Penguasa 5 Elemental

Penguasa 5 Elemental
Orang baik


__ADS_3

Saat ini Zeno terbangun perlahan-lahan, dia menyadari bahwa dirinya telah terbangun di atas kasur dengan luka di kaki yang terbalut kain. Nampak begitu jelas bahwa darah menembus kain dengan berwarna merah pekat. Zeno memperhatikan jendela di sampingnya, suasana telah menjadi gelap seakan matahari telah tenggelam beberapa waktu yang lalu.


“Tuan, apakah kau terbangun?” Tanya Skarlos penasaran, “Maafkan aku yang tidak keluar saat itu, bagaimanapun entah kenapa aku merasa terjebak di dalam tubuh anda.”


Zeno membuka matanya lebar, mendengar ucapan Skarlos barusan, menandakan bahwa efek racun yang telah di tembakkan oleh Turse telah hilang. Zeno kemudian memasang wajah biasa kembali dan menyadari bahwa sebenarnya Turse berbohong, yang mana efek racun tidak hilang pada matahari terbenam, namun beberapa saat setelah di tembakkan, maka edek racun akan hilang. Sebagai konsekuensinya, maka akan pingsan sampai matahari terbenam.


“Tidak perlu merasa bersalah Skarlos, itu semua terjadi karena efek racun yang mengenaiku.” Kata Zeno menenangkan Skarlos.


“Aku mengerti tuan.”


Saat ini Zeno mencoba bangun, dia kebingungan saat ini dirinya berada di mana? Yang pasti dia sangat bersyukur pihak kerajaan tidak menemukannya saat dirinya pinsan.


Zeno mengarahkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka secara perlahan, memperhatikan sosok wanita yang masuk dengan membawa sepiring makannan dengan segelas air di tangannya.


Melihat Zeno yang sudah terbangun, wanita tersebut menghela napas dengan berkata, “Akhirnya kau terbangun juga, aku khawatir kau tidak akan bangun selamanya nanti.”


“Siapa kau, dan mengapa aku bisa berada di sini?” Zeno mengerutkan dahinya.


Wanita tersebut terkekeh mendengar apa yang Zeno katakan, kemudian dirinya duduk di kursi yang berada di samping Zeno. “Namaku adalah Ania, sebelumnya ayahku telah menemukanmu tergeletak dipinggir jalan dengan luka yang cukup parah pada kaki.”


“Aku mengucapkan banyak terimakasih. Tapi ku akui bahwa kalian cukup berani membawa pulang orang tak dikenal, bagaimana jika orang yang kalian bawa pulang ternyata orang jahat?” Zeno menatap serius Ania.

__ADS_1


“Sudah tugas kami sebagai sesama manusia untuk menolong manusia lain. Dan kami percaya, sebenarnya kau bukanlah orang jahat. Sehingga kami berani membawamu pulang.” Ania tersenyum ramah kepada Zeno. “Dari cara memakai baju, sepertinya engkau bukan dari benua ini?”


Zeno memperhatikan cara memakai bajunya. Memang, dari cara berpakaian, Zeno sangat berbeda dengan warga asli benua ini. Baju yang Zeno kenakan lebih tebal dan berlapis-lapis, hal itu ia lakukan karena tidak tahan dengan dinginnya suhu di benua ini. Sedangkan orang asli benua ini, seperti Ania yang ada di hadapannya, mereka cukup ekstrem dengan memakai pakaian tipis seakan tidak mempunyai rasa dingin. Mungkin karena mereka memang sudah beradaptasi di benua ini.


“Namaku Zeno, aku berasal dari benua lima negara, lebih tepatnya negara air. Aku menuju kesini untuk mencari ayahku.” Zeno menjelaskan.


“Baiklah Zeno, aku mengerti. Semoga engkau cepat dipertemukan dengan ayahmu secepatnya. Tetapi sebelumnya, lebih baik kau makan terlebih dahulu, karena sudah setengah hari engkau pingsan, pastinya itu membuatmu cukup lapar bukan.” Ania menyodorkan sesendok makanan ke mulut Zeno.


“Hey-hey, bisakah aku makan sendiri?” Wajah Zeno memerah setelah mendapati perlakuan dari Ania.


Ania kembali terkekeh, apalagi setelah melihat wajah malu Zeno. “Baiklah, kau bisa makan sendiri.” Ucap Ania sambil menyerahkan sepiring makanan.


Zeno menerima sepiring makanan dengan senang hati, lagi pula memang dirinya belum makan selama setengah hari lebih karena pingsan. Apalagi ini gratis, siapa juga yang tidak menolak makanan gratis? Bahkan Zeno yang merupakan anggota keluarga kekaisaran sekalipun, tentunya membawa harta yang cukup banyak juga tidak menolak untuk makan gratis.


Zeno mengangguk, kemudian dia melanjutkan makan untuk mengisi perutnya yang terlalu lapar.


Selagi makan, dia berpikiran mengenai tuduhan Dion yang kian waktu menjadi cukup parah. Untungnya Ania selaku orang yang menolongnya tidak mengetahui bahwa dirinya merupakan orang yang di cari kerajaan, bahkan kekaisaran atas tuduhan yang telah menyebar luas. Bahkan Zeno mungkin telah merasa berita ini telah sampai menuju kekaisaran, apalagi Turse merupakan seorang tangan kanan kerajaan, sekaligus juga merupakan orang penting di kekaisaran.


Zeno menjadi kebingungan, bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya? Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi masalah ini, dirinya hanya bisa melawan orang-orang bodoh yang termakan berita palsu agar Zeno bisa melindungi diri sendiri dari hukuman yang sangat merepotkan nantinya.


­­Selepas dia memakan habis makananya, dirinya memeluk kakinya sambil memandang langit malam benua. Zeno nampak tersenyum saat memperhatikan Aurora berwarna-warni yang nampak indah. Setidaknya Zeno tampak bisa menenangkan diri sebelum pihak kerajaan, bahkan kekaisaran menemukan dirinya.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang pria yang hampir tua masuk ke dalam kamar yang Zeno tempati ini, wajahnya dipenuhi senyum cerah sambil menatap Zeno dengan senang, di sela-sela berekspresi seperti itu, pria tersebut berkata, “Apakah aku mengganggu waktu istirahatmu? Aku minta maaf jika itu memang benar.”


“Anda sepertinya pemilik rumah ini, lebih tepatnya ayah Ania?” Zeno membalas senyuman pria tersebut.


“Sepertinya kau sudah akrab dengan anakku. Bagaimana keadaanmu?” Kata pria tersebut sambil duduk di kursi yang berada di samping ranjang.


“Suatu kehormatan bertemu dengan Anda, aku benar-benar mengucapkan banyak terima kasih karena anda sudah menolongku.” Zeno menundukkan kepalanya, sebelum dia melanjutkan perkataanya. “Saat ini aku sudah merasa baikkan, mungkin hanya kakiku yang sedikit perih karena luka yang cukup parah.”


“Tidak perlu berkata formal begitu, aku hanyalah orang biasa. Kau bisa memanggilku Krum. Sudah menjadi tugasku untuk menolong orang-orang.”


Zeno mengangguk, ucapan ayah dan anak tidak terlalu banyak berbeda. Sepertinya mereka memang suka menolong orang-orang yang mengalami kesulitan. Zeno benar-benar beruntung bertemu dengan orang seperti dia.


Krum kemudian menghela napas yang panjang, dia menatap dinding kamar dengan sangat malas. “Apa kau dengar, akhir-akhir ini ada seorang anak bernama Zen yang katanya merupakan anak buah Rungdaf berkeliaran di kerajaan ini. Aku sangat takut apabila dia membuat kekacauan yang sangat besar.” Ucapnya.


Zeno menelan ludah dengan kasar, untungnya Krum benar-benar tidak tahu bahwa dirinya lah Zen itu sebenarnya. Saat ini Zeno harus mencoba bersikap biasa agar Krum tidak menaruh curiga, bagaimanapun Zeno tidak mau orang yang ada di depannya merasa ketakutan dan menyesal setelah menolong Zeno.


“Kau tau pak? Aku berpikir bahwa Zen bukanlah anak buah Rungdaf, dan itu hanya sebuah tuduhan palsu. Apakah setelah berita itu menyebar, bahkan sebelum berita itu menyebar ada korban akibat ulah Zen? Kurasa tidak.” Zeno memberikan pendapat.


Selepas Zeno berbicara, Krum menatap serius Zeno dengan mengerutkan dahinya. Kemudian dia berkata, “Apakah begitu, kita tidak tahu niat sebenarnya dari Zen. Atau jangan-jangan, kau merupakan Zen tersebut.”


Zeno berpura-pura terkejut sambil mengerutkan dahinya, dia sebisa mungkin memasang wajah yang mana dirinya tidak tahu apa-apa. Hal itu membuat Krum sedikit percaya bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah Zen yang dicari.

__ADS_1


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menuduhmu.” Kata Krum tertawa geli.


“Baiklah, kau bisa beristirahat.” Sambungnya sambil beranjak pergi meninggalkan Zeno.


__ADS_2