
Namun, tak disangka, saat Zeno membuka pintu istana dengan paksa, bukan Danze yang menyambutnya, namun seorang wanita berambut hitam yang panjangnya sepinggang tanpa mengenakan sehelai pakaianpun. Benar, wanita itu telanjang sepenuhnya sambil berjalan ke arah Zeno.
“Arkhh, kaisar terkuat telah datang, sebelum melanjutkan inti pertarungan dengan kakakku, bagaimana jika kita bertarung di atas ranjang terlebih dahulu?” Desah wanita itu sambil memasang wajah yang seolah dipenuhi napsu.
Bukannya bernapsu, justru Zeno merasa sangat jijik. Serendah inikah harga diri seorang wanita? Bahkan dia yang melihat wanita yang merendahkan harga dirinya, justru ingin menginjak harga diri wanita tersebut dengan cara membunuhnya secara tragis.
“Kakakmu, apakah kau adik Danze? Enyahlah, aku tidak ada urusan denganmu!” Zeno berjalan dan hendak ingin melewati adik Danze, karena urusannya kali ini adalah dengan Danze bukan dengan sesiapapun.
Namun, saat hendak melewati adik Danze, tiba-tiba adik Danze langsung memeluk tangan Zeno dengan begitu erat, bahkan Zeno juga merasakan bahwa tangannya bersentuhan langsung dengan apa yang dimiliki oleh seorang wanita. “Ayolah, apakah kau tidak bernapsu pada wanita? Apakah kau seorang yang berbelok? Aku berpikir bahwa kau ingin menemui kakak karena ingin melakukan sesuatu.”
“Tidak ada seorang wanita yang membuatku untuk luluh, bahkan wanita telanjang seperti kau sekalipun.” Zeno mengangkat lengannya yang dipeluk dengan sangat kuat, hingga wanita yang merupakan adik Danze itu juga terangkat. Kemudian, tanpa ragu, Zeno membanting adik Danze ke permukaan lantai dengan sangat keras, tidak peduli apakah orang yang dia banting adalah seorang wanita. “Ingat! Hanya satu wanita yang berada di dalam hatiku, tetapi dia lebih sopan daripada seorang j*l*ng sepertimu!” Sambungnya sambil menginjak punggung wanita itu hingga dia berteriak dengan kesakitan.
“Keparat!” Adik Danze berteriak dengan penuh emosi saat dia diperlakukan dengan buruk seperti itu, kemudian dengan penuh tenaga, dia menggulingkan badannya untuk menghindari kaki Zeno yang menginjaknya. Bersamaan dengan itu, dia mengeluarkan sebuah elemen kegelapan berbentuk kerucut ke arah Zeno.
Zeno menyapu tangannya, sehingga sebuah kilauan cahaya berbentuk bulan sabit muncul setelahnya. Yang mana kilauan tersebut menghancurkan elemen kegelapan yang adik Danze keluarkan.
Tanpa berpikir panjang, Zeno menendang pinggang adik Danze yang tengah mencoba untuk berdiri dengan sangat keras, sehingga dia kembali tersungkur dan berguling di atas lantai istana kekaisaran. “Apakakkau tidak diajari sopan santun kepada orang tuamu? Aku tahu, kalian kakak adik memiliki sifat yang sama-sama b*j*ngan, maka dari itu orang tua kalian juga tidak jauh dari sifat itu.” Zeno kembali melangkahkan kakinya ke arah adik Danze yang lagi-lagi mencoba untuk berdiri.
Sayangnya, adik Danze mengeluarkan sebuah monster yang wujudnya terbuat dari partikel kegelapan. Dan tentunya, beberapa monster tersebut menyerang Zeno secara bersamaan dari segala sisi.
Melihat hal itu, Zeno mengeluarkan spiral air dan angin di kedua tangannya, melemparkannya ke arah monster yang berada di sisi depan dan samping kanan Zeno. Memang, kedua spiral itu mengenai monster yang hanya berwujud bayangan dan kegelapan, namun memiliki gigi tajam dan mata merah, sayangnya, monster tersebut memiliki regenerasi yang cukup cepat, sehingga luka yang dua monster itu miliki akibat elemen spiral milik Zeno pulih dengan begitu cepat.
__ADS_1
Tidak memiliki waktu untuk berpikir, Zeno langsung berbalik badan dan menyerang monster lainnya. Dia memang tidak berpikir, karena sudah tahu bahwa apabila monster tersebut memiliki tingkat regenerasi yang cukup cepat, maka Zeno hanya menyerangnya dengan cukup cepat pula sehingga mereka tidak akan memilik waktu untuk beregenerasi. Selain itu, sebenarnya dia tahu bahwa saat dia mengeluarkan cahaya dengan pancaran yang sangat tinggi, monster-monster itu akan hilang dalam sekejap, namun dia tidak ingin mengalahkannya dengan cara yang cepat.
Irene I’Ftarthur, atau adik Danze langsung berdiri untuk menyerang Zeno di saat Zeno disibukkan oleh monster yang dia buat sendiri. Tidak hanya itu saja, dia juga menciptakan sebuah pedang kegelapan yang dia tebaskan ke arah Zeno.
Zeno tidak sebodoh dan selengah itu, dia menciptakan sebuah pedang cahaya yang begitu terang, menghindari amukan para monster dan menahan tebasan Irene dengan begitu mudah. Dan kemudian tanpa ragu dan berpikir panjang, Zeno menendang dengan lutut perut Irene sehingga dia memuntahkan seteguk darah. Lantas dengan cepat, dia kembali berbalik badan dan menyerang para monster itu.
Hanya karena Irene terlempar dan tersungkur dengan lemah, empat monster bayangan yang dia hadapi langsung hilang tanpa meninggalkan jejak.
“Aku tidak pernah bertarung dengan wanita dengan sangat serius, dan tentunya menghadapi wanita kotor sepertimu juga tidak begitu serius.” Zeno menatap sinis Irene, lebih tepatnya dia juga ingin mual saat memperhatikan Irene yang tidak memiliki kesopanan sama sekali.
Irene justru tersenyum seolah dia menyembunyikan sesuatu, hal itu membuat Zeno mengerutkan dahinya dan memasang wajah yang begitu curiga.
“Apa kau menikmati pertarungan ini? Apakah kau tidak sadar ada berapa orang yang menatapmu saat ini?”
Irene, membuka mulutnya lebar-lebar saat Zeno berkata demikian, dia yang sebelumnya berniat untuk menakuti Zeno, tapi justru dia lah yang menjadi begitu ketakutan. “Bagaimana, bagaimana sia bisa mengetahuinya.” Itulah yang dipikirkan oleh Irene. Namun, dia langsung menggertakkan giginya.
“Sial, tampaknya dia bisa mengetahui kita semua. Tapi mau bagaimana lagi, kau sudah terjebak, tidak ada jalan untuk keluar bagimu.” Kata salah seorang dari kegelapan.
Seperti apa yang Zeno ketahui dari Kiba, dua puluh orang muncul dari segala sisi sambil mengulurkan tangannya, dan berupaya untuk menyerang Zeno secara bersamaan.
Akan tetapi, Zeno bersikap sangat tenang dan tidak panik sedikitpun, ia juga bersedekap sambil melirik matanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat orang-orang itu.
__ADS_1
“Putri Irene, sebaiknya kau pergi, kau sudah sangat cukup untuk melawan orang seperti dia. Biarkan kami dari keluarga I’Ftarthur yang akan membbunuhnya.” Kata salah seorang yang ada di belakang Zeno.
“Tuan, izinkan aku untuk keluar.” Azure meminta.
“Apa aku selama ini belum memberitahumu? Keluarga Fang mengajarkanku bahwa untuk tidak mengeluarkan beast sebelum musuh yang aku hadapi mengeluarkan beast terlebih dahulu. Terkecuali, sebelum musuh datang, dan aku sudah mengeluarkan beast terlebih dahulu. Selain itu, aku bersikap tenang karena aku tidak sendirian, benar kan Kiba?” Ucap Zeno dalam hatinya, namun Azure mendengarnya dengan begitu baik.
“Jika kau berpikir untuk membantai kekaisaran seorang diri, maka aku tidak akan membiarkanmu untuk bangun dari pingsan, tuan!”
Turse tiba-tiba berdiri di ambang pintu yang tengah hancur, kemudian diikuti oleh Kirin dan Uron, Selena, Nora, dan jenderal Lois. Mereka semua masuk ke istana kekaisaran sambil mengangkat senjatanya masing-masing dan bersiap untuk melakukan sebuah pertarungan. Ditambah dengan ratusan prajurit yang masih hidup sedang menunggu di luar.
“Sebaiknya Anda menemui dia sekarang.” Kata Kirin, “Biarkan kami yang mengurus mereka.”
“Baiklah.” Zeno bergerak secepat cahaya sebelum keluarga I’Ftarthur melancarkan serangan mereka.
......
Zeno kembali muncul dan berlari biasa setelah menjauh dari mereka, mengikuti apa yang dikatakan Kiba, dimana Danze berada. Karena tampaknya, Kiba masih mengingat dengan begitu jelas bau tubuh Danze bagaimana.
Dan pada akhirnya, tepat di depan sebuah ruangan yang tertutup, Zeno menendang pintu itu dengan keras. Menampilkan sebuah kursi yang membelakangi pintu tersebut, ditambah ada seseorang yang duduk di atas kursi itu.
“Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, kaisar terkuat. Tampaknya para bawahanku menyambutmu dengan sangat buruk ya?” Kata orang itu dengan suara yang tidak begitu asing di telinga Zeno.
__ADS_1
“Tidak perlu repot-repot, kaisar Danze.” Kata Zeno yang berjalan perlahan ke arah kursi itu, “Semua pasukanmu itu hanyalah badut yang cukup untuk menghibur dan memberikan sebuah sambutan yang begitu baik. Dan mari, dengan penuh hormat kita mulai saja acara utamanya.”