
Beruntung, Selena melepaskan anak panah tersebut sesaat dark knight hendak mengeluarkan elemen kegelapannya. Mungkin jika dia tidak tepat waktu, kemungkinan terburuknya adalah tangannya akan hancur seperti anak panah yang dia pegang itu tadi.
Tanpa ragu, Dark knight kembali mengeluarkan elemen kegelapan di tangan kirinya, mencoba menyerang perut Selena, yang mana Selena sendiri masih menahan pedang Dark Knight yang begitu kuat.
Selena yang menyadari itu, dia melempar kaki kirinya, lebih tepatnya menendang tangan Dark knight yang mengeluarkan elemen kegelapan itu. Bersamaan dengan itu, dia sedikit merendahkan tubuhnya, sehingga pedangnya tidak berbenturan lagi dengan pedang Dark Knight.
"Buuug!"
Perut dark knight tertonjok gagang pedang milik Selena, tapi mau bagaimana lagi, perutnya terdapat Zirah yang begitu keras. Sedangkan tangan kiri dark knight masih mencoba untuk menyerang Selena, namun sayangnya Zeno dengan begitu cepat memotong tangan tersebut, agar Selena tidak terjadi apa-apa.
"Maafkan aku Selena, aku ikut campur. Tetapi, aku tidak tahan untuk melihatmu kalah dengan begitu cepat." Zeno berkata demikian.
"Apa? Kau yang memotongnya? Maksudmu kau yang memotong Zirahnya, sehingga memudahkan aku untuk memotong tangannya." Selena tampak tersenyum saat melihat Zeno seakan percaya diri.
Zeno melihatnya dengan begitu seksama, tampaknya apa yang dikatakan Selena ada benarnya, bahwa dia sendiri hanya memotong Zirah yang berada di lengan Dark Knight, sedangkan Selena sendiri lah yang memotong tangan Dark Knight. Terbukti, bahwa pedang Selena meneteskan sebuah darah seolah habis memotong bagian tubuh.
Spontan, Dark Knight berteriak kesakitan, mungkin saat Selena memotong tangannya tadi. Namun, dia begitu marah dan mengeluarkan bola elemen yang cukup besar dari ujung pedangnya, kemudian tanpa ragu, dia mengarahkan bola elemen itu ke arah Selena.
"Ledakan kubah cahaya!" Zeno bergerak ke arah Selena dengan begitu cepat, kemudian dia mengeluarkan sebuah kubah di dalamnya yang mana itu semakin bercahaya dan semakin membesar seakan-akan mau meledak. Dia tahu persis bahwa teknik milik keluarga Forjen seperti ini benar-benar mematikan, karena selain digunakan untuk pertahanan, teknik ini juga dapat menyerang dan memberikan kerusakan yang cukup parah.
__ADS_1
Berjalan dengan sempurna, bola kegelapan itu hancur di saat kubah itu meledak. Tidak hanya itu saja, dark knight juga terlempar begitu jauh dan membentur tembok gerbang ibukota hingga tembok itu remuk. Zirah yang dia pakai juga tidak bersisa akibat ledakan yang mengerikan itu.
Helm yang terlepas di awal tadi, membuat kepala Dark Knight juga akan hancur. Bagaimana tidak, dia mendapatkan ledakan itu benar-benar dari jarak yang begitu dekat. Jika bukan karena Zirahnya, bisa dipastikan tidak hanya wajahnya yang hancur, seluruh tubuhnya juga tidak bersisa.
"Tampaknya teknik itu terlalu mengerikan, bahkan pasukan yang ada di belakangku juga banyak yang cedera. Tidak peduli itu pasukanku atau pasukan musuh." Zeno memandang ke belakang, memperhatikan bahwa banyak pasukan yang terlempar karena teknik itu tadi. Apalagi teknik yang dia keluarkan juga berkali lipat dengan teknik milik keluarga Forjen yang asli.
"Apa itu tadi?" Selena yang ada di dekat Zeno mengusap matanya, masalahnya saat dia ada dalam kubah tersebut dia merasa bahwa matanya begitu silau, sehingga kali ini dia tampak begitu kesulitan untuk melihat. Namun, itu hanya sementara, dan pandangannya perlahan-lahan kembali seperti semula.
Zeno berjalan ke arah Dark Knight dengan tatapan yang begitu sinis. Kemudian, dia berkata, "Selena, segera bunuh dia, aku akan menuju pertarungan utama." Ucapnya sambil menghancurkan Zirah yang Dark Knight pakai menggunakan elemen cahaya. Yang mana, Zirah itu benar-benar mengganggu pertarungan Selena
"Baiklah, aku mengerti Zeno. Kau bisa menuju pertarungan utama tanpa perlu melihatku lagi." Ucap Selena sambil menyeret pedangnya ke arah Dark Knight.
Zeno kembali bergerak untuk menaiki kudanya, kali ini dia tidak tertarik lagi untuk melihat pertarungan Selena. Karena dia sudah melihat sejauh mana perkembangan Selena.
Sedangkan pasukan yang ada di gerbang luar, Zeno cukup yakin bahwa pasukan miliknya bisa mengalahkan mereka. Karena, sudah ada Lois, Selena ataupun Kirin dan Uron yang mengambil alih seluruh pasukan, sehingga Zeno cukup tenang sekarang.
"Tampaknya, banyak orang yang berlindung dari dalam ibukota." Zeno melihat bahwa ibukota tampaknya sangat padat, banyak rumah terkunci, namun ada ribuan orang yang di luar rumah, mungkin itu adalah seorang pengungsi yang berada dari luar ibukota. Selain itu, mereka juga tampaknya begitu ketakutan saat penyerang gerbang atau Zeno sendiri lolos.
Zeno sama sekali tidak tertarik untuk membunuh penduduk biasa. Mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah yang mana hidup di bawah kaisar kejam. Sehingga tidak seharusnya dan tidak memiliki sebuah hak untuk membunuh mereka semua.
__ADS_1
"Akhirnya, istana kekaisaran. Ajang babak kedua yang akan terjadi sebentar lagi." Zeno semakin memacu kudanya ke depan, karena dia melihat istana kekaisaran yang memiliki sebuah aura kegelapan yang begitu pekat.
"Berhenti!" Seketika, dari sisi kanan terdapat puluhan prajurit yang memacu kudanya ke arah Zeno, sedangkan di sisi kiri, juga terdapat puluhan pasukan yang juga memacu kuda mereka untuk menyerang Zeno.
Terlihat dari pakaian mereka yang tampak khusus, Zeno sedikit menebak bahwa kedua pasukan yang berusaha untuk mengepung dirinya adalah pasukan khusus yang menjaga kekaisaran.
"Sampah apalagi yang akan menghadang ku?" Zeno mengulurkan kedua tangannya ke arah yang berbeda sesuai datangnya pasukan tersebut. "Sayatan seribu angin, tahap terakhir!"
Beberapa pasukan paling depan mungkin terkena teknik itu yang membuat tubuh mereka terpotong-potong, namun pasukan belakang dari kedua sisi yang lebih cepat menyadari itu semua langsung melompat dari kuda dan melakukan langkah bayangan untuk menyerang Zeno secara dekat.
Zeno yang masih memacu kudanya tidak menyangka, bahwa pasukan khusus ini masih bisa mencoba untuk mengejarnya, apalagi mencoba menyerang dari jarak yang begitu dekat.
Tepat di sekeliling Zeno, ada beberapa prajurit yang tampaknya melayang sambil berusaha untuk menghunuskan pedangnya ke arahnya, namun Zeno tampak tenang sedikitpun dan tidak memiliki kepanikan sama sekali. Karena apa yang dia lakukan adalah, bergerak secepat kilat sambil menarik pedang dari selongsongnya.
Kemudian, tanpa para pasukan khusus itu sadari, tubuh mereka sudah terpisah dengan kesadaran mereka yang perlahan menghilang. Tampaknya, Zeno yang bergerak secepat kilat juga tidak hanya menghindar, melainkan membunuh mereka dengan sangat cepat.
Pada akhirnya, Zeno sudah berada di gerbang kekaisaran. Sesuai peraturan, seharusnya saat berada di gerbang, seorang tamu atau pihak kekaisaran harus menurunkan kuda mereka, dan berjalan sampai menuju pintu utama kekaisaran. Namun Zeno tidak peduli, dia kini datang sebagai seorang musuh dan masuk ke dalam gerbang kekaisaran menggunakan seekor kuda.
Mungkin ada banyak prajurit penjaga kekaisaran yang menyerangnya, namun dengan begitu mudah, Zeno hanya memainkan pedangnya yang membuat tubuh mereka terpotong-potong.
__ADS_1
Tepat di pintu istana kekaisaran, Zeno baru turun dari kudanya. Tampaknya pintu kekaisaran tertutup dengan rapat seolah tidak menerima tamu dalam bentuk apapun.
"Braak!" Zeno menendangnya dengan begitu keras sehingga pintu tersebut hancur.