Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Kau ingin mati kapan


__ADS_3

Keesokan harinya, Zeno dan Turse, keduanya sudah terbangun dan bangkit dari tidurnya. Mereka sedikit kelelahan karena malam kemarin, mengurus lima mayat dan menghilangkan jejak pertarungan bukanlah hal yang sangat mudah. Apalagi Zeno dan Turse juga harus menyelidiki di sekitar penginapan, apakah ada saksi mata atau tidak?


Masalahnya, Zeno tahu jika ada saksi mata yang melihat, maka urusannya akan dengan jenderal Lumenius Empire. Karena yang Zeno dengar, pemimpin kelompok tadi malam merupakan anak dari jenderal kekaisaran.


Untung saja, setelah beberapa menit Zeno menyelidiki, dia tidak menemukan saksi mata apapun. Sehingga, mereka berdua cukup yakin, bahwa pembunuhan yang mereka lakukan cukup aman.


"Kau tidak mau ke bawah untuk sarapan?  Sekaligus melihat sesuatu yang ada di luar kamar." Tanya Zeno kepada Turse, pagi ini dia cukup berbunyi menandakan bahwa dirinya benar-benar lapar. Selain itu, dia juga penasaran dengan mayat yang dia urus tadi malam.


Turse hanya mengangguk tanpa memberikan sepatah kata apapun. Dia juga penasaran mengenai kelompok yang mengganggunya tadi malam. Apakah mayat tersebut sudah di urus atau belum? Masalahnya, Zeno meletakkan tumpukan mayat tersebut di depan kamar penginapan orang lain. Sehingga, mayat tersebut pasti akan sangat mencolok dan dapat dilihat dengan jelas oleh orang yang lewat.


Akhirnya mereka berdua membuka pintu kamar penginapan untuk keluar. Namun, seperti apa yang dipikirkan oleh Zeno, bahwa kondisi di luar kamar benar-benar ramai.


Zeno sudah menebak, pasti keramaian tersebut disebabkan oleh mayat yang dia bunuh. Tapi dia dan Turse sengaja memasang wajah terkejut, seolah mereka juga tidak tahu apa-apa. 


Zeno akhirnya memilih untuk pergi daripada harus berurusan dengan para mayat tersebut. Lagipula, dia juga lebih tertarik untuk mengisi perutnya.


"Berhenti di sana!"


Namun, saat Zeno dan Turse hendak pergi, salah seorang memanggilnya dengan penuh curiga. Hal tersebut membuat orang di sekitarnya juga memandang Zeno dan Turse.


Tanpa rasa panik, Zeno berhenti dan berbalik badan, dia tidak menunjukkan ekspresi begitu ketakutan seolah apa yang dia lakukan akan terkuak. Begitu juga dengan Turse, dia seolah bersikap tidak tahu apa-apa mengenai kejadian seperti ini.

__ADS_1


"Bukankah kau orang kemarin yang berasal dari benua Lima negara? Sekaligus juga menghuni kamar di lantai ini?" Orang tersebut mengangkat alisnya dan menghampiri Zeno.


"Tentu saja, ada apa tuan?" Tanya Zeno.


"Mayat anak jenderal tergelak dengan tidak wajar di depan kamar penginap yang lainnya. Namun, itu sangat bodoh apabila sang penginap meletakkan mayat yang dia bunuh di depan pintunya. Selain itu, beberapa penginap lainnya juga tidak memiliki kecurigaan, karena mereka sudah lama berada di sini. Sedangkan mayat tersebut ada setelah kau berada di sini." Orang tersebut menjelaskan dengan menatap serius Zeno.


Mendengar hal tersebut, Zeno mengerutkan dahinya dan menjawab, "Maafkan aku. Tapi bukankah kau sendiri mengetahui bahwa aku berasal dari benua Lima negara yang kata kalian benua tersebut diisi oleh elementalis lemah? Jadi tidak mungkin anak jenderal yang kau bicarakan meninggal di tanganku." 


"Masuk akal juga. Tapi, bagaimana jika pelaku tersebut benar-benar kalian?" Orang tersebut memajukan kepalanya seolah ingin membuat Zeno ketakutan dan mengakui perbuatannya.


Zeno tidak takut sekalipun, dia mendorong pria itu dengan berani. "Kalian benar-benar aneh. Mungkin orang-orang seperti kalian pasti memiliki prinsip bahwa tindak kebaikan pasti diselesaikan oleh orang seperti kalian, dan jika itu tindak keburukan, kalian akan melemparkan kepada seseorang yang bukan berasal dari kalian. Sangat aneh, apabila kalian menuduhku membunuh seseorang. Mungkin jika aku mengatakan bahwa aku berbuat seperti seorang pahlawan dan menyelamatkan seseorang, kalian tidak akan percaya." Wajah Zeno begitu masam, dia masih begitu jengkel dengan apa yang dilakukan oleh orang yang berasal dari benua ini.


Orang-orang akhirnya percaya mengenai apa yang dikatakan oleh Zeno. Masalahnya, anak jenderal tidak lemah, sehingga dibunuh oleh orang yang lebih lemah dari anak jenderal merupakan hal yang sangat mustahil. Bahkan banyak orang yang berpendapat, bahwa seseorang seperti Zeno sebenarnya bisa dihabisi oleh anak jenderal dengan begitu mudah.


Zeno dan Turse benar-benar pergi dari keramaian dan turun dari lantai untuk menikmati sarapan pagi. Selain itu, dia juga membutuhkan informasi, dimana Nuvoleon empire berada. Masalahnya, mereka harus benar-benar pergi dan mencari teratai emas itu dengan cepat.


Zeno dan Turse duduk dalam satu meja setelah mereka memesan beberapa porsi makanan. Namun, ketenangan tersebut tiba-tiba muncul setelah seorang remaja seumuran dengan Zeno menghampirinya.


"Bisakah aku duduk di sampingmu?" Tanya orang tersebut dengan ramah.


Sebenarnya Turse benar-benar terganggu, tapi dia menunggu reaksi Zeno apakah dia mengizinkan atau tidak?

__ADS_1


"Silahkan." Zeno menjawab dengan ramah pula.


Turse menghela napas dengan kecewa, tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau dia harus setuju dengan apa yang diputuskan Zeno.


"Kalian berdua benar-benar hebat, membunuh anak jenderal dengan mudah. Padahal yang ku lihat semalam, kalian tidak menggunakan elemen cahaya untuk menandinginya." Remaja tersebut berkata dengan lirih, sehingga tidak ada sesiapapun yang mendengarnya kecuali Zeno.


Mulut Zeno seketika melengking ke bawah, dia tidak menyangka ada seseorang yang mengetahui apa yang dirinya perbuat tadi malam. Tentu saja, Zeno tidak tinggal diam dan menyentuh tengkuk orang tersebut. 


Begitu juga dengan Turse, dia yang mendengar apa yang dikatakan remaja di sampingnya, dia mengerutkan dahinya dan memandang begitu sinis. Selain itu, dia menciptakan sebuah anak panah yang ujungnya sudah menempel di perut remaja tersebut.


"Kau ingin mati kapan dan dalam kondisi seperti apa? Kami siap melayanimu." Kata Zeno dengan lirih, sehingga tidak ada sesiapapun yang melihatnya.


Remaja tersebut hanya tersenyum dan memejamkan matanya seolah tidak takut dengan ucapan Zeno. Setelah beberapa detik, dia membuka matanya dan berkata, "Lepaskan aku. Jika kalian membunuhku sekarang juga, kalian akan lebih dicurigai sebagai pembunuh anak jenderal. Selain itu, jika dalam dua menit kau tidak melepaskan tanganmu dari tengkukku, aku akan berteriak bahwa kau merupakan seorang pembunuh." 


"Hey, kau tahu? Aku memiliki racun yang dapat membunuhmu secara perlahan. Jadi kami tidak perlu khawatir saat kami akan melepaskannya saat ini." Ujar Turse yang semakin mendorong anak panah yang dia pegang.


"Perlahan? Jadi itu memiliki sebuah jeda, sehingga aku bisa melaporkan kalian dengan mudah." 


"Kau benar-benar licik." Zeno tidak panik, justru dia tersenyum lebar sebelum melanjutkan ucapannya. "Apa yang perlu ku lakukan sehingga kau bisa tutup mulut?"


"Tenang saja, aku tidak akan melaporkan kepada kekaisaran, jika kalian berdua bersiap menjalin sebuah kesepakatan atau perjanjian kepadaku." Jawab orang tersebut masih begitu lirih.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut, Zeno dan Turse mengangkat alisnya. Mereka cukup ragu mengenai apa yang akan dikatakan oleh remaja yang ada di antara mereka berdua. Tapi demi keamanan Zeno dan Turse, mereka akhirnya mengangguki satu sama lain.


"Katakan, kesepakatan seperti apa itu?"


__ADS_2