
Tetapi masalahnya, beast apa yang mendiami danau ini? Itulah yang menjadi pertanyaan bagi Zeno.
Kemungkinan terbesar, dari cerita Rouya, beast itu memiliki kuku yang sangat tajam.
"Elang? Kucing besar?" Batin Zeno sembari bertanya kepada dirinya sendiri.
Zeno juga tidak tahu bagaimana cara memanggil beast tersebut. Zeno duduk sejenak dan menjauh dari air danau untuk menghindari petir yang menyambar.
Selain itu, Selena dan Rouya juga membantu Zeno untuk memikirkan bagaimana caranya memanggil beast penunggu danau.
Walaupun mereka berada di area petir menyambar, suara menggelegar serta pandangan yang terbatas karena kilatan cahaya yang menyilaukan mata, tetapi mereka tidak menyerah untuk berpikir bagaimana caranya untuk keluar, terutama memanggil beast penunggu danau yang merupakan kunci keluar dari danau terlarang ini.
Tanpa sepemerintahan Zeno, tiba-tiba Kiba mengaum begitu keras. Hal tersebut membuat ketiga orang yang ada disitu merasa kaget dan mengarahkan pandangannya ke arah Kiba.
Tetapi sesaat kemudian, Zeno tersenyum menandakan ia sangat mengerti mengenai isyarat Kiba. Berbeda dengan Zeno, Selena justru tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Kiba. Mengaum tanpa jelas? Itu lebih seperti hewan kesakitan menurut Selena.
Tetapi Selena tidak berani berkata-kata mengenai Kiba, ia sebelumnya merasa takjub akan Kiba yang bisa terbang walaupun dia merupakan beast hewan darat. Bisa dibilang bahwasanya Selena sedikit takut saat ia menyadari bahwa dirinya mendapatkan kesalahan yaitu memanggil Kiba kucing.
Suara gemuruh yang lebih besar terjadi kali ini. Bukan, itu bukan petir, lebih tepatnya suara dari dasar danau yang perlahan-lahan naik menuju permukaan.
Gelembung udara satu persatu keluar dari permukaan danau, menandakan bahwa ada makhluk hidup yang ada dalam air danau tersebut.
Zeno tersenyum setelah beast penunggu danau tersebut keluar. Itu semua memang berkat Kiba, Kiba sengaja mengaum begitu keras sehingga memancing beast yang sepertinya sedang tertidur.
Baik Zeno, Selena maupun Rouya, ketiga orang tersebut membuka mulutnya lebar-lebar setelah melihat apa yang keluar dari benua itu. Tetapi dari tiga orang tersebut, yang kembali gemetar adalah Selena dan pangeran Rouya yang bahkan merasa panas dingin melihat sesosok naga dengan cakar yang sedikit tumpul.
__ADS_1
Tetapi dia kembali mengingat, siapa jati dirinya yang sebenarnya, seorang pangeran tidak boleh merasa takut secepat itu. Dia juga kembali mengingat bahwa tujuan nya memang bertemu makhluk yang merupakan pembunuh ayahnya.
Memang, naga tersebut terlihat sangat mengerikan, mungkin apabila orang lain yang melihatnya, mereka akan merasa panas dingin. Bagaimana tidak, naga tersebut berukuran setengah bukit yang sebelumnya mengelilingi danau ini, percikan petir juga keluar dari kepala sang naga.
Tetapi Zeno merasa tidak takut sedikitpun, rasanya begitu bersemangat setelah mendapatkan sesuatu yang baru, apalagi jika naga tersebut akan menjadi lawan tanding Zeno.
"Siapa? Siapa beast rendahan yang berani mengaum begitu keras?" Suara naga yang begitu menggelegar, sehingga membuat Zeno sedikit menutup telinganya.
"Beast rendahan? Apakah aku tidak salah dengar?" Jawab Kiba dengan suara yang keras pula.
"Memangnya kau siapa? Seekor kucing albino berani merendahkan ku?" Naga tersebut tertawa begitu keras, bahkan suara tertawanya menyaingi suara gelegar petir.
"Asal kau tahu, aku adalah Drake, beast mulia milik pendiri negara ini." Sambungnya.
"Beast pendiri negara? Apakah kau mengenal Ilohu?" Tanya Zeno setelah mendengar siapa itu Naga yang muncul dihadapannya.
"Ilohu? Si paus orca? Apakah kau pernah bertemu dengannya?" Tanya naga tersebut yang bernama Drake.
"Bukan hanya bertemu, aku bahkan sempat bertarung dan mengalahkannya." Jawab Zeno dengan senyum melengking di wajahnya.
"Cih." Drake menghela napas panjang, sehingga mengakibatkan kepulan asap terlihat begitu jelas di area lubang hidungnya.
Drake melesat ke arah Zeno secepat petir. Bahkan saat ia melesat, terdengar suara sambaran di tempat ia bergerak, menandakan seolah-olah dirinya adalah sebuah sambaran petir.
Zeno menarik pedang dua jiwanya, ia kemudian menebaskan pedangnya itu ke arah Drake yang melesat ke arah dirinya. Untungnya pedang dua jiwa itu mengeluarkan sebuah tebasan air yang membuat Drake sedikit terhempas.
__ADS_1
"Angin: tebasan tak terlihat tahap kedua."
Apa jadinya jika teknik yang Zeno biasa gunakan di katana, kini ia gunakan di pedang lain terutama pedang dua jiwa yang ia pegang. Dari dulu Zeno penasaran mengenai hal itu, tetapi setiap ada masalah, ia selalu lupa untuk mengingatnya.
Tetapi kali ini, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencobanya.
Suara seperti dentuman besi terdengar begitu keras, siapa sangka, tebasan angin tak terlihat itu berhasil melesat tanpa sepengetahuan Drake, tetapi sayangnya kulit Drake terlalu keras untuk terkena teknik itu.
Zeno membuka matanya begitu lebar, dia tidak menyangka saat ia menggunakan teknik tersebut, teknik tersebut meningkat bagaikan memasuki tahap keempat.
Drake mengeluarkan hujan petir yang dahsyat, yang mana hujan tersebut berasal dari awan hitam yang memang mengeluarkan petir setiap kalinya.
Tetapi petir yang keluar dari awan hitam tersebut keluar dengan sangat banyak bagaikan petir tersebut seperti air hujan yang jatuh menetes di atas tanah.
Zeno tersenyum kecut setelah melihat itu, mau tidak mau ia juga harus menghindari hujan petir yang maha dahsyat. Bahkan Selena dan Rouya juga berusaha menghindari hujan petir tersebut, walaupun Rouya sempat beberapa kali berteriak karena hampir terkena petir yang jatuh.
Kiba berlari ke arah Drake sambil menghindari hujan petir, kali ini dia sempat melompat ke arah tubuh Drake yang besar itu.
Drake seketika menggeliat setelah melihat Kiba melompat dan mendarat di tubuhnya, Drake juga menyerang Kiba menggunakan kepalanya, tetapi Kiba juga bisa menghindar sehingga kepala Drake menabrak tubuhnya sendiri.
Kiba mengaum begitu keras dan menggigit tubuh Drake setelahnya. Tubuh yang tahan terhadap serangan teknik Zeno justru kini mempan terhadap gigitan Kiba.
Walaupun gigitan itu berbanding kecil daripada tubuh Drake itu sendiri, tetapi Drake berhasil berteriak sehingga membuat petir dahsyat menggelegar.
Zeno juga berpikiran untuk melompat ke arah tubuh Drake sama seperti Kiba. Tapi sebelum itu, ia merasa sedikit geram karena mendengar teriakan Rouya yang sepertinya kurang lincah untuk menghindari sambaran petir. Tetapi Zeno tidak mempermasalahkan itu, karena bagaimanapun juga ia tidak bisa merendahkan orang lain.
__ADS_1
"Ah biarkan, lebih baik aku membantu Kiba." Kata Zeno yang memalingkan wajahnya dari Rouya, dia memilih membantu Kiba karena ia rasa, hujan petir bisa digunakan ajang latihan untuk Rouya. Karena seharusnya, anggota kekaisaran, terutama keluarga inti yang mempunyai kesempatan untuk menduduki tahta kekaisaran harus memiliki kemampuan yang lebih.