
Sudah beberapa jam Zeno dan Turse duduk di puncak gunung dengan ditemani oleh cahaya memancar. Hawa dingin yang dirasakan Zeno juga begitu pekat. Berbeda dengan Turse, dia tampak biasa dengan dinginnya udara yang dapat membekukan suasana.
Tidak jauh berbeda dari sebuah rekreasi, Zeno juga menikmati indahnya puncak gunung Apiluc serasa dia juga melakukan pendakian. Mengawasi terbitnya matahari dari arah timur yang membuat Zeno tersenyum cerah dengan hati yang begitu tenang.
Kabut yang menutupi mereka diterpa angin, membuat mereka yang seolah berada di balik kegelapan kembali terang dengan matahari yang bersinar. Menggantikan benderangnya cahaya yang memancar dari kawah gunung. Tentu saja, karena cahaya matahari jauh lebih terang daripada pancaran dari bunga teratai emas.
“Tuan, ada orang yang akan datang dari arah timur. Bukan tuan Sepuluh, tapi ini orang lain, dia juga membawa pasukan yang begitu besar.” Kiba berkata dengan serius, penciumannya tidak salah, mencium ribuan bau manusia yang berbeda-beda sedang naik ke puncak gunung.
“Apa?” Zeno terkejut, mengeluarkan suara hanya di hadapan Kiba.
Tapi Turse melihat begitu jelas dari raut wajah bahwa Zeno terkejut tanpa sebabkan. Penasaran, dia bertanya kepada tuannya, “Ada apa tuan?”
Zeno tidak mengatakannya terlebih dahulu, apa yang dia lakukan adalah menarik tangan Turse untuk pergi dari sini. Menurutnya, terlihat sangat lucu dan aneh, namun mengerikan apabila sebuah pasukan naik ke puncak gunung.
Tapi, mengapa mereka melakukan hal tersebut? Selain itu pasukan yang akan naik ke puncak bukan dari pasukan tuan sepuluh atau Nuvoleon. “Apakah ada pihak lain yang ingin merebut bunga teratai emas? Cukup menarik.” Zeno bertanya pada hatinya sendiri. Sedikit tidak menyangka bahwa akan ada banyak pihak yang akan merebut teratai emas.
Bukan berarti saat Zeno lari dia takut dan membiarkan pihak tersebut merebut bunga teratai emas. Dia lari karena tidak ingin terlibat dalam masalah besar. Dan tentu saja, menghadapi ribuan pasukan bukanlah hal yang mudah. Memang bisa, tapi Zeno akan kesulitan, apalagi mereka adalah elementalist cahaya.
Lagipula, bunga teratai emas akan mekar sepenuhnya dalam dua hari lagi. Jadi tidak mungkin orang yang ingin mendapatkan bunga teratai emas akan memetik tidak pada waktunya. Sehingga, Zeno tidak terlalu panik. Kalaupun orang tersebut memetik tidak pada waktunya dan membuat khasiat bunga itu hilang, tentu saja Zeno tidak akan memaafkannya dan segera membunuh orang tersebut, tidak peduli apakah dia akan berurusan dengan kaisar besar atau tidak.
__ADS_1
“Tuan, apa yang terjadi?” Turse masih benar-benar penasaran dengan Zeno.
“Bukan tuan sepuluh, atau pihak Nuvoleon, akan ada sebuah pasukan yang naik ke puncak dari timur.” Zeno menjelaskan.
Turse penasaran dan bertanya dengan singkat, “Siapa?” karena menurutnya ini cukup aneh, karena siapa yang ingin merebut bunga teratai emas selain empat pihak yaitu Nuvoleon, organisasi kriminal, Zeno atau Hole.
“Entahlah.” Zeno menggeleng-gelengkan kepala, “Tapi yang jelas mereka akan memenuhi puncak dengan pasukan mereka, dan tidak ada tempat untuk kita.
“Mereka ini bodoh atau bagaimana?” Turse mengerutkan dahinya, memenuhi puncak dengan sebuah pasukan? Memangnya seberapa banyak pasukan yang di bawa? Tentu saja jika pasukan itu sama dengan milik tuan sepuluh, puncak bagaikan meletus dan menyemburkan manusia.
Dia mengerti, mengapa Zeno memilih lari, karena tidak mungkin dia bertarung dengan ribuan prajurit di Medan yang sempit seperti puncak. Dan Turse mengerti, sepertinya para pasukan tersebut ditugaskan untuk mengitari kawah agar tidak ada sesiapapun yang mencurinya.
Tentu saja, keduanya penasaran, bagaimana jika dihadapkan dengan pasukan tuan sepuluh? Sepertinya Zeno harus mengubah rencana agar menghadapi pihak yang baru datang dengan menggunakan pasukan pihak sepuluh.
“Tuan, jika aku tidak salah ingat, pasukan milik Nuvoleon terpecah, bagaimana jika kita menggunakan pasukan tersebut untuk menghadapi pasukan yang baru datang?” Turse angkat bicara, dia juga sempat kebingungan untuk menghadapi pasukan yang baru datang itu.
“Kau benar, aku akan memanfaatkan pasukan tersebut. Tapi ....” Zeno kembali berpikir, bagaimana dia memimpin pasukan itu? Tentu saja sebuah pasukan tidak akan dengan mudah mempercayai seseorang jika bukan pemimpinnya.
“Tidak.” Zeno berkata kepada dirinya sendiri sambil tersenyum, “Pasukan Nuvoleon cukup bodoh, buktinya dia bisa digiring dengan begitu mudah. Dan yang akan menggiringnya saat ini adalah aku.”
__ADS_1
Turse yang mendengarnya, dia menggelengkan kepala dan menatap sinis Zeno, “Tidak, tuan tidak boleh ikut dalam pertarungan. Tuan harus melibatkan orang lain untuk memimpin pasukan tersebut.”
Zeno menghela napas, apa yang dikatakan Turse ada benarnya bahwa dirinya tidak perlu memimpin sebuah pasukan, apalagi milik Nuvoleon. Karena, jika dia memimpin sebuah pasukan tersebut, rasanya agak aneh apabila nantinya membantai pasukannya sendiri.
“Kirin dan Uron, bukankah tuan punya mereka? Jadikan saja mereka yang menggiring pasukan Nuvoleon.”
“Kirin dan Uron, dua naga tersebut memang ku berikan sebuah surat untuk menuju ke Nuvoleon, tapi sebelum itu, aku menuliskan beberapa tugas yang mungkin akan membuatnya tidak bisa ke sini sekarang.” Zeno menjelaskan.
“Tugas?” Turse mengangkat alisnya sekejap, “Tugas apa itu?”
“Kau akan tahu nanti.” Zeno tersenyum menyeringai.
Zeno dan Turse lari dan menjauh dari puncak dengan begitu cepat, tidak peduli apakah Medan begitu curam sehingga mereka akan terpeleset, tapi yang pasti sejauh mungkin mereka harus tidak menampakkan diri dari pihak yang baru datang. Masalahnya, pihak itu siapa? Itulah yang menjadi pertanyaan bagi Zeno semenjak tadi.
Mungkinkah itu kekaisaran? Lagi-lagi Zeno berpikir, tapi bukan saatnya berpikir seperti itu, sehingga membuat mengesampingkan berpikir mengenai siapa yang akan memimpin pasukan Nuvoleon?
Tiba-tiba Zeno memikirkan sesuatu, sehingga dia kembali tersenyum. Tapi, dia tidak yakin bahwa apa yang akan dia lakukan itu berhasil atau tidak? Masalahnya, dia belum pernah melakukan ini sama sekali, bahkan orang yang sudah berpengalaman pun tidak dapat membuatnya benar-benar sempurna.
Lebih tepatnya, dia akan membuat kloningan orang lain, yaitu jenderal Tamichi. Namun, itu terlihat sangat sulit, bahkan orang yang berpengalaman seperti Kirin pun tidak dapat membuat bola mata yang dikloning, kecuali mengkloning dirinya.
__ADS_1
Tapi, apa salahnya mencoba, Zeno tidak pernah menyerah dan menolak untuk mencoba apa yang dia pikirkan. Sehingga, dia membuat segel tangan seperti ingin mengeluarkan kloningan pada umumnya, namun dengan membayangkan wajah jenderal Tamichi.
Sayangnya, jika ini benar-benar berhasil, dan kloningan memiliki bola mata, masalah terbesarnya kloningan tersebut tidak berelemen seperti jenderal Tamichi, melainkan akan sama dengan elemen serta teknik yang Zeno miliki. Itu akan menjadi sebuah masalah besar apabila ketahuan oleh para pasukannya.