
Raut wajah Akram berubah menjadi mengerikan dibalik bulu keranya, tangannya mengepal begitu erat saat dirinya telah disungkurkan sebanyak dua kali. Tidak, ia tidak bisa menerima serangan yang mengakibatkan dirinya harus menanggung malu. Gertakan giginya sangat keras, ditambah tatapan ingin membunuh Zeno.
Zeno sendiri kembali bersiap, terlihat dari raut wajah Akram membuatnya mengerti, bahwa Akram sendiri sudah berniat membunuhnya. Padahal sebelumnya, Akram sendiri tidak memiliki niatan untuk membunuh Zeno. Sesekali Zeno juga tersenyum atas sedikit kemenangannya, tetapi Zeno sangat tidak berharap bahwa senyumannya itu merupakan senyuman yang terakhir.
Senyuman Zeno, membuat Akram merasa terejek, padahal Zeno sendiri tidak memiliki niatan untuk mengejek. Ia hanya tersenyum karena tekniknya sangat berguna, padahal teknik itu tidak pernah Zeno asah sama sekali.
“Ape, kau bisa keluar. Sangat merepotkan apabila bertarung dengan seseorang yang menggunakan beast juga.”
“Aku mengerti tuan.”
Seketika tubuh Akram yang terbalut dengan bulu berapi perlahan mulai normal seperti manusia sedia kala. Tubuhnya juga dipenuhi dengan keriput menandakan bahwa Akram sebenarnya adalah manusia yang sudah tua, dengan umur yang telah mencapai ratusan tahun. Namun dibalik kulitnya yang keriput, tubuhnya masih berdiri kekar seakan masih muda.
Di dekat Akram, terdapat seekor kera dengan ukurannya dua kali lipat dari Akram itu sendiri. Raging Ape, sebutan yang sangat cocok untuk kera itu, raja dari raja kera yang masih hidup berdampingan dengan Akram.
“Sekarang sudah seimbang, walaupun bayarannya, kekuatanku menurun tiga kali lipat. Tapi itu mungkin cukup mengalahkanmu apabila kau sendirian.”
Akram mengambil pedangnya yang terjatuh di atas tanah. Wajahnya menjadi cerah saat melawan satu lawan satu dengan Zeno. Masalah Kiba yang terus ikut campur, Akram telah mengurusnya dengan mengeluarkan Raging Ape yang menjadi beastnya.
Zeno kembali berlari ke arah Akram dengan menjulurkan pedangnya. Sama seperti tadi, Zeno masih membalut pedangnya menggunakan aliran air yang berputar. Demikian dengan Akram, ia berteriak semangat sambil berlari ke arah Zeno.
Dentuman pedang sekali lagi terdengar begitu nyaring, semangat Akram menjadi sangat membara dan mempunyai keinginan untuk membunuh Zeno, padahal sebelumnya Akram sendiri sangat tidak tertarik berurusan dengannya.
Selain itu Akram melakukan itu agar Zeno membuka mulutnya mengenai siapa pelaku pembunuhan seluruh keluarganya. Karena AKram sendiri sangat tidak terima, keluarga yang didirikan keluarganya.
“Katakan, siapa pelaku pembunuhan keluargaku, atau aku akan menghabisimu!”
__ADS_1
“Silahkan saja, tetapi aku tidak akan membuka mulut.”
Keduanya masih sibuk untuk beradu pedang, bahkan pedang Zeno dan Akram menjadi cuil karena benturan yang sangat dahsyat. Walaupun keduanya terlapisi elemen mereka masing-masing, tapi apabila pedang mereka mendapati benturan, maka pedang tersebut akan dekat dengan kata rusak.
Sama seperti tadi, Zeno masih sangat kesulitan untuk menghadapi Akram dalam masalah pedang, apa yang ia lakukan adalah mundur beberapa langkah untuk memulai serangan jarak jauh.
“Air: Kurungan penjara!”
Perlahan, tanah yang menjadi pijakan Akram muncul aliran tanah yang sangat deras. Akibatnya, Akram berada di tengah-tengah aliran tanpa bisa bernapas sekalipun, untuk bergerak pun ia sangat kesulitan, karena aliran yang sangat deras ke atas membuat pergerakannya di batasi.
“Teknik teratai, aliran keempat, tembakan teratai api.” Dibalik Akram yang sedang terpenjara dalam aliran air, ia masih sempat menembakkan teratai berwujud api ke arah Zeno. Sehingga teratai api keluar dari aliran dan memecahnya, selain itu, teratai tersebut juga mengarah ke arah Zeno.
Melihat sebuah tembakan api yang melesat ke arahnya, Zeno langsung menebas api tersebut menggunakan pedangnya.
“Dasar bodoh!” Teriak Akram sambil tertawa dengan begitu keras.
Pedang Zeno seketika langsung patah, mata Zeno terbuka lebar saat mengetahui pedangnya langsung patah karena menebas tembakan teratai. Selain itu, ia harus terlempar lagi beberapa meter karena tembakan teratai itu mengenai perutnya.
"Tembakan teratai, itu tidak akan bisa padam dengan air, dan juga tidak ana bisa tertebas oleh pedang." Kata Akram menjelaskan. Itulah mengapa tembakan teratai api masih bisa keluar dari dalam aliran penjara milik Zeno.
“Nak, bersiaplah.” Raut wajah Akram yang mengerikan, kini entah kenapa berubah menjadi senyuman, lebih tepatnya senyuman licik karena ia sendiri akan memunculkan sesuatu yang mengerikan. Mungkin Akram sendiri jarang menggunakan teknik ini, karena ini terlalu mengerikan apabila digunakan.
Wajah Zeno menjadi seputih kertas saat melihat senyuman licik Akram. tapi ia sendiri masih berusaha berdiri dan bersiaga apabila Akram memunculkan teknik yang belum ia keluarkan sama sekali. Pedangnya ia pegang dengan erat sambil menahan perutnya yang tiba-tiba kembali sakit, mungkin itu sangat wajar, karena luka bakar nya yang muncul beberapa menit yang lalu kini harus terluka lagi.
Kiba pun demikian, ia bersiap kembali menyerang Akram di sela-sela melawan Raging Ape. Walaupun sebenarnya Kiba sendiri bisa membunuh Akram dan Raging Ape menggunakan angin beracunnya, tetapi itu sangat berbahaya, apalagi tuannya berada di dekat Akram. Kemungkinan jika Kiba mengeluarkannya, maka tuannya atau Zeno sediri juga akan menghirup angin tersebut.
__ADS_1
“Kau lengah lagi nak, lihatlah ke atas!”
Awan hitam yang sebelumnya biasa saja, kini lebih hitam seperti pada waktu malam hari. Tidak ada matahari yang menembus awan hitam, ditambah awan hitam pekat yang menutupi langit, mengakibatkan tidak ada mentari yang bersinar pada sore hari.
Keadaan benar-benar gelap, hari yang seharusnya sore berubah menjadi malam karena awan pekat. Seluruh beast ataupun para pasukan menghentikan peperangannya karena melihat keadaan berubah menjadi malam. Banyak dari mereka yang tidak percaya apa yang terjadi.
“A-apa yang terjadi?” Mata Zeno terbuka lebar seakan tidak percaya, sinar matahari hilang tidak menampakkan dirinya lagi. Padahal seharusnya matahari terbenam masih lama lagi, tetapi kondisi seperti ini terbilang tidak masuk akal.
“Cih, ini sebenarnya masih sore, tetapi karena awan hitam yang kupertebal membuat hari seolah-olah malam.” Kata Akram sambil mengangkat tangannya.
Sementara itu, Gongnyu yang melawan kura langsung menghentikan pertarungannya setelah menyadari awan hitam semakin menggumpal. Seketika Gongnyu langsung meninggalkan Kura sendirian karena ia tahu apa yang akan terjadi.
“Kura, sepertinya kau telah beruntung.”
Ratu Kura sebenarnya sudah sangat terpojokkan, tempurungnya bahkan sampai retak karena serangan membabi buta dari Gongnyu, untungnya Gongnyu sendiri memilih untuk mundur setelah melihat gumpalan awan hitam.
***
“Biasanya aku menggunakan teknik ini apabila orang tersebut hampir mengalahkanku. Walaupun kau belum bisa mengalahkanku, bahkan kata hampir saja belum cukup, aku ingin mengakhirimu.” Kata Akram begitu sinis.
“Bola api yang sangat besar? Bukankah itu sesuatu yang mustahil?" Jantung Zeno berdebar begitu kencang saat melihat bola api yang keluar di antara awan gelap.
Mungkin Zeno sudah biasa melihat bola api dengan seukuran kepalan tangan, tapi kali ini berbeda, jarak antara tanah dan bola api di awan terlihat antara jauh dan dekat, tetapi juga terlihat sangat besar.
"Aku peringatkan sekali lagi penduduk negara petir! Serahkan Ice Sword atau aku akan menghancurkan negara ini! Asal kalian tahu, bola api ini seukuran setengah negara!"
__ADS_1
"Dan kau Zeno, ada dua hal. Yang pertama, jika kau memberitahuku siapa pembunuh keluargaku, maka aku akan menyelamatkanmu dan membawamu pergi dari sini. Kedua, jika kau memiliki atau tahu dimana Ice Sword, jangankan menyelamatkanmu, satu negara ini juga akan aman!"