Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kloningan Zeno


__ADS_3

Zeno pun akhirnya mencari kakaknya yang mungkin sedang berada di kamarnya. Walaupun begitu, sebenarnya ia sangat enggan untuk menemui kakaknya untuk menyempurnakan sebuah ilmu kloningan, ditambah, ia juga merasa bersalah dengan para prajurit yang akan dimarahi habis-habisan karena mendapati Fang Zeno tidak berada di kamarnya.


“Kakak, apakah kau berada di kamar?” Teriak Zeno sambil mengetuk pintu kamar kakaknya.


“Masuklah!” Jawab Yuna dibalik pintu kamarnya.


Zeno pun akhirnya membuka pintu kamar kakaknya yang sedang tidak terkunci, ia juga mendapati kakaknya sedang mempercantik diri di depan cermin. Zeno yang melihat itu tidak memperdulikannya, lagipula putri kekaisaran juga harus anggun setiap waktu.


“Apakah kau kabur dari kamarmu? Aku akan melaporkanmu kepada kakak Tan.” Ucap Yuna sambil berdiri dari kursinya.


“Tidak maafkan aku kak, aku hanya ingin kau mengajariku sebuah teknik kloningan.” Zeno tersenyum sambil melanjutkan ucapannya, “Maksudku aku sudah bisa menguasai teknik kloningan, namun kloningan tersebut seperti mematung.”


Yuna tertawa begitu lebar saat mengetahui adiknya tidak bisa menguasai teknik kloningan, padahal, anak kecil yang baru belajar elemen sudah bisa mengeluarkan elemen karena itu merupakan teknik dasar setelah bola elemen. Ia juga tidak menyangka, adiknya yang sangat kuat ternyata tidak bisa menguasai teknik elemen.


Zeno mengerutkan dahinya setelah Yuna berekspresi tidak menyenangkan, ia tidak menyangka bahwa ekspresinya akan sama dengan prajurit yang ia bayangkan. Tetapi dia tidak terlalu marah, bagaimanapun Yuna adalah kakak nya.


“Tidak, maafkan aku.” Ucap Yuna sambil mengusap air mata karena tertawa yang berlebihan.


“Baiklah, coba kau mengeluarkan sebuah kloningan.” Perintah Yuna.


Zeno mengangguk, kemudian ia menghembuskan sebuah angin yang membentuk dirinya di hadapannya. Tetapi hembusan angin yang membentuk dirinya atau biasa disebut kloningan masih membatu tidak bergerak seakan-akan seperti mayat.


Yuna yang melihat itu menyentuh dagunya sendiri, dan kemudian berpikir sejanak pada kloningan Zeno yang mematung. Setelah mengetahui masalahnya, Yuna berkata, “Apakah kau merasa lelah saat mengeluarkan sebuah kloningan?”


“Tidak, aku tidak merasakan apa-apa setelah mengeluarkan sebuah kloningan.”


“Itu karena kau tidak membagi orka pada kloninganmu, sehingga kloninganmu nampak membatu seperti mayat. Intinya kau harus membagi kehidupan pada kloninganmu.” Yuna berkata demikian sambil menyentuh kloningan Zeno yang perlahan berubah menjadi hembusan angin.

__ADS_1


“Bagaimana caranya?” Zeno nampak kebingungan dengan bagaimana caranya untuk membagi kehidupan kepada kloningannya, secara manusia pada dasarnya tidak bisa mengalirkan sebuah orka pada benda mati.


“Itu sangat mudah, bayangkan saja bahwa kloninganmu itu merupakan bagian dari tubuhmu. Sehingga kau bisa mengalirkan orka pada kloningan dengan mudah.” Kata Yuna menjelaskannya dengan santai.


Zeno masih bingung walaupun Yuna menyuruhnya untuk membayangkan bahwa kloningan merupakan bagian dari diri sendiri, menurutnya ini terlalu rumit untuk pelajaran dasar sebuah elemen. Walaupun begitu, ia tidak bisa untuk tidak berhenti berpikir, rasanya ia enggan untuk mengalihkan pikirannya sebelum ia sendiri juga menemukan jawaban.


“Bayangkan bahwa kloningan itu merupakan bagian dari tubuhku.” Zeno tak henti-hentinya berpikir sambil mondar-mandir, hal itu membuat Yuna kembali tertawa.


“Bagaimana caranya?” Gumamnya sambil bertanya kepada dirinya sendiri.


“Bisakah kau menunjukkan kepadaku kloninganmu kak?” Kata Zeno kepada kakaknya.


Yuna mengangguk dan mengerti apa yang adiknya perintahkan, ia lantas membuat segel tangan yang merupakan cara khas seseorang untuk mengeluarkan sebuah kloningan. Perlahan, kumpulan titik-titik dan embun di sekitar membentuk dan berwujud seperti Yuna, bahkan, kloningan milik Yuna bisa bergerak dan tersenyum ke arah Zeno.


Yuna mengatur napas kelelahan, bagaimanapun mengeluarkan satu kloningan harus membuatnya kehilangan seperempat orka di dalam tubuhnya, karena seperempat orka itu ia salurkan kepada kloningannya agar hidup dan memiliki elemen seperti dirinya.


Zeno benar-benar masih sulit untuk mengerti tentang membagi orka kepada kloningan, lebih tepatnya ia masih bingung untuk menyalurkan Orka kepada benda mati yang ia buat sendiri.


“Kau harus mengetahui makna bahwa kloningan merupakan bagian dari tubuhmu sendiri.”


"Misalnya kau memiliki beast, jika beast mu terluka, maka kau juga akan terluka apakah benar?" Yuna mengangkat alisnya.


"Aku tidak tahu, masalahnya Kiba belum pernah merasakan sakit akibat kalah dalam pertempuran." 


"Baiklah, misalkan saja, jika beastmu yang bernama Kiba terluka, maka kau juga akan ikut merasakan sakit. Mungkin secara harfiah itu disebabkan oleh hubungan kontrak yang dapat merasakan sakit satu sama lain. Tetapi itu salah kaprah, beast yang bersedia menjalin kontrak berarti sudah siap menjadi sebagian tubuh tuannya." Kata Yuna menyambung ucapan sebelumnya.


Zeno berpikir kembali, membayangkan bahwa sebuah kloningan adalah bagian diri sendiri, atau lebih diibaratkan sebagai beast yang sudah menjadi partner hidup. Tetapi perbedaannya, seseorang tuan tidak akan berbagi orka atau energi elemen kepada beastnya.

__ADS_1


Zeno memutar otaknya, rasanya ia sudah mengerti bagaimana caranya membagi kehidupan, membagi orka, serta merasakan bahwa kloningan merupakan bagian dari tubuh diri sendiri.


Senyum manis melengking pada wajah Zeno, ia kemudian membuat segel tangan yang memunculkan sebuah es dengan bentuk dirinya. Sesuai yang ia harapkan, kloningan Zeno bergerak seperti layaknya manusia pada umumnya.


Napas Zeno tidak beraturan, ia terlihat sangat kelelahan karena membuat sebuah kloningan dengan membagi orkanya. 


"Tiga per empat, apakah sudah cukup?" Tanya Zeno kepada kloningannya.


"Cukup." Jawab Kloningan Zeno.


"Tiga per empat? Apakah kamu sudah bodoh? Kau sebenarnya bisa memberikan satu per delapan dari orkamu!" Sahut Yuna yang sempat terkejut setelah Zeno memberikan ¾ orkanya kepada kloningan miliknya sendiri. 


Tetapi Zeno tersenyum sambil mengeluarkan Kiba, ia memiliki maksud lain saat memberikan hampir keseluruhan orkanya kepada kloningannya. Iya benar, Zeno akan langsung mengirim kloningan yang ia miliki langsung menuju negara petir dengan bantuan Kiba.


"Kiba, antar kloninganku menuju danau Vanzula. Jaga layaknya kau menjagaku." Kata Zeno.


"Baik aku mengerti tuan."


Kloningan Zeno langsung naik ke punggung Kiba untuk menjadi tunggangannya. Setelah itu, Kiba langsung melompat dari jendela kamar Yuna dan langsung terbang menuju langit lepas.


Yuna yang melihat kejadian itu tidak bisa membuat kata-kata, ternyata tujuan Zeno membuat kloningan adalah, agar bisa keluar dari kekaisaran. Sedangkan tubuh aslinya berada di sini agar lebih beristirahat.


Yuna tidak mempermasalahkannya, justru itu adalah pemikiran yang sangat bijak.


"Bagaimana caranya kau bisa membagi Orka kepada klon mu?" Tanya Yuna.


Zeno berbalik arah menuju pintu keluar kamar Yuna. "Itu mudah, jika Kiba memiliki hati, maka klon juga memiliki hati dan perasaan, hati dan perasaan klon sudah menjadi satu dari tubuh aslinya. Sehingga hati ku dan hati Klon ku juga sudah terhubung, sehingga dengan mudah, aku bisa mengalirkan orka lewat perasaan." Ucapan sambil menarik gagang pintu kamar Yuna.

__ADS_1


Yuna tersenyum, ia tidak menyangka bahwa adiknya bisa menemukan jawaban secepat itu. 


__ADS_2