
Jika Zeno sedang mengeluarkan roda air, lantas siapa Zeno yang berada di samping Kiba dan terlempar karena terkena aura kegelapannya? Itulah yang membuat Danze heran. Dia tidak menyangka bahwa Zeno bisa mengecohnya dengan mudah. Apa yang ia pikirkan, Zeno yang ada di samping Kiba merupakan kloningan. Yang mana, Zeno membuat kloningan di saat Danze sendiri mengeluarkan naga kegelapan.
Dan itu memang benar, Zeno yang berada di samping Kiba saat ini hancur menjadi serpihan es. Sedangkan Zeno yang asli, saat ini dia menghela napas lega karena berhasil melukai Danze. Walaupun tidak parah, tapi setidaknya dia cukup bangga karena memiliki sebuah kemajuan.
“Cukup menggembirakan. Tapi lukaku tidak separah lukamu” Danze membersihkan darah yang menetes dari dahinya, selain itu, dia juga melakukan perbuatan yang menjijikan, yang mana ia menjilat darahnya sendiri.
Luka yang ada di Danze tidak separah dengan luka yang menempel pada tubuh Zeno. Bagaimana tidak, luka Danze hanya sebatas di dahi dengan goresan memanjang ke bawah sampai di hidung, sedangkan luka Zeno, mungkin tidak hanya luka goresan pedang di tubuhnya, melainkan juga luka lebam di bibirnya, serta kepala bagian kanannya juga mengeluarkan darah akibat benturan saat bertarung dengan Danze.
Zeno mencoba untuk mengatur napas, dia tidak tahu, sudah seberapa lama dirinya bertarung. Cahaya matahari juga tak nampak karena ditutupi oleh awan kegelapan yang sangat pekat yang membuatnya kesulitan untuk menebak waktu.
“Apa kau tidak memiliki rasa malu saat ....” Zeno tidak melanjutkan ucapannya, pasalnya Danze sudah melesat ke arahnya bagaikan tidak memberikan Zeno waktu untuk berbicara. Benar-benar, sepertinya Danze memang membuat lawannya sangat kelelahan hingga tidak memiliki stamina untuk bertarung.
Zeno menggertakkan giginya, dia memandang Danze seperti monster yang sangat mengerikan. Tidak ada pilihan lain, Zeno berlari menghindari Danze yang sedang melesat ke arahnya. Setidaknya dia memutuskan untuk bersembunyi terlebih dahulu untuk mengatur napas.
Memang, Zeno bisa berlari menjauh dari Danze, tapi Danze selalu menebaskan sebuah energi kegelapan ke arah Zeno, sehingga mau tidak mau, Zeno harus bergerak dua kali lipat yang mana dia harus berlari sambil menghindari tebasan kegelapan tersebut.
“Dia benar-benar gila.” Kata Zeno yang saat ini sedang berlari dan melompat kesana-kemari untuk menghindari ledakan karena energi kegelapan yang membentur tanah.
Kiba tidak bisa tinggal diam, dia langsung mengejar Danze untuk menahannya agar tuannya bisa lari terlebih dahulu.
“Kemampuan hewan buas.” Kiba menghela napas, “Taktik berburu!” Seketika langkah Kiba menjadi sangat cepat saat berlari, bahkan berhasil menyusul Danze yang ada di depannya. Tidak hanya itu saja, Kiba langsung melompat ke arah Danze seakan-akan mendapatkan sebuah mangsa buruan.
__ADS_1
Menyadari hal tersebut, Danze langsung berhenti dan berbalik badan, “Tebasan kegelapan tahap pertama, lautan kematian!”
Tebasan kegelapan lautan kegelapan, yang mana saat Danze menebaskan pedangnya ke arah Kiba, muncul sebuah kegelapan yang keluar membentuk seperti lautan yang akan menenggelamkan Kiba. Untungnya Kiba berhasil berubah menjadi serpihan angin terlebih dahulu sebelum dia terjebak dalam kegelapan dan mengenai ujung pedang Danze.
“Jarum angin.” Kiba muncul kembali setelah kegelapan tersebut hilang, dia tepat berada di hadapan Danze yang sebelumnya kembali mengejar Zeno yang lari.
Danze yang dikejutkan oleh Kiba, segera menebaskan pedangnya kembali. Namun, dia tidak tahu bahwa Kiba mengeluarkan ribuan jarum angin yang melesat ke arah Danze dari jarak dekat.
“Arghhhh.” Danze berteriak tidak terlalu keras. Bagaimana tidak, sebelum pedang Danze menebas Kiba, tubuhnya dipenuhi oleh jarum angin yang menancap ke seluruh tubuh Danze bagian depan. Sehingga, ribuan tetesan darah keluar dari tubuh Danze.
“Keparat!” Danze begitu marah, dia sudah melupakan rasa sakit yang dialami akibat jarum angin. Yang terpenting, dia akan menebas Kiba kembali dari jarak yang begitu dekat.
“Angin: tebasan tak terlihat tahap akhir.”
“Angin: sayatan seribu angin tahap ke empat, heftiga windblatt”
Tiba-tiba dua sosok Zeno berada di belakang Danze dan melompat ke arahnya. Salah satu Zeno menebaskan pedangnya, serangan Zeno lainnya mengulurkan kedua tangannya. Masing-masing mengeluarkan sebuah teknik yang ia lancarkan ke arah Danze secara bersamaan.
Terpaksa Danze harus menghentikan tebasannya kepada Kiba untuk menghindari serangan mengerikan dari Zeno bersama kloningannya.
Kiba yang merasa aman dan tertolong, dia langsung melesat pergi agar tidak terkena teknik yang ditembakkan tuannya sendiri. Bagaimanapun saat ini dia berada di dekat Danze.
__ADS_1
Danze juga demikian, dia juga melesat pergi dengan menebaskan pedangnya ke arah Zeno. Namun, saat dia pergi, dia terkejut bawa separuh dari tubuhnya telah tercengkeram oleh gundukan tanah yang dilapisi oleh es.
Seketika gundukan tanah yang melapisi separuh tubuh Danze hancur, namun, Danze juga terlempar hingga memuntahkan seteguk darah. Tanah yang hancur tersebut di sebabkan oleh tebasan tak terlihat milik Zeno, yang mana juga memberikan efek besar kepada tubuhnya yang di lapisi oleh tanah yang mengepalnya.
Danze kembali berteriak, tubuhnya seperti terkena ribuan sayatan pedang yang membabi-buta. Tidak tahan hal tersebut, dia membentuk sebuah lingkaran kegelapan seakan-akan menyerap semua sayatan angin yang dikeluarkan oleh Zeno.
Saat lingkaran kegelapan itu hilang, dia sedikit terkejut bahwa Zeno sudah berada di hadapannya sambil menebaskan pedangnya secara langsung. Selain itu, Ice Sword yang dipegang Zeno dilapisi oleh empat energi elemen secara berbeda, di antaranya adalah angin, air, petir dan juga tanah.
Merasa krisis berat, Danze langsung segera menahan Ice Sword menggunakan pedangnya, yang mana pedang milik Danze dilapisi oleh kegelapan.
“Duaar!!”
Memang, Danze dan Zeno selamat akibat benturan pedang yang menghasilkan kegelapan. Tapi kali ini berbeda, biasanya Danze masih berdiri dan Zeno akan terlempar apabila beradu pedang dengan dilapisi energi elemen seperti itu. Siapa yang menyangka, benturan pedang kali ini membuat keduanya terlempar cukup jauh dengan luka yang hampir parah karena ledakan benturan.
Selain itu, pedang yang digunakan oleh Danze patah, berbeda dengan Ice Sword milik Zeno yang masih tetap utuh. Zeno tidak heran mengapa pedangnya tidak patah, karena Ice Sword sendiri sudah cukup menjadi pedang legenda di benua Artrik.
“Sialan, dia masih hidup. Aku benar-benar kehabisan Orka pada pertarungan kali ini.” Zeno membatin, dia menyentuh dadanya yang semakin sesak karena orkanya benar-benar kosong, jika dia beradu elemen pun, mungkin sangat mustahil.
Danze berdiri, tubuhnya dipenuhi oleh luka tusukan jarum serta sayatan bilah angin. Dalam keadaan seperti itu, mungkin orang biasa akan berteriak kesakitan, tapi berbeda dengan Danze yang tertawa begitu keras. “Kau hampir membunuhku b*jing*n!”
__ADS_1