
“Tuan, biarkan aku menghabisi manusia sialan ini. Terlebih lagi aku ingin menunjukkan kekuatanku kepada anda.” Ucap Genbu yang berada di dalam tubuh Zeno.
“Tidak perlu, ini hanya masalah kecil, bahkan aku bisa menyelesaikannya.” Kata Zeno.
Zeno menghela napas panjang, menatap aneh Dion Nothan dengan begitu dingin, bahkan tatapannya seperti tidak memiliki rasa takut sama sekali. Dengan berani, Zeno berkata, “Lantas apa yang kau butuhkan? Apakah harta? Tidak, sepertinya anak bangsawan duke tidak semiskin itu sehingga harus meminta harta milik orang lain.”
Apa yang Zeno ucapkan membuat orang-orang disekitar menganggap bodoh Zeno, bahkan banyak dari mereka hidup Zeno tidak akan bertahan lama lagi. Tapi ada juga yang memuji Zeno karena menanggap perkataan Zeno merupakan hal yang berani, walaupun mereka tahu bagaimana nasib buruk Zeno setelahnya.
“Kau, jaga bicaramu! Apakah kau tidak tahu lawan bicaramu siapa? Di hadapanku, kau hanyalah seekor semut yang bisa diinjak kapan saja. Jadi jaga bicaramu! Ayahku bisa saja memenjarakanmu kapan saja.” Teriak Dion yang didengar oleh orang-orang disekitar.
“Jika aku semut, maka kau adalah gajah yang berada di cerita turun-temurun. Bagaimanapun, gajah tersebut mati karena ribuan semut yang menggigit bagian dalam telinganya.” Zeno memegang dagunya sambil tersenyum mengejek, “Masih berlindung di kata ayah, jangan sok berani untuk menantang seseorang. Sangat kasihan sekali.” Zeno berbalik badan dan memilih untuk pergi meninggalkan anak Duke yang ada di belakangnya.
Dion menjadi sangat marah, harga dirinya telah terinjak karena perkataan Zeno yang sangat mengejek, bagaimanapun sebagai bangsawan dirinya tidak terima dengan perlakuan seperti itu, jika Dion membiarkannya saja, maka dirinya akan dianggap penakut oleh orang-orang di sekitar. Maka dari itu, Dion menarik selongsongnya dan menebaskannya ke arah Zeno.
Zeno sudah tau sebelumnya bahwa Dion akan melakukan itu, entah kenapa walaupun dirinya tidak suka untuk diberi sebuah masalah, tetapi dirinya juga sangat suka untuk mempermainkan orang yang membuat masalah tersebut. Hal itu membuat hatinya bahagia, dan lebih tertantang meskipun dirinya tahu bahwa setelahnya ada masalah yang lebih besar sebagai konsekuensinya.
Zeno berbalik arah dan menangkap pedang yang akan ditebaskan di lehernya. Telapak tangannya yang membeku membuatnya seolah-olah menjadi pelindung agar tidak terluka. Selain itu, pedang tersebut perlahan-lahan juga membeku akibat dari kekuatan Zeno.
“Suhu disini sangat efektif untuk menciptakan es. Orang-orang di benua ini pasti sangat beruntung. Tapi sayangnya, mengapa mereka harus tinggal bersama orang sepertimu.”Zeno tersenyum mengejek sesaat setelah pedang milik Dion hancur karena tekanan tangan milik Zeno, selain itu kenapa Zeno bisa menghancurkannya dengan mudah? Itu karena pedang tersebut berubah menjadi es yang sangat rapuh.
__ADS_1
Wajah Dion seketika membeku saat tahu bahwa Zeno menangkis pedangnya semudah itu, padahal dirinya yang juga merupakan pengguna elemen es juga tidak mungkin bisa untuk menghancurkan pedang besi semudah itu. Meskipun begitu, tidak ada setitikpun rasa takut Dion, yang ada kebenciannya terus mengalir dalam dirinya.
“Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian hanya melihat saja? Cepat bantu aku!” Dion menoleh kebelakang dan berteriak kepada seluruh bawahannya.
Seluruh bawahan Dion langsung melompat dengan menarik pedang sebelumnya. Kini Zeno menoleh tepat di atasnya terdapat beberapa orang yang sedang mengarahkan pedang kepadanya. Zeno tidak panik sedikitpun, justru dia tersenyum lebar sesaat sebelum mengulurkan tangannya. “Angin: sayatan seribu angin.”
Seluruh prajurit milk Dion berjatuhan dengan luka sayatan yang sangat banyak dan cukup parah. Sedangkan Dion, dia hanya membuka matanya lebar dan tidak bisa berkata-kata lagi dengan kemampuan Zeno yang cukup mengerikan.
“Tuan muda emm siapa namamu? aku lupa. Oh iya, tuan muda Dion Nothan. Perkenalkan, namaku adalah Zen.” Kata Zeno yang tidak berhenti untuk tersenyum lebar.
Dion tidak berhenti begitu saja saat seluruh bawahannya tumbang, kini Dion telah menjebak Zeno dengan membuat es yang membuatnya tidak bisa bergerak. Selepas melakukan itu, Dion mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke arah Zeno. “Rasakan ini, tinju membeku!”
Seketika aliran mengalir keras tepat di bawah Dion, aliran tersebut membuat Dion tidak bisa kemana-mana, bahkan pukulan yang akan dia arahkan kepada Zeno juga tidak sempat untuk kena. Aliran yang memenjarakan Dion pun perlahan juga membeku, sehingga Dion menjadi orang yang terjebak dan tidak bisa bergerak bahkan menggerakkan jari pun. Bagaimana tidak, kini Dion telah berada di dalam aliran air yang telah membeku.
Dion yang tidak bisa berbuat apa-apa membuat seluruh kekuatannya melemah, bahkan es yang membekukan setengah badan Zeno juga hancur, sehingga Zeno bisa bergerak kembali dan mendekat ke arah Dion yang berada di dalam es. “Bagaimana? Apakah kau masih menyombongkan diri? sudah ku bilang, jika kau masih berlindung dibalik kata “Ayahku akan” jangan merasa paling hebat? Apakah kau tidak tahu siapa aku?” Kata Zeno yang menghela napas setelahnya.
“Tidak, tidak penting siapa aku, mungkin suatu saat kau akan tahu.” Katanya sambil melepaskan Dion dari bongkahan es.
Dion yang terjebak es selama beberapa menit bernapas lega, bagaimanapun terjebak dalam es sepenuhnya membuat dirinya tidak bisa bernapas. “Tidak! Tidak mungkin! Kau pasti bawahan Rungdaf si penyihir badai. Perhatian! Jangan sampai kalian dekat dengan orang yang bernama Zen ini! Dia adalah anak buah Rungdaf.” Dion berlari meninggalkan Zeno dengan berteriak seperti orang gila, bahkan Zeno hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Dion yang langsung ciut melihat kemampuannya.
__ADS_1
Tetapi perkataan Dion justru dibuat serius oleh warga sekitar yang melihat pertarungan Zeno dari tadi.
“Apa benar dia mata-mata Rungdaf?”
“Jika benar, lebih baik kita harus berhati-hati.”
“Seharusnya kita melaporkan ini kepada duke.”
“Lebih baik langsung ke raja kerajaan, dengan begitu anak itu bisa ditindak secara langsung.”
“Menurutku dia memang anak buah Rungdaf, tidak mungkin orang biasa menghabisi belasan orang dalam satu serangan.”
Zeno melirik ke arah kumpulnya orang-orang, dirinya yang ditatap secara tajam membuatnya merasa risih dan langsung beranjak pergi. Lagipula perktaan yang tidak-tidak dari Dion membuat orang-orang disekitar menjadi percaya, hal itulah yang membuat Zeno menjadi geram. “Sudah kuduga, pasti masalah besar akan datang lagi.” Zeno berkata demikian namun tidak terlalu panik, setidaknya dia percaya bahwa semua masalah pasti akan ada cara untuk mengatasinya.
Saat beranjak pergi, Zeno terpikirkan dengan nama yang disebutkan oleh Dion dan juga orang-orang disekitar. Rungdaf, sepertinya Zeno harus berhati-hati, karena tampak jelas bahwa nama tersebut sangat dipandang buruk oleh masyarakat. Selain itu, Zeno menjadi penasaran tentang sosok yang bernama Rungdaf.
Tetapi dia tidak bisa memikirkan itu dulu, karena tujuan utamanya adalah mencari ayahnya. Dan setelah bertemu dengan ayahnya, maka dia bisa mencari orang yang bernama Rundaf tersebut, setidaknya dia ingin tahu apa yang membuat sosok tersebut dibenci oleh orang-orang, selain itu, harapan terbesarnya adalah berpetualang bersama ayahnya. Itulah yang diinginkan Zeno.
__ADS_1