
Masing-masing dari pilar dapat dengan mudah menahan serangan elemen yang Zeno keluarkan, terkecuali Ert yang terlempar jauh saat dinding tanahnya hancur saat menghadapi sebuah tembakan cahaya, karena sialnya, Ert harus berhadapan dengan Zeno yang berfokus dengan elemen cahaya.
Karena Ert sudah terlempar, masing-masing Zeno yang masih beradu elemen dengan para pilar lainnya, menghentakkan kakinya ke tanah dengan begitu keras, sehingga sebuah gundukan tanah muncul dan membuat keempat pilar lainnya tidak bisa bergerak, karena separuh tubuh mereka tercengkeram oleh elemen tanah yang sangat kuat.
Apa yang dilakukan begitu mulus, Zeno meloncat ke belakang. Tapi, ada sesuatu yang berada di luar rencana Zeno, namun itu justru membuat Zeno tersenyum lebar. Pasalnya, elemen cahaya milik Light langsung tertembakkan ke arah Winder saat Zeno langsung meloncat untuk mengelak.
Sehingga Winder berteriak kesakitan dengan tubuhnya yang mengalami luka bakar yang hebat karena tidak sengaja tertembak oleh elemen cahaya milik Leght.
“Bibi emas, kerja yang cukup bagus.” Salah satu Zeno tertawa lirih karena melihat Leght yang tidak sengaja menembakkan elemen cahayanya ke arah Winder. Hal itu sebebakan oleh Zeno yang mengelak, sedangkan di belakang Zeno yang mana tidak cukup jauh terdapat Winder yang juga bertarung dengan Zeno.
Leght yang sebelumnya tetap tersenyum ramah, kini menghilangkan senyumannya dan menggertak dengan begitu kesal. Saking kesalnya, dia menghancurkan tanah yang membuatnya tidak bisa bergerak dengan memanfaatkan sebuah cahaya matahari yang menembus awan abu-abu.
Sebuah cahaya terkumpul di telapak tangan Leght membuat sebuah bola cahaya besar, bahkan ukurannya memenuhi langit. Zeno yang melihatnya saja tidak berani untuk melihat cahaya itu, karena dia tahu bahwa cahaya besar berukuran matahari akan membuatnya buta. Para pilar yang lainnya sekalipun juga tahu, bahwa Leght kali ini sedang marah besar, mereka juga menutup matanya karena tidak berani melihat cahaya tersebut.
Kemudian, cahaya besar itu berubah menjadi sangat kecil, bahkan ukurannya sama seperti kelereng. Dengan suara berat, Leght berkata, “Apa kau tahu mengenai memadatkan sebuah elemen nak? Mungkin jika itu air, angin atau tanah masih sangatlah umum. Namun, yang kau lihat ini adalah elemen cahaya.”
“Leght hentikan, kau bahkan bisa membunuh anak itu dalam sekejap.” Winder yang terluka parah justru berusaha agar Leght tidak melemparkan bola itu ke arah Zeno, karena dia tahu bahwa kekuatan Leght begitu mengerikan saat dia marah.
__ADS_1
“Siapa peduli.”
Kelima Zeno mendadak menjadi lumpuh dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Keempat Zeno yang lainnya kemudian berubah menjadi sebuah serpihan elemen dan kembali menuju Zeno yang secara notabe adalah Zeno yang berhadapan dengan Leght atau Zeno asli. Dia seolah tidak sanggup berdiri karena melihat Leght yang mengeluarkan amarahnya, sekaligus sebuah aura yang membuat Zeno merasa sesak.
Ini tampaknya bukan satu perseribu dari kekuatan Leght, melainkan kekuatan Leght seutuhnya yang ditujukan oleh Zeno. Bahkan para pilar lainnya berkata bahwa Leght harus segera menghentikan apa yang dia lakukan, karena itu cukup bisa menghancurkan Zeno dalam satu kedipan mata, mungkin tidak hanya Zeno, bahkan dunia ini sekalipun.
“Ada perkataan terakhir? Aku akan mengantarkanmu ke tempat ibumu.” Kata Leght sebelum melemparkan bola cahaya seukuran kelereng ke arah Zeno.
Namun, tanpa di sadari, bahkan dengan Zeno itu sendiri. Zeno berdiri dengan tegak seolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian dengan begitu mudah, Zeno mengulurkan tangannya dengan mengeluarkan sebuah elemen cahaya yang sangat terang, bahkan melebihi terangnya cahaya matahari yang ditembakkan ke arah Leght.
Leght tidak ingin kalah, dia berusaha untuk mengendalikan elemen cahaya yang dikeluarkan oleh Zeno. Akan tetapi, dia sedikit kaget disaat elemen cahaya yang digerakkan oleh Zeno tidak tunduk sama sekali. Leght tidak habis pikir dan tidak ingin membuang-buang waktu hanya karena memikirkan hal yang tidak penting, apa yang dia lakukan adalah melemparkan bola cahaya itu ke arah sinar cahaya yang Zeno tembakkan kepadanya.
Selain itu, hal yang mengejutkan bagi Leght, dia melihat bahwa Zeno masih berdiri dari tempatnya tanpa tergores sedikitpun. Hal tersebut tentu saja membuat Leght membuka mulutnya lebar-lebar dan hampir pingsan dibuatnya.
Namun, saat dirinya memandangi Zeno, tiba-tiba dia berada di tempat gelap dengan sosok wanita yang ada di depannya. Wanita tersebut tampak begitu cantik dengan mahkota emas yang membuat Leght langsung bertekuk lutut.
“Leght, aku tidak memerintahkan untuk membunuh Zeno, kekuatanmu itu tadi dapat menghancurkan dunia beserta isinya. Namun beruntung, Zeno memiliki darahku yang mana bisa menandingi kekuatanmu itu tadi, dan sudah tidak perlu dipertanyakan lagi siapa yang menang.” Kata seseorang yang tidak lain merupakan dewi Luna yang membuat Leght seketika tunduk.
__ADS_1
“Baik dewi aku benar-benar mengerti. Aku mohon maaf apabila melakukan tindakan yang begitu ceroboh.” Leght berkata.
“Jangan sampai kecerobohanmu itu dapat membunuh anakku.”
Zeno menghela napas lega, dia sedikit tidak menyangka bahwa dia bisa mengeluarkan elemen cahaya sehebat itu, walaupun dia merasa bahwa dirinya tidak menyadari bahwa dirinya mengeluarkan sebuah teknik tersebut.
Lokasi yang dia pijak juga hancur dengan kondisi yang berbeda dari tadi, awan gelap dengan hujan rintik menghilang dan memberikan sebuah cahaya matahari yang bersinar menyinari dirinya. Di tambah, angin lambat yang berhembus kini juga menghilang. Mungkin itu terjadi akibat ledakan yang luar biasa hebat.
Apa yang dia herankan, mengapa dirinya masih tetap berdiri seolah tidak terjadi apa-apa? Padahal seharusnya, tubuhnya mungkin akan hancur dan tidak bersisa karena ledakan tersebut, bahkan para pilar penguasa elemen lainnya terlempar jauh yang membuat Zeno tidak tahu dimana mereka. Yang Zeno tahu, dia hanya melihat Leght jauh di depannya sedang berjalan kesini dengan tersenyum ramah.
Disusul dengan para pilar lainnya yang juga menampakkan diri dari segala sisi Zeno yang membuat Zeno bersiap untuk bertarung dengan mereka semua. Karena Zeno tahu bahwa mereka semua terlalu kuat, bahkan tidak berefek karena ledakan tersebut.
Semakin mendekat, mereka seolah tidak menunjukkan pergerakan yang mencurigakan dan bersiap untuk melakukan pertarungan ke babak selanjutnya. Justru mereka tersenyum ramah, bahkan Winder dan Eghtning sekalipun.
Masing-masing dari mereka mengulurkan tangannya ke arah Zeno, sehingga sebuah energi yang berbeda warna keluar dari masing-masing dari mereka. Dengan jarak yang begitu jauh, kelima energi itu masuk ke dalam tubuh Zeno.
Zeno merasakan bahwa di dalam tubuhnya mengalir lima energi yang berbeda-beda, dia juga merasa bahwa seolah lima elemen yang dia miliki mengalir bersamaan di dalam tubuhnya. Tubuhnya juga melayang dengan cahaya yang keluar seolah bahwa Zeno merupakan seorang yang agung.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka berlima berhenti di tempat di saat mereka sudah berada di dekat Zeno tanpa melakukan sebuah serangan.
“Selamat, sang penguasa 5 elemental.”