
Hari sudah sangat malam, bahkan terlihat jelas suasana laut gelap gulita dengan tidak ada pencahayaan sama sekali, menandakan bahwa posisi kapal mereka berada di tengah-tengah laut dengan tidak ada daratan sama sekali. Sudah satu hari penuh, mereka belum sampai menuju benua Artik, karena itu semua sangat wajar karena jarak benua itu memanglah sangat jauh.
Zeno termenung dengan memandang luasnya laut, sesekali memperhatikan awan dengan petir menggelegar, entah kenapa dirinya akan merasakan firasat yang sangat buruk. Tapi ia segera membuang firasat itu karena tidak mau hal itu benar-benar terjadi.
“Segera percepat kapal, badai dari selatan sedang menuju kemari.”
Tiba-tiba Zeno dikejutkan dengan teriakan salah satu awak yang begitu panik memperhatikan arah selatan, yang benar saja, badai berkecepatan tinggi sedang menuju kemari. Di tambah lagi hujan perlahan-lahan turun dengan deras membuat suasana semakin mencekam.
Sebagai elemntalist angin, Zeno sekuat tenaga berusaha menggerakkan badai agar tidak menuju kapal yang ia tumpangi. Tapi sayang sekali, badai itu terlalu kuat, sehingga kekuatan Zeno masih kurang berdaya untuk menandingi kekuatan alam yang sangat mengerikan.
“Kapten, di mana dia?” Lothar memperhatikan tidak atau kapten kapal atau seorang nakhoda sedang mengendalikan kapal, hal itu membuat Lothar benar-benar panik karena mengerti siapa yang dia bawa dalam kapalnya.
Lothar langsung mengambil alih sebagai nakhoda, tidak peduli sang kapten atau nakhoda sedang pergi ke mana, yang terpenting berusaha menghindari sebuah badai kencang yang bersiap menerjang kapal adalah urusan pertama. Tapi itu semua sudah hampir terlambat, kecepatan kapal yang bergerak bahkan lebih lambat dari pusaran badai. Tetapi untungnya masih terdapat Kiba yang sengaja memang dikeluarkan Zeno untuk berusaha mengendalikan sebuah badai, namun terlihat jelas badai yang besar membuat air laut tidak tenang.
Sekuat apapun Kiba mengendalikan badai tersebut, dia sama sekali tidak bisa menghilangkan badai itu karena memang sebuah kekuatan alam, jadi Kiba hanya bisa memperlambat sebuah badai agar tidak menerjang kapal dengan cepat, setidaknya kapal bisa beranjak pergi tanpa harus hancur karena badai.
“Paman Lothar, apakah tidak bisa kapal ini bergerak dengan cepat?” Teriak Zeno yang mulai tidak tahan dengan kondisi saat ini.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Lothar, dia hanya fokus ke depan sambil memegang erat kemudi kapal, sekuat tenaga berusaha menghindari angin kencang yang menyusulnya dari belakang.
__ADS_1
Kapal terombang-ambing tidak terkontrol, Lothar kesulitan untuk mengendalikan sebuah kapal karena akibat dari air laut yang tidak tenang, di sisi lain, angin badai mendekat walaupun lambat karena kecepatannya dibatasi oleh Kiba. Tetapi hal itu tidak sanggup untuk membuat kapal pergi menjauh dari badai yang justru semakin dekat.
“Kiba pergi menjauh!” Tidak ada kesempatan lagi untuk membawa pergi kapal, badai akan melahap bagian sisi kapal sehingga Zeno dan Kiba menuju bagian sisi kapal yang lainnya. Beberapa awak kapal lainnya yang tidak sempat menuju sisi lain kapan terembus jauh karena terkena pusaran badai yang sangat mengerikan.
“Bagaimana ini, badai ini sangat menge.-” Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Lothar lebih dulu terbawa badai dai terhempas jauh dari kapal.
“Benar-benar merepotkan, bagaimanapun kekuatan alam adalah sesuatu yang tidak bisa dilawan, bahkan melawan kekuatan alam jauh lebih mengerikan daripada harus melawan roh atau beast.” Batin Zeno melihat Lothar dan beberapa awak kapal lainnya terhempas. Dia sebenarnya dari tadi bisa saja terbang menggunakan Kiba, tetapi sayangnya semua awak kapal serta Lothar adalah tanggung jawabnya, jadi dirinya tidak mungkin untuk pergi meninggalkan mereka tanpa rasa bersalah.
Tapi ini sudah terlambat, pergi tanpa rasa bersalah juga percuma. Seluruh kapal sudah hancur dengan seluruh awak kapal dan Lothar yang terlempar jauh menuju luasnya samudra. Bahkan Kiba dan Zeno juga harus terjebak dalam pusaran badai yang mengerikan. Ia merasa ini cukup mengerikan dibanding dengan tenggelam di laut. Karena menurutnya dia masih bisa bernapas dalam beberapa jam di dalam air daripada harus melawan dan terjebak di pusaran badai.
Mungkin Kiba bisa terbang mudah menghindari pusaran badai, atau mungkin langsung membawa Zeno pergi. Tapi posisi keduanya sudah berpencar dan tidak menampakkan diri di antara keduanya.
“Tidak ada gunanya memanggil Kiba.” Batinnya sambil terjebak kebingungan di antara pusaran badai yang membuatnya terlempar tidak jelas.
Untungnya dia berhasil memikirkan sesuatu agar keluar dari kekuatan alam yang hebat ini, dengan mengulurkan kedua tangannya sambil merasa yakin keluar dari peristiwa tersebut.
Perlahan-lahan, bola petir seukuran dua kali lipat keluar dari telapak tangan Zeno. Tidak, sepertinya Zeno tidak hanya menggunakan bola petir, tetapi ke seluruh elemennya ia campurkan ke bola petir sehingga membentuk bola elemen yang sangat mengerikan.
Dengan begitu, dia menembakkan kedua bola elemen itu ke depan, akibatnya Zeno terdorong jauh dari pusaran badai. Benar-benar mengerikan, itulah yang dibatin oleh Zeno matanya tidak lepas dari badai yang semakin menjauh dari dirinya.
__ADS_1
Posisi benar-benar sudah menjauh dari badai, tetapi Zeno bergerak secepat kilat agar dia lebih jauh lagi dari badai, setidaknya pusaran angin tersebut tidak dapat menariknya kembali. Dengan begini, Zeno hanya perlu bersiap saat dirinya terjatuh ke dalam laut, apalagi kini Zeno harus bersiaga menghindari puing-puing kapal yang terlempar menuju kepadanya akibat badai yang menerjang kapal yang dirinya tumpangi.
Zeno telah tercebur ke laut, untungnya dia adalah elemntaist air yang membuatnya bisa bernapas di dalam air, tetapi itu hanya beberapa waktu.
Dia mencoba berenang ke permukaan air laut, kondisi benar-benar tidak nyaman. Bagaimana tidak, air laut terombang-ambing dengan ombak laut yang mengerikan, kondisi langit dipenuhi petir menggelagar dengan hujan deras.
“Kirin, Uron!” Zeno memanggil kedua naganya.
Seketika Dragones Gemoles keluar dari tubuh Zeno. Seketika Kirin langsung mengangkat tubuh Zeno agar tidak tenggelam lagi ke dasar laut. Sedangkan Uron, dia seakan-akan sedang tunduk di hadapan Zeno agar Zeno memberikannya tugas.
“Uron, cari pulau terdekat!” Perintah Zeno.
Uron kemudian mengangguk dan terbang tinggi di antara petir menggelegar, memperhatikan sekeliling untuk mencari pulau terdekat agar Zeno beristirahat. Walaupun pandangan ditutupi oleh derasnya hujan, tapi bagi Uron itu merupakan hal yang biasa, walaupun jarak pandangnya tidak sebaik Kiba.
Uron akhirnya turun kembali ke arah Kirin yang ditunggangi tuannya, sambil berteriak, “arah Utara, ada pulau!”
Kirin langsung melesat menuruti apa yang dikatakan saudara kembarnya, yaitu menuju arah Utara. Untung saja arah tersebut merupakan arah yang berlawanan dari badai itu tadi, sehingga pulau terdekat sudah sangat aman dari badai.
__ADS_1