
Zeno mencoba mengejar wanita itu. Namun dia benar-benar tidak menyangka bahwa wanita tersebut berlari sangat cepat. Bahkan dia hampir tertinggal jauh. Mencoba untuk membiarkannya? Tapi Zeno benar-benar penasaran, apalagi setelah mendengar suara wanita yang baru keluar dari mulutnya.
“Lightning Movement.” Terpaksa Zeno bergerak secara kilat utuk mengejar wanita tersebut.
Bukannya menghindar, wanita tersebut berbalik badan dan menabrakkan dirinya ke arah Zeno yang bergerak secepat kilat. Alhasil, keduanya terpental cukup jauh yang membuat Zeno tersungkur dan merasa kesakitan. Berbeda dengan pembunuh Abnormal, setelah terpental, dia menyeimbangkan diri dan mencoba untuk berdiri tanpa terjatuh.
“Sialan.” Zeno menggertakkan giginya dan mencoba untuk berdiri. “Sepertinya kau menantangku. Baiklah, aku akan meladeni apa yang kamu lakukan.” Zeno tersenyum sambil menjulurkan Ice Sword.
Begitupun dengan pembunuh Abnormal, dia juga menjulurkan pedangnya dan menerima pertarungan dari Zeno. Di balik penutup mukanya, dia tersenyum lebar saat akan bergerak.
Keduanya bergerak dengan cepat menuju satu sama lain. Zeno saat ini tidak bergerak menggunakan gerakan kilatnya, melainkan dia berlari secara normal.
“Tanggg...!” Dentuman pedang terdengar memekakkan telinga, pebunuh Abnormal tersebut langsung menarik pedangnya dan menyerang Zeno dari arah samping.
Untungnya Zeno menarik badannya ke kanan, sehingga dengan mudah dia bisa melewati serangan pedang yang dilancarkan oleh pembunuh Abnormal tersebut. Namun, bersamaan dengan itu, wanita tersebut mengangkat kakinya dan menendang pinggul Zeno yang beregerak ke kanan.
Zeno menggertakkan giginya, tidak ada waktu untuk menghindar, terpaksa dia harus membekukan pinggulnya untuk menahan tendangan dari wanita tersebut. Zeno benar-benar mengakui bahwa tendangan wanita itu cukup keras, bahkan es yang melapisi pinggul Zeno menjadi retak.
Melihat ada celah di depannya, Zeno langsung mendorong pedang ke depan. Sayangnya, wanita itu lebih cepat menghidar kebelakang sebelum ujung pedang itu mengenai wajahnya.
__ADS_1
Zeno tersenyum lebar, dia langsung menendang kaki sang wanita agar wanita tersebut terjatuh. Tetapi sayangnya hal tersebut tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Zeno. Memang, wanita terebut terjatuh, tetapi dia membalik badannya dan menjadikan tangannya untuk menahan badannya yang jatuh. Setelah itu dia berdiri kembali dengan gesit.
Tetapi wanita itu membuka matanya lebar saat melihat bahwa Zeno sudah ada di belakangnya dan akan menebas leher sang wanita itu. Wanita tersebut segera menenangkan diri segera mengangkat pedangnya untuk menahan tebasan yang dilancarkan oleh Zeno.
Pertarungan berpedang pun kembali terjadi, suara dentuman pedang benar-benar memenuhi tempat tersebut. untungnya tidak ada sesiapapun yang melihat ataupun ikut campur, sehingga mereka lebih leluasa untuk bertarung satu sama lain.
“Sepertinya kau tidak memiliki elemen, apa aku benar? Pasalnya dari tadi kau sama sekali belum mengeluarkan elemen.” Kata Zeno sambil memainkan pedang dan menghantam seluruh serangan milik wanita tersebut.
Seperti Zeno, wanita tersebut menjawab sambil menyerang dan menghindari Zeno, “Benar, aku juga mmebunuh orang-orang yang melakukan tindakan semena-mena kepada orang yang tidak memiliki elemen. Seperti orang tadi, jika aku tidak melihatmu, maka nyawa pria itu benar-benar hilang.”
“Aku cukup senang kepadamu, mengalahkan orang yang melakukan diskriminasi benar-benar suatu hal yang bagus. Karena orang yang tidak memiliki elemen, mereka sama-sama manusia yang layak diberi kehidupan.” Ujar Zeno sambil menyeringai ke arah wanita tersebut. “Tapi yang kuheran, mengapa kau tidak membunuh orang tersebut setelah melihatku? Dan berlari setelah melihatku?” Tanyanya penasaran.
“Mereka sama-sama manusia yang layak diberi kehidupan, sepertinya kau mengulangi perkataanmu saat kita pernah bertemu.” Jawab wanita pembunh itu.
“Tidak, lupakan hal tersebut. Apa yang kuinginkan adalah bertarung denganmu. Itulah mengapa saat aku menatapmu, aku langsung lari berharap kau mengejarku. Dan terlihat jelas, bahwa kau pernah mendengar suara ini kan, Zeno?” Kata wanita itu sangat lirih.
“Suara pedang ini menganggukku.” Zeno langsung memukul dengan keras pedang milik wanita pembunuh tersebut sampai patah. Pasalnya, dia tidak mendengar ucapan wanita itu yang sangat lirih, yang mana ucapan tersebut membuat Zeno penasaran.
Sekali lagi, Zeno benar-benar mengakui bahwa wanita di hadapannya benar-benar sangat gesit. Bahkan kemampuan Zeno hampir kalah dibuatnya. Bagaimana tidak, Zeno berulang kali tergores oleh pedang wanita pembunuh. Sedangkan wanita itu, jangankan terluka, bahkan Zeno kesulitan untuk menyentuh bajunya.
__ADS_1
Wanita itu melompat ke belakang saat melihat bahwa pedangnya patah. Dia hanya bisa menggertakkan giginya melihat pedang kesayangannya patah. Tapi dia tidak heran, masalahnya lawannya kali ini merupakan Ice Sword, sehingga pedang yang ia pegang tidak ada apa-apanya.
“Ku akui bahwa kau benar-benar gesit, serta kemampuan pedangmu sangat hebat. Aku cukup senang melihat seseorang yang tidak memiliki elemen, namun dia memiliki bakat yang luar biasa seperti berpedang, ataupun kecerdasan.” Zeno menancapkan ujung Ice Sword di atas tanah.
“Aku berterimakasih dengan pujianmu. Kau benar-benar tidak banyak berubah.”
“Mendengar ucapanmu, aku benar-benar penasaran siapa kau sebenarnya. Apakah kau berkenan mengatakannya, atau menggunakan jalur kekerasan terlebih dahulu?” Zeno kembali menarik Ice Sword dan mengulurkannya tepat di hadapan wanita pembunuh.
Walaupun pedangnya patah, tetapi dia tetap tak gentar. Dia masih memasnag kuda-kuda sambil memosisikan pedangnya untuk kembali menyerang Zeno. Bersamaan dengan itu, dia berkata, “Aku memilih kau memaksaku untuk berkata, walaupun itu merupakan jalan kekerasan.”
Zeno dan wanita pembunuh, keduanya sama-sama bergerak ke arah satu sama lain untuk mengulangi pertarungan. Zeno benar-benar prihatin mengenai wanita itu, walaupun pedangnya patah, dia masih tetap berani bertarung dan tidak mengungarangi kemmapuan pedangnya. Sehingga Zeno bertambah untuk mengingkatkan kehati-hatiannya.
Pedang Pembunuh yang patah, membuat pertarungan mereka menjadi sangat dekat. Selain itu, wanita tersebut nampak lebih kesulitan menghadapi Zeno, karena masalah pedangnya. Tetapi dia tidak menunjukkan rasa takutnya dan masih menunjukkan kemampuannya.
Zeno bergerak satu langkah ke belakang, kemudian dia berniat untuk menebaskan pedangnyaa karena tahu, bahwa pedang wanita pembunuh tidak sampai untuk menjangkaunya. Tapi wanita itu cukup cepat untuk bergerak, dia langsung menghindar ke arah samping.
“Bukankah ini kemampuanmu tadi?” Zeno tersenyum lebar, kemudian dia menendangkan kakinya tepat ke arah wanita pinggul itu.
Karena tidak memiliki elemen untuk pelindung seperti tanah ataupun es, wanita itu segera meloncat ke belakang sambil menggertakkan giginya. Namun, menurutnya itu tidak sempat yang membuatnya terpental ke arah samping.
__ADS_1
Zeno bergerak dengan cepat menyusul wanita itu yang terlempar. Saat wanita itu sudah terjatuh ke tanah, Zeno mendorong pedang tersebut tepat ke leher wanita itu bagaikan ingin mengakhiri pertarungan dengan membunuh wanita tersebut.
“Zeno hentikan, ini aku, Selena!”