Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Keinginan Turse


__ADS_3

“Baiklah, lantas bagaimana cara mengeluarkan teknik tersebut?” Zeno mengangkat kedua alisnya.


Skarlos tersenyum, dia kemudian menjawab ucapan Zeno karena menurutnya lucu, “Yaa tidak mungkin aku mencobanya di sini.”


Zeno menghampiri jendela kamar yang terbuka, dia juga memandangi wilayah yang berada di luar istana, “Aku tahu, apakah menurutmu kita akan menghancurkan istana dalam sekejap? Bagaimana di wilayah aman? Tidak ada orang dan bangunan yang ada di sana karena itu merupakan perbatasan negara dan juga hutan elemental beast.”


Skarlos setuju, dia kemudian masuk ke dalam diri Zeno agar tidak ada sesiapapun yang tahu bahwa Zeno keluar bersama beast legenda.


Perlahan tubuh Zeno, melayang di udara dan keluar lewat jendela kamar untuk melesat langsung ke arah wilayah aman.


“Tok tok tok ...!”


Zeno mengurungkan niatnya untuk melesat keluar, dia langsung turun dan menginjak lantai karena sepertinya ada tamu yang menotok pintu. Mungkin Zeno sangat geram, tapi mau bagaimana lagi, terpaksa dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Turse, ada apa?” Zeno mengangkat alisnya saat melihat bahwa seseorang di balik pintu adalah Turse.


“Tuan, maaf apabila aku mengganggu ketenangan Anda. Tapi kali ini Turse membutuhkan bantuan Anda.” Kata Turse dengan wajah memohon.


Mendengar hal tersebut, Zeno mengerutkan dahinya, “Bantuan apa?”


Seketika Turse menyipitkan matanya, wajahnya sangat memelas bahwa dia benar-benar membutuhkan sebuah bantuan, “Aku dengar dari kak Yuna, di wilayah selatan terdapat sebuah hutan bernama hutan elemental beast. Orang-orang mencari peliharaan juga berada di situ.” Turse memutar matanya sebelum melanjutkan ucapannya, “Bisakah tuan mengantarku di wilayah hutan elemental beast besok? Bagaimanapun, aku ingin punya seekor elemental beast. Setidaknya antarkan aku sampai di depan hutan, biarkan aku sendiri yang berburu.”


Mendengar hal tersebut, Zeno tersenyum. “Baiklah, aku akan mengantarmu.” Dia mengiyakan apa yang diminta oleh Turse. Bagaimanapun, tujuannya saat ini adalah wilayah aman, sehingga saat dia membiarkan Turse berburu di hutan elemental beast, maka Zeno akan berlatih Earthquake

__ADS_1


“Tunggu, apa?” Turse membatin, apa yang terjadi tidak seperti apa yang dia pikirkan. Padahal sebelumnya, dia berpikir bahwa Zeno menolak untuk mengantarnya. Tapi siapa sangka bahwa Zeno setuju tanpa memaksa sedikitpun.


“Ayo kita berangkat! Malam hari merupakan waktu yang sangat cocok untuk berburu, karena semua hewan tertidur.” Ucap Zeno.


Tapi Turse merasa ada yang aneh, Zeno seharusnya keluar dari kamar setelah bersedia dan mengajaknya langsung menuju ke sana. Tapi saat ini, dia masuk kembali ke dalam kamarnya. Turse yang bingung, dia akhirnya bertanya kepada Zeno, “Tuan, bukankah Anda setuju? Tapi mengapa Anda justru masuk ke dalam kamar?”


Zeno tidak peduli apa yang di katakan oleh Turse, apa yang dia lakukan adalah mengeluarkan  Kiba di hadapannya. “Naiklah di atas Kiba, kita menuju hutan elemental beast secepatnya.”


Turse tidak berkata apa-apa, dia menjadi kebingungan dengan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Zeno. Menunggangi Kiba? Mengapa tidak menggunakan kuda saja? Mungkin itulah yang dibatin oleh Turse. Tapi mau bagaimana lagi, dia menunggangi Kiba seperti apa yang diperintahkan oleh Zeno.


Melihat Turse yang sudah naik, Zeno juga naik di atas Kiba tepat di belakang Turse. Mau bagaimana lagi, Kiba yang keluar dari tubuhnya membuat dia tidak bisa menggunakan kemampuan Kiba, yaitu melayang.


“Tuan, apa maksudnya?” Turse berkata dengan malu.


Sinar rembulan muncul di balik awan, mereka terbang tepat di bawah sang purnama menuju ke arah selatan. Di balik ketenangan yang ada di bawah, terdapat Turse yang berteriak tidak tenang di bawah awan. Kali ini Zeno berbeda, biasanya dia sangat membenci kebisingan, kali ini dia justru tersenyum melihat Turse seolah ketakutan karena terbang.


“Tuan Zeno hentikan ...! aku akan memilih jalan kaki daripada terbang seperti ini!”


Jantung Turse benar-benar berdetak kencang dan tidak karuan. Tapi Zeno benar-benar tidak menghiraukannya sambil melihat keheningan sebuah negara pada malam hari.


Perlahan, Turse berhenti berteriak dan lebih tenang daripada sebelumnya, hal itu membuat Zeno mengangkat ujung bibirnya dan memuji, “Kau lebih tenang sekarang? Aku tidak menyangka bahwa kau bisa melawan rasa takutmu dengan cepat.”


“Kata siapa?” Sahut Turse sambil menoleh ke belakang dan menatap Zeno. Wajahnya benar-benar ketakutan membuat Zeno tidak bisa berhenti untuk tertawa. Mungkin karena lelah, dia tidak bisa berteriak kembali.

__ADS_1


“Baiklah.” Zeno tertawa lirih sebelum melanjutkan ucapannya, “Kita akan turun, lagi pula hutan elemental beast tepat di depan kita.”


Turse menghela napas, bagaimanapun dia tidak mau terbang lagi dengan kecepatan seperti ini. Jantungnya benar-benar hampir putus karena ulah Zeno yang membawanya terbang sejauh ini.


“Jika kita tidak terbang, maka kita menuju hutan elemental beast membutuhkan waktu seperempat malam, dan itu sangat lama.” Zeno menjelaskan sesaat sebelum Kiba melangkahkan kakinya di atas permukaan tanah.


Mereka berdua akhirnya turun tepat di depan sebuah hutan yang terlihat sangat mengerikan. Namun tidak ada ketakutan di antara hati Zeno maupun Turse. Zeno yang memandangi Turse tidak ketakutan saat memandangi hutan, dia menjadi terkejut dan bertanya, “Kau justru takut ketinggian daripada hutan seperti ini? Lagi pula ini sudah sangat malam.”


Turse kembali menatap Zeno, saat ini tatapannya benar-benar sangat sinis, “Aku memilih tidur di hutan tersebut selama seminggu dari pada harus terbang dengan kecepatan dan ketinggian seperti itu.”


Zeno hanya bisa menggaruk kepalanya, tapi seketika dia aneh menatap Turse, “Tunggu, kau lupa membawa busur panahmu.”


Turse tidak panik, dia mengulurkan tangannya secara perlahan. Seketika sebuah kabut dingin muncul membentuk sebuah busur panah yang kini dipegang oleh Turse. Turse memegang busurnya dengan anggun, bahkan Zeno ternganga dengan busur panah yang indah terbuat dari es muncul di tangan Turse.


“Baiklah, aku sudah mengantarmu. Tempat ini disebut sebagai wilayah aman, dan di depanmu merupakan hutan elemental beast. Kau bisa masuk ke dalam, dan aku akan menunggumu di sini. Bagaimana? Apakah kau setuju? Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu.” Kini Zeno kembali memasang wajah yang tidak berekspresinya.


“Aku mengerti tuan.” Dengan beraninya, Turse melangkahkan kakinya ke depan.


“Tunggu dulu!” Zeno menahan Turse pergi. “Apakah kau tahu peraturan dan tata cara kontrak beast?” Sambungnya.


Turse teringat, dia tidak tahu mengenai peraturan dan tata cara kontrak beast. Sehingga dia menggelengkan kepala menandakan bahwa ia tidak tahu itu semua.


“Peraturan kontrak, kau dan hewan yang akan kau kontrak, keduanya harus memiliki elemen yang sama. Misalnya jika kau punya elemen air, angin dan racun, maka kau hanya bisa mengontrak beast yang memiliki salah satu atau semua elemen tersebut. Yang kedua, beast yang akan di kontrak benar-benar harus tunduk kepada dirimu.” Zeno menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya, “Untuk tata caranya, kau hanya perlu meneteskan darah tepat dikepala beastmu yang sedang bertekuk lutut, dan katakan dalam hatimu bahwa kau benar-benar akan menjadi satu jiwa dengannya.”

__ADS_1


Turse mengangguki apa yang dikatakan oleh Zeno. Dia cukup baik dalam mengingat semua peraturan dan tata cara mengontrak Zeno. Semuanya itu cukup mudah, yang sulit adalah, bagaimana caranya menaklukkan beast tersebut? Turse akan menjawabnya nanti, saat ini dia mencoba masuk ke dalam hutan gelap yang hanya diterangi sebuah rembulan.


__ADS_2