
Zeno dan dua orang di dekatnya bergegas untuk pergi menuju kekaisaran, karena pangeran Rouya harus benar-benar menyelesaikan masalah perselisihan yang terjadi dalam keluarganya.
Zeno yang diperintahkan Rouya untuk membantu dirinya merasa tidak percaya bahwa perselisihan itu bisa terjadi dalam keluarga besar, apalagi keluarga kekaisaran. Dia mengira bahwa perselisihan hanya terjadi pada keluarga yang lebih kecil dari kekaisaran seperti Agalia dulu.
Zeno yang diperintahkan juga merasa seneng-senang saja, tetapi masalahnya adalah waktu yang ia kejar, karena seharusnya hari ini dia akan bergerak menuju negara tanah, negara paling jauh dari negaranya, atau mungkin bisa dibilang berseberangan tetapi masih ada batas hutan elemental di antara kedua negara tersebut.
Tetapi dia juga mengharapkan setelah ia membantu pangeran Rouya menyelesaikan masalahnya, hubungan negara petir dengan negara asal Zeno akan menjalin persahabatan, walaupun sebelumnya tidak ada permusuhan sama sekali di antara kedua negara tersebut.
Tetapi setidaknya, jika negara petir menjalin hubungan baik dengan dua negara asalnya, negara petir juga tidak akan diam apabila negara air ataupun angin sedang terancam oleh negara api, terutama konflik akhir-akhir ini yang untungnya telah dingin pada wilayah barat negeri angin yang selalu diserang negara Api.
"Pangeran! Cepat kembali ke Kekaisaran, beberapa keluarga cabang sedang menyandera kaisar dan beberapa keluarga cabang yang mendukung Kaisar Shima." Teriak salah satu orang yang berlari menuju Rouya, dia terlihat begitu cemas setelah keluar dari kekaisaran.
"Apa?" Rouya bergegas masuk menuju kekaisaran, ia begitu cemas karena kaisar atau ibunya sendiri dalam keadaan dikepung oleh orang yang memiliki kontra kepadanya.
Seketika raut wajah Rouya menjadi suram saat ia melihat bahwa ibunya diikat dan diikuti oleh seluruh pengikutnya.
"Shima, lebih baik kau mengundurkan diri, karena Rouya sudah mati sekarang dan tidak ada penerus yang pasti." Kata tetua ketiga yang merupakan pemimpin dari propaganda ini.
"Hey, apa yang kau lakukan." Teriak Rouya dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya.
"Tunggu sebentar, bagaimana kau bisa keluar dari danau Vanzula?" Kata salah satu dari mereka dengan mengerutkam dahinya.
"Jangan banyak bicara. Petir: Drake soul." Kata Rouya sambil mengeluarkan Drake soul.
"Hanya teknik lemah dari keluarga inti? Apa aku takut?" Kata semua orang yang melakukan pengkhianatan begitu tertawa melihat Rouya mengeluarkan Drake soul.
__ADS_1
"Teknik lemah, dipegang anak yang lemah juga, apa jadinya ya?"
"Tidak biasanya Rouya bersikap pemberani seperti ini? Ada apa? Apakah sikapmu itu bangkit? Ayo lawan kami! Kau tidak akan bisa menandingi kami hanya dengan teknik itu."
Para pengkhianat menertawakan Rouya dan merendahkannya, tetapi Rouya sama sekali tak gentar dan masih berusaha menyerang mereka dengan Drake soul.
"Rouya pergilah!" Teriak ibu Rouya.
"Air: Tarian naga, tahap pertama."
Tiba-tiba Zeno datang dengan menarik salah satu pedangnya yaitu dua jiwa dan ia juga sempat mengeluarkan tarian naga untuk membantu Drake soul menyerang para pengkhianat.
"Kombinasi yang sempurna antara petir dan juga air. Hahahaha inilah yang ku maksud, tidak selamanya elemen air akan menjadi lemah saat bertemu petir, ini akan menjadi daya yang sangat hebat apabila digabungkan." Zeno berlari ke arah Drake soul yang melesat ke arah pengkhianat, tetapi nampaknya para pengkhianat masih sangat tenang saat kedatangan Drake soul.
"Tunggu, kau siapa?" Kata tetua ketiga yang merasa terkejut saat kedatangan orang asing yang merupakan Zeno itu sendiri.
“Jangan tanya siapa aku.” Kata Zeno mengangkat ujung bibirnya.
“Air: tarian naga berpetir, tahap pertama.” Zeno menebaskan naga air yang mengandung unsur petir tepat di hadapan wajah tetua ketiga keluarga Ama, bahkan tetua ketiga sangat ceroboh karena meremehkan Zeno ataupun Rouya dengan tidak melakukan kuda-kuda perlawanan apapun.
“Arkkkkh.” Teriak tetua ketiga setelah terkena serangan naga air yang bertegangan tinggi. Tapi siapa sangka, teknik gabungan itu sangat mengerikan, bahkan terlihat bahwa tetua tertiga hangus kering karena tegangan yang sangat tinggi.
“Hey! kau memangnya siapa? jangan iku campur urusan kami!”
“Petir bercabang, tahap ketiga.”
__ADS_1
“Amukan guntur langit!”
“Bola petir.”
Masing-masing para pengkhianat mengeluarkan sebuah teknik elemen petir dan menyerang Zeno. Tetapi wajah Zeno begitu santai saat ia melihat banyak serangan yang menuju dirinya, bahkan Rouya dan Selena sempat panik dan berlari ke arah Zeno dan melindunginya.
Zeno memejamkan matanya, ia juga terlihat menarik pedang dua jiwanya secara sungguh-sungguh dan juga perlahan. “Pedang dua jiwa, pedang suci milik dua negara, aku harap kau bisa mengeluarkan es untukku sekali lagi.” Zeno bergumam dengan menarik pedangnya secara spontan, ia juga menebaskan pedangnya itu ke arah beberapa teknik yang akan menyerang dirinya.
“Es?” Wajah semua orang yang melihat elemen di ruangan ini menjadi ikut membeku, tetapi bukan karena es, tetapi karena terkejut setelah apa yang Zeno keluarkan, kecuali Selena yang memasang wajah biasa saja karena ia bahkan terjebak es milik Zeno.
“Tuan pedang, sepertinya kali ini kau sangat bersahabat baik denganku.” Katanya dengan wajah yang begitu dingin, karena di hadapannya terdapat bongkahan es yang melindungi dirinya dari serangan petir yang memang sangat mengerikan. Namun tidak ada yang menyangka bahwa, para pengkhianat yang melancarkan serangannya kepada Zeno juga ikut membeku karena jangkauan bongkahan es itu memang sampai kepada orang-orang tersebut.
“Ayo siapa lagi? para penghianat memang perlu dibantai.” Zeno menghela napas, terlihat pada mulutnya yang mengeluarkan embun, serta ia juga merasa bahwa pedang yang ia pegang juga merasa sangat ingin hingga tangannya juga ikut membeku.
Rouya menjadi tertawa keras setelah melihat tetua ketiga yang merupakan dalang dari perselisihan ini telah meninggal. Seluruh orang bahkan ibunya yang melihat Rouya menjadi heran, bagaimana tidak, Rouya selama hidupnya tidak pernah tertawa sejahat ini sebelumnya.
“Apa kalian tidak tahu? aku sempat bertemu leluhur Ama pada saat berada di danau Vanzula.” Ucapnya dengan senyum melengking di wajahnya.
“Apa? jangan bilang kau berbohong! leluhur Ama merupakan orang yang hidup di zaman dahulu pada saat berdirinya negara ini, Rouya, kau jangan berbohong!” Kata salah satu penghianat yang masih hidup dengan tubuh yang bergetar.
“Mungkin kau yang kurang bermain begitu jauh, di negaraku, setiap beberapa tahun sekali, leluhur Fang akan muncul di sebuah air terjun yang bernama air terjun kehidupan, kemunculan leluhur Fang menjadikan seluruh keluarga Fang juga menuju kesini karena ingin bertemu leluhurnya.” Sambung Zeno dengan begitu sinis menatap penghianat tersebut.
“Pangeran, silahkan, pemimpin yang tegas harus memutuskan untuk menghukum para penghianat yang tersisa. Sepertinya hukuman mati adalah pilihan yang tepat.” Ucap Zeno yang menaruh pedang dua jiwanya kembali, kini ia berganti dengan menarik katana dan diberikannya kepada Rouya.
Zeno memutuskan hasil akhirnya kepada Rouya, apakah Rouya berani menumpahkan darah seseorang, atau akan memaafkannya. Zeno tidak mempermasalahkan keputusan Roya apapun itu.
__ADS_1