
“Tch.” Seiryu berdecak kesal. Memang, seperti apa yang dikatakan Genbu, dia sebenarnya tidak bisa melupakan kepergian dewi Luna. Tapi mau bagaimana lagi, dia merasa kehilangan dewi Luna merupakan kehilangan segalanya, dia juga merasa kesepian karena tidak ada yang cocok menjadi tuannya.
Sama seperti Genbu, ataupun Byakko, Seiryu juga bangkit kembali setelah seratus tahun mengalami kematian karena melakukan ritual penyegelan Yashimaru bersama beast lainnya. Tidak, sepertinya kematian merupakan bahasa yang kasar, lebih tepatnya Seiryu dan yang lainnya mengalami istirahat yang panjang guna memulihkan energinya kembali. Bagaimanapun, pertarungan dan penyegelan pada waktu itu membutuhkan energi yang luar biasa, bahkan banyaknya energi tersebut tidak dapat dipikirkan oleh manusia biasa.
Sayangnya, saat penyegelan berhasil, dewi Luna terkena sebuah kutukan dari Yashimaru. Yang mana kutukan tersebut akan membuat dewi Luna sebagai dewa tertinggi meninggal. Dan puncak kutukan tersebut saat seratus tahun kemudian, lebih tepatnya ketika menyerahkan Kiba kepada Zeno.
Seiryu berpikir sejenak dan memperhatikan Zeno atas bawah, dia juga merasa bahwa Zeno bukanlah seorang yang biasa. Bahkan, Seiryu juga melihat bahwa dari diri Zeno terdapat sebuah aura yang begitu istimewa.
Walaupun begitu, Seiryu tidak ingin menjadi bawahan Zeno begitu mudah, setidaknya dia ingin sebuah bukti, bahwa Zeno benar-benar layak menjadi seorang tuan seekor beast legenda yang agung penjaga arah mata angin timur.
“Lawan aku!” Tegas Seiryu dengan menatap Zeno begitu serius, “Dengan syarat, Byakko dan Genbu tidak boleh ikut campur. Hanya kau seorang saja!” Sambungnya dengan begitu serius.
Zeno menghela napas, sambil bergumam, “Sudah kuduga.” Dia berbicara seperti itu karena tahu persis, bahwa Seiryu membutuhkan sebuah pembuktian. Selain itu, Zeno juga sudah menebak, bahwa Genbu dan Byakko dilarang untuk ikut campur. Karena, jika Genbu dan Byakko ikut campur, Seiryu akan dikalahkan begitu mudah.
“Baiklah, Kiba, Skarlos, para nagaku dan juga Turse. Kalian tidak perlu ikut campur pertarungana ini.” Kata Zeno, “Tapi kita butuh medan per ....”
Saat Zeno ingin menyambung ucapannya, tiba-tiba Seiryu bergerak begitu cepat bagaikan sebuah aliran air. Seiryu yang bergerak kini tengah berada di hadapan Zeno dan mendorongnya hingga jatuh menuju lautan yang luat.
Sebelumnya Genbu memang melihat bahwa Seiryu bergerak cepat ke arah Zeno, bahkan dia juga mengeluarkan ekor ularnya untuk menyerang Seiryu. Sayangnya, Seiryu begitu cepat dan berhasil menyerang Zeno hingga terjatuh ke lautan.
“Tuan! Dasar Seiryu licik!” Umpat Genbu. Dia yang melihat tuannya terjatuh di lautan luas, dia juga berkeinginan untuk terjun bebas menuju laut tersebut begitu luas.
__ADS_1
Begitu juga dengan Kirin dan Uron, dia langsung berkeinginan untuk terjun ke bawah dan menolong Zeno yang terjatu sambil di kejar Seiryu.
Sayangnya, Kiba langsung menahan dan melarang mereka untuk ikut campur. Bagaimanapun, Zeno sudah berpesan, bahwa Zeno tidak ingin sesiapapun ikut campur dalam pertarungannya.
“Tapi Kiba, tuan pasti akan kesulitan menyerang Seiryu dari dalam air.” Protes Genbu.
“Tuan tidak selemah itu. Jika kau ingin tahu, lebih baik kita akan melihat pertarungannya dari permukaan laut saja.” Ucap Kiba sambil terbang ke bawah. Pasalnya, dia benar-benar tertarik melihat pertaungan Seiryu dan juga tuannya yaitu Zeno.
Mau tidak mau, Kirin dan Uron juga harus menahan diri untuk membantu Zeno. Karena mereka sendiri yang mendengar bahwa pertarungannya dengan Seiryu tidak boleh ada yang ikut campur. Alhasil, Kirin yang membawa Genbu dan Uron yang membawa Turse juga ikut terbang ke bawah hanya untuk melihat pertarungan tersebut.
.....................---------------.........
“Byurr!!”
Untungnya dia terjatuh dalam posisi berdiri, mungkin jika dia terjatuh dalam posisi tertidur, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang terjadi pada punggungnya akibat benturan keras pada permukaan air.
Zeno yang sudah berada di dalam lautan, mencoba untuk mengondisikan diri. Sebagai elementalis air, bukan masalah apabila bernapas di dalam air. Namun, kemampuan tersebut dapat berlangsung lama. Yang mana, jika sudah berada di ambang kemampuan, elementalis air juga tidak akan bisa bernapas seperti halnya dengan elementalis non air.
Beberapa detik setelah Zeno tenggelam, Seiryu juga menyusul dan langsung berenang dengan cepat ke arah Zeno. Melihat hal tersebut, tentu saja apa yang dia lakukan adalah menghindar. Tentu saja, menghindar biasa di dalam air merupakan cara yang bodoh, karena pergerakan akan terhambat oleh air yang begitu banyak.
Tapi bagaimana jika yang bergerak di dalam air adalah udara? Tentu saja akan menjadi kebalikannya, pergerakan udara di air akan menghasilkan sebuah gelembung dan bergerak dengan bebas dan cepat. Maka dari itu, Zeno menciptakan sebuah gelembung udara dan masuk ke dalamnya agar bisa bergerak dengan begitu cepat.
__ADS_1
“Seiryu sialan, dia menjadikan sebuah lautan menjadi medan pertarungan. Tentu hal tersebut sangat di untungkan baginya.” Zeno menggertakkan giginya, apa yang lebih penting sekarang adalah menghindar terus menerus semua serangan yang dilancarkan Seiryu agar dia bisa naik menuju permukaan.
Sayang sekali, saat hendak muncul di permukaan, Seiryu berhasil memecah gelembung yang melapisi Zeno menggunakan ekornya. Tapi siapa yang menyangka, ketika gelembung tersebut pecah, sebuah ledakan agak besar terjadi dan menyebabkan ribuan gelembung kecil muncul di permukaan.
Untungnya Zeno berhasil berenang menjauh saat gelembung tersebut akan dipecahkan oleh Seiryu. Namun, ledakan tersebut masih membuatnya terlempar sedikit jauh, padahal gelembung tersebut merupakan dia sendiri yang menciptakan.
“Mau bagaimana lagi, sepertinya Seiryu tidak mengizinkanku naik menuju permukaan.” Gumamnya sambil menarik Ice Sword yang ada di punggungnya.
Akan tetapi, dari balik ribuan gelembung akibat sebuah ledakan, Seiryu tiba-tiba muncul dan menciptakan sebuah pusaran air di dekatnya. Yang mana, pusaran tersebut di arahkah ke arah Zeno.
Hal tersebut cukup membuat Zeno sedikit geram, terjebak dalam pusaran air merupakan hal yang sangat merepotkan. Maka, Zeno langsung bergerak secepat kilat guna melawan pusaran air tersebut sekaligus menyerang Seirzu yang ada di depannya.
Bergerak secepat kilat di dalam air merupakan cara yang aneh, bagaimana tidak, air seakan terbelah setelah Zeno melewatinya.
Tepat saat hendak menebas Seiryu, Seiryu tiba-tiba bergerak mengitari Zeno dengan begitu lihai dan cepat. Akibatnya, Zeno saat ini benar-benar terjebak dalam pusaran air. Selain itu, dia pasti tidak akan bisa bergerak secepat kilat untuk keluar dari pusaran, dia pasti akan terpental karena terdapat Seiryu.
Tubuhnya perlahan juga berputar karena dampak dari pusaran tersebut, jika dirinya tidak keluar, dirinya pasti akan merasakan kekalahan begitu saja.
Zeno berpikir sejenak, mencoba menenangkan pikirannya walaupun tubuhnya berputar.
...
__ADS_1
“Sebuah pusaran air? Kiba, apakah kau yakin apabila tuan menang?” Kata Genbu begitu panik. Pasalnya, dia melihat terdapat sebuah pusaran yang begitu hebat di dalam air. Dia juga menjadi takut, apabila tuannya berada di tengah-tengah pusaran tersebut sambil tubuhnya yang berputar.
“Kau tidak perlu panik, tuan pasti memiliki seribu cara untuk menghadapi sebuah teknik rendahan seperti itu.”Kata Kiba sambil mengangkat salah satu ujung bibirnya.