
Entah kenap saat memejamkan matanya, Turse tidak merasakan bahwa salah satu bagian dari tubuhnya dipukul. Justru, dia merasakan bahwa rambutnya di belai dengan lembut. Penasaran, dia membuka matanya dan ingin melihat apa yang terjadi.
“Kerja bagus, kau sama sekali tidak menghilangkan rasa kewaspadaanmu.” Zeno sedikit tersenyum sambil melepaskan belaiannya.
Hal itu membuat Turse cukup malu membuat sikap Zeno yang aneh secara tiba-tiba. Walaupun begitu, Turse langsung menatap begitu sinis ke arah Zeno, selain itu dia juga mengerutkan dahinya sambil berkata dengan begitu tegas, “Jangan bercanda, Anda tetap diam di sini, aku akan mencari penawarnya sebelum racun itu berefek.
Turse juga berbalik badan dan segera meninggalkan Zeno. Karena apa yang ia takutkan, racun tersebut akan segera berefek dan membuat Zeno mengalami kejang-kejang yang cukup parah, sehingga membuat Turse benar-benar merasa bersalah atas tindakannya. Selain itu, dia tidak ingin melihat tuannya menjadi membenci dirinya karena kecerobohan yang dia buat.
“Tunggu!” Zeno menahan, “Aku bercanda, aku yang melukai jariku sendiri.” Kata Zeno sambil mengangkat jarinya yang terluka.
Turse berhenti dan kembali berbalik badan, tatapannya begitu cemberut setelah dirinya dipermainkan. Padahal sebelumnya, dia begitu panik setelah mati saat mengetahui bahwa jari Zeno terluka, yang mana penyebabnya adalah panah racun milik dirinya sendiri. Tapi siapa yang menyangka, Zeno hanya berbohong.
“Lupakan itu.” Zeno menghela napas dan mencoba mengembalikan kondisi emosi Turse yang sedang dipermainkan oleh dirinya, “Pemimpin kelompok kriminal sudah tahu bahwa kita juga mencari bunga teratai emas.” Zeno menyentuh kepalanya, dia merasa sangat bodoh dan sedikit menyesal karena sempat memberitahu seseorang melawannya tadi bahwa dirinya juga mencari bunga teratai emas.
“Maafkan aku.” Turse menundukkan kepalanya, “Musuh yang ku hadapi kabur.” Sambungnya.
Zeno hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak marah dengan musuh yang di hadapi Turse lepas, lagi pula musuh yang di hadapi Zeno juga lepas karena ditolong oleh pemimpin kelompok mereka. Walaupun jika musuh yang di hadapi Zeno berhasil dia bunuh, dia juga tidak memarahi Turse, lagi pula Turse juga sudah berusaha dengan begitu baik.
Mendengar hal itu, Turse bernapas lega, setidaknya hari ini dia membuat beberapa kesalahan tapi Zeno masih memakluminya. Benar-benar seseorang yang sangat baik apabila bersama dengan orang seperti dirinya. Mungkin jika itu orang lain, menurut Turse, Zeno akan menjadi marah.
Turse mengangkat kepalanya, kemudian dia bertanya, “Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Namun, aku menyarankan bahwa Anda membuat rencana tersendiri tanpa mengikuti Hole. Bagaimanapun, Hole sudah hilang tanpa kabar.”
__ADS_1
“Kita istirahat terlebih dahulu di sana, hari juga semakin gelap.” Zeno memutuskan.
Turse melihat kondisi sekitar, memang benar apa yang dikatakan oleh Zeno bahwa kondisi benar-benar sudah gelap. Mau tidak mau, mereka harus bergerak besok, karena kemungkinan terbesar, bahwa dua pihak akan melakukan peperangan besok. Selain itu, besok merupakan dua hari sebelum teratai emas mekar, serta sekitar dua puluh harian sebelum puncak dari racun yang menyerang Arina.
.....
“Beast sialan! Berani-beraninya dia menjatuhkanku hanya karena wanita ja*a*g yang sudah ditiduri tuannya. Apa dia tidak tahu aku siapa? Hole Forjen.” Hole berdecak dengan kesal, seluruh tubuhnya merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa akibat jatuh dari ketinggian.
Dia merasa beruntung, saat hendak menyentuh permukaan tanah, dia mengeluarkan sebuah ledakan cahaya untuk menghambat jatuhnya dengan begitu cepat. Sayangnya, itu hanya meminimalisir saja, sehingga dia masih jatuh di atas permukaan tanah namun tidak terlalu keras. Walaupun begitu, rasa sakit juga muncul di seluruh badannya.
“Di mana mereka sekarang?” Hole bertanya kepada dirinya sendiri, raut wajahnya terlihat begitu kesal karena kehilangan Zeno dan juga Turse. Benar-benar kesal, hari juga sudah semakin gelap,
Tidak menunggu lama, Hole menunggangi serigala yang tidak lain merupakan beastnya dan pergi menuju arah timur, lebih tepatnya menuju Ampera empire.
.....
“Bagaimana ini?” Teriak salah satu prajurit dengan begitu panik, “Hampir setengah hari dia belum kembali.” Sambungnya dengan raut wajah begitu buruk, bagaimana tidak, pengamanan gunung Apiluc yang Akan dilakukan malam ini, namun jenderal mereka belum kembali, itulah yang membuat mereka menjadi tidak bisa tenang.
“Apa jangan-jangan jenderal Tamicihi sudah mati? Bukankah dia bilang, dia tadi ingin mengurus mata-mata sebentar?” Kata prajurit lain.
“Jaga mulutmu! Jenderal Tamichi merupakan orang hebat, tidak mungkin dia meninggal begitu saja.” Kata salah satu dari mereka membantah temannya.
__ADS_1
Seluruh orang mengangguk, tidak mungkin Jenderal Tamichi mati begitu saja. Mungkin saat ini, jenderal Tamichi sedang bertarung, atau mungkin sedang menyiksa musuhnya. Tapi tidak sedikit dari prajurit yang memiliki firasat yang buruk, pasalnya. ini sudah hampir setengah hari yang membuat mereka kebingungan mengenai sang jenderal yang tak kunjung kembali. Benar-benar, mereka semua tidak tahu mengenai situasi yang sebenarnya.
Mau tidak mau, mereka harus menunggu lebih lama lagi, setidaknya sampai jenderal mereka menampakkan diri.
Tiba-tiba, di sela kebingungan mereka, datang seseorang yang terlihat mengenakan pakaian prajurit pula, hal itu membuat prajurit lain segera berdiri dan mencari tahu dari mana prajurit yang baru datang tersebut.
“Aku baru saja mendapatkan kabar dari jenderal Tamichi, separuh dari seluruh pasukan di tugaskan untuk langsung naik menuju gunung, sedangkan sisanya menunggu di sana.” Kata orang itu dengan sedikit tersenyum.
“Kenapa rencananya berubah begitu? Bukankah Jenderal Tamichi sudah memberitahu rencanannya bahwa seluruh pasukan naik menuju gunung Apiluc.” Salah satu dari mereka menyangkal.
Orang yang beru datang itu menghela napas sebelum menjelaskan, “Sebagian dari kelompok kriminal akan menyerang dari belakang, atau jalur kita naik. Maka dari itu, untuk mengantisipasi agar tidak dikejutkan serangan dari belakang, sebagian pasukan akan menetap dan tidak akan membiarkan pasukan kriminal menyerang dari belakang. Itulah mengapa jenderal Tamichi membagi dua pasukan.”
“Dan Jenderal, dia berada di mana?” Salah satu dari mereka tidak tahan untuk bertanya.
Dengan begitu santai sambil mengangkat ujung bibirnya, seseorang yang memberikan kabar itu berkata, “Jenderal Tamichi sedang berusaha menguliti musuhunya, jadi perlu waktu yang lama untuk kembali. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menunggu kalian dengan menyuruhku untuk memberitahu kalian.”
Seluruh prajurit yang mendengar berita tersebut menghela napas lega, setidaknya jenderal mereka masih hidup dan melakukan sesuatu yang sadis pada musuhnya.
“Baiklah! Sebagian dari pasukan akan langsung naik menuju Apiluc, sedangkan sisanya berada di sini untuk menghadang musuh yang akan naik dari jalur kita.” Teriak salah satu mereka.
Seluruh pasukan berteriak dengan semangat yang menggema, hanya demi bunga teratai emas, mereka benar-benar rela berperang seperti ini. Bagaimana tidak, apa yang mereka rebutkan adalah barang berharga. Walaupun, pada akhirnya mereka tahu, bahwa bunga ini bukan untuk pribadi kaisar, melainkan diberikan kepada orang lain yaitu Fang Zeno, yang katanya akan menjadi kaisar terkuat di dunia
__ADS_1