
Keesokan harinya, Zeno terbangun dari tidur malamnya.
Ania, kemudian masuk ke kamar yang saat ini Zeno tempati dengan wajah cantiknya. Dengan tersenyum ramah, dirinya berkata, “Jika kau bisa berdiri, maka ayahku memintamu untuk sarapan bersama.”
Zeno kemudian mengangguk, dia pun berdiri dari tempat tidurnya untuk memenuhi panggilan Krum. Tetapi sebenarnya dia tidak terlalu tertarik untuk ikut sarapan bersama, melainkan dirinya ingin pamit pergi dan mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menolongnya. Bagaimanapun, Zeno bukanlah orang yang lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada seseorang.
Akhirnya Zeno mengikuti Ania keluar dari kamarnya. Tetapi saat mencoba berjalan menuju tempat makan, Zeno dan Ania mendengarkan suara berisik di luar rumahnya.
“Seluruh penghuni rumah ini, aku harap kalian keluar secepatnya!”
Krum, dan keluarganya, sekaligus Zeno merasa terkejut dengan teriakan tersebut. Terutama Zeno, dia merasa teriakan ini berasal dari pihak kekaisaran yang mengincar dirinya. Tetapi disisi lain, entah kenapa dia mendapatkan firasat yang sangat baik.
Zeno dan Ania keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi, walaupun sebenarnya Zeno sudah tau apa yang akan terjadi. Tetapi setidaknya memastikan bukanlah hal yang buruk, mungkin bisa jadi suara dari luar rumah bukanlah pihak kekaisaran seperti apa yang dipikirkan sebelumnya. Bahkan Krum dan istrinya yang sedang makan sangat kaget dengan suara tersebut, bagaimanapun hal ini bukanlah sesuatu hal yang biasa, sehingga dia dan istrinya mencoba keluar dan memastikan apa yang terjadi.
Saat melihat keluar, baik Krum maupun keluarganya, mereka semua terkajut. Pasalnya, mereka semua telah terkepung dengan orang-orang penting. Bahkan Zeno sendiri melihat ada Duke, raja Buras. Tidak hanya itu saja, Hanof yang kehilangan tangannya juga ikut melakukan pengepungan, serta di sampingnya terdapat belasan prajurit terbaik yang sebelumnya menyerang Zeno.
Kemudian Zeno melihat Dion Nothan dengan penuh kebencian, bagaimanapun jika bukan karena dirinya, Zeno tidak akan terseret dalam masalah ini. Di samping Duke Arlos, terdapat Turse yang terluka berat dengan busur panah yang terkalung di dirinya. Alih-alih dendam, Zen justru tersenyum lebar kepada Turse, walaupun tidak memiliki dendam, tetapi dalam hati Zeno, dia ingin melakukan pertandingan ulang dengannya.
Benar-benar saat ini Zeno sudah merasa terpojokkan. Tidak ada jalan keluar lagi baginya, seluruh prajurit yang ada disini telah menodongkan anak panah, sehingga apabila Zeno mencoba masuk rumah Krum, maka prajurit tersebut tidak akan segan untuk menembaknya.
__ADS_1
“Zen! Anak buah Rungdaf. Aku harap kau menyerah!” Teriak salah satu prajurit.
Krum dan keluarganya terkejut bukan kepalang, dia tidak menyangka bahwa orang yang di tolongnya merupakan Zen yang menjadi incaran kekaisaran. Mendengar hal tersebut, Zeno ditatap serius oleh keluarga Krum. Bahkan mereka benar-benar menyesal karena telah menolong Zeno.
“Lihat! Kita telah terseret masalah dengannya, ini semua ulahmu karena telah menolong orang asing. Lihatlah! Kita telah menjadi kriminal.” Teriak istri Krum memarahi habis-habisan Krum.
“Aku tidak menyangka Zeno, bahwa kau merupakan anak buah Rungdaf.” Ania tampak sedih.
Melihat hal tersebut, Zeno menggertakkan giginya kuat-kuat. Dia kemudian menarik Ice Sword di punggungnya dengan rasa membunuh, bahkan saat ini dirinya seakan-akan sudah tidak memiliki hati lagi untuk mengampuni mereka. Tidak peduli lagi, apakah Zeno akan menjadi sosok jahat di benua ini, yang pasti dirinya sudah tidak bisa memaafkan tuduhan yang berlebihan ini.
“Apakah kalian ingin menangkapku? Silakan kalian semuanya maju, aku pastikan kalian tidak akan bisa bernapas esok hari.” Teriak Zeno.
“Bukan mereka yang akan melawanmu, tetapi aku!”
Tiba-tiba sosok pria dengan dua pedangnya mendarat tepat di hadapan Zeno, sangat jelas bahwa wajah pria tersebut juga dipenuhi rasa ingin membunuh Zeno. Tubuhnya di lapisi dengan baju Armor yang terbuat dari es berwarna putih yang sangat mengkilat.
“Jenderal Zhuo.” Tubuh Krum menjadi bergetar setelah tahu siapa orang yang mendarat tepat di hadapannya. Konon katanya, tidak seorang pun yang bisa menang melawan jenderal Zhuo. Bahkan beberapa tahun yang lalu, jenderal Zhuo berhasil memukul mundur Rungdaf walaupun Zhuo sendiri juga hampir sekarat.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Krum, bahwa sosok di sepannya merupakan Jenderal Zhuo, Zeno menyipitkan matanya sambil mengangkat Ice Sword. “Jadi anda merupakan jenderal Zhuo? Sebuah kehormatan karena bisa bertemu orang kuat seperti Anda. Aku dengar bahwa Anda merupakan putra kaisar Aurrora?”
__ADS_1
Jenderal Zhuo tersenyum lebar sambil mengankat dua pedangnya, kemudian dia berkata, “Dari wajahmu entah kenapa aku teringat seseorang. Tetapi lupakan, karena menurut cerita, seseorang memiliki sembilan kembaran di dunia ini.”
“Aku juga merasa seperti itu, entah kenapa Anda mirip dengan kakaku yang berada jauh di benua sana. Tapi aku percaya dengan perkataanmu, bahwa manusia memiliki sembilan kembaran di dunia ini.” Ucap Zeno sambil tersenyum lebar.
“Katakan! di mana kau mendapatkan Ice Sword?” Tanya jenderal Zhuo dengan nada tinggi.
“Apakah ini terlalu penting bagimu?” Zeno mengangkat ujung bibirnya. “Mungkin Anda akan tahu nanti.”
Zeno perlahan maju dengan menyodorkan Ice Sword, sedangkan jenderal Zhuo dia juga perlahan mundur sambil siap siaga apabila Zeno telah mengangkat pedangnya. Saat ini, mereka berdua telah berada di tengah-tengah pengepungan yang mana keduanya belum ada yang melakukan penyerangan untuk pertama kali.
Bahkan keduanya hanya bergerak sambil menatap antar mata dengan begitu serius, mengakibatkan keadaan begitu sunyi dengan semilir angin dingin menghembus pori-pori kulit mereka.
Melihat Zeno dan jenderal Zhuo yang belum melakukan penyerangan sama sekali, seluruh orang yang telah melakukan pengepungan menjadi semakin khawatir. Bagaimanapun sepertinya di antara kedua belah pihak akan melakukan pertarungan serius antara hidup dan mati. Hal itu membuat sebagian orang menjadi takut apabila jenderal Zhuo terkalahkan, tetapi banyak dari mereka yang percaya bahwa jenderal Zhuo tidak akan terkalahkan semudah itu.
“Lighting step.” Zeno kemudian bergerak secepat kilat untuk mengawali sebuah serangan, saat ini dia bergerak dan berada di belakang jenderal Zhuo dengan menebaskan Ice Swordnya.
Tetapi sepertinya jenderal Zhuo menyadarinya dengan mudah, dia berbalik ke belakang dan menangkis gerakan Ice Sword yang akan mengenai dirinya.
Zeno kembali tersenyum, dia tidak menyangka bahwa ada orang yang bisa menyadari sebuah kecepatan kilat yang dia miliki. Tapi dia tidak terlalu panik saat jenderal Zhuo akan menangkis pedangnya. Zeno kemudian mencoba menginjakkan kakinya di tanah dan bergerak secepat kilat menuju samping jenderal Zhuo.
__ADS_1
Sayangnya tepat di samping jenderal Zhuo, Zeno membuka matanya saat mendapati terdapat gelembung air yang perlahan semakin membesar. Menyadari hal tersebut, Zeno langsung melompat kebelakang sebelum semuanya benar-benar terlambat.