
“Aku sudah bersiap.” Zeno pergi menuju pelabuhan negeri air sambil menunggangi Kiba, sebelumnya ia telah meminta Izin kepada seluruh keluarganya untuk memastikan bahwa Zeno diperbolehkan untuk menuruti permintaan kakeknya. Terutama kepada ibunya, dirinya mungkin sudah meminta Izin kepada beliau, tetapi rasanya hati Zeno kurang puas.
Zeno segera melupakan isi hatinya, apa yang ia fokuskan adalah perjalanan menuju pelabuhan tempat bernaung kapal-kapal menuju benua luar, salah satunya adalah benua Artik yang merupakan tujuan Zeno kali ini.
Rasanya mungkin terlihat berat meninggalkan keluarga tercinta, rasanya juga berat karena belum sepenuhnya mengetahui rahasia-rahasia di benua ini. Selena, mungkin Zeno tidak bisa melupakannya, karena Selena merupakan wanita tangguh yang merupakan teman Zeno, sayangnya kali ini dia tidak memiliki kabar dan entah pergi menuju kemana.
Bahkan mengenai ayah Selena yang terkenal di negara tanah, Zeno tidak mengetahui rahasia yang sebenarnya mengenai tuan Daizoru yang menjadi tokoh terpenting di negara tanah.
Satu hal lagi yang membuat Zeno masih penasaran tentang benua ini, yaitu mengenai Soil Crystal yang merupakan andalah seorang pengguna elemen kecuali elementalist tanah. Bahkan dirinya tidak tahu siapa yang memenangkan kompetisi kala itu. Tetapi rasanya, dirinya akan mengungkap itu semua nanti, nanti ketika dirinya sudah bertemu ayahnya.
Tetapi, kali ini Zeno juga akan mengungkap rahasia baru, mengapa ayahnya mengasingkan diri menuju benua es selepas kepergian ibunya. Mungkin untuk menghilangkan kesedihan adalah sebuah alasan, tapi bukankah itu hanya sebuah alasan klasik?
Zeno memandang sebuah pelabuhan dari udara, perkapalan semuanya berkumpul di tepi pantai menunggu para penumpang. Dengan menghadap ke Utara untuk bersiap pergi.
Zeno tersenyum manis dan segera turun menuju pelabuhan.
Hingga akhirnya, Zeno menarik Kiba dan menuju sebuah kapal yang akan menjadi tumpangannya, kapal yang akan berlayar menuju benua es atau biasa disebut benua Artik.
“Paman, apakah kapal ini yang akan berlayar menuju benua Artik.” Tanya Zeno kepada seorang awak kapal yang sedang mengusung barang.
“Tentu saja nak, kau bisa langsung masuk dengan membayar seharga 2 koin emas kepadaku.” Kata awak kapal tersebut.
Zeno mengerutkan dahinya usai mendengarkan perkataan awak kapal itu. “Tunggu sebentar, bukankah tugas anda hanya mengangkut barang, mengapa justru anda yang menarik uang kepada penumpang.”
__ADS_1
“Bilang saja kau tidak mempunyai uang, dasar miskin.” Umpat awak tersebut.
Zeno tidak bisa mengeluarkan perkataanya setelah mendapati perilaku yang tidak mengenakkan hati, padahal dirinya saja bertanya dengan tutur kata yang lembut dan sopan. Tetapi dirinya justru di cemooh dengan kata yang tidak-tidak.
Zeno akhirnya pergi dengan wajah yang kesal, daripada dirinya memiliki masalah kepada orang itu secara berkelanjutan. Namun, orang itulah yang justru mencari masalah dengan Zeno, setelah Zeno membalikkan badan, dirinya justru di tahan seakan-akan tidak boleh untuk pergi.
Zeno pun akhirnya berhenti dan kembali berbalik badan, mendapati bahwa wajah awak kapal tadi seakan-akan tidak biasa. “Ada apa?
“Kau tidak boleh pergi sebelum memberiku 2 keping emas.” Katanya dengan nada yang sangat tinggi.
Zeno justru tersenyum lebar ketika mendapati perlakuan yang buruk lagi, bagaimanapun ternyata di negaranya sendiri masih saja orang yang berlagak hebat.
Main orang tersebut sepertinya kurang jauh, sehingga dirinya tidak mengerti siapa lawan bicaranya, andaikan orang tersebut mengerti siapa orang yang di hadapannya, maka sifat aslinya tidak akan muncul. Itulah mengapa Zeno tidak terlalu sombong untuk membuka identitas yang sebenarnya.
“Jangan sok kuat nak, ini kesalahanmu karena telah menganggu pekerjaanku. Ganti dua keping emas atau aku akan memberimu paham.” Jawab orang tersebut dengan nada tinggi.
Zeno menyodorkan kepalanya dan semakin mendekat ke arah orang itu, wajahnya menatap sangat sinis. Bahkan Zeno juga sudah menekuk kesepuluh jarinya hingga berbunyi untuk melonggarkan sendi-sendi. “Jangan sok kuat? Apa kau tidak sadar diri bahwa yang sok kuat sebenarnya adalah kau.”
Sang awak kapal langsung menurunkan barang bawaannya, wajahnya begitu murka dengan pukulan tangan yang tiba-tiba ia keluarkan dan mengarah di hadapan Zeno. Selain itu, di pukulannya itu, membentuk sebuah wujud kepala harimau namun dalam elemen air.
Zeno dengan sigap langsung menghindar ke samping sambil memukulkan lengan awak kapal tadi. Selain itu, Zeno juga memukulkan perut sang awak kapal dengan begitu keras, sehingga orang tersebut terhempas.
Orang-orang memperhatikan tentang apa yang di dekatnya. Sayangnya banyak dari mereka yang tidak mengali Zeno, jadi mereka beranggapan bahwa Zeno telah menyerang awak kapal itu tanpa sebab. Padahal, masalah yang sebenarnya berawal dari awak kapal tersebut yang memeras Zeno.
__ADS_1
Sehingga, banyak dari orang-orang sekitar, terutama awak kapal lainnya mengumpat Zeno dengan perkataan yang tidak-tidak. Bahkan menyumpahi Zeno dengan yang tidak-tidak.
Zeno tidak peduli dengan cemoohan mereka, apa yang ia lakukan adalah pergi sebelum masalah bertambah besar dan kacau. Tetapi sayangnya, keberuntugan tidak berpihak kepadanya, dua orang bertubuh besar sedang menghadang Zeno, sehingga kemungkinan, masalah masih berkelanjutan.
“Kau mau ke mana? Kau sedang berurusan dengan kami karena telah mengganggu bawahan kami. Setidaknya kau harus berlutut di hadapan tuan kami agar masalah ini tidak panjang.” Kata salah satu dari mereka.
“Bagaimana jika aku tidak mau.” Sahut Zeno dengan tatapan yang dingin.
“Maka kau akan menerima akibatnya.” Jawab mereka secara bersamaan.
“Merepotkan, sebenarnya aku hanya ingin pergi dengan jenak. Tetapi kenapa selalu saja ada masalah.” Gumamnya begitu kesal, entah kenap dari dulu ketika ia ingin pergi, selalu saja ada kesialan yang mengikutinya, entah itu orang-orang yang kurang ajar, atau masalah lain yang terpaksa harus diselesaikan.
“Pergilah, aku tidak ingin ini menjadi masalah yang semakin lebar.” Katanya dengan malas. “Paman, maafkan aku!” Sambung Zeno sambil melambai-lambai ke arah awak kapal yang berdiri dengan lengan yang lemas karena pukulan Zeno.
“Tidak, tidak bisa dimaafkan. Beri aku sepuluh koin emas atau aku akan melaporkanmu kepada pihak kekaisaran!” Teriak awak kapal tersebut.
Zeno melompat ke belakang di saat dirinya yang tiba-tiba diserang oleh kedua pria yang bertubuh besar tadi. Padahal Zeno belum menyelesaikan pembicaraannya dengan awak kapal tadi, sehingga, wajahnya menjadi sedikit berekspresi karena serangan dadakan yang diberikan oleh kedua pria berotot tadi.
“Kalian yang memulainya, baiklah, aku akan menuruti apa yang kalian minta.” Kata Zeno begitu keras sambil menarik Ice Sword dari punggungnya.
Salah satu dari pria berotot berteriak dengan keras sambil mengendalikan sedikit air laut yang kemudian dia lemparkan ke arah Zeno.
Sedangkan pria berotot satunya, dia berlari ke arah Zeno untuk berencana menyerangnya menggunakan fisik. Dengan begitu, mereka akan beranggapan bahwa Zeno tidak akan bisa melawan dua serangan yang berbeda dari semua segi
__ADS_1