
“Aku ingin tahu, apakah Zeno yang sekarang masih selemah dahulu.” Kata Ryan dengan tertawa begitu keras.
Sebelum Zeno menyerang menggunakan pedangnya, dia mengeluarkan sebuah hembusan angin yang mengarah kepada Ryan dan Grisha. Tujuan Zeno bukanlah untuk pamer, tetapi dirinya ingin melihat, apakah kedua orang dihadapannya juga akan merendahkan Zeno hanya karena Zeno menggunakan elemen angin.
Baik Ryan dan Grisha hanya tertawa begitu keras saat mengetahui bahwa elemen milik Zeno adalah angin, yang mana menurut mereka, pada dasarnya angin akan kalah pada api. Tetapi Zeno dari dulu membuang jauh-jauh prinsip itu, karena menurut dia, semua elemen akan baik jika berada di tangan orang yang tepat.
“Apa aku tidak salah? Dia hanya memiliki elemen angin.” Kata Grisha yang masih tidak berhenti tertawa.
“Kau tahu? Zayn terbunuh hanya dengan elemen angin, seharusnya kau mengetahui itu.” Kata Zeno dengan senyum di wajahnya, dia tidak berhenti mengingat saat dimana dia melihat ekspresi Zayn yang telah kehilangan kedua tangan dan kakinya.
Grisha seketika berhenti tertawa, raut wajahnya begitu jelek saat mengingat anaknya Zayn telah terbunuh beberapa hari yang lalu. Dengan hati yang begitu dendam, dia sebenarnya ingin membunuh seseorang yang membunuh Zayn.
“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Grisha begitu pucat.
“Karena akulah yang membunuhnya.” Jawab Zeno.
Grisha melangkah maju dan menyerang Zeno, wajahnya begitu geram dan penuh kemarahan dan bertekad membunuh Zeno. Zeno yang melihat tingkah Grisha hanya menggeleng-gelengkan kepala, Zeno bahkan menurunkan pedang dan tidak berambisi untuk melawan Grisha.
Beberapa kali Grisha menyerang, Zeno dengan mudah menghindari beberapa serangan yang didaratkan ke arah Zeno. Hal tersebut membuat Grisha bertambah geram dan mencoba mengeluarkan sebuah teknik.
“Api:teratai mekar” Telapak tangan Grisha mengeluarkan api berbentuk teratai yang perlahan mekar. Grisha kemudian mengarahkan teknik tersebut tepat di perut Zeno.
Untungnya Zeno berhasil menghindar dan bergegas membelakangi Grisha, Zeno kemudian menendang punggung Grisha dan membuatnya membentur sebuah ranjang yang ditiduri Arina.
Zeno kemudian menginjak Grisha yang sedang tersungkur itu, membuatnya tidak bisa berdiri dan tidak berdaya. Zeno kembali mengangkat pedangnya, bersiap menghunuskan ke bagian leher belakang Grisha.
“Hentikan Zeno.” Teriak Ryan dari belakang.
Zeno menoleh kebelakang, dia memukul kepalanya sendiri, dia benar-benar terlalu terlena dan sangat bersemangat melawan Grisha sehingga ia terlupa bahwa ibunya juga berada disini, Zeno benar-benar menyesal karena melakukan sesuatu hal yang begitu ceroboh.
__ADS_1
Hal yang membuat Zeno memukul kepala dirinya sendiri adalah, Ibu Zeno sedang dicekik dan mulutnya ditutup oleh Ryan, sehingga membuatnya tidak bisa bergerak.
“Ryan, lepaskan ibuku atau ku bunuh kau!” Pinta Zeno dengan begitu bersalah.
“Sujudlah di hadapanku, maka aku akan melepaskan ibumu.” Kata Ryan dengan senyum jahat di wajahnya.
Zeno benar-benar berada di keadaan dimana dia serba salah. Dalam lubuk hati Zeno, Zeno tidak akan pernah bersujud kepada seorang pun kecuali seseorang yang dia hormati seperti ibunya, tetapi nyawa ibunya lebih terancam apabila dia tetap berada disitu dan tidak menuruti permintaan Zeno.
Disisi lain, Zeno juga merasa tidak mungkin untuk melepaskan teknik kepada Ryan, karena hal yang ia takutkan adalah, teknik tersebut akan memberi dampak begitu besar kepada ibunya.
Zeno menurunkan kakinya dari punggung Grisha, berjalan perlahan dan menganggap sebagai keputusan yang begitu tepat hanya demi nyawa ibunya yang lebih berharga.
Grisha bangkit dan tersenyum setelah melihat keputusan Zeno, dia kemudian berencana akan segera membunuh Zeno pada saat Zeno dalam kondisi bersujud dan begitu lengah.
Sebelumnya, Arina telah memberi isyarat kepada Zeno seakan untuk tidak melakukannya, tetapi Zeno begitu keras kepala dan tidak peduli dengan isyarat ibunya, di dalam pikirannya, yang terpenting adalah nyawa ibunya,
“Kau jangan bersujud kepada sampah seperti ini Zeno.” Suara langkah kaki kembali terdengar, berjalan begitu cepat memasuki kamar dan langsung memukul mentah-mentah kepala Ryan yang saat itu begitu lengah.
“Yu....yuna? kau anakku Yuna?” Tangisan haru kembali berlanjut, diantara Yuna dan juga Arina, mereka berdua sama-sama menangis ditengah perkelahian ini.
“Inikah, yang kau maksud si brengsek itu Zeno?” kata Fang Tan yang juga ikut melepaskan topengnya.
Ryan dan Grisha benar-benar terkejut, yang pastinya mereka berdua mengenali siapa pemuda di samping Zeno itu.
"Kaisar negeri air? Bagaimana bisa.'' dua orang tersebut tak henti hentinya terkejut seakan tidak percaya bahwa orang di hadapannya adalah kaisar negeri air.
"Perubahan rencana, kau bawa ibu keluar terlebih dahulu, maka aku akan segera menyelesaikan kedua orang ini." Kata Zeno kepada kakaknya.
"Tidak, kita akan melawannya bersama-sama." Kata Fang Tan menyangkal.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku memiliki dendam pribadi pada dua orang ini." Sahut Zeno.
"Baiklah kalau begitu, aku akan melepaskan beast ku untuk berjaga-jaga apabila mereka juga melepaskan beast." Ujar kembali Fang Tan.
"Tidak perlu." Zeno kembali menyangkal.
"Zeno, ini perintah, aku akan melepaskan beast ku untuk membantumu."
Zeno menatap Fang Tan dengan begitu dingin, menyuruh untuk segera membawa ibunya keluar dari kediaman ini.
Fang Tan hanya menghela nafas, dia kemudian mengangguk dan berjalan menggendong ibunya untuk dibawa pergi dari kediaman ini.
"Kau benar-benar sangat naif Zeno, padahal kaisar negeri air bisa mengalahkan ku dengan mudah." Kata Grisha sambil mengatur nafasnya.
"Baiklah, aku akan serius." Wajah Zeno berbeda dari tadi, wajah yang selalu tersenyum saat bertemu musuhnya, kini berubah menjadi tegas dan akan serius dalam bertarung.
"Air:tarian naga tahap pertama." Zeno baru kali ini mengeluarkan sebuah teknik yang diberikan oleh pendiri negara, dengan ujung pedang yang berbentuk naga, ditambah tarian berpedang Zeno membuat dua orang di hadapannya mengalami krisis.
"Sialan." Teriak Grisha dan juga Ryan bersamaan, dia tidak mengetahui bahwa ternyata Zeno juga memiliki elemen air yang membuat dirinya kewalahan.
"Api:ledakan lotus tahap ketiga." Sebuah api berbentuk lotus mekar tepat di pijakan Zeno, membuatnya tersadar dan meloncat ke belakang.
Sebuah ledakan tepat dimana lotus tersebut mekar dengan sempurna, untungnya Zeno berhasil meloncat ke belakang dengan gelembung air yang melindungi dirinya.
Zeno kemudian keluar dari gelembung air, menggerakkan gelembung air tersebut untuk dilemparkan ke arah Grisha dan juga Ryan.
Ryan dan Grisha kemudian mengambil nafas begitu dalam, meninju udara kosong di depannya berulang kali, tepi udara kosong yang ditinju mengeluarkan api yang mengarah ke gelembung air milik Zeno.
Hal tersebut membuat gelembung air Zeno memadamkan api yang dilemparkan oleh Grisha dan Ryan, tetapi gelembung air milik Zeno juga perlahan mengecil karena menguap terkena api milik Grisha dan juga Ryan.
__ADS_1