
Kirin melompat ke arah Zeno tanpa mengeluarkan sosok naganya. Tatapannya juga tidak lagi memberi rasa hormat kepada Zeno, dan juga kali ini ia memiliki tatapan yang sangat tajam seakan-akan ingin membunuh orang yang di hadapannya yang tidak lain merupakan Zeno.
Zeno masih memasang wajah begitu dingin setelah ia ikut melompat ke belakang. Keadaannya benar-benar terpojokkan karena ia tidak bisa lari kemana-mana, kecuali menghancurkan tembok di belakangnya.
Namun, memukul tembok yang ada di belakang rasanya kurang cukup, walaupun bahan tembok itu berasal dari kayu. Setidaknya butuh benda yang lebih keras lagi untuk menghancurkan sebuah tembok untuk kabur dari Kirin.
Zeno mengambil ancang-ancang, wajahnya begitu serius untuk menggunakan sebuah ilmu bela diri tanpa mengenakan sebuah elemen.
"Kirin" Tubuh Kirin berubah menjadi wujud naga usai berteriak menyebut namanya sendiri, naga tersebut tercipta dari elemen petir berwarna kuning yang terkumpul sehingga membentuk sosok naga.
Zeno melihat sangat jelas bahwa sosok tersebut sangat mirip seperti Drake Soul, bahkan tidak ada perbedaan sama sekali di antara keduanya.
Dirinya menggigit bibir bawahnya, melawan sebuah wujud asli petir dengan tangan kosong adalah sebuah kebodohan yang ia pikirkan, karena pada dasarnya, Kirin sudah tidak berada wujud manusianya yang mana akan sulit untuk memukulnya.
Apa yang ia lakukan hanyalah melompat ke samping, itu pun ia merasa kesulitan karena dirinya sudah tepat berada di pojokan ruangan. Tetapi Kirin juga tidak berhenti begitu saja, ia masih melesat ke arah Zeno dengan sangat cepat.
Zeno merasakan krisis yang sangat besar, kesempatan terakhir yang ia lakukan hanyalah menyerah dan menunggu bangun, lagipula ini hanya dunia mimpi, sehingga kejadian tidak akan terjadi di dunia nyata.
"Braak." Seketika tubuh Zeno merasakan rasa sakit yang sangat hebat, bagaimana tidak, tubuhnya telah membentur pojokan tembok dengan sangat keras sehingga membuat bunyi yang sangat khas. Terlebih, Kirin juga menembus tubuh Zeno ketika dirinya berhasil menabraknya.
Tidak hanya sakit yang luar biasa, seluruh tubuhnya terasa mati rasa karena aliran petir yang sangat hebat.
"Jangan berpikiran bahwa dirimu bisa selamat di dunia nyata tuan." Kata Kirin yang keluar dengan wujud manusianya di hadapan Zeno. "Apakah kau ingat disaat kau muntah darah ketika bangun? Bukankah itu juga disebabkan orang aneh yang kuciptakan?" Sambungnya dengan menatap Zeno sinis.
__ADS_1
Zeno seketika teringat bahwa kejadian ini juga akan terbawa di dunia nyata, sehingga ketika mati pun, dirinya di dunia nyata juga akan merasakan mati. Jadi dia tidak mau hal itu terjadi.
"Melawan tanpa menggunakan elemen adalah sesuatu yang merepotkan, terlebih kau bisa berada dalam wujud yang tidak bisa dipukul. Tapi tidak apa-apa, pasti ada seribu cara untuk menaklukkan kelemahanmu yang kau sembunyikan." Sahut Zeno sambil menyentuh dadanya.
Kirin memutar matanya, "Silahkan, carilah! Tapi berbicara seperti tidak akan bisa menuju kemenangan. Aku Kirin, adalah sosok roh yang agung tidak akan semudah membalikkan telapak tangan untuk mengatakan kelemahan."
"Namun, sebelum kau berusaha mencari kelemahan ku, maka jagalah kelemahanmu terlebih dulu tuan. Tanpa menggunakan elemen, kau pasti tidak akan bisa melakukan pertahanan atau serangan." Kirin berubah kembali menjadi sosok naga petir yang sangat mengerikan.
"Siapa bilang? Sepertinya kau belum pernah mengikuti jalan hidupku, yang mana sebuah elemen adalah segalanya. Jangan menyangka bahwa aku akan tunduk seketika saat aku tidak memiliki elemen." Tatapan Zeno semakin serius, bukannya menghindar, Zeno justru melangkahkan untuk maju ke arah Kirin yang menyerangnya.
Kirin dalam wujud naganya tersenyum lebar setelah melihat hal bodoh yang dilakukan oleh Zeno, menurutnya, maju tanpa membawa apapun adalah sebuah kecerobohan yang pernah ia lihat, apalagi Zeno saat ini tidak memiliki elemen apapun.
Tetapi Kirin masih memiliki rasa kasihan, walaupun begitu, ia menyorongkan diri dan mencakar lengan Zeno begitu dalam. Mengapa ia tidak menabrakkan tubuhnya ke arah Zeno? Karena Kirin sendiri menambah daya tegangan di tubuhnya, sehingga saat membentur ke arah Zeno, jangankan mati rasa, Zeno sendiri akan hangus karena serangan kejut yang sangat hebat.
"Kenapa? Kenapa kau malah tersenyum?" Kirin menatap aneh Zeno.
"Apakah kau sangat bodoh? Padahal ini dunia yang kau ciptakan, dan kau juga yang menciptakan prinsip itu sendiri." Senyum lebar Zeno.
"Disaat aku diserang tepat di bagian perut, maka di dunia nyata aku akan muntah darah karena terkena luka dalam. Hal itu dikuatkan dengan ucapannya bahwa, ketika aku mati disini, maka di dunia nyata aku akan mati. Jadi sudah jelas bukan, bahwa ketika lenganku keluar darah-." Sambungnya dengan tidak melanjutkan ucapannya, karena ia merasa Kirin sendiri sudah tau jawaban yang sangat tepat.
"Maka di dunia nyata kau juga akan terluka di bagian lengan juga. Lantas, apa yang perlu dikhawatirkan?" Kirin berkata dengan nada tinggi.
"Selamat tinggal, aku harap diriku bisa lebih bersiap lagi, tunggulah aku." Perlahan-lahan tubuh Zeno menghilang membentuk sebuah hembusan angin.
__ADS_1
Kirin hanya tersenyum di balik wujud roh naganya. "Cara klasik untuk keluar dari dunia ini, tapi aku tidak menyangka bahwa tuan Zeno bisa berpikiran sampai situ."
*****
"Zeno! Bangunlah! Apa yang terjadi? Kenapa lenganmu berdarah?" Kata Arina dengan panik. Sebelumnya, ia menuju kesini untuk mengantarkan makanan menuju kamar Zeno, namun saat ia melihat darah menetes di lengannya, ia menjadi panik.
Zeno membuka matanya perlahan, ternyata cara yang ia gunakan bekerja sangat baik. Sebenarnya, saat mencoba ia tidur, ia sudah tau bahwa jam makan malamnya sudah sangat dekat, sehingga ibunya akan mengantarkan makanan.
Di dalam mimpi, Zeno sengaja melukai diri sendiri di bagian lengan, untuk meminta pertolongan di dunia nyata untuk segera membangunkannya. Lagipula, saat itu ibunya juga tepat mengantarkan makanan ke kamarnya dan melihat dengan jelas darah menetes yang berasal dari luka dalam mimpi.
Siapa juga yang tidak panik ketika orang lain tidur dengan tenang namun juga orang tersebut terluka, terutama yang menyaksikan hal tersebut adalah ibunya sendiri. Sehingga hal pertama yang dilakukan adalah membangunkannya.
"Aku tidak apa-apa ibu, mungkin ini hanya luka lama yang terlaku terkena gesekan, sehingga kembali terluka." Kata Zeno berbohong.
Arina menghela napas panjanga, ia sangat lega dengan hal aneh yang terjadi kepada Zeno. Masalahnya, terluka saat tidur dengan tidak ada kejadian apa-apa adalah sesuatu yang tidak normal dalam hidupnya.
Kini Zeno hanya menghadap sepiring makanan setelah ibunya keluar, tetapi bukannya ia makan, Zeno justru berpikir keras bagaimana caranya untuk mengalahkan Kirin.
"Tidur hanya akan membuatku menuju dunia mimpi itu, jadi aku harus menemukan caranya untuk mengalahkannya." Gumamnya sambil memutar sendok makan di atas makanan.
Tatapannya kosong ke arah makanan, entah kenapa ia tidak memiliki selera makan lagi hanya karena memikirkan sosok Kirin yang terus menghantui dirinya. Mengalahkan Kirin tentunya bukanlah hal yang mudah menurutnya, apalagi di dunia itu, Zeno sama sekali tidak bisa menggunakan elemen untuk memancarkan serangan ataupun melakukan pertahanan.
***Catatan:
__ADS_1
Hai para pembaca yang author cintai, author meminta maaf apabila chapter diupdate dua hari sekali. itu karena author juga punya kesibukan, apalagi ini udah masa-masa tatap muka ya kan***.