeku perlahan-lahan, tidak hanya itu saja, tangan beruang yang ia gunakan untuk memegang pegang juga ikut membeku.
"Apa? Apa yang terjadi?" Tanya Geldhe kebingungan, ia mundur perlahan-lahan karena kekuatan Zeno meningkat dengan begitu cepat, tangannya yang membeku membuatnya kesulitan untuk memegang sebuah pedang petir.
Zeno kembali menarik katana yang tertancap pada perut Geldhe, memukulkannya di atas pedang dua jiwa yang tertahan oleh pedang petir oleh Geldhe. Senyumannya kini kembali terukir ketika ia berhasil menghancurkan pedang petir milik Geldhe.
Tidak ada pertahanan yang ada pada milik Geldhe, sehingga Zeno berhasil membelah Geldhe menggunakan pedang dua jiwanya.
Tubuh beruang Geldhe perlahan berubah menjadi tubuh aslinya. Mata Geldhe terbuka lebar saat ia terjatuh dengan kondisi melihat separuh tubuhnya yang perlahan-lahan juga mulai ambruk.
"Tu….Tuan Akram, maafkan aku jika aku terlalu menyusahkan mu, tetapi ketahuilah bahwa aku telah menemukan ……" pandangan Geldhe perlahan-lahan mulai hilang, tubuhnya terbujur kaku di atas tanah.
Sekilas Zeno mendengarkan kata-kata terakhir Geldhe yang tidak dilanjutkan. Tuan Akram, itulah yang dipikirkan oleh Zeno berulang kali, karena ia seperti pernah mendengar nama itu tetapi entah siapa dan darimana.
Namun Zeno memilih berhenti memikirkannya, daripada ia pusing hanya karena sebuah nama orang yang masih terngiang di dalam telinganya. Dia lebih baik memikirkan, apa yang terjadi tentang pedang dua jiwa yang ia pegang? pedang dengan sendirinya mengeluarkan sebuah es tanpa sepengendalian dirinya.
Dengan melawan Geldhe, ia merasa bahwa dirinya masih dibilang lemah, karena kemungkinan besar, masih ada orang yang lebih kuat dari Geldhe dan dirinya. Sehingga Zeno memutuskan untuk lebih memperkuat lagi dua elemen yang ia dapatkan.
"Sebenarnya aku tidak ingin memiliki niatan membunuhmu Geldhe, tetapi karena kau tidak mengambil kesempatan dari ku untuk pergi, maka kau harus dibunuh." Kata Zeno menatap jasad Geldhe yang terbelah dengan rasa begitu jijik.
"Tuan, orang seperti Geldhe memang layaknya dibunuh. Sebenarnya, Geldhe telah banyak melakukan kejahatan seperti merampok. Bahkan banyak dari kita yang telah melunasi hutang kepadanya, karena sebuah bunga yang tidak masuk akal, seakan-akan kita belum melunasi hutang kepadanya."
__ADS_1
Beberapa orang keluar dari balik pohon dengan membawa sebuah lentera, raut wajah mereka begitu senang saat melihat kematian Geldhe dengan begitu mengenaskan, karena mereka sangat tahu bahwa Geldhe merupakan seorang perampok yang ada pada kota ini.
Zeno menghela nafas ketika membunuh Geldhe merupakan tindakan yang bukan salah juga, setidaknya dia berhasil membunuh seseorang yang sangat meresahkan warga.