Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Informasi dari Uron


__ADS_3

Pagi telah tiba, Zeno memerintahkan para pasukannya untuk berdiri dan kembali melanjutkan pertarungan yang lebih serius daripada sebelumnya, yaitu menyerang gerbang ibukota sebelum menuju istana kekaisaran yang akan menjadi sebuah final pertarungan antara dua kaisar nantinya.


Zeno sedikit tidak menyangka, bahwa tidak ada musuh yang menyerang pun pada malam hari, padahal dirinya sudah berjaga semalam penuh berharap ada sebuah serangan yang datang untuk segera dibunuh. Namun disisi lain, itu adalah berita baik, karena tidak menguras energi yang begitu banyak.


Padahal juga sudah dibantu oleh beberapa obor yang digunakan untuk menerangi kamp istirahat para prajurit, secara seharusnya pihak musuh akan menjadi lebih mudah untuk menemukan pasukannya.


Akan tetapi, Zeno tidak memikirkannya lebih panjang, apa yang difokuskan adalah menyerang wilayah gerbang ibukota yang mana jaraknya mungkin hanya beberapa mil dari sini. 


"Tuan, aku melapor." Uron yang terbang di udara dengan wujud naganya, kini berubah menjadi manusia di udara dan mendarat tepat di hadapan Zeno.


"Uron, akhirnya kita bertemu lagi." Zeno menghela napas dan memukul pundak Uron. Kemudian dia bertanya mengenai apa yang dilaporkan oleh Uron. "Ada apa?"


"Aku dan Kirin sedang berada di gerbang ibukota tadi. Dan tampaknya, sisa prajurit sedang menunggu di sana untuk melakukan perlawanan dengan pasukan utama kita." Uron mencoba untuk menjelaskan. Seperti biasa, tanpa diperintah sekalipun, Kirin maupun Uron sudah melakukan tugas yang berbahaya, yaitu memata-matai musuh ketika melakukan peperangan.


"Mereka menunggu ya." Zeno menyentuh dagunya, berpikir sejenak mengenai apa yang dilakukan oleh musuh. Tampaknya, dia mengetahui persis, kenapa tidak ada serangan tiba-tiba tadi malam, karena ternyata para musuh akan menunggu Zeno di gerbang kekaisaran.


"Dan, aku punya berita lucu sekaligus buruknya." Uron lagi-lagi memberi kabar berita.


"Katakan!" 


"Jenderal mereka menghukum mati diri sendiri karena tidak becus untuk melawan armada kapal dan pasukan kita dari wilayah timur. Dan berita buruknya, pasukan yang berkumpul di ibukota, dipimpin oleh dark knight sang penjaga gerbang ibukota." 

__ADS_1


Zeno kembali berpikir, kemudian beberapa detik kemudian dia berkata, "Siapa lagi itu? Tampaknya aku tidak akan meremehkannya." Zeno memandang wajah Uron kembali dan melanjutkan ucapannya, "Katakan kepada Turse, untuk fokus kepada ibukota, atau menghadap ke timur laut."


"Baiklah, aku undur diri dulu, tetapi tampaknya nona Turse sudah mengerti ketika Kirin memberitahu." 


"Tunggu sebentar, bagaimana kabarnya?" Zeno bertanya sebelum Uron pergi.


Uron hanya tersenyum tipis, kemudian dia menjawab, "Tuan tenang saja, dia bukanlah wanita yang lemah. Mungkin hanya tenggorokannya yang kering karena berteriak sepanjang hari." 


"Baguslah." Zeno menghela napas lega sebelum melanjutkan ucapannya, "Namun aku harap, petarung jarak dekat seperti Selena, Lois dan pasukannya, kau dan Kirin juga turun tangan menuju ibukota. Dan setelah ibukota hancur, aku ingin kau memanggil Turse untuk turun, hanya Turse mengerti?"


"Baiklah tuan, aku mengerti." Uron kembali merubah wujudnya menjadi seekor naga, kemudian dia melesat dengan begitu cepat menuju pegunungan yang berada di wilayah selatan.


Zeno kemudian meregangkan semua persendiannya, mempersiapkan secara fisik dan mental untuk menyerang ibu kota kekaisaran Mare Enbarum. Walaupun dia tidak tahu dan menjadi penasaran, bagaimana sosok dark knight yang menjadi penjaga gerbang ibukota kekaisaran. Yang pasti, ketika Danze menyuruhnya menjadi pemimpin pasukan, maka Zeno mungkin tidak akan meremehkannya dengan begitu mudah.


"Hidup dan mati untuk kekaisaran!" Sambung teriaknya sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi sebelum memacu kudanya.


Begitupun prajurit yang kini hanya bersisa lebih dari 550.000 pasukan, karena sisanya mati saat pertarungan kemarin sore yang ada di sini. Walaupun jumlahnya menurun, tetapi tidak menghilangkan semangat pejuang bagi mereka, karena mereka percaya ada sosok kaisar, sedangkan Zeno juga bersemangat karena ada pasukan yang membantunya.


"Hidup dan mati untuk kekaisaran! Untuk kaisar!" Seluruh pasukan milik Zeno berteriak dengan lantang sehingga membuat sekitarnya bergetar. Mungkin tidak hanya bergetar karena suara mereka saja, melainkan karena langkah kaki kuda yang begitu banyak.


…..

__ADS_1


"Sudah berangkat yaa." Turse menghela napas saat melihat sebuah gerombolan semut, atau lebih tepatnya pasukan Zeno yang bergerak dan ia lihat dari kejauhan sehingga tampak seperti gerombolan semut sudah berangkat menuju ibukota. 


Selain itu, Turse juga mengerti dari informasi Kirin bahwa musuh akan menunggu mereka dari ibukota yang akan dipimpin oleh sosok dark knight dari penjaga gerbang. Dan tentunya, di arah timur laut, Turse melihat dengan begitu jelas ibukota. Namun, dia menarik tali busurnya, memperkirakan apakah anak panahnya akan sampai di ibukota? Tetapi dia tidak mengukurnya dengan melepaskan anak panah tersebut, hal itu akan membuat sebuah kecerobohan. Dia hanya memperkirakan saja dan mengukur jarak menggunakan panjang anak panahnya.


"Jika aku menaikkannya sedikit ke atas, maka jaraknya akan sampai, tetapi itu sangat membahayakan apabila pasukan milik tuan benar-benar sudah sampai di gerbang karena membutuhkan waktu yang lama. Maka dari itu, beberapa kilo sebelum tuan sampai, aku dan para pasukanku akan melepaskannya." 


"Lebih tepatnya, posisi busur akan miring ke atas 65⁰ tepat di posisiku, sedangkan pasukanku yang ada di lereng akan lebih miring lagi ke bawah sehingga memiliki sebuah akurasi yang sangat tepat. Tidak, aku tidak akan memberitahu mereka, karena seharusnya sebagai pemanah harus menyadari itu sendiri." Turse melirik para pasukan pemanahnya yang juga menghitung ketepatan, agar anak panahnya bisa sampai menuju gerbang ibukota. 


Walaupun jaraknya sangat jauh sekalipun, para pemanah juga tidak akan ragu. Mungkin, mereka akan ragu apabila yang mereka pegang adalah panahan biasa, apa yang membuat mereka percaya diri adalah karena busur mereka tercipta dari elemen es sehingga terhubung menggunakan orka. Sehingga, saat melepaskan anak panah sekalipun, mereka juga melepaskan orka.


"Turse, aku harap kau bersiap." Laksamana Mahaa datang dengan jenderal Lois, berharap bahwa Turse dan para pasukannya bisa membawa sebuah kemenangan.


Menyadari hal itu, Turse menurunkan busur panahnya dan sedikit tersenyum tipis, "Kapan saja aku siap. Namun jenderal, aku berharap engkau dan pasukanmu untuk menuruni gunung membantu pasukan tuan." Turse angkat bicara.


"Itu benar." Uron tiba-tiba muncul di dekat mereka semua setelah sebuah Sambaran petir muncul dari atas mereka. Atau lebih tepatnya seekor naga yang meninggalkan jejak petir. "Jenderal dan pasukannya, Selena dan Kirin, Tuan berharap untuk menuruni gunung membantu menyerang ibukota."


"Jika memang begitu, maka baiklah, aku akan mempersiapkan para pasukanku. Laksamana, panggil Selena sekarang juga." Jenderal Lois mengangguk dengan senang hati seperti apa yang diperintahkan oleh kaisar melalui Uron.


Bersamaan dengan itu, Mahaa juga pergi untuk mencari Selena agar bergabung dengan pasukan milik jenderal Lois untuk membantu pasukan utama.


"Uron, bagaimana kabarnya?" Turse bertanya kepada Uron di saat semua orang pergi.

__ADS_1


Uron tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ""Nona tenang saja, dia adalah seorang kaisar. Mungkin hanya tenggorokannya yang kering karena berteriak sepanjang hari." 


"Baguslah." Turse tersenyum dan menghela napas lega.


__ADS_2