
Sore hari telah tiba, Zeno kini terus melakukan perjalanan dari tadi pagi. Suasana yang khas yaitu semilir angin yang begitu lembut membuat Zeno rindu akan negeri angin. Suara tapak kaki kuda membuat penjaga gerbang negara air terbangun seketika dan mengarahkan pandangannya ke arah suara tersebut.
“Berhenti!” Kata salah satu dari dua penjaga tersebut.
“Sebelum kau masuk bolehkah kami untuk.....” Penjaga tersebut tidak melanjutkan ucapannya, karena temannya tiba-tiba entah kenapa memukul kepalanya bagian belakang, namun tidak terlalu keras.
“Maafkan aku tuan, karena teman saya tidak mengenali anda.” Kata penjaga itu membungkuk, meminta maafkan temannya yang telah lancang tidak mengenali Zeno.
“Anda diperkenankan untuk masuk.” Sambungnya dengan mempersilahkan.
Zeno hanya mengangguk dan masuk kedalam negara tersebut, tatapan aneh dari beberapa orang yang mengenal persis siapa itu Zeno sekarang, sedangkan yang tidak mengenalinya, mereka hanya terlihat tidak peduli dengan kedatangan Zeno. Zeno juga tidak peduli dari tatapan aneh atau tidaknya dari orang sekitar, sebuah sambutan dan harapan semua orang mengenalnya adalah sesuatu yang tidak diharapkan oleh Zeno.
Sebenarnya Zeno melewati sebuah negara angin bukan hanya sekedar lewat untuk menjadikan jalan menuju negara petir, tujuan pertama Zeno kali ini adalah menuju kekaisaran tempat kakek dari ibunya berada untuk meminta Izin.
Di setiap perjalanan Zeno tidak bisa untuk tidak merasakan hawa semilir yang sangat nikmat. Akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah melakukan perjalanan, duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu, sambil menikmati sebuah semilir angin yang nikmat, merupakan pilihan yang tepat bagi Zeno.
“Hoy anak muda!”
Zeno yang sedang duduk beristirahat tiba-tiba perasaanya begitu pecah saat terdapat nada suara yang tidak mengenakkan, dia lantas menoleh ke arah asal suara tersebut dengan tatapan yang begitu sinis. Zeno sangat tidak suka apabila dirinya diganggu, apalagi waktu yang digunakan untuk beristirahat.
“Anak raja kota baru saja melihat dan menyukai kuda yang ada di sampingmu, jadi aku mau kudamu itu.” Kata Seseorang yang baru datang tersebut dengan suara yang begitu keras.
__ADS_1
“Kuda? Memangnya aku menjualnya? Tentu saja tidak!” Kata Zeno mengerutkan dahinya, sorot matanya begitu sinis saat suara orang tersebut begitu keras.
Orang tersebut kemudian hanya bisa tertawa dengan terbahak-bahak selepas mendengarkan ucapan Zeno. “Aku tidak bilang untuk menjual kudamu, aku hanya ingin kuda mu itu untuk anak raja kota.”
“Anak raja kota ya? Kalau aku tidak mau bagaimana?”
“Anak muda, aku peringatkan sekali lagi, serahkan kudamu itu, atau aku mengambil paksa. Lagipula, untuk apa manusia rendahan sepertimu menggunakan kuda? Kuda hanya untuk para bangsawan.” Sahut orang itu dengan merendahkan Zeno.
Zeno kemudian berdiri dari duduknya, dia lantas menghela nafas. “Kau ingin kuda ku? Baiklah, silahkan rebut itu dariku.” Katanya dengan tersenyum lebar, sorot matanya begitu tajam seakan-akan menantang orang yang berada di hadapannya.
“Kau boleh menggunakan pedang yang ada di selongsonmu, untuk aku, aku cukup menggunakan tangan kosong saja. Kita lihat, siapa sebenarnya manusia rendahan.” Sambungnya dengan memasang kuda-kuda bersiap untuk menerima serangan dari orang tersebut.
“Umurmu masih panjang, sangat disayangkan untuk melakukan hal bodoh tersebut.” Orang tersebut menarik pedang yang ada di selongsongnya, mengarahkan tepat ke arah perut Zeno.
Orang tersebut hanya bisa menggertakkan giginya, kemudian ia mengulangi kembali menyerang Zeno dengan pedangnya. Bukannya melawan, Zeno justru hanya bisa menghindar dan melontarkan kata-kata yang membuat orang yang di hadapannya begitu panas.
Berkali-kali orang tersebut menyerang Zeno menggunakan sebilah pedang, namun sekali saja pedang tersebut tidak bisa menggores sedikitpun tubuhnya, bahkan pakaian yang Zeno gunakan masih terlihat begitu rapi dan tidak ada goresan pedang.
Sesekali orang tersebut juga mengeluarkan sebuah elemen dari salah satu tangannya, melemparkan ke arah Zeno yang hanya sibuk menghindari beberapa tebasan yang ia keluarkan. Tetapi orang tersebut juga tidak menyangka, bahwa Zeno pun hanya sekedar terus menghindar yang membuat orang itu semakin jengkel.
“Cih, apa kau begitu takut, sehingga melawanku saja tidak memiliki nyali.” Ujar orang tersebut dengan raut wajah yang begitu marah. Pedang yang ia gunakan di pegang menggunakan dua tangan dengan begitu erat, membuat keseriusan orang itu juga bertambah.
__ADS_1
Orang yang tidak mengenal Zeno, mereka menertawakan Zeno karena berani menentang pihak dari raja kota. Tetapi begitu juga dengan sebaliknya, sedikit orang-orang disekitar yang mungkin mengenal Zeno justru mengelus dada karena mereka sudah tidak tahu lagi bagaimana nasib orang yang berhadapan dengan Zeno karena melawan keluarga dari dua kaisar.
Orang yang tahu siapa itu Zeno, mereka juga memasang wajah yang begitu ceria, karena sebuah kecerobohan bawahannya, status raja kota di kota ini akan dicabut paksa oleh pihak kekaisaran karena bawahannya yang telah semena-mena terhadap cucu kaisar. Lagipula mereka sangat bahagia mengharapkan kemundurannya raja kota di kota ini, karena raja kota yang begitu egois dan hanya memikirkan perutnya sendiri daripada rakyatnya.
“Mengambil kuda begitu saja sangat lama.” Kata seorang pemuda yang begitu sombong, membuat orang yang bertarung dengan Zeno seketika langsung menusukkan pedangnya kembali ke dalam selongsong.
“Maafkan aku tuan muda, tetapi pemuda ini begitu keras kepala.” Ucapnya sambil membungkukkan badannya.
“Hey kau pemuda sialan, serahkan kudamu itu, atau ayahku akan membunuhmu.” Kata anak raja kota dengan nada yang begitu tinggi, membuat orang-orang disekitar menghentikan aktivitasnya dan lebih fokus ke arah Zeno.
“Masih duduk di pangkuan ayahmu sudah berani bertindak sombong.” Ejek Zeno.
“Memangnya kau siapa? Ayah Ku lah yang berkuasa di kota ini, jadi dia bebas untuk melakukan apapun yang dia mau, termasuk untuk membunuhmu. Berbeda dengan kau yang tidak memiliki status apa-apa, bahkan pekerjaan badut jalanan disini adalah pekerjaan yang masih kurang cocok untuk ayahmu yang memiliki derajat yang lebih rendah. Ah aku tau, pasti kuda yang ada di belakangmu adalah kuda yang habis kau curi.” Sahut pemuda itu dengan raut wajah yang begitu kesal karena diejek oleh Zeno.
Zeno kemudian membalikkan badan, dia berkeinginan untuk pergi dan mengabaikan semua perkataan-perkataan anak raja kota itu. Zeno membalikkan badannya bukan berarti takut menghadapi seorang anak raja kota, dia tidak begitu tertarik untuk berkelahi lagi, karena kali ini yang ia butuhkan hanyalah sebuah istirahat untuk kembali melakukan perjalanan nanti.
“Dasar kau anak wanita malam, berani-beraninya kau mengabaikan perkata....”
Zeno kembali berbalik badan dan segera mengambil pedang di selongsong orang yang berada di samping anak raja kota itu, tanpa rasa iba sedikitpun, dia langsung membungkam mulut anak raja kota dengan menusukkan sebuah pedang tepat ke arah perut yang membuatnya langsung diam dengan pandangan tidak percaya bahwa perutnya terhunus
“Ucapan yang sangat tajam, tetapi sayangnya masih sangat tajam pedang bawahanmu bukan?”
__ADS_1