
Pagi hari telah tiba, Zeno semenjak tadi sudah terbangun dan bersiap-siap untuk pergi menuju tempat bersejarah terlebih dahulu, sedangkan untuk peristiwa penting yaitu petir merah, sepertinya Zeno tidak akan menunggu selama dua bulan di negara ini. Jadi Zeno memutuskan untuk melihat peristiwa penting itu setelah mencari ayahnya.
Walaupun perasaan Zeno sangat sedih, apakah setelah ia menemukan kembali ayahnya, ia masih sempat untuk melihat momen langka tersebut. Padahal bisa saja kesempatan Zeno untuk membangkitkan elemen petirnya ada di situ.
Zeno akhirnya keluar dari kamarnya, wajahnya terlihat tidak bersemangat dan lebih murung daripada seperti hati-hari biasanya. Pasalnya, semenjak ia bangun tadi, tiba-tiba hatinya sangat merindukan ibu dan keluarganya, walaupun Zeno meninggalkan negaranya semenjak beberapa hari yang lalu.
Zeno bergegas untuk turun menuju lantai pertama, karena ia juga membutuhkan sarapan serta ada beberapa hal yang Zeno lupa untuk dipertanyakan.
"Pang…. Maksudku tuan, apa yang perlu saya bantu lagi?" Ucap Uza yang melakukan aktivitas hariannya yaitu menjaga kasir dan melayani pelanggan yang baru datang.
"Aku pesan makanan seperti kemarin lagi." Jawan Zeno.
"Baik tuan." Kata Uza mengangguk.
Tidak lama kemudian, Uza telah mengantarkan sepiring makanan ke meja yang Zeno tempati. Tangannya sedikit bergetar saat mengantarkan makanan, pasalnya makanan yang ia antarkan akan dimakan oleh seorang yang begitu penting, sehingga kalau terjadi apa-apa, Uza akan berhadapan dengan kekaisaran negara Air serta Angin.
"Duduklah Uza." Perintah Zeno setelah makanan disajikan di atas mejanya.
Uza pun menuruti perintah Zeno, bagaimanapun juga ia harus menuruti permintaan orang penting selagi itu baik.
"Di antara tempat bersejarah yang kau ceritakan kemarin, mana yang lebih dekat dari sini?"
"Tuan, apakah tuan benar-benar ingin pergi menuju kedua tempat itu? Kemarin saya sudah menyarankan agar anda tidak pergi ke tempat tersebut." Tegas Uza.
"Tidak perlu takut, karena itu adalah urusanku." Ucap Zeno.
__ADS_1
"Baiklah tuan, tempat yang lebih dekat dari sini adalah reruntuhan Zanfal, yang masih berada di wilayah timur. Sedangkan untuk danau Vanzula, tempatnya berada di wilayah Utara." Jawab Uza sambil menghela nafas.
"Wilayah timur? Bisakah kau menunjukkan lebih detail lagi? Bukankah suatu wilayah di sebuah negara ini sangat luas, bahkan bisa mencangkup beberapa kota di dalamnya." Zeno mengerutkan dahinya.
Uza akhirnya memberikan arahan mengenai reruntuhan Zanfal secara lebih jelas, dan juga detail. Sedangkan Zeno, ia hanya mengangguk setelah diberi pengarahan oleh Uza.
"Baiklah, kau bisa kembali ke tempatmu. Aku sangat banyak mengucapkan terima kasih kepadamu, Uza." Kata Zeno sambil tersenyum kepada Uza.
"Baiklah pange… maksudku tuan." Jawab Uza dengan berbalik badan, wajahnya hanya tertunduk malu menatap Zeno.
Setelah Uza pergi, Zeno kembali berpikir mengenai reruntuhan Zanfal. "Reruntuhan Zanfal ya, memangnya di dalamnya ada sesuatu yang istimewa?" Tanyanya di dalam hati. "Tetapi menurut Uza, reruntuhan tersebut berisi roh-roh keluarga Zanfal yang berkeliaran."
Beberapa saat kemudian.
Zeno akhirnya pergi meninggalkan kedai setelah melaksanakan makan pagi, dia bergegas menuju kuda yang telah ia taruh di belakang kedai dengan sebuah pakan yang memang telah disiapkan oleh pemilik kedai itu sendiri.
Tetapi setidaknya ia juga harus berani mencoba, manakala elemen petirnya memang bangkit disitu. Tetapi apa yang menjadi beban pikiran Zeno yaitu, memangnya ada sesuatu yang istimewa di dalam reruntuhan?
Barangkali memang para roh-roh Zanfal bisa membantunya, walaupun keluarga Zanfal merupakan orang-orang yang sombong, dan bisa dipastikan sulit dimintai bantuan, setidaknya Zeno harus sedikit memaksa roh-roh tersebut.
Saat perjalanan, Zeno tiba-tiba tersenyum sendiri karena mengingat cerita Uza dimana keluarga Zanfal merupakan keluarga terkuat, namun karena kesombongannya, keluarga tersebut terbantai oleh seorang anak kecil.
"Memang, orang-orang sombong harus dibantai. Tetapi bukanlah sesuatu yang lucu apabila dibantai oleh seorang anak kecil. Aku jadi penasaran, aku benar-benar ingin bertemu anak kecil itu, yah tetapi anak kecil itu hidup pada ratusan tahun yang lalu, itu berarti dia sudah meninggal." Ucapnya di dalam hati.
Tak terasa Zeno telah sampai pada sebuah kawasan reruntuhan Zanfal sesuai arahan Uza. Reruntuhan yang sangat sepi dengan banyak pohon yang mengitarinya membuat reruntuhan tersebut memiliki sebuah aura mistis yang membuat bulu kuduk seseorang pun yang lewat berdiri.
__ADS_1
Berbeda dengan yang lainnya, Zeno justru tidak merasa takut sedikitpun, bagaimanapun juga dihadapannya hanyalah sebuah kediaman yang luas namun ada beberapa tembok yang runtuh. Bisa dibilang bahwa reruntuhan ini masih sanggup ada semenjak ratusan tahun yang lalu.
Zeno turun dari kudanya dan mencoba melangkahkan kakinya memasuki reruntuhan tersebut, perlahan-lahan ia masuk ke dalam reruntuhan tanpa takut sedikitpun.
Saat masuk, ia hanya melihat sebuah ruangan kosong tanpa berisi apapun. Beberapa bercak darah yang tertinggal selama ratusan tahun juga masih nampak jelas bahwa memang ada sisa pembantaian di sini.
"Bukankah ini sangat aneh, reruntuhan yang belum runtuh seutuhnya, serta jejak darah yang menempel, bukankah lebih tepatnya reruntuhan ini sudah ada semenjak puluhan tahun yang lalu. Lantas kenapa reruntuhan ini terlihat menolak hilang dan rata dengan tanah setelah ratusan tahun yang lalu?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Zeno juga mencoba menelusuri bagian reruntuhan yang lain, tidak ada yang begitu istimewa saat ia melihat bagian yang lain. Mungkin yang paling terlihat hanyalah bekas pembunuhan, serta beberapa senjata berkarat yang telah rapuh termakan waktu.
Sesekali saat Zeno melewati sebuah ruangan, ia mendengar teriakan kesakitan yang begitu jelas, untuk menuruti rasa penasarannya, ia akhirnya memasuki sebuah ruangan tempat dimana sebuah teriakan terdengar.
Zeno juga mengambil pedang dua jiwanya dari punggungnya. Memang, roh tidak akan terpengaruh oleh pedang, tetapi para roh juga akan merasakan sakit dari serangan elemen orang yang masih hidup, Zeno sudah mengetahui dari cerita ibunya dahulu.
Satu roh muncul dihadapan Zeno, Zeno langsung menebaskan pedangnya dan mengeluarkan sebuah aliran air yang menghilangkan roh tersebut.
"Aneh, pedang ini tidak kembali mengeluarkan es? Ayolah, apa kau bercanda wahai tuan pedang?" Kata Zeno yang berbicara pada pedang dua jiwanya.
"Tapi tidak masalah, untung saja roh tadi sangatlah lemah, sehingga ia bisa dihilangkan dalam satu serangan." Sambungnya sambil berbalik arah pergi meninggalkan ruangan tersebut, karena dirasa bahwa ruangan tersebut tidak ada apa-apa.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tiba-tiba saat ia membalikkan tubuhnya, wajahnya bertatapan dengan wajah seseorang yang membuatnya begitu terkejut dan melompat ke belakang. Ia juga sempat menebaskan pedang dua jiwanya karena reflek karena saking terkejutnya.
***Note:
__ADS_1
Maaf ya, karena akhir-akhir ini author update nya dua hari sekali. ini penyebabnya karena author sakit gygy ✋😞, jadi ya karena itu author agak kesulitan untuk mikir karena cenat cenut yang menyerang.
tetap semangat dan jangan lupa untuk bernapas***........