
“Kau juga ingin mendapatkan bunga teratai emas?” Tanya orang tersebut yang mana dia berbalik arah dan lari dari pandangan Zeno.
Zeno tidak membiarkannya, dia tahu bahwa jika orang itu pergi akan menjadi masalah besar, pasalnya bisa saja mereka melaporkan kejadian kepada pemimpin mereka. Sehingga, dengan kecepatan kilat, Zeno sudah berada di belakang orang tersebut sambil mengayunkan pedangnya.
Sayang sekali, orang tersebut bergerak dengan begitu cepat mengiringi kecepatan cahaya, sehingga dengan mudah tebasan Zeno tidak mengenai dirinya. Tidak habis pikir, Zeno langsung berjongkok dan membenturkan tangannya di atas permukaan tanah. Sehingga apa yang terjadi, gempa dengan kekuatan besar muncul menggoyangkan orang yang menghindar dan hendak pergi tadi.
Tidak berhenti begitu saja, Zeno menebaskan pedangnya berkali-kali di udara, tapi kini sudah berhadapan dengan kelompok kriminal itu tadi.
Kriminal itu mengira, Zeno tidak lebih buruk dari orang gila, menebaskan pedangnya di udara tanpa ada sesuatu yang keluar dari tebasan tersebut. Tidak merasa aneh, justru orang tersebut tertawa sebelum dirinya terlempar dengan luka sayatan yang ada di perutnya. Tidak hanya satu sayatan tapi begitu banyak sama seperti jumlah Zeno menebaskan pedangnya.
Luka yang begitu dalam, bahkan pakaian assassin yang hitam kini menjadi basah karena darah yang keluar begitu banyak. Sobekan baju bekas sayatan menampakkan luka di perut begitu parah, mungkin jika tidak segera di tangani, maka orang itu akan kehabisan darah.
Sehingga orang itu memilih untuk pergi agar dapat meminta bantuan, tapi sayangnya, dia terkejut saat kakinya terjebak dalam bongkahan tanah yang membuatnya tidak bergerak sama sekali, bersamaan dengan itu, Zeno memunculkan aliran yang keluar dari bawah orang tersebut.
“Membeku!” Sebelumnya Zeno mengulurkan salah satu tangannya di saat memunculkan aliran yang begitu besar dan membuat musuhnya tenggelam. Yang mana saat ini dia mengepalkannya untuk membekukan aliran tersebut.
Zeno mengangkat pedang di tangan kananya, bergerak dengan begitu cepat, bahkan terdapat sebuah energi petir yang keluar di saat Zeno bergerak.
Tentu saja, dia bergerak ke arah aliran yang membeku tersebut untuk menghancurkannya, tentu saja bersama dengan orang yang berada dalam aliran beku tersebut. Tapi sangat disayangkan kepala, saat pedangnya hendak menyentuh aliran beku, sebuah cahaya terang membuat Zeno terganggu, bersamaan dengan itu, dia terlempar ke belakang sejauh beberapa meter.
__ADS_1
Zeno yang terlempar mencoba untuk mendarat di tanah dengan aman, dia merasa bahwa ledakan cahaya itu berasal dari aliran bekunya, sehingga dia langsung bergerak ke arah aliran beku yang berada di balik kepulan asap itu dengan secepat kilat sekali lagi.
Namun, sangat disayangkan sekali, saat kepulan asap itu menghilang, Zeno menyadari orang tersebut sudah tidak ada, bahkan aliran beku tersebut sudah hancur menjadi serpihan es yang begitu banyak. Bisa dipastikan, orang itu sudah kabur dengan begitu cepat. Bahkan darah yang seharusnya berkececaran dari luka perut orang tersebut kali ini tidak ada sama sekali.
Hal tersebut membuat Zeno menggertakkan giginya, dia berubah menjadi sangat kesal, jika orang tersebut melaporkan bahwa dirinya yang berada pada pihak bukan siapa-siapa, maka akan sangat merepotkan bagi Zeno.
“Tuan, apakah kau melupakanku? Kiba dengan indra yang sangat tajam? Dia tadi bergerak ke arah selatan.”
Zeno tersenyum sambil memukul kepalanya, dia sepertinya lupa jika Kiba memiliki insting berburu yang sangat tajam, “Tapi mengapa kau tidak memberitahuku ketika ada musuh yang bersembunyi di semak-semak?”
“Nona Turse sudah memberitahu Anda terlebih dahulu.” Jawab Kiba.
Seperti apa yang dikatakan Kiba, salah satu kelompok kriminal itu tampak berjalan dengan begitu lemas, darahnya berkececeran di tanah karena luka yang diberikan oleh Zeno tadi, bahkan dia tanmpak hampir pingsan karena kehilangan banyak darah.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Zeno langsung bergerak tanpa menimbulkan suara apapun, begitu sunyi dan tanpa diketahui oleh orang tersebut. Bahkan, Zeno sudah yakin bahwa serangannya kali ini dapat membunuh orang tersebut dalam satu kali serangan. Bahkan, dia juga mengangkat ujung bibirnya atas apa yang dia yakinkan.
Lagi-lagi tidak sesuai apa yang dia bayangkan, saat ujung pedang milik Zeno hendak menyentuh leher orang tersebut, sebuah cahaya yang bergerak bersamaan dengan kedipan mata Zeno, yang mana cahaya tersebut membawa pergi seseorang yang menjadi target Zeno.
Tidak, setitik cahaya yang membawa lari target Zeno tidak sepenuhnya lari, melainkan dia berdiri di atas dahan pohon dengan target Zeno yang berdiri di sampingnya dalam keadaan lemah, orang tersebut terlihat menggunakan topeng yang membuat Zeno kesulitan untuk melihat wajahnya dengan begitu jelas.
__ADS_1
“Tuan sepuluh, kaukah itu? Terima kasih telah menolongku.” Kata seseorang yang melawan Zeno tadi dengan nada yang penuh rasa sakit.
Tuan sepuluh tidak menjawab, dia kembali pergi sambil membawa seseorang yang dia tolong tadi. Kepergiannya tidak begitu jelas seakan orang tersebut berubah menjadi cahaya, namun, Zeno tahu bahwa orang yang memakai topeng tersebut tidak menghilang, melainkan bergerak secepat cahaya yang membuat Zeno kesulitan menebak, di mana orang tersebut bergerak?
Bahkan, Zeno meminta Kiba untuk mengidentifikasi baunya, di mana orang itu bergerak? Namun, Kiba sama sekali tidak bisa untuk mencium bau orang tersebut, kemungkinan seseorang yang memakai topeng, yang mana Zeno mendengarnya bahwa dia memiliki julukan tuan sepuluh, sudah pergi jauh, jauh dari pandangan Zeno.
Siapa itu tadi? Itulah yang menjadi pertanyaan bagi Zeno, yang pasti dia percaya bahwa orang yang bernama tuan sepuluh itu masih satu organisasi dengan kelompok kriminal. Zeno menyentuh dahinya, berpikir sejenak sambil bersandar di samping pohon untuk melepaskan penat sejenak, “Dia memanggilnya tuan, kemungkinan dia merupakan seseorang yang menjadi pemimpin dari kelompok kriminal.” Zeno berkata kepada dirinya sendiri.
.....
Sebuah anak panah menancap pada pohon dengan Turse yang sedang memunggung pohon tersebut. Tidak hanya satu anak panah, terlihat sudah ada belasan anak panah yang menancap pada pohon tersebut, bahkan terlihat dengan jelas bahwa pohon yang menjadi pelindung Turse menjadi retak dan akan tumbang.
Dia membalikkan tubuhnya dan berjongkok sambil menarik tali panah yang memunculkan sebuah anak panah dari es. Terlihat, bahwa sang musuh juga bersembunyi dari balik pohon agar terhindar dari anak panah milik Turse.
Turse berdiri kembali, tapi masih tetap menarik anak panahnya, dia berlari ke arah samping untuk mengganti pohon untuk menjadi pelindungnya, sekaligus mencari celah yang pas untuk mengenai musuhnya. Tapi sayang sekali, saat dia bergerak, musuh keluar dari balik pohon dan melepaskan anak panahnya terlebih dahulu ke arah Turse.
Terpaksa, dia melepaskan anak panahnya terlebih dahulu untuk menghancurkan anak panah milik musuh yang akan datang. Sehingga, dia bisa bersembunyi lagi di pohon lain dengan lebih leluasa.
Turse tidak habis pikir, dia mengarahkan busur panahnya ke atas dan menariknya dengan sangat panjang. Sehingga, anak panah yang panjang pun muncul dan tertembak menuju langit yang tertutup oleh dedaunan pohon.
__ADS_1