
Pulau yang saat ini Zeno berada mengalami penyusutan yang sangat drastis, bahkan Zeno harus melompat ke arah Kiba dan memandangi dari arah langit mengenai penyusutan pulau yang secara tiba-tiba. Masalahnya, saat pulau itu menyusut dalam kondisi miring, ular yang tertidur tadi juga ikut menyusut menjadi lebih kecil. Hal ini membuat Kiba yakin bahwa pulau yang tadi dia pijak adalah Genbu.
Zeno langsung teringat bahwa ada Lothar dan juga beberapa awak kapal lainnya yang juga berada di pulau ini. Sehingga ia memerintahkan Kiba untuk mengecek keberadaan Lothar sebelum Genbu benar-benar menyusut dan menjadi seukuran beast pada umumnya.
Lothar dan awak kapal lainnya ternyata sudah terbangun dan kini berada di pulau yang sangat kecil, bahkan bisa dibilang pulau tersebut hanya tumpukan pasir. Wajah mereka dipenuhi ketakutan karena melihat bahwa pulau yang mereka tempati tadi mengalami penyusutan. Untungnya, mereka sempat melompat ke pulau kecil ini saat mereka sadar bahwa pulau tersebut tidak lazim.
Disela-sela kebingungan, Lothar memperhatikan Zeno dari atas yang terbang bersama sosok harimau putih. “Tuan, apa yang terjadi?” Katanya dengan menatap serius Zeno.
Zeno justru memasang wajah sedikit bahagia saat mengetahui apa penyebab pulau itu tiba-tiba menyusut. Yang pasti itu terjadi karena pulau tersebut merupakan makhluk hidup, lebih tepatnya beast, atau lebih tepatnya lagi penjaga arah mata angin utara. Tidak ada sesiapapun yang ingin bertemu dengannya kecuali Zeno, sehingga dirinya berteriak menjelaskan apa yang terjadi. “Genbu, legenda genbu yang kalian anggap mitos ada di sini.”
“Tunggu apa?” wajah mereka membeku saat mengetahui bahwa Genbu berada disini, lebih tepatnya pulau yang mereka tempati tadi adalah tempurung Genbu.
“Byakko, kaukah itu? Tidak ku sangka kita bisa bertemu lagi setelah seratus tahun.”
Kiba berbalik arah setelah mendengar suara yang ada dibelakangnya, wajahnya tersenyum lebar saat melihat wujud Genbu setelah mengalami penyusutan hingga berukuran seukuran dirinya. Ular yang mereka bangunkan tadi sebenarnya adalah ekor Genbu yang kini telah melilit tempurung serta leher Genbu.
__ADS_1
“Genbu, aku tidak menyangka kita bertemu secara tidak sengaja. Bagaimana kabarmu?” Tanya Kiba.
“Tentu saja, bagaimana denganmu, bagaimana kabarmu? Tentunya sebagai saudara lama, aku sangat merin-.” Genbu tidak melanjutkan ucapannya, karena dirinya melihat seseorang yang duduk di punggung Kiba. Hal itu tentu saja membuat wajah genbu tidak terlalu senang. “Byakko, siapa orang yang ada di punggungmu? Bukankah kau berjanji tidak akan menjadi tunggangan kepada orang sembarangan?”
Kiba dan Zeno tersenyum lebar setelah mendengar apa yang Genbu ucapkan, dengan tenang, akhirnya Kiba atau Byakko menjelaskan, “Perkenalkan, ini adalah tuanku, maksudku tuan kita yang baru, Fang Zeno, berasal dari keluarga bangsawan Fang yang merupakan keluarga kekaisaran negara air. Selain itu, dia telah diberikan lima elemen langsung dari dewi Luna. Itulah sebabnya dewi Luna menyuruh kita menjadi bawahannya, karena tuan akan menjadi pengganti dewi luna dan mengalahkan Yashimaru.”
“Kita?” Genbu mengerutkan dahinya dalam wujud kura-kuranya. Setelah itu dia tertawa dengan begitu keras yang membuat Lothar dan para awak kapal lainnya bergidik ketakutan. “Tidak, aku tidak akan tunduk kepada sesiapapun kecuali dewi Luna, walaupun orang tersebut juga suruhan dewi Luna. Manusia lemah sepertinya menjadi tuanku? Cih aku lebih memilih keluar dari tempurung daripada harus bekerja sama dengannya.”
“Jaga bicaramu Genbu!” Teriak Kiba yang menjadi emosi setelah mendengarkan apa yang keluar dari mulut Genbu.
“Kiba tenanglah.” Kata Zeno yang bersikap tenang, apa yang dirinya pikirkan pada waktu berada di kapal ternyata benar, bahwa Genbu pastinya tidak bisa diajak bicara baik-baik, jalan yang tepat untuk menghadapi makhluk sombong seperti Genbu adalah kekerasan.
Zeno tentu saja tidak takut menerima tantangan Genbu, apalagi tujuannya memang untuk mendapatkan Genbu itu sendiri. Untuk syarat yang diberikan Genbu, yaitu tidak boleh melibatkan Byakko atau Kiba, maka Zeno tidak terlalu keberatan. Bagaimanapun Zeno tahu bahwa jika dirinya melibatkan Byakko, maka Genbu akan kalah dengan mudah, karena posisi Byakko akan sangat menyulitkan Genbu yang sedang melawan Zeno.
Masalahnya, yang tidak setuju adalah Kiba sendiri, karena posisi Genbu yang merupakan hewan suci, tentu saja mengalahkannya bukanlah hal yang sangat mudah, apalagi kali ini tuannya bertarung sendirian tanpa harus melibatkan dirinya. Tetapi Zeno segera membujuk Kiba agar percaya semua kemampuan yang dirinya miliki.
__ADS_1
“Baiklah aku setuju, karena kau yang menantang, segera tentukan tempat untuk bertarung. Bagaimanapun juga ini hanya sebuah lautan yang sangat luas, apakah kau ingin bertarung di tempat seperti ini?” Teriak Zeno.
Genbu kemudian memunculkan sebuah pulau yang perlahan muncul di permukaan laut. Pulau itu seukuran dirinya yang belum menyusut tadi. Hal itu tentu saja tidak membuat heran Zeno ataupun Kiba, karena mereka percaya bahwa menciptakan pulau sebesar itu hanya bisa dilakukan oleh Genbu saja.
Zeno dan Kiba akhirnya melompat ke arah pulau tersebut dengan saling berhadap-hadapan, keduanya telah bersiap untuk bertarung satu sama lain. Tentu saja masing-masing dari mereka yakin bahwa diri merekalah yang menang, padahal pertarungan sama sekali belum dimulai.
...-------------...
“Tuan Lothar, apakah aku tidak salah dengar, legenda Genbu mengatakan bahwa hewan yang menjadi tunggangan Zen adalah Byakko.” Kata salah satu bawahan Lothar yang tidak bisa berhenti terkejut setelah mendengar percakapan dari Genbu dengan Zen.
“Kalau tidak salah dengar, Byakko mengatakan bahwa tuan yang ia tunggangi merupakan Fang Zeno.” Kata awak kapal yang lainnya.
Lothar menghela napas dengan mengakui bahwa seseorang yang tadi menumpang di kapal kita bukanlah awak kapal baru, melainkang pangeran Fang Zeno yang ingin menuju benua Artik. Masalah beast apa yang menjadi bawahan Fang Zeno, Lothar sama sekali tidak mengethuinya.
Seluruh awak kapal semuanya terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan Lothar, bahwa Zen bukanlah awak kapal baru, melainkan pangeran Fang Zeno. “Tuan, kenapa anda baru mengatakan itu sekarang? Jika kau mengatakan hal itu sebelumnya, maka kami juga akan memberi hormat dan tidak memperlakukannya seperti seorang teman.”
__ADS_1
“Masalahnya, itu merupakan permintaan pangeran sendiri. Selain itu, dia juga ingin tahu sikap kalian kepada orang lain. Untung saja kalian bersikap baik kepdanya. Apakah kalian mengingat masalah yang berada di luar kapal? Sebenarnya itu merupakan masalah salah satu awak kapal kita yang seolah-olah merasa hebat di hadapan pangeran tanpa tahu siapa orang itu sebenarnya.”
Seluruh bawahan Lothar menghela napas lega saat mereka bersikap baik kepada Zen. Kali ini, mereka ingin melihat pertarungan antara Genbu dan juga Zeno yang sepertinya sangat seru, walaupun mereka sangat prihatin apabila Fang Zeno akan kalah.