
Zeno dan saudaranya keluar dari restoran dengan perut yang cukup kenyang, berjalan puluhan kilo benar-benar membuat mereka kehabisan energi. Suasana saat mereka keluar juga sudah sangat sepi, waktu di tengah malam dengan keadaan hening akan membuat lautan berdarah di sebuah kediaman.
Zeno dan saudaranya berdiri tepat di depan penjagaan Agalia, para penjaga memandang aneh dan menaruh curiga kepada tiga orang yang memakai topeng. Para penjaga sesegera mengambil ancang ancang jika tiba-tiba Zeno dan saudaranya mendadak menyerang.
“Siapa kalian, jangan bergerak.” Teriak para penjaga tersebut.
Untung saja teriakan para penjaga tidak terlalu membuat kebisingan, sehingga membuat anggota keluarga Agalia lainnya terbangun, jadi Zeno maju dengan tenang kearah para penjaga tersebut.
Zeno menarik pedangnya, membuat para penjaga mengeluarkan bola api yang cukup besar. Zeno cukup tenang saat melihat bola api, begitupun dengan Fang Tan dan Yuna yang ada di belakangnya. Tidak ada yang perlu ditakutkan bagi mereka saat melihat api, bagaimanapun juga, mereka bertiga adalah elementalist air yang hanya akan berhadapan dengan para penjaga.
“Angin: Tebasan angin tak terlihat, tahap kedua.” Zeno menebaskan pedangnya di udara kosong, membelah bola api yang terlempar mengarah kepada Zeno. Tetapi hal yang mengejutkan bukanlah bola api yang terbelah, tetapi kepala para penjaga juga ikut terpenggal terkena teknik milik Zeno.
“Kau sudah menguasai tahap kedua? Itu benar-benar kemampuan yang sangat cepat.” Kata Fang Yuna memuji Zeno.
Mereka bertiga sesegera masuk kedalam gerbang, menyeret jasad tanpa kepala tersebut kedalam gerbang, serta mereka juga menutup gerbang agar tidak ada satu orang yang tidak sengaja melewati gerbang tersebut dan mendapati sebuah mayat yang tergeletak.
Berjalan layaknya assasin, dan tanpa suara membuat para penjaga yang berlalu lalang mudah dihabisi diam-diam oleh Zeno dan kakaknya. Zeno benar-benar tidak bisa meremehkan kakaknya, Zeno melihat kedua kakaknya benar-benar bisa memenggal dengan mudah kepala penjaga tanpa menggunakan sebuah katana.
Kedua kakaknya menggunakan suatu teknik, dimana air akan melapisi tangan mereka, dan air akan berputar begitu cepat dan akan melukai siapapun yang menyentuh air tersebut kecuali sang pengguna.
“Berhati-hatilah kalian berdua, aku akan mencari keberadaan ibu.” Kata Zeno dengan begitu lirih sambil meninggalkan Fang Tan dan juga Yuna.
Fang Tan dan juga Fang Yuna mengangguk, mereka kemudian hanya sibuk membuka kamar seseorang dan diam-diam membunuh orang tersebut saat sedang tertidur.
Zeno berjalan dengan begitu cepat, menuju kamar ibunya yang masih ingat dimana letaknya. Walaupun terdapat beberapa tempat yang dirubah, tetapi hal tersebut tidak terlalu berdampak bagi Zeno saat mengingat letak kamar ibunya.
__ADS_1
Zeno membuka pintu kamar dengan perlahan saat yakin bahwa ini adalah kamar ibunya. Zeno perlahan berjalan menghampiri sebuah ranjang dengan sorotan lilin yang menyala di dekat ranjang tersebut. Dia juga membuang topengnya, sehingga wajahnya nampak dengan penuh tidak sabar ingin melihat kembali wajah ibunya.
Zeno hanya bisa menutup mulutnya, hatinya begitu hancur saat mengetahui bahwa wanita yang ada di ranjang tersebut adalah ibunya dengan kondisi badan yang sangat kurus seakan-akan tidak terurus.
“Benar-benar tidak bisa dimaafkan.” Air mata Zeno tumpah, membasahi kain yang dipakai ibunya.
Zeno memeluk ibunya yang sangat kurus itu, rasa bahagia dan juga sedih sedang bercampur aduk di dalam hatinya. Sudah sepuluh tahun Zeno tidak bertemu dengan ibunya, membuat Zeno benar-benar bisa melepas rindu kepada ibunya. Tetapi hal yang membuat hatinya terluka adalah, dirinya mendapati bahwa ibunya alam kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Ibu, maafkan aku jika Zeno tidak segera menjemput ibu.” Katanya dengan menangis lirih.
Zeno merasakan rambutnya dibelai, Zeno membuka matanya mendapati tangan ibunya lah yang membelai Zeno dengan penuh kasih sayang dan kebahagian. “Tidak perlu menangis Zeno, Zeno kan anak kuat. Ibu tidak pernah melupakan Zeno, jadi Zeno tidak boleh menangis ya.”
“Zeno juga tidak pernah melupakan ibu.” Kata Zeno berdiri sambil mengusapkan air matanya.
“Ayo ibu kita pergi dari sini.” Katanya sambil menggendong ibunya.
“Ibu tidak perlu khawatir aku menuju kesini dengan siapa. Anak-anak ibu tidak ada yang melupakan ibu.” Ujar Zeno.
“Anak-anak ibu?” Arina hanya bisa tersenyum dan kembali menangis saat mengetahui bahwa Fang Tan dan Yuna juga berada disini, Arina semakin penasaran sudah seberapa besar mereka setelah lima belas tahun tidak bertemu.
Suara langkah kaki, terdengar menuju ke ruangan ini, Zeno yang mendengar itu langsung menurunkan ibunya karena itu sangat berbahaya apabila Zeno bertarung dengan kondisi ibunya.
Seorang pemuda memasuki kamar Arina dengan wajah begitu kaget, dia melihat Zeno dengan begitu sinis saat tahu bahwa pemuda dihadapannya memiliki wajah yang sama dengan Zeno.
“Ada apa? Kenapa kau begitu kaget?” Kata Zeno kepada pemuda di hadapannya yang tidak lain adalah Ryan Agalia.
__ADS_1
"Kau, Zeno?" Tanyanya dengan rasa tidak percaya.
"Mungkin bisa dibilang begitu." Jawab Zeno dengan begitu dingin.
"Tidak mungkin. Tidak, kau bukan Zeno, Zeno sudah meninggal lima tahun yang lalu." Ryan mundur beberapa langkah dengan hati yang tidak percaya saat melihat Zeno masih hidup.
Dia sangat yakin dan teringat bahwa dirinya meningkatkan Zeno sendirian tepat di hutan elemental beast yang seharusnya tidak ada yang selamat saat berada disitu, tetapi apa yang dilihat Ryan benar-benar mustahil.
"Kau terlalu bodoh Ryan, aku Zeno, seseorang yang kau buang di hutan elemental beast." Kata Zeno dengan senyum begitu kejam di wajahnya.
Suara langkah kaki terdengar menuju kesini, seorang pria tua masuk kedalam kamar ini dengan wajah yang begitu marah.
Grisha Agalia sepertinya tersadar bahwa terdapat pembantaian yang membuat seluruh anggota keluarganya terbanyak tak tersisa.
"Ryan, kau dari mana saja, cepat temukan pela….." kata-kata Grisha terhenti saat dirinya menyadari bahwa seseorang di hadapannya adalah Zeno.
Raut wajahnya hampir sama dengan Ryan yang penuh dengan keterkejutan dan tidak percaya apa yang dia lihat saat ini.
"Zeno?"
"Ayolah, jangan memasang wajah kaget seperti itu, aku adalah Zeno, apa kalian masih ingat." Ucap Zeno.
"Ini pasti ulah mu, membunuh seluruh orang disini, benar-benar tidak bisa dimaafkan." Kata Grisha dengan penuh kebencian kepada Zeno.
"Kalau kau masih hidup, maka aku akan memperbaiki kesalahanku dengan membunuhmu sekarang juga." Ucap Ryan dengan memasang kuda-kuda bersiap menyerang Zeno.
__ADS_1
"Zeno hati-hatilah." Kata Arina dengan penuh cemas.
"Ibu tenanglah, ibu tidak perlu khawatir karena aku bukanlah anak lemah seperti dulu lagi." Zeno menenangkan ibunya, dia kembali mengangkat katanya dan bersiap menghadapi dua orang ayah dan anak.