
Mengalami masalah yang sangat luar biasa, Zeno segera menghindar pedang kegelapan dengan melompat ke atas. Begitu juga dengan Kiba, dia juga melompat dengan menghilangkan diri dan berubah menjadi serpihan angin yang menghembus ke arah Danze.
Sayangnya Zeno tidak bisa menghindar dengan baik, pedang milik Danze digerakkan begitu cepat, sehingga Zeno yang belum bersiap sama sekali dan langsung melompat, punggungnya terpukul oleh kegelapan yang memanjang.
Zeno berteriak kesakitan, untungnya dia sempat melindungi punggungnya menggunakan elemen tanah. Sehingga dia masih bisa selamat walaupun tanah yang digunakan untuk melindungi punggung harus hancur. Mungkin jika tidak ada pelindung tanah, pastinya Zeno akan berbaring lemah dengan tulang punggung yang hancur.
Kiba keluar membentuk wujudnya tepat di hadapan Danze dan segera mencakarnya. Danze hanya bisa tersenyum sambil mundur ke belakang dengan mudah. Tapi siapa yang menyangka bahwa saat Danze mundur, dia terjatuh karena di belakangnya terdapat gundukan tanah.
Zeno berdiri dan tersenyum, dia melihat Danze saat ini sedang menopang badannya menggunakan kedua tangan dan kakinya. Dia tidak ingin membuang kesempatan itu dengan membekukan kedua kaki dan tangannya sehingga Danze benar-benar tidak bisa bergerak.
Zeno mengangkat kedua tangannya secara perlahan, seketika dinding tanah muncul dari sisi kanan dan kiri Danze. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Zeno menepukkan kedua tangannya secara keras.
Alhasil dua dinding tanah semakin mendekat satu sama lain dan akan menghimpit Danze di tengahnya. Suara gemuruh dari dua dinding yang semakin mendekat begitu jelas dan diselingi oleh suara keributan entah itu teriakan ketakutan ataupun pertarungan. Yang terjelas, Zeno benar-benar muak dengan suara tersebut.
Mengapa? Mengapa ini terjadi? Zeno berpikir berat, keadaan yang mana seharusnya bahagia terpaksa harus membanjiri suasana dengan darah. Dia tidak tahu, dimana saat ini ayah dan ibunya, kakek dan neneknya, dan kedua kakaknya. Apakah mereka sedang bertarung? Zeno kembali berpikir, mungkinkah empat orang yang melesat tadi juga sedang bertarung dengan seluruh keluarganya? Zeno kembali berpikir berat.
Danze tersenyum seolah tidak terjadi apaa-apa, kurang beberapa meter lagi sebelum dirinya dihimpit oleh dinding tanah. Tapi Zeno mengetahui dengan begitu jelas, bahwa Danze masih bersikap tenang. Sepertinya dia masih menyembunyikan teknik lain, Zeno melupakan apa yang terjadi dan di mana keluarganya saat ini, apa yang ia fokuskan adalah seseorang yang tidak begitu jelas namanya sedang tersenyum santai di tengah dinding tanah.
“Air: penjara air. Membeku.” Zeno tidak ingin manusia seperti iblis itu tiba-tiba lolos dari dinding tanahnya. Hal itulah yang membuat Zeno mengeluarkan teknik lain agar Danze benar-benar terkunci.
__ADS_1
Sebuah air mengalir deras ke atas tepat dari bawah Danze. Kemudian aliran tersebut membeku dengan Danze yang ada di dalamnya. Dinding tanah juga menghimpit Danze yang membeku secara cepat, bahkan Zeno mendengar suara es yang pecah karena himpitan tersebut begitu jelas.
“Apakah aku perlu sombong sekarang?” Zeno mengatur napas, ternyata memang semudah itu menghancurkan Danze yang berlagak sombong sebelumnya. “Sepertinya dia memang sudah terkalahkan.”
“Tuan, di belakang!” Kiba berteriak dengan panik saat menoleh bahwa Danze berada di belakang Zeno sambil mengarahkan pedangnya ke arah Zeno. Selain itu, dia juga berlari apabila suatu saat Zeno terlihat terlambat untuk menghindar. Karena Kiba begitu jelas bahwa tebasan tersebut begitu dekat.
Benar-benar tidak bisa diremehkan, sepertinya apa yang dihimpit oleh Zeno bukanlah sosok Danze asli. Mungkin, Danze membuat bayangan di saat Zeno dan Kiba lengah agar bisa mengelabuhi keduanya.
“Teknik berpedang, aliran petir, gerakan kilat.” Zeno bergerak maju ke depan sambil berbalik badan dan menebaskan pedangnya ke arah Danze yang tiba-tiba muncul.
Sebuah tebasan berwarna oranya dengan listrik yang berkedip muncul membentuk bulan sabit yang mengarah ke arah Danze.
“Cakaran bilah angin.”
“Tebasan kegelapan tahap ketiga, tebasan pencabut nyawa.” Danze memutar pedangnya, menghasilkan sebuah energi kegelapan yang berputar seperti badai yang menghantam segala teknik milik Zeno dan Kiba. Tidak berhenti di situ saja, energi kegelapan tersebut melesat ke arah Zeno dan juga Kiba.
“Ice wall, ice wall, earth wall, earth wall”
Zeno mengeluarkan dinding tanah dan dinding es secara berlapis hal itu bertujuan untuk menahan energi kegelapan yang melesat ke arah dirinya.
__ADS_1
Tapi siapa yang menyangka, bahwa tembok berlapis yang diciptakan Zeno hanya menyisakan setengahnya. Dengan tembok es yang berada di depan ancur karena energi elemen kegelapan yang diciptakan oleh Danze.
Zeno mengatur napasnya, dia menelan ludah begitu kasar sambil melirik tembok es dan tanah yang hancur dan menyisakan setengah dari beberapa yang ia ciptakan.
“Jika dinding belapis saja hancur, bagaimana dengan diriku yang tekena serangan tersebut?” Zeno berusaha untuk berhenti berpikir. Masalahnya, jawaban tanpa dipikirkan pun sudah muncul di pikirannya. Hanya ada satu kemungkinan, yaitu hancur.
“Semengerikan itukah elemen kegelapan?” Orang yang pertama kali melihat elemen kegelapan seperti Zeno benar-benar akan menjadi ngeri. Pasalnya elemen tersebut memiliki daya serangan yang sangat kuat. Walaupun tidak memiliki wujud padat, tapi efek kehancurannya melebih wujud padat sebuah elemen seperti elemen tanah dan juga es yang dimiliki Zeno.
Tidak heran, bahwa elemen kegelapan dijuluki elemen terkuat kedua setelah cahaya. Itu baru elemen kegelapan yang memiliki peringkat kedua, bagaimana dengan elemen cahaya yang menduduki peringkat pertama? Yang pasti mungkin saat ini Zeno harus berjuang lebih keras lagi untuk mengalahkan elementalis cahaya, apabila elementalis tersebut menjadi musuh.
“Siapa yang menyangka bahwa kau memiliki empat elemen?” Danze mengangkat alisnya.
“Tapi itu sama saja bahwa kau lemah. Lihat aku, walaupun hanya memiliki satu elemen, meratakan benua tentunya hal yang sangat mudah.” Danze menyombongkan diri.
Zeno menggertakkan giginya di balik beberapa dinding yang ia ciptakan. Yang mana saat ini dinding tersebut perlahan melebur dan rata dengan tanah.
Kiba dan Zeno, saat ini berhadapan dengan Danze dengan tatapan yang bergitu serius. Tubuh Zeno dipenuhi dengan luka, baik itu luka lebam maupun luka goresan dibalik kainnya yang terkoyak. Dan berbanding terbalik dengan pakaian Danze yang hanya sebatas kotor karena debu yang dihasilkan akibat pertarungan.
“Kita belum berkenalan? Sangat sulit untuk memanggilmu di saat berbicara seperti ini.” Zeno masih sempat-sempatnya berkata seperti itu.
__ADS_1
“Apakah perlu?” Danze tersenyum lebar, “Baiklah jika kau ingin tahu.”
“Namaku adalah Danze, kaisar Mare Ennbarum empire yang berdiri di atas benua Bayangan. Sepertinya kau baru keluar goa karena kau tidak tahu siapa aku. Dunia menyebutku sebagai kaisar terkuat, bahkan elementalis pemegang elemental terkuat yaitu cahaya juga mengakuiku bahwa aku adalah kaisar terkuat.” Danze berlagak dengan begitu sombong.