
“Apa yang kau lakukan!!”
Seketika kaisar Zeno terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara keributan yang ada di luar kamp. Selain itu, dia juga mendengar suara tamparan yang membuat dirinya tidak bisa untuk tidak berdiri. Karena dia benar-benar merasa terganggu dengan istirahatnya. Namun siapa sangka, hari sudah petang yang menunjukkan bahwa dirinya tertidur selama setengah hari.
Zeno yang penasaran, akhirnya keluar dari kamp dan melihat Mahaa memarahi habis-habisan para prajurit lautnya. Tentu saja, Zeno segera menghampiri laksamana Mahaa yang tampaknya tidak bisa mengurung emosinya.
“Laksamana, ada apa?” Tanya Zeno.
“Hormat kepada kaisar.” Mahaa yang terkejut dengan suara tersebut langsung berbalik badan dan memberikan sebuah kehormatan kepada Zeno. Begitupun para prajurit yang ada di belakangnya.
“Kaisar tidak perlu marah. Aku akan memberikan sebuah hukuman setimpal kepada mereka, karena tidak memberikan sebuah tempat yang layak untuk kaisar beristirahat untuk menungguku. Selain itu, aku juga meminta maaf karena datang terlambat setelah mendapat perintah dari Nora.”
Zeno menggaruk kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Mahaa yang tampaknya aneh. Masalahnya, Mahaa sendiri terlalu berlebihan untuk memarahi prajurit angkatan lautnya, karena pada dasarnya mereka tidak salah, hanya saja Zeno yang terlalu berlebihan untuk merendah tanpa sepengetahuan para prajurit.
“Sudahlah laksamana, mereka tidak tahu bahwa aku berada di kamp.”
“Tapi kaisar, seharusnya mereka mengikuti Anda saat tahu bahwa Anda tiba di sini.” Laksamana Mahaa berprotes.
“Jangan memarahi mereka lagi, ini perintah!” Zeno berkata dengan tegas.
__ADS_1
Mahaa menundukkan kepalanya sambil berkata dengan lirih, “Baik kaisar aku mengerti.”
Zeno menghela napas lega saat laksamana Mahaa tidak lagi mengotot. Dia juga melihat ke samping yang mana kapal-kapal perang masih berjejer rapi. Namun, kapal baru yang diciptakan Zeno sepertinya tidak tampak, karena tertutup oleh kapal perang di depannya, sehingga tampaknya, Mahaa sendiri juga tidak terlalu terkejut dan belum menyadari.
“Laksamana, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.” Zeno menggerakkan seolah sedang mengendalikan sesuatu, lebih tepatnya dia menghembuskan sebuah angin ke arah laksamana Mahaa.
Yang benar saja, dengan sangat mudah, Mahaa seperti menaiki sebuah tornado angin yang membuatnya melayang tinggi di udara. Mahaa tersentak kaget saat dirinya tiba-tiba terbang mengikuti Zeno yang sebelumnya terbang pula. Namun perbedaannya, Zeno terbang tanpa menggunakan apapun, sedangkan dirinya seolah mengendarai sebuah tornado.
Apa yang membuat Mahaa terkejut, dia melihat sebuah kapal es berukuran raksasa dan lebih besar dibandingkan dengan kapal lainnya. Selain itu, dia sedikit merasa berbeda dengan jumlah kapal, dia melihat bahwa kapal perang bertambah banyak berbeda dengan sebelumnya.
“Apa Nora memberitahumu untuk tidak mencari kepala proyek lagi?” Zeno berhenti di udara, begitupun dengan Mahaa. Selain itu, saat dia berbicara dia juga menoleh ke arah laksamananya.
“Jika aku bisa menumbuhkan sebuah pohon, maka menciptakan sebuah kapal juga tidak terlalu sulit. Tidak banyak, mungkin jumlahnya hanya seratus ditambah kapal paling besar itu satu.” Ucap Zeno sambil menunjuk ke arah kapal es yang tadi pagi dia ciptakan.
“Seratus? Dan Anda bilang itu tidak banyak dan hanya? Anda benar-benar gila.” Mahaa membatin sambil memutar bola matanya. Dia benar-benar tidak sanggup menahan kegilaan dari kaisar Zeno yang mana kekuatannya jauh di atas kekuatan elementalist pada umumnya.
“Lantas kenapa Anda seolah menyuruhku untuk mencari kepala pembuat kapal jika Anda sendiri bisa membuatnya sendiri?” Laksamana Mahaa bertanya.
“Aku hanya ingin membuat keuangan dan dewannya jadi lebih berguna. Tapi siapa sangka, mereka mengatakan bahwa kekaisaran tidak sanggup untuk menggaji para pekerja. Jadi, tidak ada sebuah pilihan lain. Selain itu, aku benar-benar akan meningkatkan anggaran kekaisaran setelah perang, jika tidak, kekaisaran ini akan selalu terus bergantung kepadaku.” Zeno menghela napas dengan sangat kesal.
__ADS_1
“Selain itu, aku juga memberikanmu sebuah hadiah laksamana.” Zeno menunjuk ke arah salah satu kapalnya yang tidak lain kapal es sebelum laksamana Mahaa bertanya mengenai hadiah apa. “Kapal es, yang paling besar itu untukmu. Namun sebagai gantinya, aku ingin melihat kemampuanmu yang paling hebat untuk mengalahkan armada kapal Mare Enbarum nantinya.”
Mahaa seolah tidak bisa bernapas tercekik setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeno. akan tetapi, dia tidak ingin memperlihatkan tingkah tidak sopan di hadapan kaisar. sehingga, dia mencoba untuk bersikap tenang sambil sedikit membungkuk sambil menyentuh dadanya. “Suatu kehormatan bagiku apabila kaisar memang berkata demikian. Namun, aku laksamana Mahaa tidak bisa menerima hadiah yang terlalu istimewa ini, yang mulia kaisar.”
Meskipun bersifat seolah profesional seperti itu, namun itu hanyalah sebuah basa-basi bagi Mahaa. Dia sebenarnya ingin sekali menerima hadiah itu, apalagi yang memberikannya adalah seorang kaisar terpandang. Dia juga berharap bahwa kaisar memaksa untuk menerimanya.
“Baiklah, aku akan menenggelamkannya.” Zeno menarik napas, mengulurkan tangannya ke arah kapal dan menurunkannya. Dan tentu saja, kapal tersebut perlahan tenggelam
Hal tersebut membuat Mahaa tersenyum pahit dan berkeringat dingin. Padahal apa yang dia katakan adalah sebuah candaan semata agar terlihat seperti sebuah basa-basi. Namun siapa sangka, kaisar menanggapinya dengan begitu serius dan langsung menenggelamkannya tanpa berpikir panjang.
Mahaa langsung berpikir secara singkat untuk membuat sebuah alasan agar kaisar mengurungkan niatnya. Dan, tanpa ragu, dia berkata dengan nada yang sedikit tinggi, “Maafkan aku kaisar, tampaknya kita membutuhkan kapal besar tersebut untuk berperang sebagai kekuatan utama kita. Jadi, aku tidak keberatan untuk mengurusnya.”
Zeno menghela napas dan tersenyum tipis di antara wajah dinginnya, kemudian dia menaikkan kembali kapal es tersebut menuju permukaan laut seperti sedia kala. Dengan malas, dia berkata, “Sudah kuduga, kau akan berkata demikian laksamana. Jadi bagaimana, kau menerimanya atau tidak?”
“Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati.” Mahaa tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum dia kembali membungkukkan badannya. “Jika Kaisar memang memberikannya kepadaku, maka aku, laksamana Mahaa benar-benar mengucapkan beribu terimakasih. Sebagai gantinya, dan sesuai permintaan Anda, aku akan menunjukkan sebuah strategi perang terbaik untuk mengalahkan armada kapal milik Mare Enbarum.”
“Bagus.” Ucap Zeno sambil menurunkan dirinya dan Mahaa untuk menuju daratan kembali.
Tepat di pesisir yang mana pasir pantainya merupakan salju lembut. Zeno dan Mahaa berpijak di atasnya, dengan para prajurit yang juga sedikit membungkukkan badannya ke arah Zeno, karena mereka merasa bersalah karena tidak menyambut Zeno secara lebih.
__ADS_1
Namun, Zeno tidak mempermasalahkannya, apa yang dia pikirkan hari ini adalah pulang menuju istana kekaisaran karena hari sudah mulai larut. Namun, tampaknya kali ini dia tidak ingin bergerak secepat cahaya, melainkan menggunakan sebuah kereta kuda, sekaligus ingin melihat tempat-tempat, barang kali ada sebuah masalah yang membuatnya harus bersegera untuk turun tangan.