
Sesampainya di rumahnya sendiri, Gorb berlari menuju kamar dengan begitu panik. Dia melihat beberapa tabib wanita sedang duduk di samping istrinya dan berusaha membuat beberapa ramuan untuk istri sang jenderal.
“Tabib, ada apa?” Tanya Gorb dengan tidak santai.
“Seperti yang jenderal lihat, penyakit tersebut menjadi sangat parah. Padahal, beberapa bulan terakhir penyakit tersebut semakin reda. Namun, setelah beliau mendengar berita yang Anda sudah dengar, ya begitulah ....” Sang Tabib tidak melanjutkan ucapannya, karena dia tahu apabila salah berbicara sedikitpun, maka jenderal akan main tangan.
Karena sudah menjadi rahasia umum mengenai sifat jenderal Gorb yang terkenal keras dan suka main tangan. Bahkan, tidak sedikit orang yang tulangnya retak karena salah berbicara dengan Gorb. Itulah mengapa, Gorb merupakan jenderal paling bengis di kekaisaran ini.
Walaupun begitu, kaisar sangat suka dengan Gorb, kebengisan tersebutlah yang membuat sang kaisar yakin bahwa Gorb merupakan sosok jenderal yang sebenarnya.
“Apa tidak ada cara lain agar membuatnya sadar.” Tanya Gorb dengan nada tinggi.
“Tidak ada cara lain, penyakit ini hanya bisa sembuh dengan sendirinya tanpa ada obat. Namun, jika terlalu parah, maka kemungkinan terburuknya ....” Salah satu tabib menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, karena dia benar-benar takut apabila salah berbicara, “Kemungkinan terburuknya, nyawa istri Anda tidak akan bisa di selamatkan.” Jawabnya dengan ragu.
Gorb menggertakkan giginya, dia menghampiri tabib yang baru saja berbicara. Perasaan Gorb juga tidak bisa tenang, sehingga dia emosi mendengar hal tersebut.
“Tunggu, tidak jenderal.” Sahut tabib lainnya.
“Enam hari lagi, bunga teratai emas yang hanya mekar sekali dalam lima tahun akan muncul di puncak gunung Apiluc. Konon katanya, bunga teratai tersebut merupakan penawar segala macam penyakit ataupun racun.” Sambungnya dengan bergetar, dia menghela napas karena berhasil menyelamatkan tabib lain daun kebengisan Gorb.
Seketika Gorb menghentikan langkahnya, dia cukup tenang setelah tabib lain berbicara hal tersebut. Tapi, ketenangan yang cukup tidak membuat Gorb kehilangan raut wajah yang mengerikan.
“Teratai emas di puncak gunung Apiluc mekar dalam lima hari lagi?” Tanya Gorb dengan nada tinggi, “Aku harap kau tidak berdusta tentang perkataanmu itu.”
“Tidak, aku tidak berbohong.” Tabib yang baru saja berkata seperti itu tubuhnya bergetar hebat.
“Teratai tersebut tumbuh di Nuvoleon empire. Tentu saja kekaisaran itu tidak akan tinggal diam. Aku akan memohon kaisar untuk membantuku.” Gumam Gorb sambil keluar dari kamar istrinya dengan tergesa-gesa.
Sebagai seorang jenderal yang di anggap seperti anak kesayangan kaisar. Tentu saja Gorb sangat yakin, bahwa permintaannya akan dipenuhi, yang mana dia meminta untuk memimpin sebuah pasukan. Dan pasukan tersebut dia gunakan untuk merebut bunga teratai dari tangan Nuvoleon.
__ADS_1
Tidak peduli apakah akan memicu sebuah peperangan besar di antara dua kaisar. Tapi yang pasti Gorb tidak peduli. Apa yang dia pedulikan adalah keselamatan istrinya yang mana jauh lebih utama.
****
“Kita akan sampai kapan?” Tanya Zeno kepada Hole.
Saat ini mereka bertiga dalam keadaan duduk di kereta kuda yang beberapa waktu yang lalu Zeno pesan.
“Besok pagi, bagaimanapun seluruh empire di benua ini sangat luas.” Jelasnya.
“Dan kau ingin berjalan kaki? Apakah kau gila?” Zeno mengangkat alisnya.
“Bukan masalah bagiku. Bagi kalian, juga bukan masalah bukan?” Jawab Hole dengan tersenyum kecil.
Zeno hanya menggelengkan kepala, memang bukan masalah apabila berjalan untuk menuju kekaisaran lain. Bahkan dia pernah melakukan seperti itu, di benua Lima negara. Dan itu sungguh melelahkan, lagi pula jika ada kereta kuda kenapa harus jalan kaki?
Tiba-tiba, kereta kuda yang mereka tempati berhenti. Zeno menjadi kebingungan mengenai apa yang terjadi. Sesaat setelah ingin memastikan, Zeno mendengar ada sebuah teriakan yang sepertinya berada tepat di tempat sang kusir.
“Tuan apa yang terjadi?” Tanya Turse penasaran, dia juga keluar dari kereta kuda untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Kita diserang!” Teriak Zeno.
“Tuan di belakang!” Teriak Turse pula.
Zeno berbalik badan setelah mendengar teriakan Turse. Dia melihat seseorang dengan pakaian assassin sedang menebaskan sebuah pedang dengan cahaya di pedangnya.
Merasa dalam bahaya, Zeno bergerak secepat kilat untuk menghindari hal tersebut. Selain itu, Turse juga mengeluarkan sebuah busur panah dan menembak seseorang yang tadi hendak menyerang Zeno.
Sayangnya, anak panah tersebut berhasil dipatahkan oleh pedang yang Assassin itu miliki. Sehingga, Turse sama sekali tidak berhasil meracuninya.
__ADS_1
Hole yang masih berada di dalam kereta, dia langsung melompat dan menyerang Assassin tersebut. Bersamaan dengan itu, Assassin mengulurkan tangannya dan mengarahkan ke arah Hole seperti ingin menyerang sesuatu.
“Ledakan cahaya!”
“Hole bodoh!” Dengan gerakan kilat, Zeno langsung membawa pergi Hole sebelum sebuah ledakan cahaya muncul dan menghancurkan tubuh Hole. Memang Hole berhasil di selamatkan, tapi ledakan tersebut berhasil membuat kereta kuda yang mereka tumpangi hancur. Untung saja Turse berhasil menghindarinya cepat waktu.
Tiba-tiba, beberapa Assassin muncul dan mengepung mereka bertiga. Sehingga, mereka bertiga saling memunggungi dan bersiap untuk menyerang para Assassin tersebut.
“Aku akan melepaskan kalian, asal kalian menyerahkan seluruh harta yang kalian miliki.” Kata salah satu dari mereka.
“Jadi kalian merupakan komplotan perampok?” Zeno meludah sebelum melanjutkan ucapannya, “Jika kalian bisa, coba saja.”
“Sepertinya mereka merupakan kelompok kriminal. Lima belas dan lima tahun yang lalu, merekalah yang berhasil merebut teratai emas dari Nuvoleon.” Hole menjelaskan.
“Begitukah?” Zeno mengangkat alisnya, kemudian dia membatin sesuatu, “Sepertinya, akan ada beberapa pihak. Dan ini sangat merepotkan.”
“Gerakan cahaya!”
Dalam sekali kedipan mata, salah satu Assassin sudah berada di depan Zeno sambil menebaskan Ice Sword. Zeno sadar, bahwa gerakan cahaya memang sangat cepat, bahkan tidak ada partikel pun yang berhasil melebihi kecepatan cahaya.
Untungnya, Zeno memiliki elemen petir, yang mana kecepatannya hampir sama dengan kecepatan cahaya. Karena secara harfiah, petir juga mengandung sebuah kilatan yang merupakan cahaya. Namun, daya rusaknya lebih mengerikan daripada petir.
Bisa di bilang, elemen cahaya lebih mengerikan daripada elemen petir dan api apabila digabungkan. Tidak heran, mengapa elemen cahaya dijuluki elemen terkuat.
Zeno menangkis serangan pedang orang yang tadi menyerangnya dengan cepat.
Namun, Assassin yang lainnya juga melesat dengan cepat untuk menyerang Turse dan juga Hole.
Zeno menggertakkan giginya, sepertinya dia tidak memiliki kesempatan untuk melindungi Turse dan juga Hole.
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba dirinya seperti berada di dalam kubah cahaya yang sangat menyilaukan mata. Bahkan, Zeno harus menutupi matanya menggunakan salah satu lengannya, karena lengan lainnya dia gunakan untuk memegang pedang yang sedang menahan pedang milik Assassin di hadapannya tadi.
“Ledakan kubah cahaya!”