Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kemenangan


__ADS_3

Fang Zhuo dan Aurrora berbalik badan setelah mendengar suara asing di belakang mereka, Zeno pun juga berbalik badan, tetapi bukan penasaran suara asing tersebut, tetapi justru dia merasa familier dengan suara yang baru saja dia dengar.


Melihat topi penyihir dengan tongkat di tangan seorang wanita yang berbicara di belakang mereka tadi, jenderal Zhuo langsung mengangkat pedangnya, serta kaisar Aurrora juga menciptakan sebuah tombak es yang ia siap lemparkan kepada penyihir di depannya.


Zeno tidak terkejut, dia justru menahan ayah dan neneknya untuk melepaskan senjata mereka masing-masing. Hal itu membuat dua orang itu memandang Zeno begitu sinis, karena bagaimana bisa Zeno justru melindungi seorang penyihir?


“Nora, sebaiknya jika kau ingin bertemu kaisar maka lepas dulu topi penyihirmu.”


Nora menunduk dan meminta maaf, dia lupa bahwa topi penyihirnya akan membuat sang kaisar menjadi salah paham dan berniat untuk membunuhnya. Bagaimanapun, mengenakan topi penyihir berarti merupakan bawahan Rungdaf.


“Zeno, apa maksudmu? Kau berteman baik dengan bawahan Rungdaf?” Zhuo mengerutkan dahinya.


Zeno menghela napas dan menjelaskan, “Dia memang penyihir, tetapi dia berkhianat kepada Rungdaf. Saat aku membuatnya Rungdaf tidak bisa melawan lagi, Nora lah yang memenggal kepala Rungdaf karena memiliki sebuah perasaan dendam.”


“Apa yang dikatakan tuan Zeno memang benar. Tetapi aku benar-benar meminta maaf yang mulia kaisar, seharusnya Anda lah yang membunuh Rungdaf karena Anda juga kehilangan orang tua karenanya.” Nora menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Aku pernah dengar bahwa tongkat ini merupakan milik orang tua yang mulia kaisar, jadi aku mengambilnya dan akan mengembalikannya kepada kaisar sebagai permintaan maafku karena telah membunuh Rungdaf yang seharusnya mati di tangan anda.”


Nora berjalan perlahan mendekati kaisar Aurrora sambil menyerahkan tongkat yang ternyata merupakan milik orang tua kaisar Aurrora yang diambil oleh Rungdaf. Zeno jadi mengerti, mengapa neneknya tadi mencari tongkat milik Rungdaf. Untungnya Nora menyusulnya dengan membawa tongkat tersebut, mungkin jika tidak, Zeno akan kembali ke tempat di mana ia bertarung dengan Rungdaf.


Aurrora menerima tongkat itu dengan senang, dia juga tidak marah bahwa Nora yang membunuh Rungdaf. Lagi pula sepertinya Nora memiliki sebuah rasa balas dendam kepada Rungdaf sehingga dia berani berkhianat dan membunuhnya. Tongkat ini memang hal yang penting, bagaimana tidak, tongkat ini merupakan milik kaisar sebelumnya atau ayah Aurrora yang terbunuh oleh Rungdaf.


“Nora, bisakah kau menuju ke luar istana, aku akan menunggumu di sana.” Zeno berjalan meninggalkan ayah, nenek serta Nora yang masih berada di tempat. Dia berjalan menuju luar istana untuk menyelesaikan sebuah rencana yang dia buat beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Nora mengangguk dan kemudian pergi untuk mengikuti Zeno. Hal itu membuat Zhuo dan kaisar Aurrora saling memandang dan tersenyum satu sama lain karena memikirkan sesuatu yang sama di antara mereka.


“Apakah putramu mulai tertarik dengan seorang wanita?” Tanya kaisar Aurrora.


“Aku harap memang begitu.”


-----


Saat ini Zeno tengah berada di luar dan melihat bahwa seluruh pasukan beristirahat. Terutama Zeno melihat pasukan pertama yang terlihat kelelahan. Zeno tidak heran, karena memang pasukan pertama memiliki tugas yang paling berat, bahkan tidak memiliki istirahat sama sekali. Berbeda dengan pasukan kedua yang terus beristirahat karena menunggu pasukan pertama bergerak.


“Ada perlu apa tuan memanggilku? Apakah tuan menerimaku untuk menjadi pengikutmu?” Bola mata Nora membesar.


Zeno hanya mengerutkan dahinya dan menjawab, “Kau terlalu besar rasa. Aku ke sini hanya memerintahkanmu untuk menciptakan sebuah tornado kecil yang berada di atas istana kekaisaran. Hanya sebatas sebuah tornado kecil yang sangat tinggi tanpa merusak sekitar.”


Perlahan, tornado kecil nan lembut tetapi menjulang tinggi terbentuk di atas istana kekaisaran. Seluruh pasukan yang melihatnya tidak merasa ngeri, melainkan merasa takjub dengan tornado yang indah, dan lembut.


-----


“Apa kau melihatnya pemimpin?” kata salah seorang di samping Turse. “Bukankah itu sebuah tornado? Apa jangan-jangan Rungdaf telah bergerak dan menghancurkan seluruh pasukan?” Sambungnya dengan begitu cemas.


Turse menyipitkan matanya, dia juga melihat dari jauh sana terdapat sebuah tornado yang sangat tinggi. Tetapi sebagai seorang yang memiliki mata elang, tornado tersebut sangat indah dan tidak merusak keadaan sekitar. Alhasil, Turse tersenyum setelah mengerti apa yang terjadi, serta didukung oleh firasatnya yang benar-benar baik.

__ADS_1


“Itu bukan Rungdaf yang menghancurkan. Itu tornado memang sengaja diciptakan untuk memberikan sebuah petunjuk bahwa mereka berhasil menguasai Northern emperor.” Turse menghela napas, “Yah benar, mereka menguasai Northern, dan kita telah menang.”


Seluruh pasukan pemanah tidak percaya dengan ucapan Turse, mereka menyipitkan matanya dan melihat tornado. Yang benar saja, mereka memikirkan apa yang dipikirkan oleh Turse, bahwa tornado itu memang sebuah petunjuk bahwa pasukan terdepan sudah menguasai Northern.


Mereka bersorak bergembira ats kemenangan ini. Walaupun mereka tidak berada di barisan terdepan, setidaknya tanpa bantuan mereka di awal, pasukan kedua akan menjadi sangat kerepotan.


“Baiklah, kita bisa turun dan kembali menuju kekaisaran.”


Seluruh pasukan pemanah menjadi sangat senang dan kembali menuju istana kekaisaran setelah Turse memberikan sebuah perintah. Turse sendiri juga tidak menyangka, bahwa rencana Zeno untuk menaklukkan Northern Empire sebelah berjalan dengan mulus, bahkan terhitung sangat cepat yaitu dua hari satu malam.


----


“Cukup!” Pinta Zeno kepada Nora.


Mendengar perintah Zeno, Nora mengangguk dan langsung menghentikan Tornado yang berputar di atas istana kekaisaran.


Nora menghela napas setelah melakukan tugasnya, dia cukup senang saat diperintah Zeno, karena dia saat ini benar-benar mengagumi Zeno, baik itu dari kekuatannya, ketampanannya, bahkan sikap dinginnya itu yang membuat Nora suka. Terutama Zeno merupakan keluarga bangsawan, sehingga siapa juga yang menolak untuk menjadi bagian dari bangsawan.


Zeno kemudian mengajak Nora untuk masuk kembali ke dalam istana kekaisaran, lagipula dia cukup yakin bahwa para pasukan pemanah sudah tahu bahwa petunjuk aneh yang dia buat merupakan petanda bahwa pasukan sudah menguasai Northern.


Di sela-sela masuk ke dalam istana, Zeno melirik sedikit ke arah Nora dan berkata, “Masalah tadi pagi yang mana kau ingin menjadi pengikutku, bukannya aku menolak tetapi aku ingin lebih dari itu.”

__ADS_1


“Le..lebih dari itu?” Nora terkejut dan wajahnya memerah.


Zeno kembali memandang ke depan dan berkata, “Yah benar sekali, daripada kita menjadi seorang pengikut dan yang diikuti, kenapa kita tidak berteman saja? Sehingga kau tidak terlalu formal untuk berbicara kepadaku. Jadi kau tidak perlu memanggilku tuan saat membutuhkan bantuan, melainkan kau menyebutku dengan nama panggilan saat kau butuh aku.”


__ADS_2